Bahaya..!!!
Botol Kemasan Air isi ulang jika diisi Ulang
Banyak dijumpai botol-botol bekas minuman diisi ulang lagi. Alasannya sayang kalau dibuang atau masih bagus dan sebagainya. Produk palstik dimaksud bukan hanya botol air mineral yang banyak beredar di pasaran, tapi juga plastik-plastik wadah makanan, penutup makanan hingga botol susu.
Bahan utama plastic botol kemasan adalah suatu rantai polimer yang sebenarnya tidak menibulkan bahaya, tapi akan menjadi bahaya kalau polimer tersebut melepaskan “anak” monomer-monomernya. Monomer bisa lepas saat terkena panas (termasuk panas matahari) atau goresan saat dicuci. Monomer itulah yang dapat menyebabkan kanker karena bersifat karsinogenik. Hal ini berlaku pula untuk wadah makanan atau minuman yang terbuat dari Styrofoam.
Tahun 2007 BPOM telah menentukan standar penggunaan kemasan palstik makanan dan minuman. Sangsinya jika ada pemalsuan, harus ditarik dari pasaran sampai dengan pidana bagi produsennya.
Setiap plastic pada umumnya berbahaya bagi kesehatan. Namun telah dikategorikan beberapa kelompok plastic yang relative aman. Masyarakat dapat mengetahui jenis kemasan palstik-plastik yang aman dipakai dengan melihat symbol atau kode yang biasanya tertera di bawah produk plastic wadah makanan dan minuman. Simbol atau kode yang dikeluarkan oleh The Sosiety of Plastic Industry sejak tahun 1988 di AS itu telah diadobsi oleh lembaga-lembaga yang mengembangkan system kode, seperti ISO (International Organization for Standardization). Secara umum tanda tersebut berada di dasar, berbentuk segitiga, di dalam segitiga akan terdapat angka, dan nama jenis plastic di bawah segitiganya.
Kode-kode tersebut adalah sebagai berikut :
* Pertama, PET (Polyethylene Terephthalate) dengan kode angka 1 di dalam segitiga dan tulisan PET atau PETE di bawah segitiga. Botol tersebut hanya direkomendasikan “sekali pakai”.
Apabila diisi ulang apalagi terkena goresan saat mencuci, kena air hangat/panas, maka lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh bercampur dengan makanan dan minuman yang ada di dalamnya, mengeluarkan zat karsinogenik penyebab kanker.
* Kedua, HDPE (High Density Polyethylene). Tertera angka 2 di tengah segitiga, serta tulisan HDPE di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu, Tupperware, gallon air minum. HDPE memiliki sifat bahan lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi.
* Ketiga, V (Polyviniyl Chloride). Terdapat angka 3 ditengahnya dan tulisan V yang berarti PVC (Polyvinyl Chloride) di bawahnya. PVC mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemasnya saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut. DEHA bisa langsung lumer pada suhu 150 derajat Celicius. Reaksi terjadi bisa berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
* Keempat, LDPE (Low Density Ployethlene). Terdapat angka 4 di tengahnya dan tulisan LDPE di bawahnya. Biasanya LDPE dibuat untuk tempat makanan, plastic kemasan dan botol-botol yang lembek. Plastik tersebut dapat dipakai ulang karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan itu.
* Kelima, PP (Polypropylene). Terdapat angka 5 di tengahnya dan tulisan PP di bawahnya (segitiga). PP adalah pilihan terbaik untuk plastic pembungkus makanan/minuman seperti tempat menyimpan makanan/minuman, botol minuman terpenting untuk bayi.
* Keenam, PS (Polystyrene). Terdapat angka 6 di tengahnya dan tulisan PS di bawah segitiga. Ditemukan pada tahun 1839 oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman secara tidak sengaja. Dipakai untuk tempat makanan steroform, tempat minuman sekali pakai, dll. Bahan tersebut harus dihindari karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormone estrogen yang berakibat pada reproduksi, pertumbuhan dan system syaraf. Bila tidak terdapat kode angka 6 pada kemasan plastic, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning jingga dan meninggalkan jelaga.
* Ketujuh, OTHER. Terdapat angka 7 di tengah segitiga dan tulisan OTHER di bawahnya. OTHER dapat ditemukan pada tempat makanan/minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, computer,, alat-alat elektronik dan plastic kemasan. Berpotensi merusak system hormone, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma dan mengubah fungsi imunitas. Terlebih jika suhunya dinaikkan karena pemanasan. Ironisnya, botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan merebus, dipanaskan dengan microwave atau dituang air mendidih atau air panas. Memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan.
Akhirnya, masihkah kita berpikir untuk tetap menggunakan botol plastic kemasan lebih dua kali?
Melihat bahaya yang terkandung dalam plastic, sudah saatnya kita harus berindak bijak dalam penggunaan plastik, khususnya plastic dengan kode nomor 1, 3, 6 dan 7 (khususnya polycarbonate).
Bila membutuhkan tempat air minum yang akan dibawa, sebaiknya memilih botol yang memang ditujukan untuk pemakaian berulang, misalnya yang berkode angka 5. Sebaiknya kita mencari alternative pembungkus makanan lain yang tidak mengandung plastic, seperti daun pisang yang lebih alami.
Sumber:
Dr. OZ INDONESIA.
AKU BELAJAR DARI KUCING KU
TASBIHNYA KUCINGKU
Aku yang sehari-harinya bekerja dengan membuat kue "Bhoi" ( Bolu ikan, khas Aceh). Menerima pesanan kue dari orang-orang di sekitarku dan seputaran kota Takengon dan Bener Meriah. Pekerjaan ini telah kulakoni selama bertahun-tahun. Dan alhamdulillaah mampu mencukupi kebutuhan hidupku sehari-hari bersama Ibuku.
Tanpa unsur kesengajaan, aku belajar dari
kucing liar yang berada di rumahku. Kucing yang berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis loreng di seputaran tubuhnya, seperti lorengnya harimau. Dan kucing itu hanya menumpang beranak
saja di rumahku. Bila sang anak-anaknya sudah bisa berjalan, induk dan
anak-anaknya tak tahu pergi kemana. Beberapa bulan kemudian, induknya akan datang lagi ke rumahku. Dan beranak lagi. Begitu seterusnya hingga empat kali. Bila berada di rumahku, aku sangat
telaten memberi makan mereka, mereka hanya mau makan nasi yang dicampur
dengan minyak jelantah. Bila aku memberinya ikan, alhasil ikan itu akan
masih ada sampai besok. Awalnya aku juga heran, karena tidak seperti
kucing liar kebanyakan. Yang maunya makan dengan nasi ditambah sepotong ikan. Dan juga
mencuri ikan bila tidak ada majikannya di rumah. Terkadang
aku merasa aneh, bahwa kucingku tahu apa yang kualami. Karena
keseringan dalam keseharianku, kami makan hanya dengan sayuran. Aku juga jarang-jarang boleh makan ikan. Eh, mereka seperti mengerti perasaan majikannya.
Nah, hari ini, aku mengalami kejadian yang luar biasa. Boleh percaya atau tidak, yang pasti, aku belajar dari kucing-kucing itu. Kucingku menyukai kue bolu yang kubikin. Mungkin dari baunya yang harum, dan memang bentuk kue yang mirip ikan. Alhasil, setiap hari, aku harus memberi mereka satu persatu kue bolu ikan itu. Sehabis makan, mereka duduk di sampingku sambil bermain dan bermanja dengan induknya.
Aku masih membuat kue, ketika waktu menunjukkan pukul 13.15 siang. Hari ini aku agak telat membuat kue, dikarenakan padamnya listrik dari tadi malam. Hampir setiap hari di desaku terjadi pemadaman listrik, karena hujan yang terjadi hampir setiap hari dan menyebabkan longsor dimana-mana. Aku membakar kue sambil menonton Rodja TV, mendengarkan senandung Al-Qur'an yang menjadi acara favoritku.
Aku melirik sepintas pada kucingku dan induknya. Mereka seperti terlena mendengarkan tilawah Al-Qur'an dari Rodja TV. Subhanallaah, dadaku berdegup kencang. Aku mencoba memindahkan channel televisi pada siaran gosip artis dan berita. Dan, waduh, kucingku langsung terbuka matanya dan berlari kesana kemari dengan lincahnya. Aku memperhatikan terus gerak gerik mereka.
Dan kucoba memindahkan lagi pada siara Rodja TV, dan lagi-lagi, kucingku seperti terlena mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan langsung berhenti berkejar-kejaran dengan induk dan anak kucing yang lainnya. Kemudian salah satu anak kucing perlahan-lahan tertidur di dekatku. Sambil matanya melotot ke arah televisi. Aku mengulanginya lagi hingga tiga kali. Dan lagi-lagi tingkah kucingku seperti tadi. Bila mendengar siaran yang tidak jelas, seperti gosip artis, atau musik yang tak tentu nada menurutku, seperti lagu dangdut yang di zaman sekarang, maka kucingku keblingsatan seperti tersiram air panas.
Tiba-tiba akupun menangis, Ya Allah Yaa Kariim, kucingku terlena mendengarkan untaian Al-Qur'anul kariim, karena selama ini aku tak pernah memperhatikan tingkah mereka. Aku menangis sambil membuat kue. Dan aku benar-benar merasa tertampar oleh kejadian ini. Ternyata, kucing juga turut "bertasbih" memuji keagungan nama-MU, Rabb ku. Matanya tertutup perlahan-lahan, dan kepalanya seperti mengangguk, bulunya berdiri semua seperti ketakutan, namun matanya tertutup. Seperti mengikuti irama tilawah.
