~* KUMPULAN LEGENDA DARI TANAH GAYO *~

DANAU LAUT TAWAR

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Disisi barat danau ini terdapat sebuah kota kabupaten yaitu kota TAKENGON, yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Suku Gayo menyebut danau ini dengan sebutan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter). Tempat populasi 
ikan depik.

Karakteristik Umum.
  • Ada 25 aliran krueng yang bermuara ke Danau Laut Tawar dengan total debit air kira-kira 10.043 liter per detik.
  • Rerata kedalaman danau:
    • 35 meter dari pinggir danau: 8,9 meter.
    • 100 meter dari pinggir danau: 19,27 meter.
    • 620 meter dari pinggir danau: 51,13 meter.
  • Rerata suhu air danau diukur berdasarkan kedalaman:
    • 1 meter: 21,55 °C
    • 5 meter: 21,37 °C
    • 10 meter: 21,15 °C
    • 20 meter: 20,70 °C
    • 50 meter: 19,35 °C
  • Kecerahan tertinggi 2,92 meter (di tengah danau), sedangkan yang terendah 1,29 meter 
  • (Kp. Kuala II). 
  • Semakin tinggi kecerahan, maka semakin jernih air.
Karakteristik Kimiawi.
  • Tingkat keasaman (pH) rata-rata 8,35.
  • DO, dissolved oxygen atau oksigen terlarut rata-rata 5,94 ppm.
  • BOD, biological oxygen demand atau kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk menetralisir bahan organik kira-kira 0,8 ppm.
  • COD, chemical oxygen demand atau kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk menetralisir bahan kimia sangat kecil sehingga tidak terdeteksi.

Flora.
Ditemukan 46 jenis plankton yang terbagi atas 11 kelas di Danau Laut Tawar,
Dengan rincian kelas Chlorophyceae sebesar 35%, Bacillariophyceae 24%,
Myxophyceae 9%, dan kelas lain sebesar 32%. Hydrilla sp.,
Eceng Gondok dan kiambang juga dapat ditemukan hidup di pinggiran danau.

Fauna.
Ditemukan 3 jenis moluska, 1 jenis annelida, 37 jenis ikan, dan 49 jenis serangga yang hidup di kawasan Danau Laut Tawar. Untuk hewan yang hidup di sekitar danau, ditemukan 20 spesies mamalia yang terbagi atas 13 famili, beberapa diantaranya termasuk hewan yang dilindungi, antara lain binturung, pukas, trenggiling, landak, kancil, napu, owa, siamang, tanado, harimau, kucing hutan, rusa, dan kijang.

LEGENDA DANAU LAUT TAWAR.

Ni cerite masa pudaha Tentang gayo negeri antara Ara unok perasin ni jema Jemae taat lagi bijaksana…
Wan sara masa mudepet amanah, Munetos kapal i kute mekah, Renye batang kayu ari takengen iemah..
Oya le mulo asal kejadien Kati ara lut i kute takengen Munge nguk ken inget-ingeten Sa metehe ara sudere si nge lupen.

KONON dahulu kala ada sebuah desa yang tersembunyi di atas gunung. Gunung-gunung melengkung memagari wilayah tersebut. Hasil alam yang berlimpah ruah, masyarakatnya hidup serasi dengan alam. Tersebutlah dataran Gayo, dataran tinggi di mana kemakmuran melingkupi penduduknya.

Dahulu di daerah ini, ada sebuah kolam kecil di tengah hutan yang luas lagi lebat yang di dalamnya hanya hidup beberapa ikan saja. Airnya memancar keluar dari dalam tanah seperti air yang mendidih sangat jernih sekali, sehingga seluruh hewan yang menghuni hutan tersebut sangat suka meminum air dari kolam itu. Bukan saja hewan yang acap datang ke kolam itu,  bidadari dari kayangan pun konon sering mengunjungi kolam tersebut untuk sekedar mandi sambil bermain dan bercanda sesama mereka. Menurut cerita, Putri Bensu adalah salah satu nama dari bidadari tersebut yang turut mandi bersama dengan kakak-kakaknya sambil berluluran di atas batu besar yang ada di tepi kolam. Sementara di sebelah bebatuan yang besar lainnya biasanya ada seorang pemuda bernama Malim Dewa yang selalu meniup seruling dengan merdunya untuk memikat hati sang bidadari terutama Putri Bensu. Setelah mandi para bidadari ini akan kembali ke langit yang lebih dikenal dengan nama Negeri Antara.

Di pinggiran kolam yang jernih ini pun tumbuh sebatang pohon yang sangat besar batangnya, banyak buahnya serta rimbun daunnya. Tempat  dimana segala jenis binatang yang hidup di hutan tersebut untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan sambil beristirahat sejenak setelah melalang buana mencari makanan, sekaligus tempat menghilangkan rasa dahaga karena kolam tersebut airnya sangat jernih serta berada tepat di samping pohon besar. Begitu pun dengan burung-burung yang bermain dari cabang satu ke cabang yang lainnya lagi sambil mencari makanan di atas pohon kayu yang besar tadi. Mereka memakan buahnya sembari mencari ulat-ulat kecil yang merayap di atas cabang serta daunnya yang rimbun sebagai makanan tambahan. Tidak hanya ada pohon besar itu di pinggir kolam tersebut, tumbuhan lainpun hidup subur mengelilingi kolam walau memang tidak sebesar pohon yang satu itu.

Pada zaman itu hiduplah seorang  ulama yang sangat disegani dan sangat di hormati oleh masyarakat Gayo karena keta’atannya dalam beribadah, arif dalam mendudukkan perkara lagi bijaksana dalam bersikap, ulama ini  bernama Aulia. Sang Ulama memiliki ciri badan yang sangat berbeda dari manusia sekarang, beliau berbadan sangat besar dan tinggi, memiliki langkah kaki yang sangat lebar, tidaklah seberapa tingginya gunung-gunung yang menjulang di muka bumi serta dalam, panjang dan luasnya lautan di samudra. Seperti itulah kira-kira besar badannya, luas langkahnya, hanya khayalan kita saja yang bisa menyimpulkannya. Sehingga sang Ulama di juluki dengan nama Unok . Sampai sekarang julukan Unok masih melekat di antara masyarakat Gayo. Biasanya diberikan kepada mereka yang berbadan besar, tinggi dan mempunyai langkah kaki yang lebar.

