~* KUMPULAN CERITA PENDEK KEHIDUPAN *~

~* IBUKU ADALAH SEGALANYA *~



Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya.

"Apakah saya bisa melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan si ibu membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungilnya, ia terlihat menahan napas. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu.

Bayi sang ibu ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran putranya ternyata bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Guys,

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

~* DIBALIK RAMUAN UNTUK ANAKKU *~



Aku menginginkan maafmu untuk setiap bait penghinaan yang terlantunkan. Bahkan selalu menanti walau tak sesempurna penantian Tuhan untuk umatNya berbicara syukur pada Nya. Bila aku bisa, aku akan berdiri dengan segenap getaran yang mengalir di setiap arteri ku. 

Cinta.. Aku akan berteriak meski di bawah tirani yang dianggap suci oleh penguasa. Namun aku tak bisa. Karena kaki ini tidak memungkinkanku untuk berdiri lalu bersimpuh di depanmu.

Sudah 2 minggu berturut-turut aku menjenguk Anandaku di rumahmu. Tapi kau selalu acuh tak acuh mengizinkan ku berbicara dengan matanya. Padahal aku hanya ingin melepaskan rindu yang kian berkarat di pucuk hati. Empat belas lembar surat yang ku layangkan dalam menanyakan kabarnya pun tak kau terbangkan balasannya. Sms? Aku tak tahu apa-apa tentang dunia mayamu. Setidaknya, adil itu masih tersisa untuk umurku yang mulai renta. Tapi tidak! Keadilan itu telah terlumatkan oleh sikap ego yang memenjara.
Hari ini, aku bertemu dengan dua bocah di perempatan jalan kota, melirik mereka sekilas, lalu ku temukan senyum di wajah mereka yang membuat pikiranku tertuang pada sang bocahku. Mereka memegangi dua bola karet dengan motif duri, lalu mendrible bola tersebut ke jalan raya hingga sinar lampu memancar dari bola itu. Mulai dari merah, kemudian kuning hingga lampu itu punya banyak warna. Sejenak terfikirkan, mungkin selama aku pergi ke rumahmu hanya membawakan senyumku untuk si bocah. Sebab itulah kau bersikap acuh tak acuh. Oh.. biarkan kini aku membawakan sedikit oleh-oleh, mungkin bola duri.

“nak, berapa harga bola itu?”
“sepuluh ribu wak kalau yang kecil. Kalau yang segini tiga puluh ribu”
“o.. dimana belinya?”
“di sana wak” dia menunjukkan arah utara dari perempatan jalan. Oh.. ya! Aku tahu.
Dompetku tak tebal hari ini. Tidak banyak penumpang yang menumpang di becakku. Hari ini sepi. Tapi tak apa, hari ini aku dapat rezeki lima puluh sembilan ribu, lumayan jika ku bagikan setengah untuk bocahku.
Aku memilih bola dengan warna kesukaan mama si bocah, warna hijau. Berharap juga dia kan memberiku lampu hijau untuk bertemu dengan si bocah setelah pertemuanku enam bulan silam. Matahari begitu terik, aku merasakan panasnya di punggungku hingga membuat urat kakiku semakin lemas untuk mendayung. Tapi kerinduanku ternyata mampu mengantarkanku untuk berada di pagar rumah mamanya.

Ya! Ini dia. Nomornya pun sesuai dengan yang tertulis di kertas alamat rumahnya yang diberikan padaku beberapa bulan lalu.
Aku coba menghampiri samping kanan pagar untuk menekan bel. Tapi setelah tiga kali ku bunyikan, tak jua seorang pun keluar lalu menanyakan sesuatu pada ku. Aku masih menunggu dan bersabar, bukan hal mudah untuk bisa sampai ke sini. Berbagai lorong ku tempuh hingga banku kempes, padahal aku harus melewati dua lorong lagi untuk bisa sampai ke sini. Oh, aku harus bersabar. Barangkali dia sedang pergi bekerja ke kantornya atau menjemput si bocah dari sekolahnya. Tapi tidak! Dua hari lagi kan puasa, pasti si bocah sudah mulai libur. Ah.. aku masih harus berpikir positif untuk hal yang ku lalui. Mungkin saja mereka berlibur dengan keluarganya ataupun pergi membeli daging untuk megang esok? Mungkin saja…

Saat ini, aku melebelkan diriku pria penantian. Dimana tiap hari aku selalu menanti untuk bisa menyentuh tangan halus si bocahku. Menatap matanya, membelai rambut hitamnya serta mencium aroma kulit putihnya. Nyaris tak tersampaikan semua yang ku inginkan! Dan sampai sekarang pun, aku belum mencapainya. Aku mencoba berdiri dari peristirahatanku di depan pagarnya. Aku bangkit dari dudukku, merasa sudah sangat lama tidak ada respon apapun dari dalam. Aku kembali menekan bel tiga kali, lalu aku sedikit mengintip ke balik pagar besi nan tinggi itu. terlihat halaman rumah yang sangat luas dengan berbagai jenis bunga di bagian tamannya. Oh, pantas saja dia tak mau kembali menjengukku ke sana, di sini lebih pantas untuk betah. 

Semoga dia tak menularkan kebetahannya itu untuk anandaku.
cekrek! Pintu pagarnya terbuka. Aku bersiap untuk memberikan senyumku untuk si bocah. Ku lihat, ada tiga orang yang keluar dari pagar itu. mama si bocah, seorang pria tak ku kenal dan satu lagi si bocahku. Sejenak, rasaku memanas, aku ingin memukuli lelaki itu dengan jurus yang ku punya. Dia terlihat mesra dengan istriku, namun aku mengurungkan niat itu, karena dia “berpeci”.
“maaf pak, kami tidak menjual buntut”

Hup! Ok, aku menerima perkataan si pria itu dengan diamku. Pakaianku yang lusuh memang membuat dia beranggapan aku tukang buntut. Tapi aku segera menunjukkan becakku yang ku parkir di sebelah sana.
“oh, pak, maaf.” Katanya, lalu memalingkan wajah ke arah istriku

“ma, kita pakai becak saja dulu ya, kebetulan ada tukang becak. Biarkan saja nanti papa yang telpon Amar untuk antarkan mobil. Mobilnya sedang diperbaiki.” Lanjutnya.
Aku tetap menahan berbagai rasaku untuk terus bersabar meski sesekali aku melirik wajah sang istri yang mulai memerah, namun dia memang istri yang penurut. Tanpa berkata-kata dia mengangguk usulan si “papa”. Sepertinya pria itu suami barunya. Oh.. tak apa. aku masih punya sepuncak es untuk mendinginkan hatiku. Mereka bertiga menaiki becakku dan aku mendayungnya hingga sampai ke sebuah tempat wisata. Ketika mereka turun aku sempat mengeluarkan kalimatku setelah mereka membayar ongkosnya,
“mawarnya banyak yang mekar ya buk”

“o iya pak. Dan sebentar lagi mungkin layu karena sudah lama mekar” sahut suaminya.
Ya! Dalam hati aku mengiyakan semua perkataan si “papa”. Lalu, dia menggendong anaknya, anandaku! Tiba-tiba aku teringat dengan bola duri yang ku beli tadi. Aku memanggil anak itu dengan sebutan “Nak”, karena hingga sekarang istriku tak memberitahuku tentang nama si bocahku. Dia menoleh dari gendongan papanya, lalu aku menyodorkan bola duri itu setelah aku mendriblenya. Lampu-lampu itu membuat dia tertawa. Aku bahagia bisa menertawakannya, meski dengan bola duri.

Sementara wajah istriku, oops, mantan istri maksudnya, masih enggan menumpahkan sedikit senyum. Tidak mengapa, mungkin kau terlalu bahagia dengannya hingga kau tak bisa melihat senyum orang lain karena tertutupi senyumnya. Ramuanku untuk mu melalui bola duri untuk anandaku masih belum mampu menyembuhkan lukamu dulu karena ku. Hidupku yang sarat dengan masalah telah membuat ku pisah dengan mereka, stalagtit dan stalagmite indahku. Biarpun begitu, aku tetap tidak akan bersimpuh memohon maafmu, mantan istriku. Karena ini bukan mutlak salahku. Aku akan terus mekar untuk mengetahui nama anandaku, dan tak seperti mawar kalian. Karena sekarang belum tercapai semua inginku.

Cerpen Karangan: Radhia Humaira

Blog: debu teratai
Facebook: Radhia Humaira

Radhia Humaira lahir di Meunje Gandapura pada 06 Maret 1996, sekarang sedang menjalani kehidupan di asrama sekolah SMAN UNGGUL ACEH TIMUR. selama ini, Alhamdulillah dalam perjalanan hidup saya di sini, saya mendapatkan banyak pengalaman. pada April 2013 lalu, saya berhasil menjadi sutradara dalam sebuah perlombaan teater hingga berkat ridha Nya kami diizinkan untuk melaju ke provinsi, walaupun akhirnya hasilnya tidak seperti yang diinginkan. tapi Alhamdulillah juga dengan rahmat Allah SWT saya bisa mendapatkan juara 2 di bidang puisi. dengan mempost cerpen ini, saya berharap bisa mendapat pelajaran yang lebih dari kawan-kawan tentang cerpen melalui kritik dan saran kawan-kawan. terimakasih kawan buat waktunya… :) salam…

******

MUNGKIN..INI CERITA YANG PERNAH KAMU DENGAR


Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”
Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman, atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah kamu separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih untuk mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah kamu pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa kamu bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau kamu mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah kamu ingin membebaskan diri agar kamu bisa mencapai sesuatu yang selama ini kamu anggap diluar batas kemampuan kamu?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang kamu ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tetapi bila kamu sudah sampai kepuncak, semua pengorbanan itu pasti terbayar.

Kehidupan kamu akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan kamu. Bukan cara hidup yang seperti mereka pilihkan untuk kamu…
*****

~* IKAN KECIL DAN AIR *~

Suatu hari seorang anak dan ayahnya sedang duduk berbincang-bincang ditepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil ini berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya. “ Hai, tahukah kamu dimana air itu? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan tidak ada yang mengetahui dimana air itu, si ikan kecil mulai gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu, ikan kecil ini menanyakan hal yang serupa, Dimanakah air itu?”

Jawaban ikan sepuh adalah, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga bahkan kamu tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.”

Apa arti cerita tersebut diatas? Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai tidak menyadarinya.

*******

~* HARGAILAH HIDUPMU,KAWAN *~

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walaupun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.


Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

*******
~* SEMANGKUK BAKSO *~
Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.


"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.

"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.

"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.

"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."

Putri pun segera duduk di dalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.

"Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."

"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."

Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,

"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."

"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.

Guys,

Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.

Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

*******

~* PESAN IBU *~

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Kak, beli kue kak, masih hangat dan enak rasanya!"

"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Kak."

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"

"Kak, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Kakak bukan hasil dari menjual kue. Tadi kakak bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu."

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Kak. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."

Guys,

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

*******

~* BERSYUKUR DAN BERBAHAGIA *~

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?"

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

"Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang," terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat."

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini."

"Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.

"Silakan."

"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"

"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Allah juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas semua pemberiannya ini".

Teman-teman,

Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah... setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia.

*******

~* KOSONGKAN CANGKIR TEH MU *~

Di sebuah kerajaan, karena kesibukan sang raja memerintah, permaisurilah yang menemani dan sangat memanjakan sang pangeran. Pangeran tumbuh menjadi pemuda yang sombong, egois, kurang sopan santun, dan malas belajar. Raja sangat sedih memikirkan sikap pangeran muda. Bagaimana nasib negeri ini nantinya?

Setelah berbincang dengan permaisuri, raja pun bertitah: “Anakku, tahta kerajaan akan ayah serahkan kepadamu, tetapi dengan syarat engkau harus tinggal dan belajar selama 1 tahun di atas bukit bersama seorang guru yang telah ayah pilih. Bila engkau gagal, maka tahta kerajaan akan ayah serahkan kepada orang lain.”

Pangeran serta merta menyanggupi persyaratan itu. Dalam hati ia berkata, “Apalah artinya penderitaan 1 tahun dibandingkan kelak sebagai raja, aku bisa hidup mewah dan bersenang-senang seumur hidupku!”

Setibanya di kediaman sang guru, tingkah laku pangeran tetap sombong, menyebalkan, dan tidak sopan. Dia merasa sebagai pangeran, semua orang harus menuruti kemauannya. Setiap kali gurunya bertanya, pangeran menjawab semaunya. Setiap kali gurunya menerangkan pelajaran, pangeran tidak mendengarkan—merasa sudah tahu semua.

Tidak terasa haripun berganti minggu. Sang guru berpikir keras tentang cara untuk memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong dan sok pintar itu.

Suatu hari, sang guru menyeduh teh dan menuangkan ke cangkir pangeran. Air teh dituang terus dan terus hingga tumpah ke mana-mana sehingga mengenai tangan sang pangeran. Pangeran berteriak marah, “Hai, bodoh sekali! Menuang teh saja tidak becus! Cangkir sudah penuh mengapa masih dituang terus? Air mendidih, lagi!”

Dengan tersenyum sang guru berkata tegas, “Beruntung hanya tangan pengeran yang terkena percikan teh panas. Sebagai seorang pangeran, calon raja dan suri tauladan bagi rakyatnya, tidak sepantasnya berkata tidak sopan seperti itu, lebih-lebih kepada gurunya sehingga sepantasnya mulut pangeranlah yang harus dituang teh panas ini.
Aku sengaja menuang terus cangkir yang telah terisi penuh karena ingin mengajarkan kepada Yang Mulia bahwa cangkir teh diumpamakan sama seperti otak manusia. Bila telah terisi penuh maka tidak mungkin diisi lagi. Karenanya kosongkan dulu cangkirmu, kosongkan pikiranmu, agar bisa diisi hal-hal baru yang positif. Hanya bekal ini yang ingin guru sampaikan. Bila pangeran tidak berkenan, silakan pergi dari sini.”

Mendengar perkataan sang gurunya yang tegas, pangeran seketika tertunduk malu. Peristiwa itu menyadarkan pangeran untuk mengubah sikapnya dan menerima pelajaran dari gurunya. Tentu saja perubahan sikap pengeran ini membuat raja sangat bergembira.

Teman-teman,

Karena status, pendidikan, atau kedudukan, seringkali seseorang merasa lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih pintar dari orang lain. Sikap seperti ini membuat pikiran tertutup (atau mental block), sulit menerima hal-hal baru yang diberikan oleh orang lain.

Sikap seperti ini jelas merugikan diri sendiri. Jika kita mau dan bisa bersikap terbuka dalam menerima hal-hal baru serta mau menerima kritikan membangun yang diberikan oleh orang lain, maka kita akan dapat memetik banyak keuntungan; seperti bertambahnya wawasan, ide, pengetahuan, pengertian, wisdom, dan lain sebagainya. Pasti semua itu bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan dan menciptakan kesuksesan.