Rabbku... betapa aku malu dengan binatang itu. Dadaku sesak, melihat, betapa enaknya bila hidup menjadi seekor kucing, karena menjadi kesayangan Nabi Muhammad Salallaahu 'Alaihi Wasallam. Tiada dihisab di hari kiamat, dan banyak lagi keunggulannya.
Teringat lagi, akan nasihat bijak almarhum Bapak dan Guru ku:
"Kadangkala Allah hantar kucing untuk menguji kita. Apakah kita sayang atau tidak dengan rezeki dari Allah.
Rabbku... betapa aku malu dengan binatang itu. Dadaku sesak, melihat, betapa enaknya bila hidup menjadi seekor kucing, karena menjadi kesayangan Nabi Muhammad Salallaahu 'Alaihi Wasallam. Tiada dihisab di hari kiamat, dan banyak lagi keunggulannya.
Teringat lagi, akan nasihat bijak almarhum Bapak dan Guru ku:
"Kadangkala Allah hantar kucing untuk menguji kita. Apakah kita sayang atau tidak dengan rezeki dari Allah.
Karena kucing tidak pernah meminta ikan yang baru digoreng. Kucing tidak pernah meminta piring yang elok dan cantik ketika makan. Kucing tidak pernah meminta tisu untuk membersihkan mulut.
Tapi dia hanya meminta sisa makanan kita yang tidak habis. Tetapi, kenapa kita tidak mau berbagi? "
Dan nasihat dari ustad.
Abdullah Bin Umar r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Salallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Dan nasihat dari ustad.
Abdullah Bin Umar r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Salallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Seorang wanita disiksa karena ia mengurung seekor kucing hingga mati dan wanita itupun masuk neraka;
wanita tersebut tidak memberi kucing itu makan dan minum saat dia mengurungnya dan tidak membiarkannya untuk memakan buruannya".
( HR. BUKHARI DAN MUSLIM )
Aku langsung merenungi akan diriku. Betapa aku sangat hina dan tiada apa-apanya di hadapanMU, Yaa Kariim. Bagaimana akan nasibku esok di hari kemudian? Akankah aku akan selamat pada hari penentuan?
Kini aku hanya bisa meratapi dosa-dosaku dan ingin terus menerus berbuat kebaikan, hingga ajal menjemputku.
Aku langsung merenungi akan diriku. Betapa aku sangat hina dan tiada apa-apanya di hadapanMU, Yaa Kariim. Bagaimana akan nasibku esok di hari kemudian? Akankah aku akan selamat pada hari penentuan?
Kini aku hanya bisa meratapi dosa-dosaku dan ingin terus menerus berbuat kebaikan, hingga ajal menjemputku.
Aku belajar tentang SABAR dan KASIH SAYANG
dari watak seekor KUCING.
Sekalipun ia dipinggirkan, dia tetap mau mendekat,
Hingga membuat orang jatuh hati.
Kenawat Lut,
15 Januari 2015.
RESAHNYA HATI
RISALAH HATI
Kita tahu...kita percaya
Bahwa rasa itu tumbuh sekian lama
Dan bernaung di dalam hati
Dan bernaung di dalam hati
Menunggu detik agar mewujudkannya
Menjadi kata, kalimat, lalu suara .
Aku tidak peduli...
Bila ruang harus menyekat cinta
Dan aku mencoba menyeru kepada detik
Agar temukan kita di penghujung hari .
Aku tidak peduli...
Meski di bulan tak berbulan sekalipun
Ruang masih saja menyekat cinta
Dan aku masih saja mencoba menyeru kepada detik
Agar temukan kita di serambi taman surga .
Aku tidak peduli...
Bila langit menggulung mendungnya
Dan menghujam bumi dengan ribuan bintik
Lalu laut mengamuk menyapu karang yang tegar
Tanah terkuak menenggelamkan harapan-harapan besar
Dan akhirnya Tuhan menyeru kepada malaikat maut
Untuk bertebaran menyayat ribuan jiwa .
Selelah apapun mataku mencari wujudmu
Selelah apapun telinga meraba udara mencari suaramu
Selelah apapun kaki berjalan, mengukir jejak mengejar bayangmu
Apapun yang kau lakukan
Bagaimanapun kau menolaknya
Cinta akan tetap berada disana
Menunggumu mengakui keberadaannya
Kau dan aku tahu itu ..
Dan aku rasa kau merasakan hal yang sama waktu itu
Namun aku pun merasa mempunyai kekurangan
Yang tak sebanding.
Entah apakah itu benar atau tidak Apa hanya karena perasaan ku saja
Yang melambung jauh diambang pikiran
Yang
tak berani menerbitkan rasa itu,
Seperti halnya matahari yang terbit,
Pada setiap pagi hari disebelah timur sana
Kecuali dalam hal rasa... CINTA ...* UNTUKMU, A.R
Kenawat Lut, 12 Januari 2015
~* PEMBOHONG *~
TERNYATA DIA..
"Andita... Andita... Andita... bangun, hari sudah mau siang nih." Sahabatku membangunkanku dari lenaku. Kutatap jam dinding di sudut kamarku, waktu telah menunjukkan pukul 07.30 pagi.
"Huam...." Akupun masih menguap karena masih mengantuk.
"Lena, hari masih jam segini lagi. Jadwal kuliah juga masih lama," sahutku sambil menarik selimutku kembali.
"Hai, anak ini bandel amat sih. Shubuh kamu juga telah lewat kan, jam segini mesti dibangunkan." Lena menarik selimutku sambil membawa segayung air, hendak disiramkan ke wajahku.
"Ya habis bagaimana lagi. Semalam aku keasyikan mengobrol sih. Kan, Bang Hasyim meneleponku hingga pukul dua malam." Sahutku malas.
"Astaghfirullah. Andita, enggak bagus lho. Anak gadis menelepon hingga larut malam. Apalagi pada yang bukan muhrimnya. Mana gak tau waktu lagi." Sambar sahabatku.
"Mulai deh, ceramah lagi. Pusing tau," kataku.
"Keras kepala kamu belum juga hilang ya Dit," suara sahabatku melunak.
"Kalau kamu bandel dan tak bisa jaga diri, salah-salah, nanti kamu terjebak dalam arus kesengsaraan kawan." Sambungnya.
"Iya... iya, Bu Ustazah. Saya dengarin omongan kamu itu. Nanti kalau shalat, do'ain aku sekalian ya." Ujarku manja.
Langsung aku bangkit dengan malas, mengucek-ucek mataku kembali. Menajamkan penglihatanku yang agak buram, karena kurangnya tidur semalam.
Semua memanggilku dengan nama Andita. Aku seorang wanita dengan tubuh semampai dan kulit putih bersih. Ah, aku selalu mengagumi tubuh indahku. Yang dijuluki sahabatku seperti bunga edelweis yang langka itu. Terserah orang mengatakan apa tentang aku. Yang pasti, aku menjalani hari-hariku tanpa beban dan bebas dalam bergaul dengan siapapun.
Yang membanggakanku, aku juga bisa meneruskan kuliahku di salah satu kota besar di Nanggroe Aceh Darussalam. Malah, sebagian para gadis dan pemuda di desaku tinggal, bisa bersekolah hingga perguruan tinggi adalah hal yang sangat langka, dikarenakan tempat tinggalku yang terpencil di sudut kota. Orang-orang di Desaku menghidupi diri dan keluarganya dengan cara bercocok tanam, menangkap ikan dan mencari burung di hutan.
Kata orang-orang, aku termasuk orang yang sombong, kurang bergaul, dan selalu ingin menang sendiri. Persetan dengan semuanya. Karena bagiku hal itu tidaklah penting, bergaul dengan orang-orang desa yang ketinggalan zaman itu.
Aku membersihkan diri ke toilet kos-kosan ku. Rumah kos yang aku tuntut pada orang tua ku pun, kuminta yang ukurannya dengan toilet yang harus kinclong, ruang tamu dan ada ruang santainya juga. Aku tak perduli, walaupun orang tuaku mampu membayar mahal untuk itu, yang pasti aku bangga, karena aku termasuk orang berada di kampungku.
Sehabis mandi, aku mengacak-acak lemariku, dan mencari baju apa yang pantas kukenakan di hari ini. Aku cepat bosan memakai apapun. Biar itu baju, sepatu, rok, apa saja aksesoris wanita. Bila aku sudah tak suka, maka aku membelikannya lagi dengan yang baru. Lagipula Ayahku yang seorang Pegawai Negeri di suatu instansi pemerintah yang juga seorang juragan kopi selalu menuruti apa saja yang kuinginkan.
Sahabatku telah selesai berpakaian rapi.
"Ehem. Seperti Ustazah saja bawaanmu Lena," ujarku sambil menunjukkan beberapa helai baju ke arahnya. Aku ingin mengetahui darinya, baju apa yang pantas kupakai hari ini ke kampus.
"Ya, memang beginilah aku, Andita. Hatiku merasa tenang dan tentram, semenjak aku memakai pakaian begini. Lagipula, kehormatanku juga terjaga, bisa melindungi diri dari mata lelaki yang terkadang suka usil." Keterangan sahabatku, kuanggap angin lalu.
"Waduh kawan, tenang dong. Zaman sekarang, mana mungkin lah ada laki-laki yang tipe mau godain cewek elit seperti aku ini. Karena, kalau mereka macam-macam, aku bisa langsung melaporkannya pada amaku, selesai kan." Sambungku sambil memakai pakaian ku yang 'agak ketat'.