Ketaatan Sang Unok dalam beribadah kepada Allah SWT menjadi tauladan di dataran tinggi Gayo. Banyak kabaran mengatakan kalau Unok sering terlihat di tanah suci untuk beribadah apalagi ketika hari Jum’at tiba beliau selalu mengerjakan shalat Jum’at di Mekkah, sehabis mandi beliau mengenakan pakaian yang sangat bagus lagi bercahaya harum pula wangi tubuhnya padahal jarak Mekkah dan Gayo sangat lah jauh bila di ukur dengan angka-angka skala, tetapi tidak bagi Unok dengan sekejap mata beliau bisa sampai di Mekkah. Unok tidak berlama-lama berada di Mekkah, sehabis melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah beliau langsung kembali lagi ke dataran tinggi Gayo, tak pernah ada yang mengetahui dengan cara apa beliau bisa sampai di Mekkah, atau mahluk apakah yang beliau tunggangi. Mungkinkah Unok mengendarai Burak seperti kendaraan Nabi pada saat pergi menuju Sidratul Muntaha, atau mungkin beliau terbang, karena belum pernah ada yang melihat secara langsung. Namun menurut kabaran beliau biasanya hanya berjalan kaki menuju ke Masjidil Haram.

Pada suatu hari yang mana menurut penanggalan sebagai hari serta bulan yang baik, turunlah sebuah ilham atau amanah kepada Sang Ulama bahwa nanti suatu hari akan turun cobaan dari Allah SWT kepada seluruh mahluk hidup yang ada di bumi untuk menguji siapa-siapa saja yang beriman dan siapa-siapa yang tidak di antara mereka. Apabila dia beriman maka dia akan selamat dari cobaan ini karena memegang teguh amanat atau perintah Tuhan, sementara yang tidak, pasti akan mendapat azab dariNya karena ingkar serta durhaka terhadap perintahNya. Cobaan yang maha dahsyat itu berupa banjir besar yang akan menenggelamkan semua yang ada di bumi baik daratan maupun gunung-gunung yang tinggi sekalipun. Semua akan ikut tenggelam saat air itu datang, dunia akan tergenang bak lautan yang luas.

Dalam ilham tersebut Unok diperintahkan untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar agar bisa melindungi dan menyelamatkan mahluk hidup yang beriman. Di dalam perahu itulah nanti seluruh mahluk hidup akan tinggal sementara, makan dan minum serta bisa mengangkut bekal makanan karena tidak ada yang mengetahui sampai kapan banjir itu akan surut atau berhenti. Entah berapa bulan atau mungkin berbilang tahun. Perahu besar pun harus segera di buat dan akan diletakkan di sebuah tempat yang berdekatan dengan Mekkah.

Pada hari baik, setelah ada kesepakatan untuk membuat perahu yang besar, mulailah Unok dan orang-orang yang percaya akan alamat ilham Sang Unok mengumpulkan perkakas dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat perahu besar tersebut. Pohon-pohon mulai di tebang, tali tambang mulai di rajut. Membuat perahu yang besar di perlukan pohon yang besar serta banyak pula, maka Unok memutuskan untuk memilih batang pohon besar yang ada di samping kolam ikan di tengah hutan. Dengan segera mulailah Unok menarik kuat batang pohon tersebut karena memang sangat besar dan berumur sangat tua.

Unok hampir kehabisan tenaga namun terus menarik batang pohon tersebut, begitu kuatnya Unok menarik hingga batang pohon tersebut tercabut beserta dengan akar-akarnya yang mengurat dalam di tanah. Setelah batang pohon besar tadi berhasil di cabut oleh Unok maka ia membawanya dengan cara menyeret ke  tanah sampai ke tepi pantai Laut Aceh dan meneruskanya hingga menyeberangi lautan yang luas sehingga hampir mendekati Mekkah. Bekas akar pohon besar tadi yang tanahnya terbongkar sehingga membentuk lubang yang sangat besar serta sangat dalam, lama-kelamaan air kolam memenuhi lubang tersebut, airnya pun semakin hari semakin banyak hingga kolam tersebut berubah menjadi danau yang dikenal dengan nama Danau Laut Tawar dan kabarnya bekas batang pohon besar yang diseret Unok itu kini telah menjadi Arul (sungai) yang bernama Sungai Peusangan yang mengalirkan air dari Danau Laut Tawar menuju pesisir Aceh saat ini.

 *******

ASAL USUL MASYARAKAT GAYO

 
Tanah Gayo adalah suatu daerah di belahan bumi sebelah utara garis khatulistiwa yang terletak di tengah-tengah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gayo merupakan daerah sentral bagi daerah-daerah sekitarnya seperti Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur dan Sumatera Utara. Terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara ke bagian tenggara sepanjang bukit barisan bagian ujung pulau Sumatera.

Secara administrative, suku bangsa Gayo adalah orang-orang yang mendiami kabupaten yang disebut Aceh Tengah dan Bener Meriah. Penduduk daerah Gayo pada masa sekarang ini terdiri dari suku bangsa Gayo sendiri, yang juga berasal dari suku bangsa lain seperti Aceh, Jawa, Minangkabau bahkan orang-orang Cina, baik WNI maupun WNA yang menetap di Takengon.
Tetapi pada masa lampau penduduk daerah Gayo dibagi menjadi dua bagian, yaitu penduduk daerah Gayo yang bertempat tinggal di Kebayakan dan penduduk Gayo yang bertempat tinggal di Bebesan.
Kampung Kebayakan terletak di sebelah barat laut danau Laut Tawar. Sedangkan Kampung Bebesan terdapat di sebelah barat Kebayakan. Kedua kampung tersebut dihubungkan oleh jalan kurang lebih 1 Km.

Asal Usul

Dalam sejarah, penduduk yang mendiami kampun Kebayakan dan Bebesan merupakan kampung “inti” di Gayo Laut, mempunyai satu anggapan bahwa asal usul mereka berbeda. Penduduk kampung Kebayakan mengatakan mereka adalah penduduk asli di daerah Gayo ini.
Sedangkan yang satu pihak lagi, yakni penduduk kampung Bebesan, memang menyadari bahwa mereka berasal dari Batak (Tapanuli), lebih popular disebut dengan Batak 27 (disebut dengan Batak 27 karena dalam sejarah kedatangan mereka ke Gayo pada jaman lampau, orang-orang Batak ini berjumlah 27 orang).
Belum jelas pada abad berapa peristiwa kedatangan Batak Karo 27 tersebut ke Tanah Gayo. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar, pada abad ke 16 M pernah tujuh pemuda dari tanah Karo bertamasya ke Tanah Gayo. Kedatangan mereka guna menyaksikan kebenaran keindahan laut tawar (H. AR. Latief, 1995 : 81).

Sementara menurut Dr. C. Snouck Hougronje, kedatangan Batak Karo 27 adalah pada masa kejuruan (raja) bukit telah memeluk Islam. Kejuruan Bukit adalah suatu bagian dari raja-raja yang terdapat di tanah Gayo yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan (kejuruan) lain.
Kedatangan orang-orang dari Tapanuli yang dikenal dengan istilah “Batak 27” ini melahirkan nama-nama Belah atau Clan di Gayo dengan nama yang hamper sama dengan marga yang ada di Tanah Karo sendiri. Seperti Clan Munthe, Cibero, Melala, Lingga, Tebe yang di Karo disebut Munthe, Sibero, Meliala dan sebagainya.