*******

~* SEBELUM SENJA *~

Aku berjalan dengan sepatu tanpa tali dan terbang menyusuri ladang jagung, teh dan padi yang mulai tunduk menguning. bersama hembusan angin teduh pagi itu. kemudian hinggap di ranting pohon beringin yang amat ridang yang tampak tak di tumbuhi benalu sedikitpun. di bawahnya terdapat aliran air yang mengalir jernih menuju lautan, di telingaku terngiang nyanyian burung burung pagi ikut menyemarakan pagi itu. kemejaku menarikku untuk menjelejah lebih jauh, aku kembali terbang menyusuri hutan lebih dalam dan sampailah di sebuah perkampungan yang asing menurutku, sangat asing. aku susuri rumah rumah penduduk, semua tampak tak beratap, hanya dinding dan lantai yang sudah di tumbuhi lumut.

Disana terlihat seorang kakek di pinggir sebuah danau yang keruh, ia pandang danau tersebut. dengan tajam, kemudian dengan gesit kakek itu melepas sandal sebelah kirinya dan melemparnya ke tengah danau, kemudian ia ambil pungut kembali sandalnya, dan dengan hati hati ia kembali ke tepi danau, ia kembali memandang danau dengan tajam nya, ia
kembali melempar sandalnya, dan kembali ia pungut. aku perhatikan berlama lama, kakek itu terus menerus melakukan hal yang sama. keindahan pagi itu meredup.

Aku kembali meneruskan perjalanan, tepat di arah barat ada sesosok wanita muda sedang menimba air di pinggir sumur, di sampingnya terdapat jeligen berukuran besar dan sebuang corong tepat di lubangnya, di sebelahnya lagi ada sekotak bak yang terbuat dari marmer yang di bentuk sedemikian rupa, indah memang sayangnya bak itu kosong, kering, tak berair. aku perhatikan wanita muda itu, ia tarik tali yang terhubung dengan katrol di atasnya, tak lama ember air muncul di hadapannya, ia ambil ember tersebut. dengan seketika ia siramkan air itu ke seluruh tubuhnya, ia basah kuyup. entah sengaja atau tidak ia menoleh ke arah ku, tatapannya kosong. dan ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan jeligen bercorong dan bak marmer itu.

Matahari mulai ganas ia mulai melotot ke arah bumi, tak berkedip sedikitpun kecuali terhalang awan yang berbondong-bndong berlarian sejalan dengan arah angin. aku berteduh di depan sebuah toko di samping sebuah gubuk tua, aku duduk di pangkuan kursi yang terbuat dari rotan muda, tak lama di hadapanku tampak sebuah truk gandengan yang berusaha parkir, tetapi tiang gubuk di samping toko itu tertabrak dan akhirnya bagian depan gubuk itu runtuh, para penghuni gubuk itu berlarian terbirit-birit, lari kocar kacir sambil menganga ke arah pintu truk. empat orang anak kecil menangis, menjerit histeris sambil mencakar betis betis orang tuanya, sesekali orang tua mereka menepisnya. orang orang di dalam toko bersikap acuh, melakukan jual beli seperti biasanya, padahal jeritan anak kecil tadi terdengar hingga desa sebelah, bahkan negara tetangganya, tetapi masyarakat desa dan negara tetangga hanya membincangkannya tanpa ingin menyingsingkan lengan baju mereka.

Sopir truk turun dari mobilnya, ia sawerkan uang lembaran ke arah penghuni gubuk itu tanpa di liriknya sedikitpun, sopir itu berjalan dengan perut buncit dan baju ketatnya ke arah toko. penghuni gubuk itu saling berebut uang itu dengan menjerit jerit girang, anak anak mereka terinjak injak, orang tua di antara mereka terseret saudaranya sendiri, seorang pemuda di antara mereka mencoba menenangkan penghuni gubuk, tetapi penghuni lain masih terus menjerit jerit, sampai-sampai saling menganiaya mereka, bahkan ada seorang gadis yang memukuli dirinya sendiri.

Aku lihat sopir tadi sedikit berbisik kepada salah seorang laki-laki berkumis, mungkin laki-laki itu pemilik toko tersebut. lelaki berkumis mengangguk seakan mengerti, ia berputar putar mengelilingi toko dan menepuk pundak para pegawainya, dan ia mengambil pecut dari lacinya, ia pecut para pegawai yang diam mematung di tempatnya berdiri.

Lelaki berkumis itu naik ke lantai atas dan berbicara dengan suara lantang di balik mimbar. ia berbicara panjang lebar. kemudian ia terdiam dan memandang ke arah langit, ia meninggalkan mimbar dan mengambil koper besar dengan roda yang menahan beban koper. lelaki berkumis itu beranjak masuk ke pesawat yang telah ia booking. dengan serempak para pegawai berjalan seperti robot menuju truk gandengan. lelaki berkumis melambaikan tangan dari jendela pesawat sambil tersenyum ke arah para pegawai, penghuni gubuk, kepada lelaki buncit, dan termasuk kepadaku yang masih tetap duduk di pangkuan kursi rotan para pegawai masing-masing mengambil sekotak kardus dan pergi meninggalkan tempat itu.

Lelaki buncit itu kembali menghidupkan mesin truk dan di jalankan nya, semakin jauh dan menghilanh di telan jarak. di sana hanya terlihat para penghuni gubuk yang masih menjerit-jerit.

Aku beranjak dari tempat dudukku dengan hati bertanya-tanya “ada apa dengan negeri ini?” meninggalkan para panghuni gubuk dan kembali melewati sumur, jeligen bercorong, dan bak marmer juga kakek yang membuang sandal sebelah kirinya dan pohon beringin yang tadi pagi aku hinggapi. aku kembali di waktu senja hari.

 Cerpen Karangan: Casper
Facebook: Hilman Muhamad Fahlevi
maaf saya penulis amatir, ampuni dosa saya bila karya saya semrawut.

^_^

******

~* CINTA SEPOTONG DONAT *~

Tring… tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mas, mau pesan apa?” sapa seorang perempuan muda pelayan toko donat yang sore itu sedang bertugas. Pelanggan yang disapanya adalah seorang lelaki yang masih lengkap dengan seragam kantornya yang berwarna abu-abu muda dan celana panjang hitam. Di bahunya 0tersampir tas ransel hitam dan tangan kirinya menenteng jas berwarna senada.
“Minta triple cocholate-nya satu ya mbak. Dimakan disini. Minumnya orange juice aja,” pinta lelaki itu. Perempuan pelayan toko pun mengambilkan pesanan lelaki itu dan meletakkannya didalam nampan. Setelah semua pesanannya lengkap, lelaki itu pun membawa nampannya ke sebuah meja yang terletak di sisi jendela. Sebenarnya meja itu sedikit panas, karena cahaya matahari sore menyinari langsung sisi tersebut. Tapi dalam ruangan ber-AC ini, rasa panas itu menjadi hangat, sehingga lelaki itu pun memilih untuk duduk disana.

Tring…. Tring….
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak, mau pesan apa?’ kembali perempuan pelayan toko itu menyapa pelanggan yang datang. Kali ini, seorang gadis dengan baju batik warna hijau muda dan celana panjang hitam, serta tas ransel abu-abu yang dibawa di pundaknya.

“Mm… saya mau pesan donat Peanut, mbak. Masih ada nggak mbak, ya?” tanya gadis itu ragu ketika dilihatnya rak donat isinya tinggal sedikit dan ia tak menemukan donat yang dimintanya disana.
“Maaf mbak, jenis donat yang mbak minta sudah habis. Mungkin yang lain saja mbak?” tawar perempuan pelayan toko itu. Meskipun gadis tadi tampak kecewa, akhirnya ia memesan satu buah donat jenis yang lain beserta ice chocolate. Ia pun membawa nampan berisi pesanannya ke salah satu meja yang masih kosong. 
Meskipun meja itu agak panas, tapi menjadi hangat karena ruangan ini ber-AC.

Saat gadis itu duduk, lelaki tadi memandanginya. Mereka duduk berhadapan meskipun berpisah meja. Saat gadis itu menyadari kehadirannya, ia sempat melemparkan sedikit senyum yang dibalas dengan senyum seadanya oleh lelaki itu. Ia pun melanjutkan memakan donatnya sendiri yang tinggal sepertiga lagi. Lima menit kemudian, donat di piringnya habis dan ia pun menyelesaikannya dengan menghabiskan pula orang juice-nya. Ia pun berdiri dan menyandang kembali tas ransel serta jas-nya. Seraya melangkah ke pintu keluar, ia menoleh lagi pada gadis itu lalu tersenyum kecil yang dibalas oleh gadis itu.
Tring… tring…
***

Tring… tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak, mau pesan apa?” tanya pelayan toko donat, seorang pria berwajah oriental. Pelanggan yang disapanya yaitu seorang gadis berkemeja ungu muda dan rok hitam selutut, masih lengkap dengan tas ranselnya.
“Saya mau pesan donat Peanut, mas. Masih ada nggak mas?” tanya gadis itu sambil celingukan melihat ke rak donat.

“Maaf mbak, kalau jenis donat yang itu memang paling cepat habisnya, apalagi kalau sudah sore begini, mbak. Mungkin donat yang lain saja mbak?” tawar pria penjaga toko donat itu. Dengan ragu akhirnya gadis itu menunjuk salah satu jenis donat yang masih tersedia di rak. Ia pun membawa nampan berisi pesanannya ke meja yang masih kosong. Dipandanginya sejenak donat yang ada dihadapannya, lalu dengan enggan ia memotong donat itu dan menyuapkannya sendiri. Sementara itu, pandangannya menerawang ke lalu lintas jalan raya yang ada diseberang toko ini.

Tring…tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donat. Silahkan mas, mau pesan apa?” tanya pria pelayan toko donat pada seorang lelaki yang baru saja memasuki toko donat itu. Raut lelah jelas tampak di wajah lelaki itu, dan ia sempat menghembuskan nafas keras-keras sebelum menyebutkan pesanannya.

“Saya mau beli donat-nya setengah lusin, mas. Tolong pilihkan semuanya yang serba cokelat, tapi dikasih satu-satu saja ya setiap jenisnya,” pesan lelaki itu. Pria oriental pelayan toko pun mengikuti permintaannya. Sambil menunggu pesanannya lengkap, lelaki itu mengedarkan pandangannya ke dalam toko. Ketika dilihatnya sesosok gadis yang duduk di meja di dekat jendela, ia tak mungkin salah kalau gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang kemarin duduk berseberangan dengannya di toko ini juga. Tapi yang membuatnya heran, ia melihat gadis itu hanya memain-mainkan garpu dan pisau yang digunakan untuk memotong donat tanpa sedikitpun menyentuh donat yang ada dipiringnya. Ia tahu jenis donat itu, double cocholate. Tapi kenapa tak dimakan olehnya? Tak lama gadis itu pun meraih ranselnya dan melangkah keluar tanpa menyadari bahawa ia sedang diperhatikan. Saat gadis itu telah menghilang dibalik pintu, lelaki tadi berjalan mendekati mejanya. Benar tebakan lelaki itu, donatnya hanya dipotong sedikit dan sisanya tak dimakan. Hanya air minum saja yang habis.

“Maaf, mas. Saya mau tanya. Gadis yang tadi duduk di meja itu, dia pesan donat apa ya mas?” tanya lelaki itu pada pria oriental pelayan toko.
“Ooh… dia tadinya mau pesan donat Peanut, tapi sudah habis mas. Jadinya dia pesan donat double chocolate,” jelas pria pelayan toko itu.
“Donat Peanut? Masih sama dengan pesanannya waktu itu…,” gumam lelaki itu dalam hati. Setelah pesanannya selesai diambil, ia pun membayarnya dan bergegas keluar dari toko itu.
***
“Makasih ya donatnya, sob!” seru Marcel sambil menggigit dalam potongan besar donat triple chocolate. Yuda, salah satu penghuni kontrakan K15 komplek Taman Lestari, yang mentraktir donat, membalasnya dengan senyuman. Setelah meletakkan tasnya dikamar, ia mengganti pakaian kerjanya dengan celana pendek dan kaus cokelat tanpa lengan.
“Besok giliranku deh traktir burger…,” usul Jimmy yang langsung diiyakan oleh Marcel. Sebagai satu-satunya penghuni di rumah itu yang berbadan besar, ia tak pernah menolak segala jenis makanan yang diberikan padanya, apalagi kalau gratis.
Yuda mengambil air dingin di dalam kulkas lalu menuangkannya kedalam gelasnya sendiri. Pikirannya masih melayang kepada gadis tadi. Kenapa hanya donat kacang yang dicarinya? Kenapa dia sebegitu tidak senangnya dengan jenis donat lain? Kalau memang dia tak ingin makan donat yang lain, bisa saja dia tidak memesannya kalau ternyata hanya dimakannya sedikit. Sebagai orang yang paling anti melihat makanan terbuang, ia sangat tidak setuju dengan ulah gadis tadi yang tidak menghabiskan donatnya. Terlebih lagi, donat termasuk salah satu makanan kesukaannya.
“Kok diam, Yud? Nggak mau makan donatnya?” tanya Marcel yang baru saja menelan donat jatahnya yang terakhir. Yuda tersentak kaget, lalu mengambil satu donat double chocolate didalam kotak. Ia sempat memperhatikan donat itu, lalu pikirannya kembali pada gadis tadi. Ini adalah jenis donat yang tadi dipesan oleh gadis itu dan tidak dimakannya. Apa yang salah dengan donat ini, gumamnya dalam hati.
“Kalau donatnya ngak mau dimakan, sini biar aku yang makan!” ujar Marcel sambil pura-pura hendak merebut donat di tangan Yuda. Buru-buru lelaki itu menghindarkan donatnya dari jangkauan Marcel, dan langsung menggigitnya hingga mulutnya penuh terisi. Jimmy yang melihat aksi perebutan donat itu hanya bisa tertawa. Donat jatahnya masih sisa setengah, tapi ia sudah keburu kenyang karena sebelum pulang tadi ia sempat singgah di kedai siomay bandung disamping kantornya. Akhirnya ia pun memberikan donat itu pada Marcel yang langsung disambut pria tambun itu dengan suka cita.
“Besok Minggu kan? Kalian mau kemana?” tanya Jimmy sambil meneguk air dingin dari gelasnya.
“Mancing yuk! Minggu kemarin kan kita tak jadi pergi,” usul Marcel kemudian. Yuda masih belum menyahut ajakan kedua temannya, karena tiba-tiba saja ia telah punya rencana sendiri untuk besok.
“Aku nggak ikutan deh ya. Lagi mau nyelesaikan proposal untuk ajuan kegiatan kantor bulan ini. Sorry…,” sesal Yuda sambil menatap kedua temannya. Marcel mendelik sedikit, sedangkan Jimmy hanya mengangkat bahu.
“Eh, tapi nggak usah aja deh. Dirumah sajalah kita. Besok pagi kita jogging, terus siangnya kita sewa DVD, nonton dirumah. Bagaimana menurutmu, Jim?” tanya Marcel meminta persetujuan. Jimmy tampak menerawang sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju. Wajah Marcel pun sumringah, dan ia kembali bersemangat mendiskusikan daftar film yang akan mereka sewa besok. Yuda tersenyum kecil menanggapi obrolan mereka tanpa minat, karena ia sudah merancang apa yang akan dilakukannya besok.
***
“Sudahlah, Qanita… Setiap hari kamu selalu pergi kesana. Kalau memang nggak ada, berarti memang nggak ada lagi donat jenis itu jam segitu. Ngotot banget sih?” gerutu Alya ketika dilihatnya Qanita, adiknya, sedang bersiap-siap untuk pergi. Qanita yang sudah terbiasa dengan omelan kakaknya itu hanya tersenyum kecil, lalu sambil menenteng tas kecilnya ia melewati kakaknya dan menyalaminya sebentar.
“Aku hanya mau makan donat itu sebanyak-banyaknya sebelum aku kehabisan waktu, kak,” ujarnya pelan. Tubuh Alya membatu, lidahnya kelu hingga ia hanya bisa menyahut ketika adiknya mengucapkan salam. Dipandanginya tubuh adiknya yang menjauh seiring dengan sepeda motor yang dikendarai. Perlahan kesedihan itu kembali menyeruak, meskipun selama ini ia selalu berusaha untuk menekannya agar ia lupa bahwa telah ada kenyataan pahit yang menantinya sebentar lagi.