"Iya deh, terserah sama kamu, Andita. Aku hanya bisa mengingatkan padamu, bahwa kamu harus berhati-hati dalam bergaul. Karena, melihat cara kamu berpakaian saja, aku risih. Aku takut kamu nanti kenapa-napa Dit." Sahabatku mulai memelukku.
"Iya Len, terima kasih atas ucapannya. Tenang saja. Nanti kalau kenapa-napa, kan ada kamu disampingku." Ujarku.
Setelah selesai beres-beres, kamipun berangkat bersama dari rumah. Aku menyambar kunci mobil innova ku, sambil memasang sepatu yang warnanya kinclong. Dan memperhatikan lekuk tubuhku di depan kaca, melihat korean style ku, dengan sedikit aksen jilbobs yang menurut sahabatku agak norak penampilanku.
Kamipun berjalan menuju mobilku yang berada di garasi. Sambil memanaskan mobil, kulihat sahabatku Lena, tak henti-hentinya memperhatikanku. Dia merasakan ada yang aneh denganku. Karena aku selalu ceria, tidak seperti dia, yang selalu senyum sana senyum sini setiap berjumpa dengan orang. Dengan jilbab panjang yang kataku model itu sangat kuno dan ketinggalan zaman. Eh, sahabatku bilang, tak mengapa jika dibilang norak. Yang penting hati tenang dan adem.
"Makan itu adem." Kataku sambil menyetir.
Dan kami pun tertawa sepanjang perjalanan menuju kampus. Sahabatku memang tidak gampang sakit hati orangnya, dan juga enak diajak mengobrol. Walaupun dianya sering ngambek karena selalu menceramahiku, siang dan malam. Sampai panas telingaku mendengar ocehannya.
Hingga kami tiba di kampus.
***
Di kampus, aku berkenalan dengan seorang perwira TNI, yang bernama Hasyim. Dia mengaku tinggal di Kabupaten sebelah, yaitu di Bener Meriah. Awalnya, pertemuan kami di sebuah perpustakaan daerah yang terletak di dekat kampusku.
Hingga persahabatan kami menimbulkan benih-benih cinta dihati kami masing masing. Dia mengungkapkan perasaannya sewaktu kami janji bertemu di sebuah kafe. Sambil memandang ke wajahku dan memegang erat dan mencium tanganku, Bang Hasyim mengatakan
"Sayangku, dalam beberapa hari nanti, aku akan datang melamarmu. Bersabarlah ya sayang, karena aku sekarang sedang menunggu persetujuan dari atasan. Karena, aku tak mungkin bisa menikah kalau belum ada izin. Bisa-bisa aku dipecat sayang."
Kata katanya, membuat anganku melayang tinggi dan berbunga-bunga. Bagaimana tidak, dia sangat memujiku, memuji kecantikanku, apalagi ketika aku tak memakai jilbab, dengan tank top dan rok mini. Aku semakin blingsatan dibuatnya. Kekasihku yang terlalu banyak pemberiannya padaku. Belum apa-apa, aku telah diberikan cincin seberat dua gram, dan meyakinkan orang tua dan keluargaku, yang katanya bahwa aku ini adalah calon istrinya.
"Iya sayang. Dita ikut saja, bagaimana abang katakan sama Dita," kataku sambil tersenyum.
"Jadi, bagaimana menurut adik, dengan perjanjian kita sayangku,?"
"Hm, bagaimana kalau mahar dua puluh gram dan uang tujuh juta rupiah?"
"Boleh juga kalau begitu sayang. Nanti bila ada izin dari atasan abang, abang akan langsung datang untuk melamarmu ya sayangku," ujarnya mesra.
"Baiklah, Bang." Lanjutku.
Dan kami pun menghabiskan hari itu dengan memadu kasih asmara berdua di sudut kafe favoritku. Pandangan wajah pengunjung yang keheranan melihat kami, membuatku semakin lupa diri. Cinta telah membutakan mataku. Membuatku melupakan segala-galanya. Pada amanah orang tuaku, nasihat sahabatku, dan semuanya. Aku tak menggubris apapun kata orang tentangku. Yang aku harapkan hanya ingin terus berdua dan berdua dengan kekasih hatiku.
Lalu Bang Hasyim mengantarku ke rumah kos-kosanku. Kami sampai setelah waktu maghrib tiba.
"Darimana saja Andita?" Tanya sahabatku,Lena.
"Lena dari tadi nungguin kamu, Dit. Ditungguin sehabis pulang kuliah, kamunya tak ada. Lena tadi nyari-nyari kamu." Sambungnya.
"Dari jalan-jalan Lena, bersama Bang Hasyim. Tadi dia menjemputku di pintu gerbang kampus. Dan kamipun pergi bersama. Eh, tau enggak, Len. Bang Hasyim mengatakan, kalau dia mau datang melamarku. Asyik, dan rencananya kami akan menikah di awal tahun depan." Ujarku bersemangat.
"Iya Dita, tadi kalian darimana sih? Dengan pakaianmu yang seperti itu? Waduh, nekat kamu ya Dita. Kamu berdua-duaan dengan yang bukan muhrim.'' Tanya Lena dengan resah.
"Alah, Andita bisa jaga diri kok Len," sambarku.Kemudian Lena berkata sambil berjalan ke arahku
"Andita sahabatku. Dalam agama kita tidak diperbolehkan duduk berduaan dengan yang bukan muhrim. Karena itu bisa mengundang syetan dan awal dari terjadinya perzinahan. Kamu tau nggak, zina itu haram hukumnya." Lena menjelaskan panjang lebar padaku.
"Iya, iya Bu ustazah. Andita mengerti." Langsung akupun ngeloyor pergi berlalu dari hadapannya.
Kemudian aku langsung menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Aku terkenang lagi pada kisah tadi, sewaktu berjumpa dengan kekasihku.
"Ah, sayangku. Semoga saat itu bisa secepatnya terlaksanakan. Pernikahan kita".
***
Malam ini, Bang Hasyim meneleponku. Dan kami asyik dengan bincang kami sendiri. Dan janji akan bertemu esok hari, untuk membiacarakan tentang lamaran dan hal lainnya.
Aku tak lagi memikirkan bagaimana kuliahku besok, tugas dari dosen yang belum sempat aku kerjakan. Dan akhirnya sahabatku juga telah malas untuk selalu menegur dan menasehatiku. Mungkin dia capek padaku, karena aku terlalu keras kepala. Akhirnya sahabatku dengan aktifitasnya di Mesjid dan pengajian, dan akupun dengan aktifitasku sendiri, meskipun kami satu rumah. Hingga menjelang waktu shubuh kami tak hentinya mengobrol.
Dan shalat Shubuh ku tentu lewat.
***
Paginya, aku pun terbangun pukul delapan pagi. Kulihat sahabatku Lena, sedang shalat dhuha. Aku beringsut dari kamarku menuju ke toilet dan membasuh muka.
"Wajah ini... kenapa tak pernah tersentuh air wudhu." Gumamku dalam hati, sedikit ada perasaan bersalah dan menyesal di dalam hati. Atas tindak tanduk hidupku selama ini. Namun karena nafsu dan keegoisanku, menjadikan pribadiku yang acuh tak acuh terhadap sekitar.
Aku langsung mandi. Dan berharap secepatnya bisa bertemu dengan pujaan hatiku, Bang Hasyim. Karena kami berjanji kopdar di Desa Ratawali, Bener Meriah.
Sehabis membereskan segala sesuatu, akupun kemudian menstarter innovaku. Dan menuju ke sebuah desa cantik dan dikelilingi bukit di Kabupaten sebelah. Aku mengajak Lena untuk ikut serta, namun dia menolaknya. Karena kegiatan di kampus menumpuk, akupun akhirnya pergi sendirian kesana.
Sampai disana, aku melihat arjunaku sedang duduk di taman seorang diri.
"Sudah lama bang,?" tanyaku.
"Lumayan, hampir membeku abang disini menunggumu, sayangku." Sahutnya mesra. Aku langsung duduk tepat disampingnya. Kamipun mengobrol lama dan tak menghiraukan waktu yang telah dilalui.Memandang perkebunan kopi di Lembah Pantan Terong.
Lalu aku dibawa Bang Hasyiml menuju ke rumahnya, di Desa Ratawali. Katanya sedang tak ada orang di rumah. Aku melihat arloji di tangan kananku, tepat pukul sembilan malam. Aku sempat kaget karena rupanya hari telah malam. Obrolan kami tak pernah habisnya, rasanya dunia ini hanya milik kami berdua.
Di dalam rumah Bang Hasyim, aku langsung ke dapur dan hendak memasak, namun Bang Hasyim tak mengizinkan. Karena rupanya beliau telah membeli dua buah nasi bungkus untuk kami berdua. Kamipun langsung makan di dapur dan sambil bercanda.
"Ayah, Ibu dan keluarga abang yang lain kemana bang,?" tanyaku sambil menyuap nasi.
"Mereka semua pergi ke Rumah Sakit, Dik. Ayah Abang sedang dirawat di Rumah Sakit sekarang," jawab kekasihku.
"Oh, terus, adik kerumah abangni, apakah tidak kenapa-napa Bang,?" tanyaku lagi.
"Ya enggak lah dik. Tenang saja. Kan ada abang sayang disini." Meyakinkanku sambil memegang erat tanganku. Akupun langsung mengangguk setuju.
Setelah makan, kami berdua langsung duduk di ruang keluarga. Menonton televisi. Akupun mengacak-acak acara yang kebanyakan tidak aku sukai. Semuanya tentang pesawat Air Asia yang jatuh tenggelam di Pulau Kalimantan itu.