Batak 27 pada masa itu mendapat sebagian wilayah kekuasaan Raja Bukit sebagai diyat untuk mengganti kerugian akibat matinya suku Batak Karo yang terbunuh dalam peperangan.
Ganti rugi tersebut diwujudkan dengan membelah danau Laut Tawar menjadi dua sampai Kala Bintang sebelah utara termasuk daratan, mulai dari kampung Kebayakan, Rebe Gedung, Simpang Tiga, Delung Tue win Ilang hingga Ramung Kengkang perbatasan Aceh Timur (sekarang Kabupaten Bener Meriah, red) dan arah selatan sampai perbatasan Lingga.

Setelah batas wilayah ditentukan oleh kedua belah pihak yang berdamai, Raja Bukit ke II Panglima Perang Dagang mengajukan sebuuah tuntutan kampung bukit berikut bangunannya yang telah diduduki oleh Batak 27.
Raja Leube Keder berkata dengan tegas bebaskan, dalam bahasa Karo artinya dibebaskan dari tuntutan, lambat laun kata bebaskan berubah menjadi kata Bebesan sampai sekarang ini (AR. Latief, 1995). Raja Bukit Panglima Perang Dagang, kemudian bersumpah tidak berkeberatan kampung Bebesan berikut bangunannya dijadikan hak milik Batak 27.

Beberapa hari kemudian penduduk bukit sendiri membangun pemukiman baru yang terletak dipinggir Danau Laut Tawar yang sekarang disebut dengan daerah Kebayakan. Mula-mula kampung ini disebut dengan Kebanyakan karena penduduknya yang terbanyak, kemudian setelah penjajah Belanda datang dan tidak dapat menyebutkan nama kampung tersebut dengan tepat, berubah menjadi Kebayakan.
Marcopolo yang pernah singgah di Peureulak, Aceh Timur sekembali dari Cina menuju Italia tahun 1292 mengatakan bahwa penduduk Aceh telah memeluk agama Islam. Penduduk yang tidak mau memeluk agama Islam menyingkir ke pedalaman dan menjumpai kerajaan kecil di pedalaman tersebut.

Penduduk asli pedalaman ini menyebut daerahnya sebagai “Lainggow” dan menyebut rajanya dengan Ghayo-Ghayo atau raja gunung yang suci. Di daerah Lianggow tersebut telah berdiri kerajaan kecil, yaitu “Kerajaan Linggow” dan kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Lingga’ dan sudah memiliki hubungan dengan kerajaan Peureulak di Aceh Timur dengan mengirim bingkisan (MH Gayo, 1983).
Adalah masuk akal jika catatan Marcopolo tersebut dipegang kebenarannya, maka dalam perkembangan sejarah selanjutnya penduduk pedalaman ini disebut dengan Suku Gayo.

Sementara itu ada pula orang yang beranggapan bahwa orang Gayo adalah berasal dari orang-orang yang lari dari daerah Peureulak, Aceh Timur ke daerah pedalaman karena tidak mau masuk Islam. Dan kata-kata Gayo sama artinya dengan kata-kata dalam bahasa Aceh, yaitu “Ka-yo” yang artinya “sudah takut.
Meskipun tidak ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini, namun demikian jika dilihat dari letak daerah Gayo dalam peta Aceh, tidaklah mustahil jika orang-orang Gayo di zaman dahulu kala berasal dari penduduk daerah Peureulak, Aceh Timur atau daerah  Pasee, Aceh Utara melalui sungai-sungai yang hulunya berada di daerah Gayo di pedalaman.

Kemungkinan itu lebih besar lagi mengingat kedua daerah Peureulak dan Pasee berada di pinggir pantai Aceh yang menghadap ke Selat Melaka, yaitu daerah hubungan lalu lintas antar bangsa-bangsa yang ramai dalam sejarah di kawasan Asia Tenggara.

Komunitas Gayo

Hingga saat ini penduduk Gayo ini dibagi menurut daerah kediamannya. Suku Gayo disebut sebagai orang Gayo Laut atau Gayo Lut bagi mereka dan berdiam di sekitar Gayo Lues dan orang Gayo serba jadi bagi mereka yang berdiam diri di sekitar serba jadi sembung-lukup (sekarang Kabupaten Gayo Lues-red).
Selain itu masih ada orang-orang Gayo yang terdapat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah yang berdiam di sekitar Aceh Timur dan sekitar perbatasan Aceh Timur-Sumatera Utara, seperti orang Gayo Kalul, orang Gayo Johar dan lain-lain. Sedangkan suku Alas berdiam di berbagai daerah tanah Alas yang berbatasan langsung dengan Gayo Lues, Asel, daerah Karo dan Sumatera Utara.

Islam Di Gayo



Memperhatikan keaneka ragaman penduduk Gayo yang tinggal di tanah Gayo, Aceh Tengah itu menunjukkan bahwa daerah gayo itu tidak menutup pintu bagi orang-orang yang hendak tinggal di sana. Kemungkinan besar bagi pendatang itu mendapat tempat yang layak dikalangan masyarakat, maka suatu dugaan keras bahwa masuknya Islam ke daerah Gayo di bawa oleh pendatang-pendatang.
Baik pendatang itu sebagai pedagang maupun sebagai mubaligh. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah adanya sebuah kuburan Ya’kub, saudara Misan dari Al-Malik Al-Kamil yang terdapat di desa Lingga. Ya’kub meninggal pada hari Jum’at, 15 Muharram 630 H (1232 M). Namun, untuk hal ini diperlukan lagi penelitian yang lebih mendalam.

Menurut Belanda, daerah Gayo adalah suatu daerah yang menentukan hidup matinya kekuasaan Belanda di Aceh. Sebab ketika Batee Iliek jatuh ke tangan Belanda, Sultan mundur ke Tanah Gayo yang bertepatan dengan disusunnya gerakan mempertahankan kemerdekaan yang dipimpin oleh Teungku Tapa sejak tahun 1898.

Rakyat Gayo yang menyadari Agresi Belanda sangat berbahaya, maka dengan serempak rakyat Gayo menaikkan bendera putih yang disebut “Pepanyi ni Umah”, panji tersebut dilukis dengan kalimah Allah, Rasul dan keempat sahabat. Panji-panji tersebut dinaikkan oleh rakyat di tiap-tiap rumahnya sebagai pertanda datangnya syaitan yang bermaksud menjahanamkan ummat Islam (Mohd. Said 1981: 632) sehingga rakyat Gayo dengan serta merta mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Batak 27 di Laut Tawar.