Tring… tring…
“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mas, mau pesan apa?” tanya seorang pria berlogat jawa kental yang jadi pelayan toko siang itu.
Tring… tring…
“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak, mau pesan apa?” tanya seorang perempuan hitam manis pelayan toko donat siang itu.
“Mbak, saya mau pesan donat Peanut. Masih ada nggak mbak?” tanya Qanita sambil mengamati rak donat. Seketika wajahnya cerah melihat donat kacang yang selama ini dicarinya masih ada.
“Ada mbak, mau pesan berapa?” tanya perempuan pelayan toko itu.
“Satu aja, mbak. Minumnya chocolate ice ya mbak,” pesan Qanita bersemangat.
“Donat double chocolate-nya satu mas. Minumnya coffee ice aja,” pinta Yuda. Sesaat kemudian ia menoleh, dan didapatinya gadis yang kemarin dilihatnya di toko donat ini juga sedang memandangnya. Gadis itu tersenyum hangat, dengan wajah yang lebih ceria daripada kemarin.
“Hai,” sapa gadis itu. Yuda membalas tersenyum, lalu membawa nampan pesanannya ke meja yang sama dengan waktu dia datang kesini beberapa hari yang lalu. Hanya bedanya, kali ini dia datang di siang hari, sehingga meja itu tidak panas. Gadis yang tadi menyapanya juga duduk dimeja yang sama, yaitu di meja yang berseberangan dengan mejanya. Mereka pun duduk berhadapan seperti waktu itu, lalu masing-masing mulai sibuk memakan donat pesanannya. Yuda sempat melirik kearah gadis itu. Tampak gadis itu makan donat dengan bersemangat dan wajah yang ceria, sangat beda sekali dengan wajah yang dijumpainya beberapa hari yang lalu. Dalam waktu 10 menit, donat dipiringnya sudah habis, dan gadis itu pun bangun dari duduknya.
“Yuk,” pamit gadis itu seraya melemparkan senyuman. Ia pun melangkah keluar. Sementara itu, Yuda memperhatikan piring bekas makan gadis itu yang kini telah kosong. Sepertinya ia sangat menyukai donat itu, gumam hati Yuda.
“Mas, saya bisa pesan sesuatu nggak?” kata Yuda pada pria berlogat jawa pelayan toko itu.
“Iya, mas. Ada apa ya mas?” tanya pria pelayan toko itu heran.
“Kalau gadis yang tadi datang lagi besok atau hari-hari berikutnya, tolong sisakan satu donat peanut seperti pesanan gadis itu ya mas. Dia biasanya datang sore, makanya suka kehabisan donat peanut. Sisakan saja satu ya mas, kalau dia datang, langsung saja dikasih donat itu. Bisa kan mas?” pinta Yuda. Pria pelayan toko itu akhirnya mengangguk setuju meskipun masih bingung juga dengan pesan Yuda.
“Memangnya mbak yang tadi itu saudaranya mas ya?” tanya pria pelayan toko itu penasaran. Yuda tertawa kecil sambil membenarkan letak jaket dibadannya.
“Bukan, dia teman saya,” kata Yuda singkat, lalu meninggalkan toko itu.

***

“Tinggal dua minggu lagi, Nita,” ujar Om Baskoro, adik ibunya sekaligus dokter yang merawatnya selama lima bulan ini. Nita tersenyum lalu menyentuh tangan pamannya dengan lembut.
“Aku nggak apa-apa, om. Aku juga sudah siap,” ujar Qanita pelan seraya tersenyum. Om Baskoro mengamati wajah anak tunggal kakaknya itu, dan seperti sebuah siluet bayangan masa kecil ketika Qanita baru lahir di suatu musim dingin di negeri Sakura saat itu, lalu ketika gadis itu melalui masa anak-anak, remaja hingga ia mencapai usianya yang sekarang nyaris membuat lelaki itu menangis. Tapi dia tak akan menangis didepan anak ini, karena sejak Qanita divonis penyakit mematikan ini pun sama sekali ia tak pernah melihat Qanita meneteskan air mata. Anak ini memang tegar seperti ayahnya, yang memang telah meninggal oleh penyakit yang sama dengan Qanita.
“Om mau makan donat?” ajak Qanita kemudian. Tanpa berpikir panjang lagi, Om Baskoro mengiyakan ajakan keponakannya itu. Qanita menggelayutkan tangannya di lengan lelaki itu dan mereka berjalan beriringan keluar ruangan.

Tring… tring…

“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak, mau pesan apa?” tanya perempuan pelayan toko donat siang itu. Tapi sedetik kemudian ia langsung meralat kata-katanya, “Mbak pasti mau pesan donat kacang ‘kan? Kebetulan masih ada mbak!” seru pelayan toko itu dan cepat-cepat mengambilkan donat kacang yang disimpannya di rak bertutup paling bawah. Qanita sempat heran ketika mendapati donat kesukaannya masih ada pada jam ini.

“Makasih ya mbak. Om mau pesan apa?” tanya Qanita pada Om Baskoro. Lelaki itu pun memilih sebuah donat almond. Untuk minum, mereka sama-sama memesan cappucino.
“Qanita suka makan disini?” tanya Om Baskoro sambil mengunyah donat-nya sendiri. Qanita mengangguk sambil menyendok serpihan kacang yang bertaburan di piringnya.

“Iya om, suka banget. Dan aku suka sama donat peanut ini. Tapi karena aku suka datang sore, jadi biasanya keburu kehabisan. Makanya aku kaget aja begitu si mbak tadi bilang kalau donat ini masih ada. Mm… apa dia sampai hapal ya karena aku sering banget pesan donat ini? Hehehe…,” tawa Qanita kemudian. Om Baskoro tersenyum mendengar penuturan keponakannya itu. Ia pun tampak sangat menikmati donat yang dipesannya.

“Papa dulu pernah bilang, makan donat ini seperti satu dari sekian banyak kisah hidup kita. Kalau donat ini manis, jadi donat itu seperti kisah hidup kita yang menyenangkan. Kalau menurutku, donat kacang ini punya arti tersendiri. Kacang yang ditaburin diatasnya ini adalah kita, manusia. Kita hidup menyebar dimana aja, diseluruh dunia. Hidup dengan kisah yang berbeda-beda. Impian paling sederhana yang kita punya adalah hidup senang dan bahagia dari awal sampai akhir, makanya kita memilih untuk hidup diatas cokelat ini, karena dengan makan cokelat sedikit aja kita bisa merasa senang dan mood kita yang awalnya jelek jadi bagus lagi. Sebegitu sederhananya keinginan kita, sama dengan sederhananya tepung yang dipakai untuk adonan donat ini. So, it’s very complete, like a package with full of happines. Dan…,” ucap Qanita tertahan.
 
 Ia tampak merenung sejenak sambil memandangi donat miliknya yang tinggal setengah. Om Baskoro menatap dengan pandangan menyelidik. Ada perasaan tak enak menggelayut tiba-tiba dihatinya.

“Dan, kalau dengan makan donat peanut ini aku bisa merasa bahagia sampai akhir hidupku, aku hanya ingin makan donat peanut ini sebanyak mungkin tanpa merasa sedih,” lanjut Qanita kemudian. Lalu ia tersenyum sambil menatap Om Baskoro, sementara lelaki itu hanya bisa terdiam. Ia tahu, Qanita sedang berjuang pula menahan rasa sakitnya, mencoba untuk merelakan semua yang ia punya untuk ditinggalkannya lebih awal dari waktu yang dikiranya masih panjang. Memang kita tak bisa memilih kapan waktunya untuk kita akan pergi, tapi kita hanya bisa berharap ketika kita pergi tak akan ada lagi beban yang tak kita lepaskan disini.
***
Tring… tring…
“Selamat siang, Mas Yuda,” sapa pria berwajah oriental pelayan toko donat sore itu. Hampir semua pelayan toko donat telah mengenalnya karena kini ia termasuk pelanggan tetap di toko itu.

“Hai, Pram. Panas banget cuaca diluar. Pas masuk kesini jadinya adem, bikin betah,” canda Yuda yang disambut Pram, pria pelayan toko itu dengan tawa kecil.

“Mau makan donat mas? Oya, tapi ada titipan untuk mas. Baru aja tadi pagi diantar kesini. Dan… dia minta dikasih donat ini untuk mas,” kata Pram sambil menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna kuning dan sebuah donat kacang. Mendadak perasaan Yuda menjadi kacau. Dengan ragu diambilnya amplop itu, lalu dibaliknya. Sebuah nama “Qanita” tertulis di amplop itu.

“Namanya Qanita, mas. Gadis yang suka pesan donat peanut itu,” kata Pram kemudian. Yuda melirihkan kata terima kasih, lalu duduk di meja yang selalu ditempatinya setiap kali datang kesana. Dipandanginya amplop kuning ditangannya, antara ragu dengan tidak akhirnya ia memutuskan untuk membacanya.

Untukmu…

Terima kasih sudah menyediakan donat kacang ini setiap hari. Inginnya setiap hari aku mencicipi nikmatnya, tapi maaf… Kali ini kembali kutitipkan donat kacang ini padamu. Karena aku tak lagi bisa merasanya. Jika aku selalu merasa bahagia setiap memakan donat kacang ini, maka kini kebahagiaan itu kuberikan padamu. Anggaplah sebagai ucapan terima kasih yang tak akan pernah kusampaikan dalam nyata. Sampai bertemu di dunia lain, dan aku masih berharap di dunia itu nanti,
kita bisa makan donat peanut ini berdua.
Thankyou
 
 ^_^

Yuda tersenyum membaca isi surat itu. Meskipun ia tak akan pernah menemui gadis itu lagi, tapi dengan mengetahui bahwa gadis itu bahagia dengan donat kacang yang selalu tersedia di toko ini setiap hari, ia pun yakin kalau gadis itu akan terus bahagia hingga ia telah tinggal di dunia lain.

Masih banyak cara untuk menemukan kebahagiaan di dunia ini. Bahkan hanya dengan hal-hal kecil dan sederhana saja kita bersyukur karena bisa merasakan bahagia itu. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka mata dan hati kita untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, karena itu akan berdampak positif dan memberikan kebahagiaan yang berkelanjutan untuk semua orang di bumi ini.
 
*******

~* KISAH LUKISAN DI DINDING *~

Pagi yang cerah, matahari berseri-seri menyongsong orang-orang yang bersiap menyibukan diri. Entah sejak kapan manusia terbiasa bekerja saat matahari bersinar dan beristirahat saat matahari tenggelam. Adakah awal mula yang menyebabkan semua kebiasaan-kebiasaan manusia. Apakah sejak manusia pertama lahir di bumi ini sudah secara alami memulai kebiasaan-kebiasaanya. Ataukah manusia pertama-tama dahulu melakukan uji coba atau penelitian sebelum mereka memutuskan kebiasaankebiasaannya.

Setelah tiga hari berturut-turut hujan mengguyur sejak pagi dan sepanjang hari diselimuti mendung, hari ini cerah benar. Seorang anak kelas tiga membolak-balik buku rapornya. Dari sampul rapor yang berwarna biru, tertulis nama: Priyatmoko, Nomor Induk Siswa: 157, Sekolah Dasar Negeri Sonosewu 1, dan diatasnya tertera tulisan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Ranting Dinas Kotamadya . Ia lalu membalik sampul dan langsung terpampang lengkap biodata dan foto pemilik rapor itu. Langsung saja ia membalik kehalaman empat, halaman rapor yang kedua dan ketiga ia lewati.

Halaman empat itu ia amat-amati dengan seksama dari baris pertama sampai terakhir. Baris pertama Pendidikan Moral Pancasila bernilai enam, baris kedua Pendidikan Agama juga bernilai enam, dan seterusnya adalah angka merah menyala. Ia seperti tak mau terima dengan nilai di rapornya. Ia tampak kesal melihat tulisan paling bawah di atas tanda tangan Kepala Sekolah dan Wali Kelas yang menyatakan bahwa si pemilik rapor itu harus tinggal kelas.

Sungguh suatu kesedihan yang mendalam bagi Priyatmoko harus tinggal kelas dan harus mengulang semua pelajaran kelas tiga selama satu tahun. Ia berpikir kenapa tidak Ibu wali kelas itu mengatrol nilainya sehingga ia dapat naik kelas. Memang aneh bagi Priyatmoko yang dahulu sebelum pindah sekolah ia selalu mendapatkan tiga besar.

Pernah rangking dua di kelas satu dan rangking tiga di kelas dua. Dan sekarang ia harus tinggal kelas bersama dua murid lain yang memang belum lancar berhitung. Tetapi Priyatmoko ahli mencongak, dan nilai tes hasil belajar catur wulan ketiga tidak kurang dari delapan untuk matematika. Mengapa ia tak naik kelas, Priyatmoko anak desa yang baru pindah ke kota itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Penyesalan yang sangat oleh Priyatmoko dirasakan juga oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah berbicara dengan Priyatmoko dan memaklumi bahwa dia tidak naik kelas.

Mungkin karena kau murid baru Nak, kata ibunya membujuk. Tetapi aku tidak bodoh Bu, kalau Dwi dan Lusi itu kan memang sudah tradisi mereka tinggal kelas, jawab Priyatmoko.

Sudahlah Bu, saya mau kembali ke desa saja di sana aku banyak sahabat sedang disini semuanya beda.
Untuk apa kau kembali disana, kau hanya akan memberati kehidupan Kakekmu, sedang kau mencari rumput untuk kambing saja tidak becus.