Merasa jenuh, akupun mulai mengantuk. Jam di dinding telah menunjukkan pukul sebelas lewat. Sudah hampir tengah malam. Kekasihku duduk tepat disampingku, tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Tiba tiba...
BRAK....
Suara pintu rumah kekasihku di dobrak orang. Rupanya ramai sekali orang di depan rumah. Aku tersentak kaget, begitu pula Bang Hasyim. Terdengar teriakan orang-orang di luar sana, juga salah satu warga desa yang menerobos masuk rumah.
"Oh, jadi begini ya kerja kalian .Pantesan dari tadi ini cewek enggak keluar lagi dari rumahmu Hasyim," teriak seorang pria berperawakan sangar tengah membentak kekasihku.
Aku tertunduk malu. Tak berani menatap wajah wajah beringas itu.
"Tidak bang, ini tidak seperti yang abang kira." Jawab kekasihku.
"Alah.. sudahlah. Tak usah kau berkelit, Hasyim. Kamu telah kami tangkap disini, di rumahmu sendiri. Dari sore tadi kami terus memantaumu bersama aparat desa. Untuk apa kamu berdua-duaan bersama yang bukan muhrim? sedangkan kamu belum menikah. Ingatlah Hasyim, orang tuamu sedang berada di Rumah Sakit. Bagaimana kalau nanti mereka tahu akan hal ini,?" sambungnya.
"Kami tak melakukan apa apa, pak. Bang Hasyim hanya sebatas memegang tangan saya." Jawabku membela diri.
"Sudahlah. Kami semua tak percaya lagi sama semua alibi kalian. Yang pasti, kalian sekarang akan kami serahkan pada penegak hukum." Sambut yang lain.
Tiba-tiba salah satu warga menarik kasar tanganku.
"Sini kamu, perempuan rendahan. Kamu harus kami beri pelajaran." Seorang Ibu muda berteriak padaku.
"Iya, dia harus kita pukuli sampai mati," sahut warga yang lain.
"Jangan bu. Jangan. Ampuni saya. Jangan lakukan itu pada saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Sahutku ketakutan. Akupun menangis dan merasa menyesal. Karena telah lupa waktu dan hampir lepas diri. Akupun merasa begitu rendahnya harga diriku di depan khalayak ramai seperti ini. Akupun seperti pasrah dengan apapun kata warga desa.
"Sudah, sudah. Ayo kita antar anak ini dan Hasyim ke rumah Bapak Imam desa kita. Biar aman." Seru suara seorang Bapak dengan lembut. Sepertinya Bapak ini adalah seorang tokoh yang dituakan, pikirku.
Akupun digiring beramai-ramai kerumah Bapak Imam desa tersebut, dan aku masih menangis. Teringat pada Lena, sahabatku. Aku yang tak pernah memperdulikan segala nasihatnya, akhirnya harus terjerumus juga ke lumpur dosa ini.
Aku ditanya habis-habisan oleh semua warga. Dan, yang paling mengejutkan, kekasihku yang dari awal perkenalan kami yang mengaku seorang tentara padaku, ternyata dia adalah seorang penarik becak. Tuhan.. betapa lemas lututku mendengarnya .Seorang yang kubangga-banggakan selama tiga tahun ini, ternyata adalah penipu. Dia telah menipuku dan keluargaku. Dan aku telah terjerat dalam semua cinta palsunya.
Ya Allah, aku menyesal, aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Karena aku terlanjur hamil saat ini, karena keteledoranku. Dan aku harus menikah dengan pria supir becak yang mengaku tentara itu. Berita yang kualami secepat kilat diterima keluarga dan sahabatku semuanya di kampus. Bagaikan disambar petir, orang tuaku tak percaya atas peristiwa yang kualami. Ibuku sampai berkali-kali pingsan. Karena nama baik keluargaku telah tercoret jelas. Dan akupun menyesal.
Untung tak dapat kuraih. Malang tak dapat kutolak. Nasihat dari orang tuaku yang tak pernah kugubris;
“Anakku, ike i tunung ko kase ling ni jema tue,
Insya Allah langitmu gere mu gegur, bumi mu gere mu guncang.”
(Anakku, bila kau turuti nasihat orang tua,
Insya Allah langitmu tiada petir, bumimu tiada berguncang)
Dan aku menyesal. Karena terlena oleh segala rayuan maut dan segala janji manis yang diucapkan kekasihku, Bang Hasyim.
Kenawat Lut, 02 Januari 2015.
RESAH
NYANYIAN SANG ARJUNA
Dalam sunyi yang terlukis di kanvas maya.
Terdengar di kejauhan merdu suara sang arjuna
Menyanyikan aksara dalam kabut aksara
... Mendendangkan sejuta ingin di hati kita...
Suara itu menjemput aku.. kau... kita
Berjeda-jeda antara mimpi dan nyata
Meski basah gemanya dalam dingin gerimis
Namun masih nadanya menyentuh manis
Sungguh ...
Sunyi itu adalah lantun hatimu,
Menerjang di ruang-ruang kosong dalam jiwaku
Dan indahnya adalah saat hembus bisikmu,
Memenuhi ruang-ruang itu.
*Kenawat Lut,02 Januari 2015.
Pin:7f9f44c4.
Dalam sunyi yang terlukis di kanvas maya.
Terdengar di kejauhan merdu suara sang arjuna
Menyanyikan aksara dalam kabut aksara
... Mendendangkan sejuta ingin di hati kita...
Suara itu menjemput aku.. kau... kita
Berjeda-jeda antara mimpi dan nyata
Meski basah gemanya dalam dingin gerimis
Namun masih nadanya menyentuh manis
Sungguh ...
Sunyi itu adalah lantun hatimu,
Menerjang di ruang-ruang kosong dalam jiwaku
Dan indahnya adalah saat hembus bisikmu,
Memenuhi ruang-ruang itu.
*Kenawat Lut,02 Januari 2015.
Pin:7f9f44c4.
~* INDAHNYA KEBERSAMAAN *~
DEAR SEPUPUKU
Pada lentera yang mulai meredup ini
Izinkan kuuntai salam dan kata penuh rindu.
Ada kalanya kebersamaan yang kita rasakan ini menjadi kerinduan yang mendalam
Dibalik letihnya perjalanan yang harus ditempuh dan tuntutan hidup yang terus dijalani.
Sketsa roda perjalanan inipun penuh onak dan duri.
Walau kalian tiada menyadari hal itu.
Adik adikku...
Teruslah mengejar cita cita yang kalian dambakan.
Tetaplah semangat dan tersenyum menjalani hari.
Hingga saat itu menjemput.
Salam sayangku untuk kalian semuanya.
~* DI KOTA PETRO DOLAR *
ROMANSA DI KOTA PETRO DOLAR
Aku dilahirkan oleh seorang Ibu yang tegar, yang kuat, yang cantik, yang penyayang anak-anaknya, yang menjadi kembang desa, yang selalu adil.I buku keturunan suku Jawa dan Gayo. Dan seorang Bapak yang penuh wibawa, agamis, pintar, gagah, dan penyayang pada kami, anak-anaknya. Bapakku seorang keturunan Gayo asli. Yaitu dari Kutacane dan Blang Kejeren. Walaupun keturunan ulama dan orang terpandang di negeri Gayo, Takengon dan sekitarnya, namun Ayahku tak pernah membusungkan dada.
Beliau selalu mengajari kami akan arti "HIDUP SEDERHANA".
Di kota Petro Dolar inilah, aku dibesarkan. Dan selalu mengajari ku, akan arti Islam sesungguhnya.
Indahnya perjalanan hidup yang kualami, semua berawal disini. Hingga Bapak ku wafat, ketika aku duduk di kelas 3 SMK. Hidupku serasa hancur, aku tak ingin bersekolah lagi. Karena telah kehilangan sosok seorang Ayah. Padahal disaat itu, aku masih membutuhkan kasih sayang nya, aku yang selalu merindukan tausyiahnya, setiap habis shalat maghrib.
Alhamdulillah, aku mempunyai sahabat-sahabat yang sangat baik hati. Hingga aku bisa menyelesaikan sekolahku dan menjadi predikat tertinggi. Setahun sehabis aku tamat SMK, aku sekeluarga pindah ke kota dingin Takengon, karena permintaan dari keluarga dari pihak Ibu dan Bapakku. Hingga kini, aku masih bertahan di Kota Dingin.
***
Aku merindukan suasana rumah dulu... dimana aku sekeluarga biasa bercanda ria.
Aku merindukan tawa dan canda sahaba- sahabatku semua nya.
Aku merindukan sosok ustad, ustadzah yang mendidikku.
Aku merindukan sosok Ibu dan Bapak Guru ku semuanya.
Aku merindukan semuanya.
Perasaan menggebu-gebu itu, kusimpan hingga belasan tahun lamanya, hingga tak terbendung lagi, pada akhirnya, hari Jum'at, 20 Juni 2014, aku bersama keponakan ku Pinte, berangkat ke kota Lhokseumawe.
Rencana perjalananku ke sana dari tahun-tahun kemarin, selalu gagal. Namun baru kali ini terwujud, setelah 13 tahun, aku meninggalkan kota dimana aku dibesarkan.
Aku berangkat pukul 11.30 WIB. Alhamdulillah,kami sampai pukul 16.30 WIB sore, di desa Batee Timoh, Krueng Geukueh- Aceh Utara. Huuft.... capeknya perasaan, berganti senang. Karena, aku telah menginjakkan kaki lagi disini, di rumah sahabat SMP ku dulu, Sri Jarwati. Kami pun dilayani dengan baik, begitu sampai disana.