Batak 27 yang datang ke Gayo mempunyai seorang pemimpin Batak Karo muslim dan seorang ulama yang arif dan bijaksana. Pemimpinnya tersebut bernama Leubee Kader yang merupakan cucu dari Adi Genali, anak dari Johansyah atau Sibayak Lingga (AR. Latief 1995 : 68) yang kemudian berhasil menjadi RAJA BEBESEN yang pertama setelah menuntut diyat dari raja bukit. Setelah menguasai daerah dan masyarakat sekitarnya pun ikut memeluk agama Islam. Bahkan anggota Batak Karo itu ikut meleburkan diri dalam masyarakat Gayo melalui perkawinan.

Leubee Kader sendiri menikahi seorang putri raja Bukit yang bernama Sri Bulan Si Merah Mata. Proses peleburan diri itu telah berlangsung demikian rupa hingga lambat laun menjadi satu dengan penduduk, baik agamanya, bahasa maupun adat istiadatnya.

Oleh:
Maya Agusyani, S.Pd
*Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unsyiah

 *******
 LEGENDA BATU BELAH.



Pada jaman dahulu di tanah Gayo - Aceh, hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota.


Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai.
Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya.
“Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik disini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini,” kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok.
Akhirnya, Petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan untuk berburu rusa, di rumah tinggal istri dan kedua anaknya, pada waktu makan, anak yang sulung merajuk, karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya yang sangat dimanjakannya itu.
Akhirnya si ibu menyuruh anaknya tersebut untuk mengambil belalang yang berada di dalam lumbung. (padahal sebelumnya siayah memesan kepada sang ibu jangan di buka lumbung yang berisikan belalang itu), Ketika si anak membuka tutup lumbung, rupanya ia kurang berhati-hati, sehingga menyebabkan semua belalang itu habis berterbangan ke luar.
Sementara itu ayahnya pulang dari berburu, ia kelihatannya sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh seekor rusa pun. Kemudian ia sangat marah ketika mengetahui semua belalang yang telah di kumpulkan dengan susah payah telah lenyap hanya dalam tempo sekejap.
Kemudian, dalam keadaan lupa diri si ayah menghajar istrinya hingga babak belur dan menyeretnya keluar rumah. Dan kemudian tega memotong sebelah (maaf) payudara istrinya, dan memanggangnya, untuk dijadikan teman nasinya. Kemudian wanita malang yang berlumuran darah dan dalam kesakitan itu segera meninggalkan rumahnya.
Dalam keadaan keputusasaan si wanita tersebut pergi ke hutan, di dalam hutan tersebut si ibu menemukan sebongkah batu, dengan keputusasaan si ibu meminta kepada batu untuk dapat menelannya, agar penderitaan yang di rasakanya berakhir.
Selepas itu si ibu bersyair dengan kata-kata,
 “Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejanyin te masa dahulu,” 
Kalau diartikan dalam bahasa indonesia 
“Batu Belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa yang lalu". 
 
“Kata-kata” itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh ibu yang malang itu.
Sesaat kemudian, Tiba-tiba suasana berubah, cuaca yang sebelumya cerah mejadi gelap disertai dengan petir dan angin besar, dan pada saat itu pula batu bersebut terbelah menjadi dua dengan perlahan-lahan tanpa ragu lagi si ibu melangkahkan kakinya masuk ke tengah belahan batu tersebut. Setelah itu batu yang terbelah menjadi dua tersebut kembali menyatu.
Si ayah dan kedua anaknya tersebut mencari si ibu, tetapi tidak menemukannya, mereka hanya menemukan beberapa helai rambut diatas sebuah batu besar, rambut tersebut adalah milik si ibu yang tertinggal ketika masuk kedalam atu belah.
Ia menangis keras dan memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya sudah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.
Cerita Rakyat ini adalah cerita rakyat yang banyak di kenal anak-anak di masyarakat gayo. Mereka menggolongkannya sebagai legenda, Karena oleh penduduk gayo kejadian ini benar-benar terjadi di daerah mereka. Untuk membuktikannya mereka dapat menunjukkan kepada kita sebuah batu besar yang terletak kira-kira 35 km dari kota Takengon di Gayo.
 
******* 

LEGENDA PUTERI HIJAU.
 
 
 
Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatera Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai Deli–tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli–lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri Hijau.

Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku masing-masing.

Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.

Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur.

Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke Desa Sukanalu Simbelang, Kecamatan Barusjahe. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon Medan.
Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.

Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.
Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi sesuai selera masing-masing penceritanya.

Kabarnya, setelah di bawa pergi oleh Saudaranya, Ulat Simangombus. Sang raja Aceh membawa sebagian hartanya dan orang orang kepercayaannya. Namun, saat sang Raja pulang. Sang Raja Aceh tidak membawa harta dan para prajurit pilihannya.

VERSI KE TIGA:

Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri
Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran
jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang
Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.

Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma
menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa
“pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu
(Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).

Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran
dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai
membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat
Lhokseumawe, Aceh.

Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke
Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti
diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur.
Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.

Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombang gelombang
yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan
menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.
Lagenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia.


*******

LEGENDA PUTERI PUKES 

( Foto ini,tepat di depan Gua Puteri Pukes)
Bertuliskan:



PUTERI PUKES
MANUSIA JADI BATU


Inilah Puteri Pukes yang telah jadi batu.
 


Legenda kali ini, yang berjudul Legenda Putri Pukes, berasal dari tanah Gayo,Nanggroe Aceh Darussalam. Cerita rakyat Putri Pukes mengisahkan tentang seorang Putri raja yang menjadi batu gara-gara tidak mengindahkan pesan orangtuanya.
Sebuah pesan moral yang sangat apik untuk dibaca sebagai cerita anak.
***

GUA Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah. Ceritanya diriwayatkan sebagai legenda antara mitos dan fakta. Betul tidaknya legenda Putri Pukes, hingga sekarang belum ada yang bisa memastikannya. Gua Putri Pukes tempat legenda itu diceritakan, kini sudah menjadi tempat wisata, tetapi sangat di sayangkan gua tempat manusia yang menjadi batu itu sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga tidak lagi alami.

 Di dalam gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang dipercayai adalah Putri Pukes yang telah menjadi batu, sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat pemotong zaman dahulu.

Abdullah, penjaga gua, menceritakan, batu putri pukes tersebut membesar karena kadang-kadang batu tersebut menangis sehingga air mata yang keluar tersebut menjadi batu dan makin lama batu tersebut makin membesar.


 Sementara sumur besar kata Abdullah, setiap tiga bulan air di sumur tersebut kering dan tidak ada air nya, bila ada air orang pintar akan datang untuk mengambil air tersebut. 



Sedangkan kendi yang telah menjadi batu tersebut pernah bawa oleh orang, tetapi dikembalikan lagi karena dilanda resah setelah mengambilnya. 