Terserah Bu, pokoknya besok aku mau ke gunung untuk liburan. Aku sudah menabung dapat enamratus rupiah, cukup untuk ongkos pulang pergi.

Pagi-pagi benar Priyatmoko sudah pergi ke jalan raya untuk menumpang bus yang pertama jurusan ke Gunung. Biasanya bus itu datang dua jam sekali, tetapi kalau pagi hanya berselang satu jam saja antara bus satu dengan yang dibelakangnya karena banyak penumpang yang mau pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi. Tak lama bus yang di nanti Priyatmoko datang, lalu ia memilih kursi paling depan di dekat sopir. Kursi dekat sopir bagi anak-anak adalah tempat yang paling istimewa, karena bebas memandang kedepan dan bisa mencermati gerak-gerik sopir dalam menggendalikan bis.

Sebenarnya bukan hanya soal itu saja kenapa kursi depan menjadi favorit anak-anak, biasanya anak-anak desa sangat bangga dan kagum pada orang yang betprofesi sebagai sopir, dan sopir dari desa jarang-jarang ada yang mau kursi terdepan diduduki anakanak.

Entah kenapa, si sopir tidak suka anak-anak ,namun ketika bus dalam keadaan kosong begini sopir tidak mampu menolak anak-anak yang ingin duduk di depan. Tetapi ketika di tengah perjalanan mulai banyak penumpang, anak-anak pasti di usir oleh kondektur untuk pindah ke kursi belakang. Dan benar, Priyatmoko harus merelakan kursi depanya untuk diganti oleh seorang perempuan setengah baya yang habis bepergian menghadiri hajatan. Anak kecil memang tak penting duduk di kursi depan, ia tak mungkin diajak ngobrol-ngobrol oleh Pak Sopir. Biasanya yang diobrolkan adalah sekitar kehidupan Pak Sopir dan saudara-saudaranya. Seperti, bahwa ia baru saja menyelenggarakan hajat merenovasi rumah, anaknya diterima pendidikan jadi polisi walau untuk itu ia harus menjual dua ternak sapinya dan menguras tabungannya. Dan secara alamiah yang diajak bicara oleh Pak Sopir menanggapi dan membubungkan apa yang dibicarakan olehnya. Karena bis yang di kendarai adalah jenis minibus satu pintu maka tak heran nanti seluruh penumpang dewasa khususnya kaum perempuan akan menyaut ikut bicara. Kalau sudah seperti itu kedengaranya seperti gamelan yang kebanyakan gong. Tak ada yang coba membedakan diri menyela isi pembicaraan oleh kaum sesama itu. Tetapi ketika ada seorang yang kebetulan menumpang adalah seorang yang punya jabatan di suatu instasi, pasti pembicaraan akan tertuju pada seseorang itu dan pak sopir tidak dapat lebih membangga-banggakan dirinya.

Pemandangan di kanan-kiri sepanjang perjalanan dirasakan Priyatmoko tidak banyak berubah. Pohon-pohon tinggi, rumah kayu dan sawah yang membentang luas.

Bus berjalan dalam kecepatan sedang sehingga untuk mencapi terminal pemberhentian terakhir diibutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Sampai di terminal terakhir Priyatmoko dan penumpang lain turun dan berbasa basi mengucapkan terimakasih kepada Pak Sopir.

Meskipun sebutanya terminal, tempat itu sangat sepi. Hanya ada satu warung yang menjajakan makanan dan minuman serta bensin dan solar. Orang-orang juga tak banyak dan dapat dihitung dengan jari, diantaranya adalah tukang ojek.

Priyatmoko harus berjalan kurang lebih tiga kiometer untuk mencapai rumah kakeknya tinggal. Melewati bukit dan menyeberangi dua sungai kecil yang tak berjembatan. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah kakeknya dahulu sebelum menengok rumah dimana ia sekeluarga dulu tinggal. Matahari sudah hampir terik ketika Priyatmoko menempuh perjalanan kaki. Ia memilih jalan yang teduh dari matahari, di bawah pohon-pohon jati besar mengkuti jalan-jalan setapak. Sesekali berpapasan dengan orang yang habis mengambil rumput di ladang, ada juga anak-anak desa yang berangkat menggembalakan kambing ternaknya.
Sampai di rumah kakeknya, Priyatmoko langsung menuju kebun belakang karena rumah dalam keadaan kosong. Di kebun itu tampak pohon lombok yang tumbuh subur, kemudian di petak lain di tanam kacang tanah. Sepertinya kakeknya memang berada di sekitar kebun karena ada peralatan tani yang tergeletak di pinggir kebun di bawah pohon jambu air.

Priyatmoko memanggil-manggil kakeknya, namun tidak ada jawaban. Ia lalu berkeliling mengitari kebun yang lummayan luas itu. Pohon jeruk yang dulu ditanam kakekknya ternyata buahnya lebat sekali namun masih terlalu muda untuk dipanen. Ada sekiranya lima puluh batang jeruk yang ditanam. Di ujung kebun itu terdapat sebuah bangunan kandang kambing dan kandang ayam. Kakek Priyatmoko tergolong petani yang rajin, bayangkan saja di tanah yang kering dan jenisnya tidak terlalu subur itu dapat ditanami pohon buah dan sayur dan dapat tumbuh subur. Itu karena kegigihan kakek Priyatmoko, sedang tanah-tanah di sekitar kebun kakeknya tak diurus dan dibiarkan begitu saja. Adapun tanaman yang ditanam hanya pohon jati yang sebenarnya kurang mendukung bagi pertanian.

Dari kejauhan terlihat kakek Priyatmoko memikul dua buah gembor dengan bantuan pikulan yang terbuat dari bambu. Priyatmoko menyongsong kedatangan kakeknya yang habis mengambil air di sungai untuk menyirami tanaman yang ada di kebun. Sungai tempat mengambil air itu jaraknya antara tigaratus duaratus meter dari kebun.

Siram Kek, kata Priyatmoko mengejutkan langkah kakeknya.
Iya Le, Kapan kamu datang, sama Emakmu tidak, kakeknya bertanya balik sambil meletakan dua gembor air di antara tanama lombok. Ia lalu duduk di bawah teduh pohon jambu air dan mengajak priyatmoko juga duduk. Diambilnya plastik tempat tembaku di kantong celana hendak melinting tembakau. Ia mengambil satu kertas sigaret lalu di ambil juga suwir-suwir tembakau untuk diletakan diatasnya. Priyatmoko memperhatikan pekerjaan kakeknya melinting temkaku itu sembari bercerita tentang kehidupanya di kota, bahhwa ia di sogok ibunya akan dibelikan sepeda jika betah tinggal disana..

Priyatmoko juga bercerita bahwa ia tak naik kelas, tetapi kakeknya tidak komentar soal dia naik kelas atau tidak. Mungkin itu tidak penting, bagi dia yang buta huruf yang terpenting adalah kemauan berusaha dan belajar dalam arti sesungguhnya. Petani sepertinya telah merasa cukup berhasil mampu menaklukan kegersangan tanah-tanah liat pegunungan kapur ini. Berbagai macam tanaman mampu tumbuh subur ditangannya, walau hasil akhir tak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan untuk memelihara tanaman itu. Kadang hasil jualnya tidak bagus karena petani tak bisa menentukan hasil jual, hanya para tengkulak dari kota yang berhak menafsir hasil panen.

Habis berbincang sebentar Priyatmoko pamit pada kakeknya untuk menengok rumah tempat ia tinggal dulu yang jaraknya sekitar dua kilometer dari tempat itu. Ia berpesan pada kakeknya bahwa mau menginap di tempat Ageng, cucu lain anak dari anak pertamanya kakek. Bergegas langkah kaki Priyatmoko berharap dapat segera sampai rumah itu. Rindu benar rupanya ia pada suasana rumah itu, pada sahabat-sahabatnya dan pada Ageng yang usianya hampir sepantar dengannya. Sampai sekarang ia tak juga paham kenapa ia harus pindah dari kampung desa itu.

Rumah itu tak berpenghuni lagi, pintu dan jendela sudah terlihat rusak. Baru enam bulan tak ditinggali kerusakan disana sini telah terjadi. Priyatmoko merasa asing melihat rumahnya sendiri. Ia lalu masuk rumah itu, genteng atap yang bocor menyebabkan kelapukan pada uuk-usuk rumah. Yang tinggal di dalam rumah itu hanya sebuah meja kayu besar yang terbuat dari kayu nangka. Priyatmoko ingat bahwa ia suka memelihara kepompong di dalam laci meja itu sampai menjadi kupu-kupu yang cantik. Ia lalu memeriksa laci meja itu barangkali masih ada sesuatu yang tertinggal. Tetapi tiada yang dapat ditemukan di laci itu kecuali butiran-butiran debu yang menebal. Di dinding kamarnya masih terpampang sebuah gambar yang ia buat sewaktu kelas dua, gambar itu melukiskan keadaan rumah kecil yang dikelilingi kebun jagung dan seorang petani.
Gambar itu dulu ia buat bersama ibunya dan diberi nilai delapan oleh guru sekolahnya. Lalu ibunya memberi pigura yang terbuat dari bambu yang di pakukan dan kemudian di pasang di dinding anyaman bambu itu. Gamang hati anak kecil itu, ia merasa dunianya terampas. Ia tak suka tinggal di kota sana, karena ia tidak terbiasa hidup ala kota. Mengapakah harus pindah ke kota, sedang disini semuanya ada. Petualangan-petualangan alam yang sering dilakukan oleh Priyatmoko dan teman-temannya disini hanya tinggal kenangan pahit.

Benarkah keluargaku terusir dari tanah kelahiran Ibuku sendiri, Priyatmoko bertanya dalam hati. Apakah orang dewasa tak mampu berpikir bahwa sungguh sakit perasaan anak kecil jika terampas ruang hidupnya. Dan benarkah keributan yang dulu samar di dengar Priyatmoko dari teman sepermainannya adalah biang kepindahan keluarganya. Keributan yang disebabkan anak ayamnya yang bertengkar dengan anak ayam milik Ageng sehingga Ibu kamijo mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu Priyatmoko menangis. Sungguh keterlaluan jika alasan keributan yang menjadi pengusiiran itu adalah pertengaran anak ayam. Apakah bukan karena tanah waris milik kakek itu yang terlalu dini direbut sebelum hari pembagian waris. Dan mengapa harus tunduk pada durhaka seorang anak menantu kakek yang mau menguasai segala-galanya. Toh segala-galanya itu hanya tanah tandus yang tidak berbuah jika tidak dikerjai.

Priyatmoko menangis tanpa sauara, hanya air matanya sederas rasa sakit yang ditimbulkan oleh keadaan yang demikian. Ia lalu berlari meninggalkan rumah itu, ia berlari sekencang-kencangnya. Tidak ada seorangpun mengetahui kehadiran dan kepergiannya di rumah itu. Ia tak pernah kembali ke tempat itu untuk selama-lamanya.

*******

~* ASA TERURAI MELAHIRKAN CAHAYA *~

Tak terasa, usia pernikahan aku dan Mas Epik sudah memasuki tahun ke empat. Yang awalnya cuman berdua, kini keluarga kecil kami telah dilengkapi dua buah hati, Sazia dan Fauzan.
Semenjak tahun ke dua pernikahan kami, aku selalu punya keinginan untuk segera memiliki rumah sendiri. Kalau uang dipakai buat nyewa rumah terus tiap tahunnya, kan sayang. Maka sejak saat itu, aku bertekad untuk berhemat agar bisa nabung, mengumpulkan uang buat beli rumah.

“Bu, aku mau beli mainan-mainan kaya punya Raihana Bu!!” Rengek Sazia, anak pertamaku yangg baru menginjak usia tiga tahun.
“Sazia, Ibu nggak punya uang Nak.” Jawabku sambil menatap matanya lekat.
“Yaah, Ibu. Selalu, kaya gitu. Gak punya uang mulu. Bocen!”
Tapi alhamdulillah, Sazia belum pernah ngadat kalau ingin dibelikan sesuatu. Mungkin karena sudah biasa dapat penolakan.

“Sayang, baju kerjaku sepertinya sudah pada belel deh. Kadang aku jadi gak pede makenya. Kira-kira ada anggaran gak buat bisa beli baju kerja baru?” Tak butuh waktu lama, aku langsung menggeleng.
“Sabar, Mas. Pake aja dulu yang itu. Selagi belum sobek. Mas pede aja. Siapa sih orang yang terlalu peduli dengan penampilan orang lain? Lagian, Mas kan ganteng. Jadi walau pake baju jelek juga tetep masih keliatan ganteng kok.” Hiburku.

“Bu, makannya tempe lagi, tahu lagi, tempe, tahu. Iiih, aku bocen Bu. Aku pengen sama daging ayam!” Ucap Sazia suatu makan siang.
“Hus! Kak Sazia nggak boleh gitu. Harus mensyukuri apa yang ada. Tempe tahu itu makanan bergizi tinggi. Biar Kak Sazia bisa jadi anak yang pinter.”
Aku memang berupaya semaksimal mungkin untuk bisa berhemat. Ini semua demi impianku bisa beli rumah. Ya! Uang bulanan yang dikasih suamiku selalu aku sisihkan sebagian besarnya untuk tabungan.
“Bu, minta sedekahnya Bu!” Ah, pengemis! Baru keluar dari mini market, membeli kebutuhan bulanan. Aku kurang suka pengemis, apalagi kalau melihat kondisi fisik pengemis itu yang secara fisik sehat. Aku tak menggubris pengemis itu.

Terkadang, ada juga sanak famili yang meminta bantuan. Ada yang buat berobat istrinya, ada yang buat biaya pendidikan anaknya, dan sebagainya. Sudah bisa dipastikan, aku selalu menolak memberikan bantuan pada mereka. Bukan aku tak ingin, tapi hasrat dan ambisiku ingin membeli rumah tak terbendung. Bahkan untuk kepentingan diri sendiri saja, aku tahan. Aku tak pernah lagi membeli semangkuk baso. Aku hanya mengupayakan agar aku, anak-anak dan suami terpenuhi makan dan menjaga supaya keluarga kecil kami tetap sehat.

Alhamdulillah, memasuki tahun kelima, jumlah tabunganku udah mencapai 103 juta. Waah, lumayan besar. Sepertinya keinginanku akan segera tercapai. Dengan uang segitu, cukup untuk membeli rumah yang mungkin tidak terlalu mewah
.
Pagi yang cerah. Secerah hatiku yang sudah membulatkan tekad untuk mengambil uang tabunganku di Bank dan segera mewujudkan impianku. Membeli rumah!!! Rasanya tidak sabar.