Malam pertama kedatangan kami, aku dan keponakanku tidur di rumah Sri. Banyak cerita seperti tak pernah habis hingga larut malam. Pukul 23.30, mataku pun mulai mengantuk berat, tak sanggup lagi mendengarkan cerita mereka. Setelah melaksanakan shalat Isya, akupun mulai berbaring di tempat tidur.
Sri memanggilku.
"Na... sini lah.. kita cerita-cerita dulu." Panggil sahabatku.
"Waduh... Na capek banget buk.. maaf banget ya. Na tak sanggup melek berlama-lama".
"Oh... iyalah, silahkan Na.. istirahat terus ya," kata Sri.
"Oke... " Sahutku.
Dan aku pun terhanyut sambil mendengarkan celotehan Dewi (adiknya Sri), Fikar (anaknya wawak si Sri). Aku pun agak cekikikan mendengar cerita mereka, karena mereka super lucu bin gokil. Hmm.... tapi mataku keburu 5 watt, tak bisa diajak kompromi lagi nih. Dan akupun tak ingat apa-apa lagi. Alias tertidur.
***
Azan pertama waktu shubuh, aku pun terjaga. Kulihat arloji di tanganku, pukul 4.50 WIB pagi. Aku yang terbiasa bangun pada jam segini, tak bisa lagi untuk tidur. Aku pun bangkit, dan melipat selimut, lalu masuk ke toilet, bersih-bersih, ambil wudhu, lalu akupun ke kamar, untuk shalat shubuh.
Selesai shalat, ku buka layar jendela, kulihat hari masih gelap.
"Kok belum ada satu orang pun yang bangun ya,?" ujarku dalam hati.
Lalu akupun mengaji. Mengaji surat Ar Rahman, sebagai penyambut hari, dan beberapa surat yang lain.
Waktu menunjukkan pukul 06.00, karena belum ada yang bangun tidur, ya sudahlah... akupun langsung menuju dapur, dan mulai beres-beres. Mulai aktifitas rumah tangga, seperti menyuci piring makan malam, menyapu, memasak nasi, menyiram tanaman.
"Hmmm.... masih sepi." Kataku pada diriku sendiri.
Lantas akupun mengambil inisiatif, jalan-jalan pagi, keliling pasar keude Krueng Geukueh. Akupun berjalan santai, sambil meliha- lihat. Tak banyak yang berubah. Hanya satu dua toko yang baru dibangun. Selebihnya, bangunan lama !
Celingak celinguk mataku melihat ke kanan dan ke kiri, tak ada satu warga pun yang ku kenali. Malah, aku mencoba tersenyum pada Ibu-ibu pejalan kaki, eh, dia cuek aja. Lewat....
"Waduh... sombong-sombong amat sih... orang disini?" gerutu ku.
"Duh... kalian tau gak sih, di kota kecil ini nih, aku dibesarkan," teriakku dalam hati.
Sampai juga aku berjalan hingga lapangan bola kaki di Keude Krueng Geukueh. Aku melihat sekolah SD ku dari kejauhan. Ingin bertemu dengan guru semua, tapi, waktu belum masuk jam sekolah. Aku pun cemberut sambil berjalan pulang menuju ke rumah Sri. Ketika hampir sampai di rumahnya, di tengah jalan, aku bertemu dengan Dewi, yang sedang membonceng Pinte, keponakanku. Dewi bertanya.
"Kak Amna, kakak maunya makan apa? biar adik belikan"
"Gak usah beli apa-apa dik. Kan tadi, kakak juga udah siap masak pagi, kok"lanjutku sambil tersenyum.
"Hah.. kakak masak?" serunya terkejut.
"Iya, memangnya kenapa? biasa aja kali" sambungku.
"Duh.. jadi malu. Masak, tamunya memasak di rumah sahabatnya," katanya.
"Ya udah... pergi terus. Beli apa saja boleh,a salkan jangan pedas ya, Dik".
"Oke deh" sahutnya.
Dan akupun berjalan lagi, dan telah tiba di pintu gerbang rumah Sri, kulihat ada pohon besar yang mirip pohon apel. Aku penasaran ingin mengambil satu buah, tapi tak berani. Karena tak tau siapa pemilik pohon tersebut. Rupanya itu adalah buah beludru, kata sahabatku ini, buahnya tak boleh sembarangan dimakan, karena bisa keracunan atau gimana gitu, aku lupa apa yang dikatakannya.
"Waduh buk Amna. Kirain ente tersesat dimana, gitu." Kata Sri.
"Duh bu Sri. Amna udah pun jalan-jalan pagi keliling Krukueh. Penasaran buk. Gimana dengan perkembangan Krukueh sekarang. Setelah saya tinggalkan selama dua puluh tahun lebih." Ujarku pelan.
"Oh iya ya, saya lupa. Kamu kan, dibesarkan disini. Mana mungkin lah bisa tersesat ya buk," katanya sambil tertawa.
"Ya iya lah. Insya Allah buk, saya masih ingat." Kataku sambil berjalan ke dapur. Untuk mengambil segelas air putih.
Akupun kembali ke ruang tamu dan berkumpul bersama Sri bareng anak-anaknya. Dik Dewi pun telah pulang sambil membawa sarapan yang baru dibelinya. Dan, kamipun makan bersama. Aku mencicipi sedikit... busyet, pedasnya setengah mati. Lidahku panas, pedas, semuanya jadi satu. Air mataku menetes karena saking pedasnya. Dik Dewi pun tertawa melihat wajahku yang memerah bak kepiting rebus.
Ya,lengkaplah sudah penderitaan. Aku asli muntaber. Keluar masuk toilet.
Hehehehe....
***
Sehabis makan, kamipun mengobrol.
"Bu Amna, kemana rencana nya hari ini?"
"Hmm... ada rencana sih, mau ke Samudra Pasee, tapi Amna belum tau kapan bisanya, Bu" Sahutku.
"Gimana kalau kita pergi menjenguk si Cek Fit?" Kata Sri.
(Karena Cek fit adalah saudara dari pihak suami nya sahabat ku ini. Kalau aku memanggilnya dengan Dek Fit. Karena beliau adalah teman ku sewaktu di pengajian, kala kecil dulu)
(Karena Cek fit adalah saudara dari pihak suami nya sahabat ku ini. Kalau aku memanggilnya dengan Dek Fit. Karena beliau adalah teman ku sewaktu di pengajian, kala kecil dulu)
"Cek fit, baru keluar dari rumah sakit, kemarin sore na, waktu na baru aja sampai ke rumah".
"Oh... boleh-boleh-boleh... yuk, kita jenguk dia." Sahutku dengan semangat.
Lalu kami pun bergantian mandi, di kamar mandi yang memang hanya satu satunya di rumah itu.
Sehabis mandi, kami pun berganti pakaian, dan diantar oleh Fikar,a dik sepupunya Sri. Dik Fikar ini, tangannya yang gemulai, hadeh, asli mirip dengan cewek .Ini anak pintar memasak, menyetrika, menari, semua pekerjaan wanita, dia jagonya. Saya sampai terheran-heran dibuatnya, dan ngakak habis.
***
Dek Fit, tinggal di daerah Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara. Kami sampai disana pukul 14.00 siang.
Kami pun mengobrol dan kangen-kangenan. Berbincang tentang masa kecil kami yang indah, dan semuanya. Teman-teman kami yang telah berpencar entah dimana.
Sebelum pamit pulang, aku menyempatkan untuk berfoto bersama Dik Fitri, sahabat ku sejak kecil ini.
![]() |
| Aku dan Dik Fitri (Adik litingku dan sahabatku di pengajian sewaktu kecil) |
![]() | |
| Menjenguk Dik Fitri di Bangka Jaya,Krueng Geukueh,Aceh Utara. |
![]() |
| Aku,Dik Fitri,dan Sri Jarwati (sahabatku sejak SMP PALDA) bersama ananda tercinta,Naya. |

Setelah puas berbincang, aku pun lalu di antar lagi oleh Fikar, untuk keliling Kota kecil Krueng Geukueh. Kali ini, menuju ke rumah sahabatku sewaktu SMP, Herli Darlina. Wah, rasa rindu yang menggunung akhirnya meledak-ledaklah di rumah sahabatku yang selalu ceria ini. Ternyata dan ternyata,baru kuketahui, bahwa suaminya tercinta adalah sahabat kami juga sewaktu di SMP, yaitu Mirza. Kami semua berencana membuat acara kecil-kecilan, kejutan untuk para Alumni SMP NEGERI 6 LHOKSEUMAWE, setelah 17 tahun tak bersua.
Lalu, Sri menelepon semua nomor HP dari teman-teman yang tinggalnya di seputaran Lhokseumawe dan sekitarnya. Aku menunggu di rumah Herli, dan langsung melihat ke dapur, dan melihat ada beberapa kilo ikan lele yang baru selesai disiangi, dan beberapa bumbu dapur yang masih tergeletak seperti tak tersentuh.
"Item, ini ikan, mau di apakan, tem?" tanyaku pada Herli.
"Entahlah Na,Item juga gak tau mau diapakan. Karena Item gak bisa masak." Katanya malu-malu.
"Alamak, anakmu udah dua. Kok bisa sih?" tanyaku keheranan.
"Iya na, betul. Kalau gak percaya, tanya aja sama suamiku" lanjutnya sambil nyengir ke arah suaminya.