“Sedangkan tempat bertapa itu di gunakan oleh orang zaman dahulu untuk melakukan bertapa guna mencari ilmu dan alat pemotong (pisau) peninggalan manusia purbakala kata yang ditemukan di dalam goa putri pukes,” jelas Abdullah.

Dan,terdapat Arca satu kepala 4 wajah.

Disinilah,saya dan adik adik dari STAIN LHOKSEUMAWE,

menemui keanehan keanehan ketika berfoto,tepat di samping arca.
Adanya penampakan oleh makhluk2 halus di dalam gua.

(Fotonya sabar ya gan,nanti akan saya upload lagi,tambahannya)
:)



 PUTERI PUKES.

Tidak semua orang Gayo mengetahui cerita legenda Putri Pukes, sebagian dari orang Gayo itu mengetahui legenda itu tetapi tidak mengetahui bagaimana ceritanya. Menurut cerita dan informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang mengetahui tentang legenda Putri Pukes.

Gua Putri Pukes terletak di sebelah utara, tepatnya di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di Kampung Nosar, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.


Suatu hari dia, dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat.

Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria. Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke Kampung Simpang Tiga Bener Meriah.

Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orangtuanya.
 
Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. 
Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu.

Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga mempelai wanita.
 
Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. 
 
“Nak…sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa, 
(Sekarang menjadi Danau Laut Tawar),Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata ibu Putri Pukes. 
 
Sang putri pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. 
Secara tak sengaja putri menoleh ke belakang, dengan tiba-tiba putri pukes langsung berubah menjadi batu seperti seperti yang sekarang kita jumpai di dalam Gua Putri Pukes. Apakah itu hanya mitos atau memang benar-benar terjadi, tetapi warga setempat percaya kalau cerita Putri Pukes itu benar ada.


Kerangka Manusia Purba 
 Beberapa tahun yang lalu tepatnya maret 2009 Tim Arkeologi dari Medan Sumatera yang melakukan penelitian situs sejarah di Takengon, Aceh Tengah menemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan berusia 3.500 tahun di Gua Putri Pukes.
 
Tim Arkeologi tersebut terdiri dari 15 orang itu beranggotakan Lucas Partanda Koestoro, DEA, Dra. Nenggih Susilowati, Defri Elias Simatupang, SS, Stanov Purnawibowo, SS, Taufiqurahman, SS, Dra. Suriatani Supriyadi, Suhadi S. Sos, Dra. Jufrida, Dekson, Masdar, Pesta H. H. Siahaan, Briska, Umi N. Syahra, Sopingi Silalahi dan ketua Tim Ketut Wiradnyana.
 
Menurut Ketut pada waktu itu, kerangka itu terdiri dari tulang paha dan sejumlah peralatan milik manusia purba seperti kapak batu dan lempengan gerabah, saat menemukan kerangka berupa tulang belakang paha kaki dan pinggul ditemukan dalam posisi tertindih batu.
 
Saat melakukan penelitian beberapa tahun lalu itu, Ketut menjelaskan, komunitas orang-orang purba di situs ini mempunyai kebiasaan mengebumikan mayat dengan menindihkan batu diatasnya untuk menghindari mayat tidak dimakan binatang buas.
 
******* 

LEGENDA IKAN DEPIK.


 IKAN DEPIK/DEUPIK (Rasbora Leptosoma) adalah jenis ikan yang habitatnya hanya terdapat di Danau Laut Tawar Takengon, Kab. Aceh Tengah, Aceh Indonesia. Keberadaan ikan Depik sama tuanya dengan keberadaan masyarakat Gayo di Aceh Tengah itu sendiri. Menurut legenda lokal, ikan depik berasal dari nasi yang dibuang ke danau di daerah Bur Kelieten, kemudian berkembang dan menjadi ikan khas daerah Gayo ini hingga sekarang. 

 Ada juga ikan yang menyerupai Depik di Danau Laut Tawar, yaitu ikan Eas (Resbora Argyrotaenia) dan ikan Relo (Resbora Tawarensis). Dua jenis ikan mirip ikan depik, tetapi terdapat beberapa perbedaan kontur fisik. Pada ikan Depik pada bagian tubuhnya lebih lunak dibandingkan dua jenis ikan tersebut. Mata ikan depik juga lebih kecil dibandingkan mata ikan eas dan relo.

 
Biasanya pada waktu pertengahan tahun yaitu sekitar bulan Agustus hingga di akhir tahun, para nelayan terlihat sibuk menangkap ikan Depik di pinggir Danau Laut Tawar. Bila musim panen ikan Depik tiba, terjadi perubahan iklim, yaitu angin yang berhembus terasa berbeda, agak lebih dingin. Terkadang disertai hujan atau gerimis-gerimis kecil. Menurut perkiraan para nelayan ikan Depik hal itu menandakan musim panen ikan depik telah tiba. Nelayan pun terlihat sibuk menyiapkan jaring untuk menjaring ikan Depik tersebut. 

Setelah para nelayan menjaring ikan Depik, biasanya di waktu subuh para agen atau penyalur ikan Depik mendatangi tempat para nelayan ikan Depik untuk melakukan transaksi jual beli. Setelah terjadi transaksi, ikan Depik tersebut ke pasar ikan dan menjualnya kembali kepada para penjual ikan dipasar tradisional. Cara pembelian ikan Depik ini memiliki takaran atau timbangan tertentu, bukan dalam bentuk kilogram, akan tetapi dalam bentuk “katok” dan “bambu”. Biasanya untuk takaran 1(satu) “katok” kecil berukuran 250 gram dan untuk ukuran 1(satu) “bambu” berukuran sekitar 1,2 kilogram. Untuk penjualan ikan Depik ini terbagi dalam Dua) bentuk, yaitu ikan Depik basah, yaitu ikan Depik yang telah di panen, dan ikan Depik kering yaitu ikan depik yang dijemur, akan tetapi berbeda dengan ikan asin pada umumnya. Ikan depik ini hanya sekedar dijemur.

Nafas saya terengah, peluh menetes di dahi. Pohon-pohon pinus menjulang menemani. Angin berhembus semilir memaksa saya menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk menghangatkan diri. BErjalan kaki menaiki bukit ini ternyata cukup menguras tenaga. Setelah tiba di puncak Bur Gayo, mata saya terbius oleh bukit yang memiliki pemandangan terindah untuk menikmati Danau Lut Tawar yang berada di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. 

Pemandangan danau yang berair tenang dikelilingi perbukitan tampak sangat cantik dan penuh misteri. Pikiran saya menerawang, tersirat keingintahuan tentang legenda ikan Depik yang hidup di danau itu, yang dipercaya berasal dari butiran nasi yang dibuang ke danau.