“Mas, aku mau nitip anak-anak ya. Aku ada perlu dulu keluar.” Pintaku pada Mas Epik.
“Mau ngapain ya?”
“Ada deh, pokoknya surprise buat Mas.”
Ya! Memang aku tak pernah menceritakan keinginanku untuk membeli rumah. Aku juga tak menceritakan bahwa aku menghemat selama ini hanya demi ingin segera mewujudkan impianku ini. Tapi syukurnya suamiku memang tak pernah mau tahu. Paling ia sempat heran, apa memang kondisi saat ini sedang begitu sulit, sehingga uang bulanan yang menurutnya bisa lebih dari cukup kalau hanya untuk memenuhi keinginan anaknya berganti lauk pauk yang lebih mewah seperti daging? Atau sekedar untuk membeli baju kerjanya yang memang sudah belel? Namun, aku selalu menjawab, “Uangnya buat tabungan masa depan, Mas.”

Aku sudah ada di Bank. Kulihat tumpukkan uang yang banyak di depan mata. Membuat kilauan-kilauan yang mungkin hanya aku sendiri yang dapat melihatnya.
Sudah kumasukkan semua ke dalam tas. Aku melangkahkan kaki dengan sangat ringan. Tunggu hei rumah! Aku akan segera memilikimu.

Tiba-tiba saja aku merasa dunia ini sangat gelap.
Apa aku buta? Ah, tidak, kesadaranku mulai melemah.
Aku sepertinya tidur. Tidak! Lebih tepatnya pingsan!
Kenapa aku bisa pingsan? Apa aku belum makan tadi pagi?
Sudah! Kenapa?

Ketika terbangun, aku mendapati diriku di sebuah lorong kamar mandi umum.
Ah tidak! Apa yang terjadi?
Sontak aku langsung melihat isi tasku.
Dan benar dugaanku. Semua uang yang telah lelah aku kumpulkan kini telah lenyap dengan begitu mudah.

Aku benar-benar rapuh. Hatiku terkoyak. Asaku seakan terlebur bersamaan dengan telah meleburnya uang itu. Siapa ya Allah? Siapa yang tega mengambil apa yang telah menjadi milikku? Uang itu, adalah harta yang selama ini sulit bagiku untuk mengumpulkannya. Tapi dia, telah tega mengambilnya, tanpa perasaan!!!
Ah, aku benar-benar berada dalam ujung penyesalan.

Apa ini ya Allah? Apakah ini ujian bagiku? Atau teguran!

Rasanya malas sekali pulang ke rumah dengan hati yang begitu terkoyak. Ingin rasanya menjerit.
Meluapkan segala emosi dalam diri ini. Kulangkahkan kaki dengan sangat berat.
Ya! Berat sekali.
Ketika sampai di rumah, aku langsung menghampiri suamiku. Dia terlihat keheranan.

“Kenapa, Sayang? Mana nih surprisenya?” Aku tersenyum, getir.
“Maafin aku, Mas. Maafin aku!!” Berlinang air mata, karena tak kuasa menahannya.

“Maaf karena mungkin selama ini aku telah dzalim sama Mas, juga sama anak-anak. Aku terlau egois. Aku Ibu dan juga Istri yang jahat!”
Ya! Hanya itu yang mampu aku ucapkan.
Suamiku mengernyitkan dahinya. Mungkin heran dengan sikapku ini.

Aku menyesal selama ini mengorbankan mereka demi keinginanku. Dan Allah mungkin telah menegurku. Bersamaan dengan lenyapnya uang itu, kini kutoreh dalam hatiku sebuah janji. Janji bahwa aku akan menjadi manusia yang dermawan. Tak peduli kalau aku harus menjadi kontraktor seumur hidup.
Asal keluarga, sanak famili, juga orang-orang di sekitarku bahagia.

Ternyata bagi Allah, semuanya mudah. Dia telah memberikan aku surprise, yang menghantarkan aku pada sebuah cahaya. Cahaya kebaikan yang selama ini tertutupi awan ambisiku yang mambabi buta.

*******

~* PELANGI TERAKHIR *~


Sayup-sayup angin senja mengiringi tarian rumput liar di sela paving block yang menanti nasibnya di ujung gunting itu. Di ujung barat daun jendela setengah terbuka dengan tirai putih melambai halus, di dalamnya lelaki tua di atas kursi roda terbatuk-batuk memanggilku.
“Haikal.. Haikal.. kemari nang!” teriaknya pelan, suaranya berat sehingga beberapa saat aku tak mendengarnya barangkali juga akibat suara ribut dari gesekan sapu lidi.
“Haikal..”

PRAANGG

Ku lempar sapuku begitu mendengar suara gaduh seperti sesuatu yang pecah, saraf-sarafku seakan bekerja lebih cepat menyampaikan kecemasan yang bergumul di hati naik ke pusat otak.
“Ayah.. ayah kenapa?” aku berlari masuk, kudapati ayah tengah mengatur napasnya, kuah sup tumpah ke lantai, mangkuknya pecah berantakan bersama serpihan kaca gelas yang ikut terjun. Kulihat tangan ayah berdarah, aku mendesah.

“maaf ayah, tadi Haikal ga denger!”
Ku raih peti obat, kubersihkan luka ayah dengan air hangat lalu diberi anti septic dan dibalut kasa. “baju ayah kotor, ayah mandi pake air hangat yaa?” tawarku.
“Haikal, apa kau tak kerepotan mengurusi ayah?” tanyanya ragu.
Aku tersenyum “tentu tidak dong yah, bukankah ayah juga merawatku sejak masih kecil?” kenangku sambil mendorong kursi roda menuju kamarnya, kamar tidur bernuansa klasik dan natural, dindingnya berlukiskan serat kayu jati, di sisi ranjang terdapat rak buku dari bambu di dalamnya berjejer puluhan bahkan mungkin mencapai ratusan buku science, agama, sosial-budaya hingga sastra membuat aku betah berlama-lama di sana, ditambah lagi lukisan besar air terjun di kaki gunung yang nampak hidup.

“ayah tunggu sebentar ya, Haikal bereskan dulu pecahan mangkuk, sekalian memanaskan air buat ayah mandi!” pesanku
“nanti kalau bi Tinah mau pulang, suruh berikan saja beling itu ke mang Udin tukang rongsok yang suka lewat itu”
“siap ayah” jawabku.

Aku beranjak keluar kamar, beling yang masih berceceran kukumpulkan dengan sapu dan dimasukan ke dalam kantong plastik.

‘cermin tak pernah berdusta yang indah topeng semata’

Baru saja ku bangkit berdiri, nada dering ponsel mengalihkan perhatian.

“Assalamu’alaikum!” suara di balik telepon
“wa’alaikumsalam, Andy ada apa?”
“besok kamu jadi ikut muhibah, kan?”
“jadi dong ndy, aku pengen banget ini pertama kalinya buat kita, bukan?”
“semangat banget, yaudah siap aja ya, besok kutunggu di tempat biasa, assalamu’alaikum!”
“wa’alaikumsalam”

craash
“ouuw..” jeritku, beling yang tadi kubungkus kembali jatuh melukai punggung kakiku, tidak terlalu parah.
Selesai kumandikan ayah, aku menyuapinya makan. Ayah terkena strooke 5 tahun lalu, mungkin karena kelelahan mengajar, dulu ayah seorang dosen mikrobiologi di Undip, menjelang UN kelulusan SMA ayah memang bekerja lebih giat demi melunasi SPP agar aku bisa ikut UN. Entahlah kenapa ayah mengorbankan kesehatannya demi aku, katanya beliau bangga padaku, padahal aku merasa belum bisa melakukan sesuatu yang luar biasa buat ayah, hanya saja aku berusaha mewujudkan mimpi ayah, beliau ingin aku menjadi dokter.

Aku bersyukur pengorbananku tak sia-sia tentu saja doa ayah turut berperan, aku diterima di fakultas kedokteran UIN wali songo. Bagiku ayah adalah super dad, beliaulah yang membesarkanku dengan tangan yang cekatan menuangkan susu ke dalam botol, karena bunda telah menukar nyawanya dengan nyawaku saat aku dilahirkan.

“wah, ayah makannya lahap sekali” ujarku bahagia
“bagaimana tidak, ayah bangga melihatmu telah dewasa, kamu itu separuh nyawa ayah, kalau tak ada kamu ayah tak punya gairah hidup lagi, makanya ayah ridho tidak pernah menikah lagi sejak kau dilahirkan!” terangnya

“ahh, ayah pasti kesepian, ayah butuh teman bicara, justru Haikal mendukung ayah menikah lagi!”
“ayah sudah tua nang, sebentar lagi juga mati”

“huss, ayah ini bicara apa?!”
“uhuk..uhuk” ayah tersedak barangkali bentakanku tadi mengejutkannya.
Aku turun dari ranjang meraih cawan teh pahit yang mematung di atas meja.
“kakimu kenapa, nang?” tanya ayah terkejut melihat kakiku agak pincang.

“ini tadi kejatuhan beling”
“sudah diobati?” tanya ayah
“sudah, tapi masih pedih?” kataku

“kalau begitu, besok kamu gak boleh ikut muhibah IIMA di Malaysia ya nang, nanti sakitnya semakin parah!” larang ayah.

“hmm, Haikal tidak sakit ayah, cuma luka kecil besok juga sembuh” bantahku sembari mencium ayah dan berlalu, dari balik pintu ku dengar ayah mengeluh kecewa.

Surya semakin tenggelam, terbayar sudah kepenatan hari ini setelah kubasuh tubuhku dengan air hangat, kini saatnya pertempuran otak dimulai, beberapa mata kuliah membuatku merasa gila, entah karena memang otakku yang telat atau karena waktuku lebih banyak untuk ayah. Kuraih notebook dan mulai browsing, innerbody.com tampilan situs anatomi itu membuat otakku semakin blank, kedokteran memang tak bisa lepas dari anatomi dan fisiologi. Untunglah pekerjaan rumah sedikit terbantu oleh bi Tinah yang biasa menolongku, ia akan senang jika pulang diberi makanan atau sesekali beberapa sukat beras. Simbiosis mutualisme, begitulah aku menyebutnya.

Aku memang kerepotan mengurusi ayah, apalagi setelah mas Ardhi menikah dan bertugas di BKSDA Jogyakarta pekerjaanku bertambah 2 kali lipat. Aku merawat ayah tidak setelaten ayah merawatku, 2 tahun lalu di malam idul fitri ayah kolaps karena kelalaianku, mas Ardhi yang kukabari memakiku habis-habisan dan tak mengizinkan bertemu ayah selama di rumah sakit. Aku tak mau kejadian itu terulang kembali, tapi aku sangat ingin ikut muhibah mahasiswa kedokteran islam itu di Kuala lumpur untuk pertama kalinya bersama teman-teman seangkatan. Biar kupercayakan ayah pada perawat yang biasa membantuku.

***
“assalamu’alaikum..” aku mengetuk pintu kamar ayah seba’da sholat subuh, beberapa kali belum ada jawaban, kubuka pintu sedikit, rupanya ayah masih khusu dengan do’anya, beberapa kali beliau menyebut namaku. “ayah..!” panggilku. Ayah menoleh, air mata tergenang di kelopak yang mulai keriput itu, aku menghampiri.

“Kamu ga usah ikut muhibah itu yaa!” pinta ayah.
“lha kenapa, bukannya seminggu lalu ayah sudah mengizinkan?”
“ayah gak mau jauh darimu, ayah takut saat kita jauh, ayah sudah tak punya waktu lagi!”
“ayah kok bicaranya gitu?” selidikku.

Ayah diam merenung, sorot matanya kosong menerawang jauh entah kemana.
Ayah meletakan kepalaku ke dadanya, persis seperti ketika aku panas demam tinggi 20an tahun lalu,

titik-titik air asin menyapa wajahku. “ayah kenapa menangis?” tanyaku.
“Haikal, kau yang membuat ayah masih bertahan hingga sekarang, ayah takut kau kenapa-kenapa, ayah mohon jangan ikut muhibah itu, satu kali ini saja, ayah janji setelah ini tak akan melarang kamu lagi”
 desaknya.

“tapi, ayah…”
“ayah mohon, sayang”
“ahh, kenapa sih ayah gak ngerti” bentak ku, aku beranjak pergi dan membanting pintu.
“Yaa Allah” lirih ayah
Aku persiapkan perjalananku ke Malaysia, biar untuk satu kali ini saja aku jadi anak durhaka pikirku, pagi itu aku pergi tanpa pamit.

Garuda sudah take off meninggalkan bandara Ahmad Yani. Aku duduk dekat jendela, di sampingku Andy sedang asik dengan musik Inteam favoritnya. Perjalanan terasa lama, aku teringat ayah, sudah makankah? sudah mandi? siapakah yang sudi membersihkan najis ayah?, pikiranku menerawang jauh, segumpal penyesalan datang menyiksaku, sementara kampung halamanku semakin jauh. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melakukan hal bodoh ini, apa yang harus kukatakan pada ayah saat pulang nanti.
Awan kelabu tipis sedikit meredam mentari yang hampir bertengger di puncak kepala saat Garuda landing di bandara Sepang, 3 buah bus jemputan dari KBRI telah menanti, satu persatu kami menaiki bus karena awan semakin tebal dan air langit mulai berjatuhan. Bus melaju kencang membelah kabut yang semakin pekat tak terkendali karena aspal yang licin membawanya pada posisi doyong dan…

SHIIRT… DHUAARR… ALLAHU AKBAR…

Bus terbanting menimbulkan dentuman keras, aku terdorong ke depan, melayang dan semakin ringan, perlahan semua menghilang yang kuingat hanya AYAH…

(HSC Medical Center)

“Alladziina idzaaa ashoobat.humm mushiibatun qooluuu innalillahi wainnaa ilaihi rooji’uun”
Sayup-sayup kudengar seseorang membaca al-Qur’an tilawahnya membuat hatiku tenang.
“ayah…ayah…” suaraku seperti tertahan, hawa dingin membuat seluruh tubuhku terasa kram, di manakah aku, apa aku masih hidup, apakah rantai-rantai Zabaniyah itu yang membuatku tak mampu bergerak sama sekali.

“Allah… Allah…” kucoba bersuara tapi lidahku tetap kelu.
“Haikal…” suara lembut menyapaku begitu kutemukan setitik cahaya, kucari asal suara itu. Seorang lelaki berbaju hitam tersenyum, aku menajamkan penglihatanku.

“mas Ardhi” sapaku lirih “di mana ayah..?”
“tenang dulu ya, ayah baik-baik saja di rumah, ini masih di Kuala lumpur” bisiknya mengembalikan memoriku.

“hmm, Andy gimana?” tanyaku.
Mas Ardhi tertawa kecil, “Andy tidak ikut bus yang kau tumpangi, bukan. Malah kemarin dia yang sibuk mengurusimu, mas baru sampai tadi pagi temenin ayah dulu, tadinya ayah maksa mau ikut kesini”
“sekarang Andy kemana”
“Andy sudah pulang acaranya batal”
“aku juga mau pulang” rengek ku.