"Iya na. Tauk tuh, si Item taunya masak nasi sama rebus air aja, na" Sambung suaminya.
"Ya sudahlah, gak usah dibahas. Yang penting, hari ini kita masak bareng. Kalo gak ngerti, bisa Amna ajarin nanti dikit-dikit ya" Kataku sambil tertawa. Akhirnya kami semua tertawa geli. Dan memasak sambil bercerita.
"Iya na. Tauk tuh, si Item taunya masak nasi sama rebus air aja, na" Sambung suaminya.
"Ya sudahlah, gak usah dibahas. Yang penting, hari ini kita masak bareng. Kalo gak ngerti, bisa Amna ajarin nanti dikit-dikit ya" Kataku sambil tertawa. Akhirnya kami semua tertawa geli. Dan memasak sambil bercerita.
![]() |
| Herli Darlina,dan suaminya Mirza |
"Oke deh kalau begitu, Amna bikin kalasan saja ya, lele ini semua"
"Iya na, boleh-boleh-boleh." Jawab sepasang suami istri ini.
"Kalau begitu, kami ke pasar dulu sebentar ya na. Mau belanja bahan bikin mie aceh".
"Iya, boleh. Silahkan sob. Jangan lama-lama ya, tinggalin daku sendirian di rumah kalian yang luas ini." Sahutku bercanda.
"Oke deh Ibu koki." Jawab mereka sambil beringsut pergi.
Akupun langsung melanjutkan aktifitasku di dapur. Dengan sigap, aku langsung meracik semua bahan yang diperlukan, dan mulai memasak. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Dan aku hanya sendirian di rumah sahabatku itu. Wus, ada hawa sejuk di kudukku. Aku tak menghiraukannya. Sekelebat bayangan hadir di belakangku. Aku acuh tak acuh sambil terus menggoreng ikan.
Akupun langsung melanjutkan aktifitasku di dapur. Dengan sigap, aku langsung meracik semua bahan yang diperlukan, dan mulai memasak. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Dan aku hanya sendirian di rumah sahabatku itu. Wus, ada hawa sejuk di kudukku. Aku tak menghiraukannya. Sekelebat bayangan hadir di belakangku. Aku acuh tak acuh sambil terus menggoreng ikan.
Sedang asyik-asyiknya menggoreng, tiba-tiba muncullah sahabatku Sri Jarwati bersama Maysarah. May datang sambil membawa bakwan jagung yang telah digoreng di rumahnya, dan Sri datang sambil membawa buah-buahan dan barang lainnya.
"Hai, na. Sudah lama ya?" Sapa May sambil mencium pipi kiri dan kananku.
"Hai, na. Sudah lama ya?" Sapa May sambil mencium pipi kiri dan kananku.
"Ya sudah lah. Ini pun, masaknya tinggal sedikit lagi"
"Alahay mak jaang. Ibu yang satu ini memang betul-betul cepat ya, kerjanya" Sambung Maysarah.
"Biasa aja kali. Nanti kupingku naik sepuluh meter, Bu." Candaku.
Dengan suka cita kami memasak, diiringi celotehan yang tiada henti dari para sahabat yang konyol.
Dengan suka cita kami memasak, diiringi celotehan yang tiada henti dari para sahabat yang konyol.
Menjelang maghrib, tibalah tuan rumah. Kami semuanya bersorak sorai dengan kedatangan mereka, sekalian sahabat lain.
![]() |
| Sri Jarwati sedang membuat sambal kecap. |
Sambil menunggu Sri membuat sambal kecap untuk ikan, aku dan Maysarahpun memulai meracik bumbu untuk membuat mie goreng Aceh. Wah, kami saling tukar resep masakan. Sahabatku yang satu ini, adalah penjual cendol yang sukses kini. Dan kami sama sama hobi memasak.
![]() |
| Aku dan Maysarah. |
![]() |
| Duh,lucunya sahabatku ini. |
![]() |
| Eh,dia malah pura pura tidur. |
![]() |
| Athailah,sedang asyik mengobrol bersama Sri Jarwati. |
Banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh sahabat, menjadikan banyak sahabatku yang lain tidak dapat hadir mengikuti reuni mendadak ini. Kamipun mulai makan malam bersama. Sambil tertawa bahagia, tanpa beban. Semua cerita mengenai masa-masa indah sewaktu di SMP dulu.
![]() |
| Dengan mimik serius,Athaillah sedang bercerita pada kami. |
![]() |
| Suasana penuh canda menghiasi makan malam kami. Di rumah Herli Darlina. |
![]() |
| Wah,Bu Sri sempat sempatnya melirik kamera ya? |
Sehabis kami makan, muncullah sahabatku yang terakhir, kalau tak salah namanya T.T Suhaimi.
Inilah sekilas perjalanan kecilku sewaktu di kota Petro Dolar, Juni 2014 lalu.
Ah, sahabatku...
Mengapa terlalu cepat waktu berlalu?
Seperti baru kemarin kita menjadi remaja.
Seperti baru kemarin kita menjadi remaja.
Dengan segala kisah merah jambu dan semua haru biru.
Kini, ternyata umur kita semua telah kepala tiga lebih.
Dan telah memiliki keluarga masing masing.
Satu lagi kemesraan yang robek dalam gerimis.
Satu lagi kemesraan yang robek dalam gerimis.
Karena aku belum mencatatnya sebagai kenangan kita.
Teruntuk sahabatku semuanya,
Dimana saja kalian berada.
Alumni SLTP NEGERI 6 KRUENG GEUKUEH.
Salam Rindu, sahabatku.
Reuni Mengharukan Setelah 10 Tahun Tsunami
Wartawan BBC Andrew Harding kembali ke Aceh setelah 10 tahun
bencana tsunami dan bertemu lagi dengan salah seorang anak korban
tsunami, Mawardah Priyanka.
Sulit untuk mengenali Lhok Nga
Pohon-pohon telah tumbuh kembali. Saat dilihat dari jalan, desa kecil itu seperti tersembunyi di balik tirai tebal berwarna hijau. Ketika kami menghentikan kendaraan di daerah pinggiran, saya berdiri di tepi jalan di atas bukit sembari mencari wajah yang saya kenali–dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi.
Beberapa hari setelah tsunami – ketika semuanya rata – dari sini Anda dapat melihat ke segala arah – termasuk laut, yang berjarak sekitar dua kilometer di bagian barat dan juga ibu kota Banda Aceh. Lumpur, puing, serta kesengsaraan ada di mana-mana. Para relawan mulai mencari jenazah, dan ratusan mayat terbaring di jalanan.
Reuni yang mengharukan
Di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid, saya pertama kali bertemu dengan Mawardah Priyanka. Saat itu dia berusia 11 tahun, kelelahan, sangat kotor, dan sendirian. Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami – yang diperkirakan setinggi 35 meter – menimpa rumah mereka di desa di pesisir Lampuuk.
Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam. Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga.
Reuni yang membahagiakan, mengharukan – dan sempat beberapa saat janggal – bagi kami berdua. Saya melihat bagaimana sosok Mawardah kecil telah berubah -tentu bertambah tinggi- dan betapa kehadiran saya berarti bagi dia dan bagi saudarinya Mutiyah yang tiba dari daerah lain, dua hari kemudian.
Saya merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing mulai meninggalkan provinsi itu.
Rumah yang kosong
Tetapi kemudian, tampak jelas bahwa bencana yang menyapu kehidupan Mawardah, juga berdampak positif. Pada usia 21 tahun, dia menjadi sosok perempuan muda yang percaya diri, cerdas dan berambisi. Dia meraih sejumlah beasiswa dari perusahaan semen lokal (yang dibangun kembali setelah tsunami) dan kuliah jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.
Selama dua hari, kami mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya, saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan kompleksitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami.
Di sana pertama kali dibangun rumah – satu dari 140.000 unit yang dibangun dengan bantuan dana internasional sebanyak US$ 7trilliun untuk Aceh. Rumah Marwadah dibangun dengan cepat dan atapnya tampak bocor, tembok tipis. Dan saya ingat sejumlah pertengkaran yang tidak pantas di awal masa pembangunan rumah-rumah untuk para korban tsunami yaitu mengenai keluarga mana yang akan memiliki hak atas rumah.
Tetapi, bangunan itu akhirnya sesuai dengan peruntukkannya, dan keluarga kemudian mengakui bahwa rumah mereka lebih baik dibandingkan yang mereka miliki sebelum 2004. Di tempat lain, banyak rumah tidak ditempati – bangunan itu dibangun di tengah kebingungan karena koordinasi yang buruk, dan seringkali bersaing antar lembaga bantuan, memiliki banyak uang dan terkadang lebih memikirkan menghabiskannya dengan cepat dibandingkan mengetahui keinginan komunitas lokal.
“Saya memberikan (skor untuk) upaya bantuan 65 (dari 100),” kata Muslahuddin Daud, seorang pejabat Bank Dunia yang hampir terkena tsunami. “Banyak yang tidak sempurna. Untuk US$ 7trilliun kami dapat melakukannya lebih baik dengan banyak cara. Banyak rumah-rumah kosong… berlebihan. Kami memiliki lebih dari 500 organisasi bantuan dan… banyak yang tumpang tindih.”
“Dan banyak uang bantuan asing dalam jangka panjang membuat orang jadi bergantung – dan mereka jadi malas. Pertumbuhan di Aceh masih mandeg – kemampuan untuk mengelola sumber daya tidak ada,” kata Daud.