Bagi saya, cerita rakyat bukan sekedar dongeng isapan jempol untuk diacuhkan begitu saja. Cerita rakyat adalah pembuktian adanya peradaban berusia sangat tua. Tentu saja, peradaban suku Gayo yang konon lebih tua daripada suku Batak ini, terbukti sudah ratusan tahun mendiami daerah sekitar Danau Lut Tawar. Sehingga, sangat dimungkinkan cerita rakyat seperti legenda ikan Depik ini tumbuh bersama mereka.

Alkisah, ada dua kampung yang hidup berdampingan, kampung Beno Serule dan Akim Mengaya. Penghuni kedua kampung ini memiliki kebiasaan berburu bersama di hutan Bur Kelieten. Saat beristirahat di hutan, pemburu dari Beno Serule menanak nasi menggunakan kuali (wajan) dan kayu Genuli Hitam sebagai pengaduk. Begitu masak, ternyata nasi menjadi berwarna hitam. 

Merasa tidak layak untuk dimakan, nasi itu mereka buang ke aliran sungai. Tiga kali mereka mengulang menanak nasi, hasilnya tetap sama. Tiga kali mereka membuang nasi ke aliran sungai. Sampai yang keempat, karena semakin kelaparan, terpaksa mereka makan nasi berwarna hitam itu. Hanya pemburu dari Beno Serule yang makan, pemburu dari Akim Mengaya tidak makan. Setelah makan nasi itu, anehnya mereka malah berubah menjadi muda kembali.

Sepulangnya mereka, orang-orang menjadi bingung sekaligus terpana melihat perubahan yang terjadi dengan para pemburu itu. Berkeinginan untuk awet muda, penduduk Beno Serule mengikuti cara para pemburu dalam menanak nasi. 

Berbeda dengan orang Beno Serule yang kembali muda, orang Akim Mengaya tetap hidup seperti biasa. Ratusan tahun berlalu, orang Beno Serule masih tetap awet muda. Namun tampaknya kebahagiaan sudah tidak ada lagi di hati mereka karena terlalu lama hidup. Mereka menginginkan kematian datang. 

Untuk menyambut kematian, mereka mengumpulkan emas untuk dibelikan beberapa keranda mayat di kampung Akim Mengaya. Begitu keranda sampai ke kampung Beno Serule, tangis meledak diantara orang-orang Beno Serule. 
Saking bahagianya, mereka pun meninggal.

Beberapa dari mereka yang tidak ingin meninggal pindah ke Kampung Beno Nosar Bangil, yang sampai sekarang kampung ini masih ada di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Tiga kuali nasi berwarna hitam yang dibuang di aliran sungai yang bermuara di danau itu dipercaya berubah menjadi ikan Depik. Mungkin karena nasi hitam itu, ikan Depik pun memiliki punggung berwarna hitam dan bagian kepala yang terasa pahit jika dimakan.

Benar tidaknya cerita itu, tidak perlu diperdebatkan. Biarlah menjadi penghias kehidupan bermasyarakat dan menambah kekayaan budaya. Semoga legenda ikan Depik yang dikisahkan dari mulut ke mulut ini tetap terpelihara abadi sampai kapanpun.

The Best betting exchange Bonus BetFair
Reviw on bokmaker Number 1 in uk ArtBetting.net William Hill best bookies
Themes Download - Bigtheme.net

******

LEGENDA MESJID ASAL,PENAMPAAN.

Jejak Misterius Mesjid Asal.
Mesjid Asal Penampaan, tak jauh dari sudut kota Blangkejeren, tepatnya di Desa Penampaan, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Menurut perkiraan masyarakat setempat bangunan masjid ini telah berusia sekira 800 tahun, walau sudah tua tapi masih tampak kokoh, kini masjid itu telah direnovasi bagian depan dan belakang diperlebar sehingga tampak indah dan anggun, namun bangunan lama tetap terjaga keasliannya.

Dari cerita rakyat turun temurun yang dikutif, masjid ini dilatar belakangi dengan masuknya Islam ke Aceh oleh para bangsa Persia melalui jalur perdagangan kala itu, ketika Islam jaya di Negeri Aceh, masyarakat antusias membangun sarana ibadah, mulai dari Masjid hingga ke Pondok tempat pengajian. Bahkan, masjid asal ini diyakini dibangun oleh sejumlah para wali Allah, dan masjid ini juga erat hubungannya dengan Kerajaan Linge, karena Kerajaan Linge tempat berkumpulnya para Aulia Allah ketika itu.

Bentuk bangunan masjid seluruh Aceh memiliki kesamaan, pantas saja anggapan masyarakat Gayo Lues, antara Masjid Asal Penampaan dengan Masjid Demak dan Masjid Tgk. Di Kandang ( Peulanggahan- Banda Aceh) ada kemiripan, yang atapnya terdiri dari rajutan ijok, dan seluruh tiang-tiang bangunan dari bahan kayu yang sama.

Bercerita tentang asal - muasal masjid ini, sedikit agak misterius, bahkan para bilal masjid hanya dapat memberikan keterangan cerita turun temurun, tanpa dilengkapi dengan bukti-bukti sejarah, dan ceritanyapun banyak versi dimasyarakat Gayo Lues, menurut keterangan M. Arwan (41) masyarakat setempat, masjid ini dibangun oleh empat para wali ( misterius) dalam tenggat waktu yang singkat, setelah masjid berdiri, lalu ditinggal pergi tanpa diketahui jejak para wali itu.

Sedangkan versi lain, cerita yang berkembang di era – 70 an, masjid asal ini dibangun oleh para aulia, setiap hari jum’at, mereka terkadang berjumlah empat hingga tujuh orang untuk menunaikan shalat jum’at di masjid asal itu, dengan mengenakan pakaian serba putih berjubah ala busana Tanah Arab.
 Ketika shalat jum’at usai, seketika mereka hilang dari keramaian, begitu seterusnya dari jum’at ke jum’at, dan cerita itu pudar di era – 90  an.

Masyarakat setempat hingga sekarang mengkramatkan masjid itu, diyakini bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dengan berbagai macam permohonan , misalnya “ kesuksesan usaha, mendapatkan  pekerjaan, sembuh dari penyakit, cepat dapat jodoh dan lain-lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Sedangkan bilal masjid, yang melayani atau mendo’akan para tamu  yang berkunjung ke masjid itu setiap jum’at, diambil dari dua kampung yakni, kampung Penampaan dan Kampung Gele, hal ini merupakan kesepakatan leluhur terdahulu.

Konstruksi bangunan itu, berukuran 20 x 20 meter berlantai tanah dan dindingnya terbuat dari bahan tanah liat, dengan 16 tiang dari kayu, sedangkan atapnya terbuat dari ijok yang dirajut dengan rotan dan flaponnya terdiri dari pelepah ijok. Bentuk masjid asal itu ada kemiripan dengan beberapa masjid yang ada di Nusantara ini, masjid Demak, Masjid Peulanggahan (Banda Aceh), Masjid Isaq ( Aceh Tengah). Dibagian depan masjid itu terdapat, makam para ulama terdahulu, dan didalam masjid terdapat sumur tua, airnya diyakini masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan segala macam bentuk permohonan  yang baik kepada Allah SWT, akan dikabulkan – Nya.