Mas Ardhi diam beberapa saat, ia membantuku bangun, merengkuh dan membisikanku sesuatu…
“Yaa Allah…” aku tak bisa membendung air mataku, kecelakaan itu telah merenggut kaki kiriku, kini hanya tinggal setengah betis, kaki yang kemarin dicemaskan ayah karena luka kecil itu, aku ingin berteriak sekuat-kuatnya

“Ayah… maafkan akuu!!!”
“tabahkan hatimu, dik” mas Ardhi ikut menangis dan memperkuat dekapannya. Aku menangis seperti anak kecil, kecewa… kecewa pada diriku sendiri yang tak mau mendengar apa kata ayah yang memiliki ketajaman batin.

Sore itu juga mas Ardhi membawaku pulang meski belum pulih betul, karena aku yang terus meracau, mas Ardhi tak henti-henti menenangkanku yang terus memanggil-manggil ayah.

Hari mulai gelap ketika kursi rodaku memasuki beranda rumah, sepi… di mana ayah?
Hanya Andy yang terlihat gelisah menunggu kami.
“mana ayah, mas?” tanyaku

Mas Ardhi bersimpuh di hadapanku.
“Haikal, maaf mas telah bohong, sebenarnya ayah kolaps begitu mendapat kabar kau kecelakaan, ayah memaksa ikut ke Kuala lumpur, tapi itu tidak mungkin, karena terus memaksa akhirnya mas kalah, dengan berat hati mas membawanya, belum sempat sampai di bandara, keadaan ayah semakin mengkhawatirkan, mas putar balik ke rumah sakit, tapi sayang… adik ku, Allah lebih berkuasa”

“ayah gimana sekarang, mas?” desak ku
“ayah tidak akan merasakan sakit lagi”

“maksudnya.. Ayah?” batinku tersentak tak percaya, mas Ardhi tertunduk dengan mata sembap.

“ayah sudah tidak ada” katanya lirih.

….”innalillahi wainnailaihi roji’uun”….

Aku tak percaya atas semua yang terjadi, aku menangis sejadi-jadinya, kalau saja aku mampu memenjarakan egoku mungkin semua ini tak kan terjadi, aku gagal memberikan pelangi untuk ayah, karena egoku pula muhibah berakhir musibah, musibah yang bertubi-tubi.

Aku memutar kursi rodaku, membelah pagi yang masih mengembun, meninggalkan gundukan tanah basah itu. Batinku tak henti-hentinya menjerit

 “Ayah… ku mohon maafkan akuu”

*******

~* JALAN HIDUPKU *~


Ku pandangi langit sore ini. Terasa kelam dan redup, meski sebenarnya hari ini cerah. Namun hati yang risau ini membuatku merasa kelam. Aku duduk di depan rumah yang hanya berdinding kardus-kardus bekas. “Sampai kapan aku terus begini? Huft… Aku ingin sekolah,” ucapku dalam hati sambil melamun. “Dion, kamu nggak ngaji, Nak?” Tanya Ibu yang keluar dari pintu rumah. “Nggak, Bu. Dion lagi malas,” jawabku singkat.

Ibu menyandingku duduk di atas kursi panjang. Dan memberiku nasehat, agar aku tetap semangat dalam segala hal. “Lho, nggak boleh gitu donk. Memangnya kamu tidak ingin jadi orang sukses? Kamu ingin jadi dokter, kan? Ayo donk semangat, Dion nggak boleh malas ngaji yach. Siapa tahu kamu bisa jadi penerusnya Ustadz Falah (guru ngajiku),” tutur Ibu sambil mengelus rambutku. “Bagaimana Dion bisa jadi dokter kalau Dion nggak sekolah? Dion ingin sekolah, Bu…” jawabku cetus. Ibu hanya diam dan menundukkan kepala. Mukanya terlihat gelisah dan sedih. “Sabar ya, Nak. Bapak dan Ibu akan berusaha mencari uang untuk biaya sekolah kamu. Yach?” ucap Ibu sembari memelukku. Aku bersyukur mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku. Akhirnya aku mau berangkat ngaji. Karena tak perlu mengeluarkan biaya, dengan semangat aku melangkah menuju masjid di dekat kampungku. Aku termotivasi oleh nasehat-nasehat Ibu tadi. Aku harus bisa bahagiakan Bapak Ibuku.

Di rumah…

Ketika Bapakku baru pulang kerja memunguti sampah, Ibu sudah menunggu di teras. Dia menjelaskan bahwa aku benar-benar ingin sekolah seperti teman-temanku. Bapak dan Ibu begitu resah memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk menyekolahkan aku. Sepulang mengaji, aku bantu Bapak merapikan dan memilah sampah dan barang bekas yang baru ia punguti di perumahan-perumahan kotaku. Tiba-tiba Bapak menyodorkan beberapa buku bekas yang dia ambil dari sampah-sampah untukku. “Dion, ini buat kamu. Kebetulan tadi ada ibu-ibu membuangnya, untuk sementara kamu belajar ini dulu ya, Nak,” ucap Bapak. Aku terdiam sejenak melihat buku-buku itu, lalu ku ambil dan ku buka lembar demi lembar. Betapa malangnya nasib buku itu, padahal masih memiliki banyak manfaat meski sudah jelek dan kusut.

Selesai membantu Bapak, ku rapikan, ku tata dan ku pelajari buku-buku yang ku dapat dari Bapak tadi. Alhamdulillah aku bisa memahaminya, meski tak banyak dan meski buku itu untuk pendidikan SMP, padahal umurku baru 10 tahun. Melihatku sedang belajar, Ibu duduk menyandingku sembari bertanya, “Belajar apa Dion?” “Ini, Bu. Tadi Bapak menemukan buku-buku bekas di sampah. Trus, dikasih ke Dion. Lumayanlah buat belajar,” jawabku penuh semangat. Tanpa sepengetahuanku, air mata Ibu menetes karena melihatku belajar. Mungkin Ibu merasa prihatin atas nasibku yang tak kunjung sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Mmmm… Bu, kok para ahli bisa tahu ya organ-organ dan jaringan tubuh manusia. Apa mereka membunuh manusia dulu lalu dibelah?” tanyaku tentang isi buku yang sedang ku pelajari. Ibu mengusap air matanya, lalu menjawab “Ibu juga tidak tahu, Nak. Dulu Ibu mu ini hanya lulusan SD. Yang jelas mereka pasti mempunyai alat-alat canggih. Tidak mungkin membunuh manusia. ”Banyak yang belum aku pahami tentang isi buku itu, salah satunya tentang Ilmu Alam. Tapi aku juga tak tahu, kepada siapa aku bertanya tentang isi buku ini?

Bapak dan Ibuku hanyalah lulusan SD, karena dulunya mereka juga terhambat ekonomi.
Keesokan harinya, aku sengaja bangun pagi-pagi sekali, sholat tahajjud, bantu-bantu Ibu, dan mandi. Lalu aku segera bersiap untuk berangkat ke salah satu sekolah besar di kotaku dan mengikuti pelajaran, meskipun secara diam-diam. “Mau ke mana, Dion?” Tanya Ibu yang sedang memasak nasi. “Ke sekolah, Bu. Dion ingin melihat suasana sekolah di SMP 1 Budi Utomo,” jawabku sambil merapikan rambut di depan cermin. “Tapi kamu kan belum sarapan. Sarapan dulu ya?” “Nggak usah, Bu. Aku minum air putih saja,” ucapku sembari mengambil segelas air putih di atas meja. Ku cium tangan Ibuku. Dengan semangat aku berangkat menuju SMP 1 Budi Utomo yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. “Assalamu’alaikum…” teriakku keluar dari pintu rumah. “Wa’alaikumsalam… Hati-hati ya, Nak.” jawab Ibu khawatir, sambil terus melihatku berjalan semakin jauh dari rumah. Aku berjalan menelusuri rel kereta api dan pasar-pasar yang sudah ramai sejak tadi. Fajar pagi yang mulai muncul di ufuk timur dan lalu lalang kota metropolitan mengiringi langkahku berjalan, semangatku semakin berkobar ketika aku melihat beberapa pelajar berangkat sekolah dengan seragam rapi, dan mengenakan tas. Semakin dekat langkahku dengan SMP yang kutuju, langkahku mulai ragu. Aku lihat para siswa berseragam rapi dan mengumbarkan senyum cerah di pagi ini. Keceriaan mereka tak seperti aku, yang hanya menghabiskan waktu untuk memunguti sampah. Awalnya aku ingin pulang lagi, tapi nasehat dan motivasi Ibu selalu terngiang di pikiranku. Akhirnya aku beranikan diri, aku mantapkan langkahku menuju belakang sekolah secara diam-diam.

Ketika bel masuk kelas, jam pelajaran dimulai. Aku perhatikan dari jendela luar sudut kelas, guru sedang mengajar muridnya. Seolah aku juga muridnya, aku pahami betul penjelasan dari guru itu. Dan aku catat di buku tulis bekas pemberian Bapakku.

Hal itu aku lakukan rutin sampai beberapa Minggu, bangun pagi dan semangat menuju sekolah itu. Serasa aku sudah bersekolah seperti teman-teman lain. Tapi suatu hari, seorang tukang kebun di sekolah itu memergokiku, dia mengira aku pencuri. Padahal aku hanya ingin belajar. Akhirnya aku diseret ke ruang keamanan. Seorang satpam bermuka seram dan bertubuh besar memakiku habis-habisan. Bahkan dia sempat memukulkan tongkatnya ke kedua tanganku. Aku hanya bisa diam dan menangis, lalu aku diusir dari sekolah itu. Satpam itu mendorongku keluar pintu gerbang sekolah. Aku pulang dengan langkah lunglai, tubuhku begitu lemas, aku seperti sampah kaleng yang ditendang jauh-jauh. Ya Allah… kenapa mereka tak mengerti bahwa anak seperti aku sangat ingin sekolah.

Sejak kejadian itu, aku sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di sekolah itu lagi. Rasa kesal, marah dan kecewaku pada tukang kebun dan satpam itu masih terpendam di dalam hati. Aku sangat kecewa karena aku difitnah. Namun tekadku untuk bersekolah dan mencari ilmu tak akan pernah pudar. Aku ingin mewujudkan cita-citaku menjadi dokter. Semakin hari ambisiku semakin besar. Aku selalu berdo’a kepada Allah agar cita-citaku bisa tercapai, dan aku bisa membahagiakan Bapak Ibuku.

“Bapak, kok nggak ada buku yang dibuang lagi ya?” tanyaku ketika membantu Bapak memunguti sampah-sampah di perumahan. “Yahh.. semoga saja ada. Biar kamu bisa belajar,” jawab Bapak sambil mengais-ngais sampah. Aku sangat berharap bisa menemukan buku-buku bekas lagi. Entah angin apa yang membawaku ke jalan buruk. Ketika perjalanan pulang melewati pasar besar di kotaku, aku lihat sebuah dompet mewah terjatuh dari saku seorang mahasiswi. Tanpa berpikir panjang, langsung saja ku ambil dompet itu tanpa ada yang tahu. Lalu, ku masukkan ke saku celanaku. Seolah tak ada apa-apa, aku ikuti lagi langkah Bapak pulang. Sesampainya di rumah, hidangan nasi dan tempe sudah disiapkan Ibu di atas meja.
“Dion, makan dulu ya? Trus sholat dan ngaji,” tutur Ibu setelah ku letakkan barang-barang bekas hasil pungutanku dengan Bapak. “Iya, Bu,” jawabku sembari berjalan mengambil piring.

Selesai makan dan mandi, aku berangkat ke masjid untuk mengaji, sekalian aku sholat ashar di sana. Sebelum berangkat ku buka sejenak dompet yang ku dapat dari pasar tadi. Aku terkejut, dua belas lembar uang 100 ribuan dan beberapa lembar 50 ribuan memenuhi dompet warna klasik yang terlihat mewah itu. Juga beberapa lembar foto pemilik dompet itu, beserta KTPnya yang bertuliskan nama “Alya Nur Alita”. “Wah… uang sebanyak ini bisa buat biaya sekolahku donk,” ucapku dalam hati yang riang ini. Pikiranku tertuju pada khayalan ketika aku sudah berseragam rapi dan berkumpul bersama teman-teman untuk belajar. Ah.. aku ngaji dulu, tak lama lagi aku akan masuk sekolah. Khayalanku menghilang. Ku tutup kembali dompet itu dan ku selipkan di bawah bantal, lalu aku berangkat ngaji. Selang beberapa menit setelah aku pergi, Ibu sengaja merapikan kamarku dan menemukan dompet itu di bawah bantal.

“Astaghfirullahal’adzim… dari mana Dion mendapatkan barang ini?” Ibuku terkejut dan langsung memanggil Bapak. “Mas Aryo…!!” teriaknya Mendengar teriakan itu, Bapak bergegas menuju sumber suara. “Ada apa, Bu?” “Lihatlah Mas…” jawab Ibu sambil menunjukkan isi dompet itu. “Hah??!! Milik siapa ini, Bu?” Bapak pun terkejut. “Aku juga tidak tahu. Aku menemukannya di bawah bantal Dion, Pak.” Ibu dan Bapak semakin khawatir. Dan mereka mengira bahwa aku mencuri dompet itu dari seseorang. Mereka menunggu kedatanganku di dalam rumah. Selang setengah jam. “Assalamu’alaikum…” Aku masuk rumah dan mencium tangan Bapak dan Ibu. “Wa’alaikumsalam..” jawab Bapak Ibu serempak.

“Dion, duduk sini dulu, Nak,” tutur Ibu lembut. Aku merasa ada yang aneh. Tak biasanya Bapak dan Ibu terlihat serius seperti ini. Suasana pun hening sejenak. Hatiku bertanya-tanya, “Ada apa ini?” “Dion, dari mana kamu dapatkan dompet ini?” Tanya Ibu memulai pembicaraan sambil menunjukkan dompet mewah itu. Aku hanya diam menundukkan kepala. Jantungku berdetak kencang. “Dari mana, Dion? Jawab..!!!” bentak Bapak sambil menatapku tajam. Jantungku seperti tersambar petir, Bapakku tak pernah semarah itu padaku. “Jawab jujur, Nak. Dari mana dompet ini?” lanjut Ibu dengan suara lembut. Ibuku memang sangat sabar dalam menghadapi anaknya yang bandel ini. “A… aku.. aku nemu..” jawabku gugup.

Keringatku mulai mengucur di leher. “Jangan bohong kamu!! Kamu…” kemarahan Bapak semakin memuncak, hampir saja tangannya diayunkan ke mukaku. Untungnya Ibu berusaha menahannya. “Mas… Jangan!! Dia anak kita satu-satunya,” gertak Ibu sambil menahan tangan Bapak. “Dion, kamu jangan bohong. Jawab yang jujur, Nak. Insya Allah jika kamu jujur, Bapak tidak akan memarahi kamu lagi,” lanjutnya. Air mataku mulai menetes, dan semakin mengalir. “Aku ingin sekolah… Aku ingin sekolah seperti teman-teman yang lain…” ucapku sambil menangis terisak-isak. “Lalu dari mana kamu dapat dompet dengan uang sebanyak ini, Dion…” sahut Ibu. Sedangkan Bapak masih berusaha menahan amarahnya.
“Tadi waktu lewat pasar, dompet itu jatuh dari saku orang. Trus Dion ambil. Dion pikir uangnya bisa untuk bantu Bapak Ibu menyekolahkan Dion,” jawabku sambil terus menangis.