Perempuan yang Kuat
Dan kemudian terjadi perdamaian. Sebelum tsunami, Aceh bergulat dengan kekerasan akibat pemberontakan. Meski masih berusia 11 tahun, Mawardah ingat kondisi tersebut berdampak pada semua orang, ketakutan, jalanan ditutup dan bentrokan yang terjadi di desa-desa.
Tetapi bencana kemudian membawa pembicaraan damai, dan saat ini provinsi ini terus mendapatkan manfaat dari kesepakatan otonomi yang mengakhiri konflik. Pemerintahan baru telah menerapkan elemen hukum Syariah- yang didukung banyak warga termasuk Marwadah.
Tetapi kritik mengatakan sejumlah hukuman tersebut mencederai hak asasi manusia. Meski jumlah investor asing yang meningkat, provinsi ini masih termasuk lambat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
“Kami menyukai Syariah dan saya merupakan seorang Muslim yang taat,” kata Mawardah. Meski demikian, dia mengaku yakin bahwa petugas polisi Syariah seringkali bersikap “munafik”.
Suatu sore, kami mampir di kampus Mawardah di Banda Aceh tempat dia berlatih Thai kickboxing dengan sekelompok mahasiswa dan mahasiswa. “Dia mahasiswi yang bagus. Dia bekerja dan belajar dengan keras. Sebagai seorang perempuan, dia memiliki semangat seperti pria. Dia kuat. Dia tidak mudah menyerah,” kata guru bahasa Inggrisnya Maulizan Za.
Dia khawatir mengenai inflasi, tetapi – seperti banyak orang yang saya tanyai – mereka yakin bahwa hidup mereka lebih baik dan aman dibandingkan sebelum tsunami. “Teman saya merupakan keluarga saya sekarang,” kata Mawardah, setelah berlatih kickboxing dan bersiap kembali ke rumah dengan mengendarai motor saudarinya.
“Saya ingin menjadi seorang perempuan yang kuat. Setelah saya lulus saya akan kuliah di Amerika, dan bekerja sebagai seorang reporter. Saya merasa masa depan saya akan cerah,” kata dia mencerminkan kepercayaan diri.
BBC Indonesia, 22 Desember 2014
Sulit untuk mengenali Lhok Nga
Pohon-pohon telah tumbuh kembali. Saat dilihat dari jalan, desa kecil itu seperti tersembunyi di balik tirai tebal berwarna hijau. Ketika kami menghentikan kendaraan di daerah pinggiran, saya berdiri di tepi jalan di atas bukit sembari mencari wajah yang saya kenali–dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi.
Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat situasinya sangat berbeda.
Beberapa hari setelah tsunami – ketika semuanya rata – dari sini Anda dapat melihat ke segala arah – termasuk laut, yang berjarak sekitar dua kilometer di bagian barat dan juga ibu kota Banda Aceh. Lumpur, puing, serta kesengsaraan ada di mana-mana. Para relawan mulai mencari jenazah, dan ratusan mayat terbaring di jalanan.
Reuni yang mengharukan
Di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid, saya pertama kali bertemu dengan Mawardah Priyanka. Saat itu dia berusia 11 tahun, kelelahan, sangat kotor, dan sendirian. Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami – yang diperkirakan setinggi 35 meter – menimpa rumah mereka di desa di pesisir Lampuuk.
Beberapa hari kemudian dia menemukan kakaknya, Mutiyah, 16 tahun, masih hidup.
Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam. Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga.
Tetapi, selama delapan tahun, saya kehilangan kontak mereka.Sulit bagi saya untuk menentukan arah ketika saya berjalan di tempat yang dulu sangat berlumpur. Sekarang di tempat itu ada jalan raya, dengan jembatan baru di atas sungai kecil. Di sebelah kanan, saya melihat bangunan rumah – sangat sederhana, berdinding kayu dan beratap seng. Seseorang berteriak bahwa ada orang asing datang, dan tiba-tiba sosok yang tinggi dengan berseri-seri dengan tergesa-gesa keluar dari rumah.
Reuni yang membahagiakan, mengharukan – dan sempat beberapa saat janggal – bagi kami berdua. Saya melihat bagaimana sosok Mawardah kecil telah berubah -tentu bertambah tinggi- dan betapa kehadiran saya berarti bagi dia dan bagi saudarinya Mutiyah yang tiba dari daerah lain, dua hari kemudian.
Saya merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing mulai meninggalkan provinsi itu.
“Tidak ada yang peduli terhadap saya – tidak ada yang mencintai saya seperti orangtua saya,” kata Mawardah sambil menangis keesokan harinya.Tsunami menghancurkan jejak orangtuanya – tidak tersisa foto ibu atau ayahnya. Sedangkan Ita harus menghidupi keluarga, seringkali meninggalkan Mawardah sendirian.
Rumah yang kosong
Tetapi kemudian, tampak jelas bahwa bencana yang menyapu kehidupan Mawardah, juga berdampak positif. Pada usia 21 tahun, dia menjadi sosok perempuan muda yang percaya diri, cerdas dan berambisi. Dia meraih sejumlah beasiswa dari perusahaan semen lokal (yang dibangun kembali setelah tsunami) dan kuliah jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.
Selama dua hari, kami mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya, saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan kompleksitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami.
Di sana pertama kali dibangun rumah – satu dari 140.000 unit yang dibangun dengan bantuan dana internasional sebanyak US$ 7trilliun untuk Aceh. Rumah Marwadah dibangun dengan cepat dan atapnya tampak bocor, tembok tipis. Dan saya ingat sejumlah pertengkaran yang tidak pantas di awal masa pembangunan rumah-rumah untuk para korban tsunami yaitu mengenai keluarga mana yang akan memiliki hak atas rumah.
Tetapi, bangunan itu akhirnya sesuai dengan peruntukkannya, dan keluarga kemudian mengakui bahwa rumah mereka lebih baik dibandingkan yang mereka miliki sebelum 2004. Di tempat lain, banyak rumah tidak ditempati – bangunan itu dibangun di tengah kebingungan karena koordinasi yang buruk, dan seringkali bersaing antar lembaga bantuan, memiliki banyak uang dan terkadang lebih memikirkan menghabiskannya dengan cepat dibandingkan mengetahui keinginan komunitas lokal.
“Saya memberikan (skor untuk) upaya bantuan 65 (dari 100),” kata Muslahuddin Daud, seorang pejabat Bank Dunia yang hampir terkena tsunami. “Banyak yang tidak sempurna. Untuk US$ 7trilliun kami dapat melakukannya lebih baik dengan banyak cara. Banyak rumah-rumah kosong… berlebihan. Kami memiliki lebih dari 500 organisasi bantuan dan… banyak yang tumpang tindih.”
“Dan banyak uang bantuan asing dalam jangka panjang membuat orang jadi bergantung – dan mereka jadi malas. Pertumbuhan di Aceh masih mandeg – kemampuan untuk mengelola sumber daya tidak ada,” kata Daud.
Perempuan yang Kuat
Dan kemudian terjadi perdamaian. Sebelum tsunami, Aceh bergulat dengan kekerasan akibat pemberontakan. Meski masih berusia 11 tahun, Mawardah ingat kondisi tersebut berdampak pada semua orang, ketakutan, jalanan ditutup dan bentrokan yang terjadi di desa-desa.
Tetapi bencana kemudian membawa pembicaraan damai, dan saat ini provinsi ini terus mendapatkan manfaat dari kesepakatan otonomi yang mengakhiri konflik. Pemerintahan baru telah menerapkan elemen hukum Syariah- yang didukung banyak warga termasuk Marwadah.
Tetapi kritik mengatakan sejumlah hukuman tersebut mencederai hak asasi manusia. Meski jumlah investor asing yang meningkat, provinsi ini masih termasuk lambat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
“Kami menyukai Syariah dan saya merupakan seorang Muslim yang taat,” kata Mawardah. Meski demikian, dia mengaku yakin bahwa petugas polisi Syariah seringkali bersikap “munafik”.
Suatu sore, kami mampir di kampus Mawardah di Banda Aceh tempat dia berlatih Thai kickboxing dengan sekelompok mahasiswa dan mahasiswa. “Dia mahasiswi yang bagus. Dia bekerja dan belajar dengan keras. Sebagai seorang perempuan, dia memiliki semangat seperti pria. Dia kuat. Dia tidak mudah menyerah,” kata guru bahasa Inggrisnya Maulizan Za.
Dia khawatir mengenai inflasi, tetapi – seperti banyak orang yang saya tanyai – mereka yakin bahwa hidup mereka lebih baik dan aman dibandingkan sebelum tsunami. “Teman saya merupakan keluarga saya sekarang,” kata Mawardah, setelah berlatih kickboxing dan bersiap kembali ke rumah dengan mengendarai motor saudarinya.
“Saya ingin menjadi seorang perempuan yang kuat. Setelah saya lulus saya akan kuliah di Amerika, dan bekerja sebagai seorang reporter. Saya merasa masa depan saya akan cerah,” kata dia mencerminkan kepercayaan diri.
BBC Indonesia, 22 Desember 2014
TSUNAMI ACEH
MENGENANG SEPULUH TAHUN TSUNAMI ACEH
Aceh didalam sedih selalu,
Tak pernah hentinya melinang air mata ku.
Tentang musibah besar ditahun yang silam dulu
Tanggal dua puluh enam di hari minggu,
Jam delapan pagi telah terjadinya tragedi naik nya gelombang besar air laut kedaratan ku,
Kata orang jepang ialah gempa stunami.
Kata islami musibah derita.
Datang nya dua gelombang,
Datang nya bala dari gempa stunami,
Mengenang dasyatnya musibah itu
Anak kecil dan umi umi pun berserta saudara-saudara dibawah arus besar oleh air laut yang mencapai ketinggian kurang lebih 30 meter tingginya.
Jeritan di hari itu tidak bisa kita lupakan.
Mungkin tragedi karna tingkah laku kita dan lupanya kita kepada sang pencipta
Yaitu ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.
Dengan mengenang sepuluh (10) tahun stunami aceh mari kita berdo'a
Kepada saudara saudara kita yang telah syahid didalam stunami 2004
Dan kita harus selalu bersyukur berserta dalam mengigat selalu dengan Perdamaian aceh yang membawa kebaikan untuk menyambut tahun 2015 nanti.
Dan mari kita mengenang semua tentang sobat, keluarga atau pun orang tua kita yang telah dilanda gelombang stunami dan ber do'a,
Semoga Mereka Selalu Disisi ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.
AL-FATIHAH...
*ACEH.
26 DESEMBER 2004.
Aceh didalam sedih selalu,
Tak pernah hentinya melinang air mata ku.
Tentang musibah besar ditahun yang silam dulu
Tanggal dua puluh enam di hari minggu,
Jam delapan pagi telah terjadinya tragedi naik nya gelombang besar air laut kedaratan ku,
Kata orang jepang ialah gempa stunami.
Kata islami musibah derita.
Datang nya dua gelombang,
Datang nya bala dari gempa stunami,
Mengenang dasyatnya musibah itu
Anak kecil dan umi umi pun berserta saudara-saudara dibawah arus besar oleh air laut yang mencapai ketinggian kurang lebih 30 meter tingginya.
Jeritan di hari itu tidak bisa kita lupakan.
Mungkin tragedi karna tingkah laku kita dan lupanya kita kepada sang pencipta
Yaitu ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.
Dengan mengenang sepuluh (10) tahun stunami aceh mari kita berdo'a
Kepada saudara saudara kita yang telah syahid didalam stunami 2004
Dan kita harus selalu bersyukur berserta dalam mengigat selalu dengan Perdamaian aceh yang membawa kebaikan untuk menyambut tahun 2015 nanti.
Dan mari kita mengenang semua tentang sobat, keluarga atau pun orang tua kita yang telah dilanda gelombang stunami dan ber do'a,
Semoga Mereka Selalu Disisi ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.
AL-FATIHAH...
*ACEH.
26 DESEMBER 2004.
SAHABATKU...
SAUDARA SAUDARIKU..
BAIK INSAN TAK BERNAMA,
DAN JUGA INSAN TAK DIKENAL.
KALIAN TETAP ABADI DI RELUNG HATI KAMI.
DO'AKU SELALU MENGIRINGI KALIAN SEMUA.
KAMI JUGA AKAN MENYUSULMU,SAHABATKU.
TERIMA KASIH BANYAK,
KALIAN TETAP ABADI DI RELUNG HATI KAMI.
DO'AKU SELALU MENGIRINGI KALIAN SEMUA.
KAMI JUGA AKAN MENYUSULMU,SAHABATKU.
TERIMA KASIH BANYAK,
ATAS PERSAHABATAN KITA DULU.
TERIMA KASIH BANYAK DARIKU.
TERIMA KASIH BANYAK DARIKU.
MENGAPA RASA ITU ADA ?
SEGI ENAM PATAH SISI
Hari demi hari …
Kulalui dengan adanya dirimu.
Namun kutau kita bukanlah sepasang kekasih.
Kulalui dengan adanya dirimu.
Namun kutau kita bukanlah sepasang kekasih.
Tapi, kita pernah ada dalam ikatan itu.
Kita pernah bersama, bercita-cita untuk masa depan kita
Walau kini semua hanya tersisa kenangan.
Yang kufikir, telah kuhancurkan …
Aku tau …
Aku yang menyudahi perjalanan kita
Aku lenyapkan masa depan kita, dalam sekejap.
Aku memang pendusta!
Aku pengkhianat!
Aku yang menyudahi perjalanan kita
Aku lenyapkan masa depan kita, dalam sekejap.
Aku memang pendusta!
Aku pengkhianat!
Aku sadar …
Aku bukan sosok yang bisa membuatmu selalu tersenyum.
Tapi percayalah, aku akan selalu berusaha untuk itu.
Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.
Walau kini hanya ada AKU dan KAMU, ‘bukan’ KITA
Aku bukan sosok yang bisa membuatmu selalu tersenyum.
Tapi percayalah, aku akan selalu berusaha untuk itu.
Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.
Walau kini hanya ada AKU dan KAMU, ‘bukan’ KITA
Ku rasakan perbedaan yang amat terasa,
Pada diriku dan yang pastinya pada dirimu.
Pada diriku dan yang pastinya pada dirimu.
Ketika ‘aku dan kamu’ bukan lagi satu,
Senyum lebih terlukis?
Tawa lebih tercipta?
Ini memang jalan terbaik untuk ‘aku dan kamu’ …
Pernahkah kau berfikir untuk aku dan kau kembali?
Terkadang aku terfikir …
Tapi aku sudah terlanjur dengan keadaan yang seperti sekarang
Keadaan yang menempatkanmu sebagai sahabatku.
Bukan...tapi lebih dari itu !
Sejujurnya aku takut kehilanganmu.
Aku selalu takut untuk kehilanganmu,sahabat.
Aku selalu takut untuk kehilanganmu,sahabat.
Kumohon, jangan pernah kau pergi dariku
Meski suatu saat nanti, aku, kau, atau aku dan kau …
Telah menjalani kehidupan baru masing-masing,
Atau bahkan dengan pasangan masing-masing,
Jangan pernah kau lupa denganku.
Ingatlah aku selalu …
Sahabatmu …
Sahabat yang juga takkan pernah melupakanmu.
Sahabatmu …
Sahabat yang juga takkan pernah melupakanmu.
***
![]() |
| Zacky,sahabatku pemilik MODE COLLECTION,TAKENGON. (Terima kasih atas perhatianmu untukku,sahabat) |
HAI SAHABATKU
Sahabatku...
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku.
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku.
Terasa sakit bila mengingatnya
Terasa bahagia bila bisa dekat dengannya
Terasa lemah bila dihadapannya.
Terasa seperti angin yang hanya berlalu
Terasa seperti terabaikan.
Apa yang dia mau Tuhan?
Apa arti lambaian tangannya ketika ia pulang?
Apa aku terlalu mengaguminya
Pesona yang terpancar darinya
Seakan tak terkalahkan orang perasaanku sendiri.
Apa aku terlalu mengaguminya
Pesona yang terpancar darinya
Seakan tak terkalahkan orang perasaanku sendiri.
Tolong hapus memori ini tentangnya Tuhan...
Dia seakan seperti mimpi buruk
Datang lalu membangunkanku disaat aku lelah.
Aku ingin melupakannya
Aku ingin fokus untuk belajar lagi
Tapi setitik hatiku masih menanti.
Ucapan penyemangat untukku dari mereka.
Apa aku berlebihan Tuhan?
Terlalu mengagumi tanpa ada alasan
Terlalu berharap yang tak mungkin tersampaikan.
Desember...
Izinkan ia pulang dan meneruskan kehidupannya
Izinkan aku juga untuk melupakannya
Dia bahagia dengan kehidupannya
Dan aku harus lebih bahagia dari kehidupanku.
***
TAK MUNGKIN KITA BERSATU
![]() |
| Chandra,sahabatku dari Padang. Tugas di batalyon di Bener Meriah. Kini menjadi adik angkatku. (Maafkan aku,sahabatku) |
Walaupun semua hanya ilusi, bagiku itu indah.
Dan untuk kedua kalinya
Aku kembali terbuai oleh sebuah ilusi
Ilusi akan indahnya jika aku bisa memilikimu seutuhnya.
Mungkin memilikimu di ibaratkan,
Seperti seseorang yang berharap bisa melihat fatamorgana di malam yang mencekam tanpa cahaya
Seperti melihat pelangi tanpa mentari
Seperti menunggu hujan di padang safana.
Terimakasih ,
Karena engkau mau membuka celah di antara jari-jarimu untuk ku
Mau sedikit bersandar di bahuku pada waktu itu.
Semua masih terasa sampai detik ini
Karena di dekatmu aku merasakan keindahan yang berbeda.
![]() | |
| Chandra. |
***
RISAU KU
RISAU KU
Lebih baik aku menjadi diriku sendiri dengan seluruh kekuranganku
Dan
seluruh warna jiwaku,,,
Meski ribuan orang membenci.
Dari pada aku harus
menjadi yang bukan diriku dengan puluhan topeng kepalsuan
Untuk mendapatkan
simpati, sanjungan dan segala macam yang menduniawi.
Karena jasad dan jiwa adalah titipan pada dunia yang fana,
Karena jasad dan jiwa adalah titipan pada dunia yang fana,
Jasad dan jiwa yang berjalan
dalam pencarian dengan seluruh lembaran takdir diri,
Yang akan
dipertanggungjawabkan nantinya.
Kita adalah jasad dan jiwa yang melewati dosa dosa
Pada perjalanan pencarian tuk menuju yang abadi.
***
![]() |
| Uwin Aradi, Sahabatku yang bekerja di DPR RI,Jakarta, |
![]() |
| Riel Dazzeta. (Maafkan aku,karena umur kita yang jauh berbeda) |
Langganan:
Postingan (Atom)





