Setiap kali, sebelum memasuki shalat jum’at, masyarakat telah berduyun-duyun hadir  usai shalat subuh tepatnya pukul 05.00 pagi. Bukan saja, masyarakat setempat, banyak dari luar daerah  yang berkunjung ke masjid ini, seperti dari luar pulau Jawa, Sumatera dan daerah lain. Dengan beragam do’a seraya memohon kepada Allah SWT, agar hajat dikabulkan.

Kini masjid itu, telah diperluas dari para donatur, sedangkan bentuk asli peninggalan sejarahnya hingga kini tidak ada yang dirombak. Kecuali itu, lantainya telah disemen. Selain suasana didalam masjid ini terasa sejuk dan menenangkan hati, disamping itu juga terdapat dua buah kitab suci Al-Qur’an peninggalan sejarah yang kini tetap terjaga bersamaan dengan masjid Asal ini

Bukan itu saja, masih cerita versi rakyat mengatakan, ketika perang bergejolak dengan penjajah, pasukan Belanda pernah melemparkan bom ke masjid, tanpa terjadi letusan, sedangkan pada tiang-tiang masjid terdapat bukti sayatan-sayatan bekas Marsose Belanda yang ingin menghancurkan masjid Asal ini.
 ***

Versi Yang Lain:

Saat ini masjid ini masih berdiri megah di pinggir sungai Desa
Penampaan Belah Imam dengan pesona masa lalunya. Tepatnya,
masjid ini berada di Kecamatan Blangkejeren - Kabupaten Gayo
Lues, kira-kira berjarak sekitar 700 meter dari komplek Pendopo
Bupati Gayo Lues.
 
Sekilas Sejarah Masjid Asal – Penampaan, Gayo Lues.
 
Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid Asal - Penampaan
didirikan pada tahun 815 H/1412 M. Jika informasi ini akurat,
berarti masjid Asal didirikan dalam masa Kerajaan Pasai. Sebab
setidaknya, Kerajaan Pasai telah berdiri dari tahun 1282 M,
(Ibrahim Alfian, 2004: 26) dan jatuh dalam kekuasaan Kerajaan
Aceh Darussalam di tahun 1524 M, (Amirul Hadi, 2004: 13).
Sejak pendiriannya sampai saat ini masjid Asal-Penampaan
tidak pernah dirombak dan tetap difungsikan oleh masyarakat
sekitar sebagai tempat ibadah. Masjid ini dipandang keramat oleh
masyarakat sekitar, sebab secara logika bangunan berkonstruksi
kayu seperti masjid ini tidak mungkin dapat bertahan sampai 500
tahun. Namun kenyataannya, masjid Asal-Penampaan masih tetap
berdiri kokoh sampai sekarang.
 
Masjid Asal juga menjadi dasar pemberian nama kampung di
mana masjid itu berada. Nama Desa Penampaan berasal dari kata
“penampaan” yang artinya “penampakan/tampak atau terlihat”.
Konon menurut riwayat, di masa lalu masjid ini bisa dilihat dari
berbagai wilayah di Gayo Lues. Mungkin hal ini disebabkan
oleh kondisi wilayah sekitar masjid Asal yang merupakan daerah
datar dan masih minim dihuni penduduk. Dengan demikian ia
bisa dilihat dari berbagai arah yang umumnya berdataran tinggi.
Oleh karena itu, daerah di mana masjid Asal berada disebut Desa
Penampaan (yang tampak dari berbagai arah).
 
Masjid Asal-Penampaan didirikan atas prakarsa beberapa
tokoh dan pemuka agama. Dari beberapa sumber yang berhasil
dihimpun, tokoh pendiri masjid ini adalah sebagai berikut:
1. Datok Masjid
2. Syekh Siti Mulia
3. Syekh Said Ibrahim
4. Syekh Said Ahmad
5. Syekh Abdurrahman
6. Syekh Abdullah
7. Syekh Abdul Wahab
8. Said Hasan
9. Said Husin
10. Syekh Abdul Qadir
11. Said Ali Muhammad
12. Datok Gunung Gerudung
13. Mamang Mujra
 
Masjid ini dinamakan masjid Asal karena merupakan masjid
yang pertama sekali dibangun di wilayah sekitar Gayo Lues dan
Aceh Tenggara. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai “Masjid
Asal” yang konotasinya adalah asal-muasal pendirian masjid di
seluruh Gayo Lues dan sekitarnya.
 
Bangunan fisik masjid Asal dibina dengan kostruksi yang
bahan utamanya adalah kayu. Bahan-bahan bangunan masjid
ini diperoleh dari pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar
desa, bebatuan sungai serta tanah kuning yang ada di sekitar
masjid itu sendiri. Bahan-bahan dasar yang digunakan pada saat
pembangunan masjid ini masih utuh bertahan sampai sekarang,
termasuk dinding dari tanah kuning.
 
Arsitektur masjid Asal Kampung Penampaan mengikuti
karakteristik arsitektur masjid tradisional Aceh yang berkembang
selama berabad-abad. Arsitektur masjid seperti ini sudah jarang
ditemukan di masa sekarang, kecuali pada masjid yang dibangun
Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila dengan mengadopsi
arsitektur masjid Demak. Arsitektur masjid yang khas ini menjadi
bukti terhubungnya kerajaan Demak dengan Aceh dalam
pengembangan Islam di Nusantara. Dengan demikian, masjid
Asal merupakan salah satu masjid bersejarah yang merekam jejak
pengembangan Islam di Aceh dan Indonesia umumnya.
 
Arsitektur tradisional bangunan Masjid Asal segera memberi
kesan kepurbakalaan masjid ini. Kesederhanaan konstruksinya
memancarkan kharisma dari kemegahan Islam masa lalu. Kubah
masjid berbentuk runcing berwarna hitam pekat terbuat dari
logam. Atapnya terbuat dari ijuk (serat serabut pohon aren) serta
plafon yang dibuat dari pelepah aren yang dirajut dengan rotan.
Masjid berukuran luas 8 x 10 meter ini dikelilingi oleh dinding
yang terbuat dari tanah kuning di sepanjang sisi tiang sebelah luar.
Empat tiang penyangga utama masjid dihubungkan dengan empat
balok kayu sebagai penyokong kubah dan atap Masjid. Menurut
masyarakat setempat, keempat tiang tersebut merupakan kayu
pilihan yang diambil dari beberapa desa. Dua di antaranya diambil
dari desa Gele-Penampaan, menjadi pelengkap keenambelas tiang
yang masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini.
Di bagian luar sebelah kiri masjid terdapat makam para
pendiri masjid. Mereka merupakan tokoh agama yang disegani,
salah seorang di antaranya dikenal sebagai tokoh penyebaran
agama Islam di dataran tinggi tanah Gayo.
 