“Ya… Allah… Bukan begitu caranya, Dion… Itu haram! Kenapa tidak kamu kembalikan pada pemiliknya?” kata Bapak yang amarahnya mulai mereda. Aku hanya terdiam menunduk, menyesali perbuatanku. “Dion… Bapak dan Ibu akan berusaha keras mancari uang untuk biaya sekolah kamu. Tapi bukan dengan cara yang haram. Kita juga harus sabar dengan cobaan ini. Bapak janji akan menyekolahkan kamu, Nak,” lanjutnya. Ibu juga mengangguk atas perkataan Bapak. Ku coba mengangkat kepalaku dan menatap Bapak Ibu. Meski air mata ini terus mengalir. “Maafkan Dion, Bapak, Ibu…” “Jangan diulangi lagi ya, Nak,” tutur Ibu sembari memelukku, Bapak pun juga ikut memelukku. Air mataku semakin mengalir deras, betapa bodohnya aku melakukan hal yang sangat dilaknat Allah. Dan betapa bahagianya aku masih mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku. “Ya sudah. Besok Bapak bantu kamu mencari pemilik dompet ini, ya…” kata Bapak. Aku mengangguk.

Esok harinya di pagi hari, aku dan Bapak kembali menekuni pekerjaan yang dilakukan Bapak sejak aku lahir. Memunguti dan mengais-ngais sampah di pasar, sambil mencari pemilik dompet yang bernama Alya Nur Alita itu. Ku telusuri setiap sudut pasar sambil ku amati foto KTP yang ada di dompet itu. Setelah kira-kira 2 jam aku mengitari pasar, akhirnya ku temukan pemilik dompet mewah itu. “Maaf, Kak. Apa ini dompet Kakak?” tanyaku menghentikan langkahnya. “Oh iya, Dek. Alhamdulillah… Dari mana kamu menemukannya?” tanya perempuan berjilbab itu. “Maaf, Kak. Kemarin waktu terjatuh dari saku Kakak, langsung aku ambil. Tapi demi Allah, aku sama sekali tidak mengambil uangnya sepeserpun.” Dia membalasnya dengan senyum lebar, seolah melihat kelucuan pada diriku.

“Iya… Kakak percaya kok sama kamu. Mmmm… nama kamu siapa?” tanyanya sambil mengelus rambutku. “Dion,” jawabku singkat. Dia pun juga memperkenalkan dirinya padaku. Panggilannya adalah Kak Alya. Aku terlibat perbincangan dengan anak orang berduit itu, dan kita semakin mengenal dekat meskipun baru pertama kali bertemu. Tak lama berbincang-bincang, Bapak datang menghampiriku. Kami pun saling mengenal hingga terlihat akrab. Bahkan Kak Alya tahu apa yang ada dalam pikiranku. Aku sangat ingin bersekolah. Pantas saja, karena kak Alya kuliah di jurusan Psikologi. Suatu hari kak Alya berkunjung ke rumahku yang kecil, kumuh, dan sangat tidak nyaman. Baru kali ini aku temui seorang yang cantik dan baik hati. Aku, Bapak, Ibu dan kak Alya berbincang-bincang dan saling bertukar pengalaman. Ketika Ibu menceritakan kehidupan keluarganya yang selalu miskin, air mata kak Alya mulai mengalir di pipinya, dia terharu. Begitu juga Bapak dan Ibu. Sedangkan aku, lebih tak kuasa menahan tangis.

Aku lari keluar rumah, ku kerahkan seluruh tenagaku untuk berlari sekencang-kencangnya. Entah bisikan apa yang membuatku berhenti tepat di tengah rel kereta api. Pikiranku serasa kacau. Aku ingin mengakhiri semua beban dan penderitaan ini. Aku tak mau membebani Bapak Ibu lagi. Aku berdiri memejamkana mata, dan berharap kereta akan datang menindas tubuhku yang tak berguna ini. Bapak, Ibu dan kak Alya berusaha mengejarku dan mencegahku. Kak Alya pun langsung menarikku keluar dari rel dan memelukku erat sambil menangis. “Kamu kenapa Dion?” tanya kak Alya. “Dion.. Kamu kenapa, Nak? Jawab!” sambung Bapak. Aku terdiam sejenak. “Aku tak mau membebani Bapak dan Ibu terus. Selama ini Dion hanya menyusahkan Bapak Ibu. Dion tidak bias sekolah. Dion tidak bisa bahagiakan Bapak Ibu. Biarkan Dion pergi… Dion tidak berguna…!!” teriakku kencang. Suara kereta melaju kencang mengiringi teriakanku. Angin berhembus mengikuti arah kereta melaju dan menghempas rerumputan di sekitar rel.
“Tidak Dion!! Kamu sangat berguna buat Bapak dan Ibu. Kamu anak kami satu-satunya…” sahut Ibu yang menangis terisak-isak. Ibu sangat menyayangiku, dan beliau sangat takut kehilangan aku. “Sadar Dion! Masa depan kamu masih panjang. Kakak yakin, kamu pasti akan jadi orang yang bisa membahagiakan Ibu Bapak. Yach…” ucap kak Alya sembari memegang kedua bahuku.

Semuanya terdiam, hanya isak tangis yang terdengar. Kak Alya merasa trenyuh, dia berusaha berpikir dan mencari jalan keluar untuk bisa meringankan beban keluargaku. Akhirnya dia mengajakku kembali ke rumah, Bapak dan Ibu mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah, kak Alya memutuskan untuk merawatku di rumahnya yang sungguh bagaikan istana. Sedangkan Bapak dan Ibu membantu pekerjaan rumah. Ibu membantu kak Alya dan keluarganya untuk merawat rumah serta memasak, dan Bapak membantu tukang kebun untuk selalu merawat tanaman yang mengelilingi rumah keluarga kak Alya. Tak ku sangka, keluarga kak Alya begitu baik. Mereka mau menyekolahkan aku dan memperlakukan Bapak Ibuku seperti keluarga sendiri.

Sepuluh tahun kemudian, akhirnya aku lulus kuliah. Bapak, Ibu dan keluarga kak Alya sangat senang mengunjungiku waktu wisuda di kampus tempatku kuliah. Sungguh, Allah Maha Adil. Tak ku sangka, aku juga mendapat penghargaan sebagai wisudawan termuda dan berprestasi. “Terima kasih, kak. Dion sangat berhutang budi pada kakak dan keluarga. Terima kasih..” ucapku ketika kupeluk kak Alya. “Iya Dion. Kakak dan keluarga sangat senang Dion jadi orang sukses. Semoga Allah selalu melindungi kita semua ya..” jawab kak Alya dengan senyum lebar. Kini, aku menjadi seorang dokter spesialis bedah di rumah sakit daerahku. Aku sangat bersyukur, Allah mendengarkan do’aku, cita-citaku sejak kecil yang ku anggap hanya mimpi yang tak pernah menjadi nyata, akhirnya menjadi kenyataan. Dan aku bisa membahagiakan Bapak Ibuku. Terima kasih ya Allah… terima kasih kak Alya, aku sangat merasa berhutang budi pada kakak dan keluarga kakak.

Tapi, belum genap satu bulan aku menjalani profesiku, musibah telah menimpa kak Alya. Dia dan suaminya mengalami kecelakaan maut. Mobilnya jatuh ke jurang ketika perjalanan berlibur. Aku pun berusaha membantu menyembuhkan luka mereka yang parah. Namun Allah berkehendak lain, nyawa kak Alya dan suaminya tak bisa di tolong lagi. Ya Allah… hati ini sangat terpukul, kenapa begitu cepat kebahagiaan ini untuk kak Alya, belum sempat aku membalas kebaikannya, tapi dia sudah pergi ke dunia lain, selamanya. Tapi aku selalu berharap, kebaikan yang selama ini dia berikan pada keluargaku, akan dibalas oleh Allah. Sekali lagi, terima kasih kak Alya, kebaikanmu akan selalu melekat di hatiku. Dan maafkan kesalahanku, Bapak dan Ibu selama ini.

~ The End ~
Cerpen Karangan: Nur Isna Aulya
Facebook: Nur Isna Aulya
Aku seorang mahasiswi di sebuah universitas negeri di Malang. Keinginan terbesarku adalah menjadi penulis profesional dan mempunyai kegigihan tinggi untuk selalu menulis. Tapi hobiku untuk menulis sempat tersendat bahkan vakum karena tugas-tugas kuliah yang selalu membuatku tak sempat menulis banyak, bahkan mungkin tak ada inspirasi. Motivasi dan inspirasi dari teman2 cerpenmu.com selalu aku harapkan. Syukron ^^

~* TAK SELAMANYA MENDUNG ITU KELABU *~

Entah kenapa, hari ini kursor komputer ku me ‘open new tab’ picture seorang teman di homepage facebook. picture itu adalah capture gambar teman saya. isinya adalah wall selamat ulang tahun dari temannya yang sudah almarhumah. karena penasaran, aku search nama alm. tersebut. *niat. dan aku lihat lah previous postingannya. sampai nyaris 1 tahun yang lalu. *semakin niat.

Intinya, dia meninggal karena kecelakaan. kepergiannya yang mendadak membuat shock orang orang di sekelilingnya. ada beberapa wall dari (yang sepertinya) pacarnya. mengharukan sekali. ucapan ulang tahun 2011 dimana dia sudah bersamaNya. ucapan bela sungkawa saat saat dia sudah menghadapNya. bahkan status status alm. masih saya baca. Tiba tiba saya teringat kakak kelas saya, Alm. Laila yang meninggal mendadak karena penyakitnya. tiba tiba keingetan penulis favorit saya, Mba Nurul F Huda, meninggal karena penyakitnya. Membuat saya berfikir bahwa, Umur memang hanya Allah yang tahu. seandainya kita semua tahu, apapun yang ada di dunia ini hanya titipan. dan kepadaNya lah kita kembali. Setiap pertemuan berujung perpisahan. ada yang lahir ke bumi ada yang meninggalkan bumi. sesungguhnya semuanya selalu berpasangan.

Besok, salah satu rekan kerja saya akan mengakhiri kerjanya d kantor ini. secara pribadi, saya mengenalnya dekat. pribadinya unik. dan jarang sekali saya temukan dalam sejarah pertemanan saya. Dia pernah bersama saya liburan bareng ke Dufan. dia selalu ada untuk membantu saya dalam hal kerjaan. dia selalu menawarkan bantuan ketika saya merasa lagi ripuh.

Beberapa hari terakhir, dia bersama saya lemburan sampai jam 3 pagi untuk membantu merapihkan laporan saya yang akan dicetak pagi harinya. bagi saya, dia sangaaat baik :) Yang jelas, aku pasti kehilangan. kita masuk bareng bareng dan ternyata, dia merdeka duluan :D seharusnya aku senang karena keputusan dia sekarang ini setidaknya membuat dia bahagia. Selamat menempuh di dunia baru dengan pilihanmu ya teteh. bahagia dunia akhirat. see you at finish line! :*

*******

~* KATA MAAF TERAKHIR *~

Berkali-kali kusakiti hatinya, hingga air matanya mengering tak mampu menitikkan bulirnya lagi. Sejak usiaku belia hingga kini umurku 28 tahun, aku masih saja merepotkannya dengan pekerjaanku yang tak berguna. Banyak orang begitu mencemooh dan menyorotiku seperti kotoran, tetapi tidak dengannya. Banyak orang terlalu mengucilkan kehidupanku hingga tak ada ruang lagi untuk mencari alasan memohon bantuan mereka, namun tidak dengannya. Malam demi malam ia habiskan untuk mencurahkan kalimat indahnya, memohon dengan tulus dan penuh yakin bahwa suatu hari aku pasti berubah. Meski aku tak tahu betul seberapa besar luka dan pengorbanannya, ketika aku kembali lagi pada dosa, ia datang bak malaikat yang memberiku jalan pulang, ke pelukan hangat seorang ibu.

Ibuku berusia 53 tahun, seorang penjahit yang hanya memiliki sebuah mesin jahit tua di rumah kecil kami. Jari-jarinya yang mulai keriput, masih saja dengan sabar menggeluti benang demi benang, membuatkan pesanan baju banyak orang. Beberapa kali tangannya tertusuk jarum, tetap saja ibuku meneruskan pekerjaannya, dengan kaca mata silinder seharga dua puluh lima ribu yang dibelinya di pasar. Tiap kali aku menyuruhnya ke dokter mata, ibu hanya tersenyum dan meminta mengantarkannya ke pasar. Sampai di sana, ibu pun mencoba beberapa kaca mata sampai akhirnya ia menemukan kaca mata yang cukup membuat pandangannya lebih jelas.

Ibuku seorang diri, sudah 10 tahun ayahku meninggal dunia dan tak menikah lagi. Hanya tinggal denganku, berdua. Pekerjaannya sebagai penjahit sudah ia lakukan sejak 30 tahun silam, sebelum menikah dengan ayahku, di Ponorogo. Selepas pindah ke Malang, ibu pun melanjutkan profesinya itu. Ia berjuang sendiri, memenuhi semua kebutuhan keluarga sederhana kami. Masih kuingat wajah ibu yang begitu bersemangat mendorongku untuk sekolah ke Universitas meski aku tak begitu menginginkannya. Kata ibu, “Pendidikan itu penting, Nak. Sekolah saja yang benar, masalah uang, ibu bisa usahakan”, tangannya memegang pundakku yang jauh lebih kekar dibandingkan badan ibu yang kurus. Ibu tak peduli denganku yang begitu pemalas, baginya laki-laki harus punya pendidikan tinggi.

Apa yang ibu lontarkan lewat doanya belum seiring dengan perjalananku. Tahun-tahun pertama kutinggalkan ibu ke Surabaya bertekad memenuhi harapannya untuk kuliah di salah satu universitas negeri di sana. Namun, kebiasaan burukku tak kunjung berhenti hingga lembar demi lembar uang yang ibu kirimkan lebih banyak kuhabiskan ke tempat tak berguna, diskotik, penuh kesombongan kuteguk minuman keras yang dijual mahal di sana. Bila uangku habis, sambil mendesak kuminta ibu untuk mengirimiku uang lagi. Tetapi itulah ibu, entah darimana ia peroleh uang, seketika itu ibu akan memberiku uangnya lagi. Namun kebiasaanku ini tak berlangsung lama. Aku tak lagi berpesta dengan minuman. Seorang temanku divonis umurnya tak lama lagi karena setiap hari ia meneguk minuman keras. Tak ingin berujung sepertinya, kupaksakan untuk berhenti.
Lantas bukan berarti aku bertaubat, tetap saja aku mengalihkan kebiasaan burukku pada kebiasaan buruk yang lain. Aku mulai menekuni profesi baru, Ah, profesiku sebagai penjudi. Bukannya malah berpikir serius untuk kuliah, aku yang dengan santai hanya masuk dan mengabsen muka pada dosen, tak lagi serius mendengarkan penjelasan-penjelasannya yang seolah hanya lewat di telingaku. Selalu saja mengantuk, dan tak jarang ku tertidur. Kuhabiskan malam di beberapa tempat bersama teman-teman baruku, tentu saja pada profesi yang sama. Benar kata orang, judi tak hanya menghabiskan uang sakuku, namun hartaku yang lain. Kesenanganku pada judi membuatku tak segan menjual barang-barang di kamar kosku. Ujung-ujungnya aku pun beralasan untuk membayar ini dan itu pada ibu, alasan KKN, alasan ikut Semester Pendek, bahkan alasan untuk penelitian pun kukatakan pula pada ibu.

Masih ku ingat sorot bahagianya saat kuberi tahu bahwa kuliahku akan segera berakhir. Sudah 6 tahun ibu memberiku segalanya selama kuliah, ia ingin aku lulus dan wisuda. Ucapnya, ibu akan menggunakan pakaian bagus, Nak untuk hadir di wisudamu nanti. Aku hanya tersenyum pada ibu, menciumi tangannya setiap kali hendak pamit ke Surabaya. Ibu pun kembali berkaca-kaca, karena dalam waktu yang lama ia akan menghabiskan hari-harinya sendiri lagi. Di tahun terakhir sisa semesterku, ibu semakin rajin bertanya kapan dan kapan aku diwisuda. Tentu saja aku tak tega mengatakan yang sebenarnya bahwa kuliahku masih berantakan. Aku tak lagi punya cukup waktu untuk menyelesaikannya, jelas sekali keputusan untukku, drop out. Di masa-masa itu aku tak berani pulang ke rumah. Hidupku pun menumpang tidur di kos teman karena uang yang diberikan ibu tak kubayarkan untuk sewa kos.

Kubohongi ibu terus menerus. Kata maaf pun seolah tak lagi berguna bila kukatakan hari ini. Ya, ibuku sudah tiada. Dua tahun yang lalu seorang kerabat menelepon dan menyuruhku pulang sebab ibu sudah meninggal. Keadaannya sehat-sehat saja kala itu. Ibu pergi tanpa ada keluhan sakit apapun. 1 jam sebelum kepergiannya, ibu sempat mengobrol denganku di telepon, memberiku sebaris pesan agar aku baik-baik saja dan segera menyelesaikan kuliahku. Mungkin ibu lupa, saat itu, sudah tahun ke delapan. Bukan lagi tahun dimana aku pantas memberinya harapan kosong. Namun, demi menenangkannya, hanya ku jawab iya dan iya. Tak tahu bahwa itu adalah pembicaraan terakhir kami, sontak aku sangat terpukul, satu-satunya orang yang begitu menyayangiku tanpa akhir, tengah terbaring di rumah kami.

Dua tahun ini, aku tinggali rumahku seorang diri. Bekerja berbekal ijasah SMA sebagai marketing di perusahaan swasta. Kupandangi foto ibu setiap pagi, sebelum ku berangkat kerja. Memohon maaf padanya berkali-kali dalam hati. Ibu pasti tahu, meski semasa hidupnya aku tak pernah menceritakan kesalahan dan kebiasaan burukku padanya. Sesekali aku merasa tak kuat lagi hidup tanpanya, menangis semalaman sambil membaca surat demi surat yang ku tuliskan untuk ibu, yang tak tahu harus kukirimkan pada siapa. Di samping pusaranya, kusematkan surat-suratku, dan menggantinya dengan surat baru ketika ku kunjungi makamnya lagi. Ibu memang tak bisa membacanya, namun aku berharap Tuhan menyampaikan penyesalanku yang begitu dalam pada ibu. Hidupku begitu berbeda tanpanya, Rabb. Bila saja ada kesempatan terakhir untuk melihatnya, kan ku sampaikan kata maaf pada ibu dan mengakui semua kebohonganku.

Bila sisa hidupku ini adalah anugerah waktu yang diberikan Tuhan, ku gunakan sepenuhnya beribadah, mendoakan ibu yang begitu damai tersenyum di mimpiku, terutama saat hatiku merasa kalut. Ku tekuni pekerjaanku yang sederhana, mensyukuri apa adanya hidupku. Seperti kata ibu.


“Maafkan aku, Bu”

Aku hanya mampu mendoakan, mengiringi kehidupanmu di sana dengan doaku. Berharap Tuhan menganggapku sebagai anak sholeh yang doanya diijabah. Hingga ibu tak lagi dikenal sebagai bunda yang salah membesarkanku. Semoga ibu pun berbahagia dengan jiwaku yang insaf dan tak lagi mengulang kesalahan. Masih ada waktu, bila ibu menginginkanku menjadi sarjana, saat ini tengah kujalani dari awal, menapaki pekerjaan dan pendidikanku bersama-sama.
Untukmu, Ibu.

*******

~* MALAIKAT PUN MENANGIS,AYAH *~

Sang fajar mulai bangun dari peraduannya, kicauan burung pun mulai terdengar saling bersahutan. Para ayam jantan sudah mulai bertengger dan berkokok dengan suara nyaring mereka untuk menandakan bahwa hari baru telah tiba. Perlahan para petani sudah mulai turun ke sawah mereka, dan beberapa pedagang sudah bersiap dengan dagangan mereka yang akan mereka bawa ke pasar. Tak mereka rasakan dinginnya bayu pagi yang semakin menusuk tulang rusuk mereka, yang sebenarnya usia mereka sudah terbilang cukup senja untuk bekerja. Tapi mereka tak merasakan itu semua karena mereka hanya berharap hari ini mereka bisa makan meski hanya dengan sesuap nasi saja.

Hanya bermodal sepeda tua seorang lelaki paruh baya mencari rizki di pasar yang biasa ia datangi. Dengan kayuhan sepeda yang perlahan lelaki itu menekuni pekerjaannya yang ia anggap sudah menjadi kewajibannya. Selama pekerjaan itu halal, ia akan terus menjalaninya hanya untuk anaknya yang berusia 5 tahun.

Dia adalah pak Rahmat, ia adalah seorang lelaki tua yang hidup di sebuah gubuk tua, bersama anak satu-satunya, Nesya. Semenjak kepergian istrinya setelah kelahiran Nesya, pak Rahmat hidup hanya dengan Nesya. Bagi pak Rahmat, Nesya adalah malaikat kecil yang akan menjadi obat jerih payahnya di masa senja pak Rahmat kelak. Dengan penuh rasa ikhlas pak Rahmat jalani puluhan meter jalan berbatu yang terjal, bermandikan keringat di bawah terik matahari, berbasah kuyup saat hujan mulai turun. Namun, semua itu tak pernah memutuskan semangat pak Rahmat untuk Nesya, malaikat kecilnya. Walau tak sebanding dengan jerih payahnya, apapun dan bagaimanapun hasil yang pak Rahmat dapat selalu ia syukuri. Pak Rahmat percaya, kelak Tuhan akan memberikan kebahagiaan lewat putrinya.

Hari sudah semakin siang, pak Rahmat terus mengayuh sepeda tuanya menuju pasar yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Nesya yang baru berusia dini itu masih terlihat terlelap di mimpinya, bahkan ia tak mengerti apa yang sebenarnya setiap pagi ayahnya kerjakan. Hanya beberapa kalimat yang biasa pak Rahmat bisikkan di telinga putrinya sebelum pergi “kau adalah semangat hidup ayah, Nesya.” Meski Nesya masih berusia 5 tahun namun ia selalu menangkap dengan teliti setiap ucapan yang ayahnya bisikkan. Nesya juga selalu mengukirkan sebuah senyuman manis di bibir mungilnya setelah pak Rahmat berbisik seperti itu. Mungkin jika Nesya sudah lebih mengerti ia pasti akan menjawab
“Aku juga akan berjuang kelak untuk ayah.”

Hari ini pak Rahmat hanya menjual beberapa sayuran dari kebunnya yang tak begitu luas di samping rumahnya. Dengan keringat yang sudah mulai bercucuran di dahi pak Rahmat ia terus bersemangat menjual sayuran-sayuran itu. Namun, mungkin hari ini belum rejeki pak Rahmat. Ia hanya mendapat seperempat hasil dari yang sudah ia perkirakan sebelumnya. Dengan lapang dada beliau mencoba menerimanya dan membawa pulang kembali sayuran yang tak terjual. Dengan tenaga yang masih tersimpan, pak Rahmat mengayuh kembali sepedanya kemudian beranjak pulang. Dalam perjalanan ia terbayang wajah Nesya yang selalu menghilangkan rasa lelahnya saat semangatnya sedikit memudar.

Dengan kayuhan yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya ahirnya sepeda itu telah mengantarkan pak Rahmat kembali di rumahnya. Ia melihat Nesya sudah duduk di teras rumah seraya memegang sebuah sendok dan piring kecil, yang bertanda ia sudah lapar. Pak Rahmat yang mengetahui putrinya sudah menunggu kedatangan beliau, langsung menuruni sepedanya dan berjalan menuju arah tempat anaknya berdiri. Dikecupnya kening Nesya, dan dengan penuh kasih sayang beliau menggendong Nesya dan berjalan menuju dapur dan segera mengambilkan makanan untuk Nesya. Dengan penuh kesabaran pak Rahmat meyuapi Nesya yang hanya tersenyum saat setiap nasi masuk ke dalam mulut mungilnya. Pak Rahmat yang merasa terhibur dengan sikap Nesya hanya membalas senyum yan Nesya berikan. Namun, dibalik tatapan polos Nesya, sebenarnya Nesya berkata “Ayah pasti lelah ya? Ayah, terus berjuang ya? Nesya akan jadi penyemangat untuk ayah.” Dan sesekali terdengar suara tawa dari Nesya, dan suara tawa itu yang membuat pak Rahmat merasa sangat sayang kepada putrinya itu.
Apalagi saat Nesya terkadang memanggil pak Rahmat “ A…a… ayaah…”, meski kata-kata Nesya belum sempurna tapi pak Rahmat merasa bahagia saat Nesya memanggilnya ‘Ayah’.

Setelah selesai menyuapi Nesya, pak Rahmat pun segera mengambir air untuk memandikan Nesya. Dan satu hal lagi, Nesya sangat menyukai saat-saat mandi, karena ia bisa bermain air bersama ayahnya sampai terkadang Nesya merasa dingin dan sedikit menggigil. Dengan beberapa canda, pak Rahmat membawa Nesya menuju kamar mandi dan mulai memandikan Nesya. Dengan kesabaran pak Rahmat memandikan Nesya dan dengan sabar pula ia mengusap beberapa air yang membasahi wajahnya karena tingkah Nesya. Dalam hati Nesya berkata lagi “Ayah, Nesya ingin ayah memberikan canda tawa untuk Nesya sampai nanti Nesya bisa membuat ayah bangga pada Nesya.”

Seusai memandikan Nesya, pak Rahmat pun segera bersiap pergi ke ladang untuk mengolah apa yang bisa ia manfaatkan. Seperti biasa, Nesya selalu ikut, dan pak Rahmat menggendongnya di belakang punggung. Meski bermandikan keringat karena cuaca yang sangat terik, pak Rahmat terus mencangkuli ladangnya yang sedikit mengering karena hujan yang tak kunjung datanng. Nesya hanya terdiam saat melihat ayahnya bermandikan keringat di bawah teriknya matahari. Andai Nesya sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa ia pasti akan membantu ayahnya, dan mungkin ia tak akan membiarkan ayahnya terus bekerja di hari yang semakin panas itu. Sesekali pak Rahmat menoleh ke arah Nesya dan Nesya akan tersenyum seraya berucap dalam hati “Semangat ayah, aku di sampingmu.” Dan tatapan lembut Nesya seakan menjadi isyrat tersendiri yang akan memacu semangat pak Rahmat.

Tak terasa hari sudah bergulir menjadi senja, dan pak Rahmat memutuskan untuk segera beranjak kembali ke rumahnya. Nesya yang mungkin juga merasa lelah karena setengah hari menemani ayahnya, ahirnya tertidur saat pak Rahmat mulai menggendongnya dan berjalan pulang.

Senja akhirnya telah berganti pekatnya malam. Di temani sebuah cahaya lampu, pak Rahmat dan Nesya menikmati beberapa suara hewan malam yang seaakan seperti sebuah orkestra musik di malam yang sunyi ini. Nesya sudah berada di dalam kamar mungilnya di dekat ruang tamu, sedangkan pak Rahmat sendiri masih duduk di bangku dekat jendela ruang tengah. Itu adalah kebiasaan pak Rahmat saat ia merasa sepi. Diambilnya sebuah album photo, dan mulai ia buka lembar demi lembar yang sudah mulai terlihat usang karena termakan usia. Terlihat beberapa foto pak Rahmat bersama istrinya saat kandungan istrinya berusia 7 bulan. Dimana saat itu pak Rahmat masih menjalani hari-hari bahagianya bersama sang istri.

Tak terasa perlahan airmata pak Rahmat menetes karena ia ingat kenangan bersama istrinya yang kini sudah berbeda tempat dengannya. Dalam hati, pak Rahmat berjanji akan membesarkan Nesya sekuat tenaganya karena ia ingin Nesya menjadi pelita saat usia senja mendatangi pak Rahmat. Dipeluknya dengan erat album foto yang sudah usang itu, dipandangnya langit malam yang penuh bintang, dan berharap esok lebih baik dari hari ini.

Perlahan mata pak Rahmat mulai terpejam dan ia pun mulai terlelap dalam mimpinya. Sedangkan di sisi lain, Nesya terbangun dan melihat ayahnya tertidur tanpa selimut yang menutupi tubuhnya di malam yang dingin ini. Nesya pun beranjak turun dari tempat tidurnya dan kemudian membawa selimut dengan langkah perlahan. Nesya pun meletakkan selimut di kaki dan tangan pak Rahmat. Karena tak bisa meraih wajah ayahnya, Nesya hanya mencium tangan kanan pak Rahmat seraya berdoa dalam hatinya “Ayah, mimpi manis ya? Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk semua usaha ayah. Nesya tau, malaikat pun ikut menangis jika ayah menangis. Berjuanglah ayah. Nesya berjanji, Nesya akan menjadi pelita di masa tua ayah kelak. Nesya sayang ayah. Selamat malam ayah, mimpi indah.”

Akhirnya, Nesya kembali ke tempat tidurnya dan mulai kembali terlelap tidur. Sedangkan ayahnya mulai tersenyum karena mimpi manis yang putri kecilnya bisikkan. Dan ahirnya mereka pun larut dalam mimpi indah mereka masing-masing, dan menunggu hari esok yang akan lebih bersinar dari hari ini.

*******

Sekian dahulu kumpulan beberapa cerpen dari saya.
Mohon maaf,belum semuanya saya beri foto,
Dikarenakan kondisi bodi yang belum fit.


Semoga Bermanfaat.

^_^