Di halaman masjid terdapat sebuah sumur tua yang
dahulu digunakan sebagai sumber air untuk berwudhuk. Dalam
perkembangannya kemudian, sumur ini mulai jarang digunakan.
Namun air sumur ini masih tetap diambil masyarakat meskipun
untuk maksud yang lain. Konon menurut penuturan masyarakat,
sumur tersebut disebut “Telaga Nampak” yang keramat. Air dari
sumur ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit,
menyegarkan jasmani dan digunakan sebagai air untuk tepung
tawar (pesejuk) dalam berbagai acara masyarakat.
 
Menilik tahun pendiriannya (1412 M), jika ini valid maka
dapat disimpulkan bahwa masjid ini telah berdiri jauh sebelum
berdirinya kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh Darussalam
adalah kerajaan pertama yang menyatukan seluruh wilayah Aceh
dalam satu kekuasaan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa upaya
penyatuan oleh Kerajaan Aceh Darussalam ini dimulai dengan
ditaklukkannya kerajaan Daya pada tahun 1520 M.
 
Di masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam, pengelolaan
dan perawatan masjid Asal diemban oleh pejabat kerajaan Kejurun
Patiambang. Kejurun Patiambang merupakan salah satu dari enam
kejurun di daerah Gayo. Keenam teritori tersebut adalah; Kejurun
Bukit, Kejurun Linge, Kejurun Siah Utama, Kejurun Patiambang,
Kejurun Bebesan, dan Kejurun Ambuq. (lihat Snouck Hurgronje,
1996: 107, dst. dan H. M. Gayo, 1983: 51). Untuk pengelolaan mas-
jid Asal, Raja Patiambang mengangkat Reje Cik yang ditugaskan
untuk merawat dan mengelola pelaksanaan kegiatan keagamaan
di Masjid Asal.
 
Masjid Asal telah mengalami beberapakali renovasi. Pada
tahun 90-an masjid ini di rehab bagian luarnya dengan pemasangan
tembok keliling di sekitar masjid sampai ke perkuburan. Lalu
pada tahun 1989, dilakukan pemasangan kaca pada lubang angin
bagian atas (kubah masjid).
 
Rehabilitasi di atas dilakukan dalam masa daerah ini masih
masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Lalu pada tahun
2002, daerah ini masuk dalam wilayah pemekaran Kabupaten
Gayo Lues. Maka Pemerintah Daerah Kabupaten Gayo Lues
melakukan rehabilitasi Masjid Asal, dan menjadikan masjid ini
sebagai icon Kabupaten Gayo Lues.
 
Pada tahun 2008, masjid Asal direhab kembali dengan
bantuan dana dari BRR NAD-Nias, namun tidak merombak
bangunan dasarnya. Pada masa ini dibangun mesjid baru dengan
konstruksi beton berukuran 60 x 40 meter berdampingan dengan
mesjid lama yang berkonstruksi kayu. Dengan demikian masjid
Asal menjadi dua bagian, bagian utama merupakan bangunan inti,
yaitu masjid Asal yang asli. Sedangkan bagian kedua merupakan
masjid baru sebagai perluasan masjid Asal, sehingga pengujung
akan medapati dua ruang berbeda di dalam masjid.
 
Masjid Asal Penampaan dipadati pengunjung pada setiap
hari Jumat, mulai dari subuh sampai masuk waktu shalat Jumat.
Para pengunjung berdatangan dari berbagai daerah, baik dari Aceh
sendiri maupun dari luar Provinsi Aceh. Biasanya pengunjung
datang untuk bersedekah, memenuhi niatan dan melunasi
nazar mereka. Selain hari Jumat, masjid akan dipadati pada saat
perayaan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi‘raj,
Megang Ramadhan dan Megang Hari Raya (Idul Fitri dan Idul
Adha). Pada saat-saat seperti ini, masjid akan dipadati pengunjung
untuk beribadah dan memenuhi nazar mereka. 
 
Masjid Asal-Penampaan masih banyak menyimpan misteri
sejarah kehidupan masyarakat Gayo Lues yang belum tergali. Pada
masa kejayaan Kerajaan Aceh, daerah ini dipimpin oleh Kejurun
Patiambang yang banyak berkontribusi bagi hidupnya beragam
adat dan budaya dalam masyarakat. Di masa penyerbuan Kolonialis
Belanda ke tanah Gayo, konon masjid ini pernah dibom, tapi
anehnya bom itu tidak meledak.
 
Ada pula kisah lain yang mengatakan bahwa mesjid ini pernah
dicoba hancurkan oleh Belanda. Upaya ini juga tidak berhasil, dan
sampai sekarang bekas tebasan pedang masih terlihat pada tiang
mesjid ini. Setidaknya kisah ini menjadi cermin kuatnya upaya
masyarakat mempertahankan masjid ini dari serbuan Belanda.
Namun sayangnya masih belum bisa terungkap, fakta-fakta itu
masih terpendam dalam warisan khasanah masa lalu. 
 
Kondisi ini
terus menjadi misteri seiring dengan tidak terjawabnya misteri
masjid Asal itu sendiri. 
 
Misalnya beberapa pertanyaan berikut:
1. Berapa usia masjid Asal sebenarnya? Hendaknya dilakukan
penelitian ilmiah semisal penghitungan usia kayu masjid.
Mungkin dapat dilakukan dengan karbon isotop 12 (C12)
seperti menghitung fosil peninggalan zaman purba.
2. Apa kandungan air sumur di masjid Asal yang dipercaya
masyarakat bisa menyembuhkan?
3. Apa benar sumur masjid Asal merupakan air dari Telaga
Nampak yang ada di masjid pada masa ulama dan aulia masa
lalu? Konon katanya bisa memperlihatkan niat seseorang
kala ia berada di Telaga Nampak….?
 
Semua pertanyaan ini cukup urgen untuk dijawab, kiranya
pihak berwenang perlu melakukan langkah-langkah positif untuk
menjawab rasa penasaran masyarakat.

***
Note:
Dan,bagi umumnya masyarakat GAYO,lebih percaya dan condong pada cerita versi yang pertama.
Wallaahu a'lam bisshawab.

********


Sekian dahulu ya,sahabat sekalian,
Inilah,beberapa Legenda yang telah merakyat,
Di Suku GAYO.

Legenda2 ini,telah saya kumpulkan menjadi satu.
Semoga para sahabat menjadi semakin "Rajin Membaca".
Dan tidak bosan membuka Blog saya.
Hehehehe.

SALAM SANTUN SAYA.

Anak Gayo.

^_^

 

Tidak ada komentar: