Sudah 2 minggu berturut-turut aku menjenguk Anandaku di rumahmu. Tapi
kau selalu acuh tak acuh mengizinkan ku berbicara dengan matanya.
Padahal aku hanya ingin melepaskan rindu yang kian berkarat di pucuk
hati. Empat belas lembar surat yang ku layangkan dalam menanyakan
kabarnya pun tak kau terbangkan balasannya. Sms? Aku tak tahu apa-apa
tentang dunia mayamu. Setidaknya, adil itu masih tersisa untuk umurku
yang mulai renta. Tapi tidak! Keadilan itu telah terlumatkan oleh sikap
ego yang memenjara.
Hari ini, aku bertemu dengan dua bocah di perempatan jalan kota,
melirik mereka sekilas, lalu ku temukan senyum di wajah mereka yang
membuat pikiranku tertuang pada sang bocahku. Mereka memegangi dua bola
karet dengan motif duri, lalu mendrible bola tersebut ke jalan raya
hingga sinar lampu memancar dari bola itu. Mulai dari merah, kemudian
kuning hingga lampu itu punya banyak warna. Sejenak terfikirkan, mungkin
selama aku pergi ke rumahmu hanya membawakan senyumku untuk si bocah.
Sebab itulah kau bersikap acuh tak acuh. Oh.. biarkan kini aku
membawakan sedikit oleh-oleh, mungkin bola duri.
Dompetku tak tebal hari ini. Tidak banyak penumpang yang menumpang di
becakku. Hari ini sepi. Tapi tak apa, hari ini aku dapat rezeki lima
puluh sembilan ribu, lumayan jika ku bagikan setengah untuk bocahku.
Aku memilih bola dengan warna kesukaan mama si bocah, warna hijau.
Berharap juga dia kan memberiku lampu hijau untuk bertemu dengan si
bocah setelah pertemuanku enam bulan silam. Matahari begitu terik, aku
merasakan panasnya di punggungku hingga membuat urat kakiku semakin
lemas untuk mendayung. Tapi kerinduanku ternyata mampu mengantarkanku
untuk berada di pagar rumah mamanya.
Ya! Ini dia. Nomornya pun sesuai
dengan yang tertulis di kertas alamat rumahnya yang diberikan padaku
beberapa bulan lalu.
Aku coba menghampiri samping kanan pagar untuk menekan bel. Tapi
setelah tiga kali ku bunyikan, tak jua seorang pun keluar lalu
menanyakan sesuatu pada ku. Aku masih menunggu dan bersabar, bukan hal
mudah untuk bisa sampai ke sini. Berbagai lorong ku tempuh hingga banku
kempes, padahal aku harus melewati dua lorong lagi untuk bisa sampai ke
sini. Oh, aku harus bersabar. Barangkali dia sedang pergi bekerja ke
kantornya atau menjemput si bocah dari sekolahnya. Tapi tidak! Dua hari
lagi kan puasa, pasti si bocah sudah mulai libur. Ah.. aku masih harus
berpikir positif untuk hal yang ku lalui. Mungkin saja mereka berlibur
dengan keluarganya ataupun pergi membeli daging untuk megang esok?
Mungkin saja…
Saat ini, aku melebelkan diriku pria penantian. Dimana tiap hari aku
selalu menanti untuk bisa menyentuh tangan halus si bocahku. Menatap
matanya, membelai rambut hitamnya serta mencium aroma kulit putihnya.
Nyaris tak tersampaikan semua yang ku inginkan! Dan sampai sekarang pun,
aku belum mencapainya. Aku mencoba berdiri dari peristirahatanku di
depan pagarnya. Aku bangkit dari dudukku, merasa sudah sangat lama tidak
ada respon apapun dari dalam. Aku kembali menekan bel tiga kali, lalu
aku sedikit mengintip ke balik pagar besi nan tinggi itu. terlihat
halaman rumah yang sangat luas dengan berbagai jenis bunga di bagian
tamannya. Oh, pantas saja dia tak mau kembali menjengukku ke sana, di
sini lebih pantas untuk betah.
Semoga dia tak menularkan kebetahannya
itu untuk anandaku.
cekrek! Pintu pagarnya terbuka. Aku bersiap untuk memberikan senyumku
untuk si bocah. Ku lihat, ada tiga orang yang keluar dari pagar itu.
mama si bocah, seorang pria tak ku kenal dan satu lagi si bocahku.
Sejenak, rasaku memanas, aku ingin memukuli lelaki itu dengan jurus yang
ku punya. Dia terlihat mesra dengan istriku, namun aku mengurungkan
niat itu, karena dia “berpeci”.
“maaf pak, kami tidak menjual buntut”
Sementara wajah istriku, oops, mantan istri maksudnya, masih enggan
menumpahkan sedikit senyum. Tidak mengapa, mungkin kau terlalu bahagia
dengannya hingga kau tak bisa melihat senyum orang lain karena tertutupi
senyumnya. Ramuanku untuk mu melalui bola duri untuk anandaku masih
belum mampu menyembuhkan lukamu dulu karena ku. Hidupku yang sarat
dengan masalah telah membuat ku pisah dengan mereka, stalagtit dan
stalagmite indahku. Biarpun begitu, aku tetap tidak akan bersimpuh
memohon maafmu, mantan istriku. Karena ini bukan mutlak salahku. Aku
akan terus mekar untuk mengetahui nama anandaku, dan tak seperti mawar
kalian. Karena sekarang belum tercapai semua inginku.
Radhia Humaira lahir di Meunje Gandapura pada 06 Maret 1996, sekarang
sedang menjalani kehidupan di asrama sekolah SMAN UNGGUL ACEH TIMUR.
selama ini, Alhamdulillah dalam perjalanan hidup saya di sini, saya
mendapatkan banyak pengalaman. pada April 2013 lalu, saya berhasil
menjadi sutradara dalam sebuah perlombaan teater hingga berkat ridha Nya
kami diizinkan untuk melaju ke provinsi, walaupun akhirnya hasilnya
tidak seperti yang diinginkan. tapi Alhamdulillah juga dengan rahmat
Allah SWT saya bisa mendapatkan juara 2 di bidang puisi. dengan mempost
cerpen ini, saya berharap bisa mendapat pelajaran yang lebih dari
kawan-kawan tentang cerpen melalui kritik dan saran kawan-kawan.
terimakasih kawan buat waktunya… :) salam…
~* SEBELUM SENJA *~Aku berjalan dengan sepatu tanpa tali dan terbang menyusuri ladang
jagung, teh dan padi yang mulai tunduk menguning. bersama hembusan angin
teduh pagi itu. kemudian hinggap di ranting pohon beringin yang amat
ridang yang tampak tak di tumbuhi benalu sedikitpun. di bawahnya
terdapat aliran air yang mengalir jernih menuju lautan, di telingaku
terngiang nyanyian burung burung pagi ikut menyemarakan pagi itu.
kemejaku menarikku untuk menjelejah lebih jauh, aku kembali terbang
menyusuri hutan lebih dalam dan sampailah di sebuah perkampungan yang
asing menurutku, sangat asing. aku susuri rumah rumah penduduk, semua
tampak tak beratap, hanya dinding dan lantai yang sudah di tumbuhi
lumut.
Disana terlihat seorang kakek di pinggir sebuah danau yang keruh, ia
pandang danau tersebut. dengan tajam, kemudian dengan gesit kakek itu
melepas sandal sebelah kirinya dan melemparnya ke tengah danau, kemudian
ia ambil pungut kembali sandalnya, dan dengan hati hati ia kembali ke
tepi danau, ia kembali memandang danau dengan tajam nya, ia
kembali melempar sandalnya, dan kembali ia pungut. aku perhatikan
berlama lama, kakek itu terus menerus melakukan hal yang sama. keindahan
pagi itu meredup.
Aku kembali meneruskan perjalanan, tepat di arah barat ada sesosok
wanita muda sedang menimba air di pinggir sumur, di sampingnya terdapat
jeligen berukuran besar dan sebuang corong tepat di lubangnya, di
sebelahnya lagi ada sekotak bak yang terbuat dari marmer yang di bentuk
sedemikian rupa, indah memang sayangnya bak itu kosong, kering, tak
berair. aku perhatikan wanita muda itu, ia tarik tali yang terhubung
dengan katrol di atasnya, tak lama ember air muncul di hadapannya, ia
ambil ember tersebut. dengan seketika ia siramkan air itu ke seluruh
tubuhnya, ia basah kuyup. entah sengaja atau tidak ia menoleh ke arah
ku, tatapannya kosong. dan ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan
jeligen bercorong dan bak marmer itu.
Matahari mulai ganas ia mulai melotot ke arah bumi, tak berkedip
sedikitpun kecuali terhalang awan yang berbondong-bndong berlarian
sejalan dengan arah angin. aku berteduh di depan sebuah toko di samping
sebuah gubuk tua, aku duduk di pangkuan kursi yang terbuat dari rotan
muda, tak lama di hadapanku tampak sebuah truk gandengan yang berusaha
parkir, tetapi tiang gubuk di samping toko itu tertabrak dan akhirnya
bagian depan gubuk itu runtuh, para penghuni gubuk itu berlarian
terbirit-birit, lari kocar kacir sambil menganga ke arah pintu truk.
empat orang anak kecil menangis, menjerit histeris sambil mencakar betis
betis orang tuanya, sesekali orang tua mereka menepisnya. orang orang
di dalam toko bersikap acuh, melakukan jual beli seperti biasanya,
padahal jeritan anak kecil tadi terdengar hingga desa sebelah, bahkan
negara tetangganya, tetapi masyarakat desa dan negara tetangga hanya
membincangkannya tanpa ingin menyingsingkan lengan baju mereka.
Sopir truk turun dari mobilnya, ia sawerkan uang lembaran ke arah
penghuni gubuk itu tanpa di liriknya sedikitpun, sopir itu berjalan
dengan perut buncit dan baju ketatnya ke arah toko. penghuni gubuk itu
saling berebut uang itu dengan menjerit jerit girang, anak anak mereka
terinjak injak, orang tua di antara mereka terseret saudaranya sendiri,
seorang pemuda di antara mereka mencoba menenangkan penghuni gubuk,
tetapi penghuni lain masih terus menjerit jerit, sampai-sampai saling
menganiaya mereka, bahkan ada seorang gadis yang memukuli dirinya
sendiri.
Aku lihat sopir tadi sedikit berbisik kepada salah seorang laki-laki
berkumis, mungkin laki-laki itu pemilik toko tersebut. lelaki berkumis
mengangguk seakan mengerti, ia berputar putar mengelilingi toko dan
menepuk pundak para pegawainya, dan ia mengambil pecut dari lacinya, ia
pecut para pegawai yang diam mematung di tempatnya berdiri.
Lelaki berkumis itu naik ke lantai atas dan berbicara dengan suara
lantang di balik mimbar. ia berbicara panjang lebar. kemudian ia terdiam
dan memandang ke arah langit, ia meninggalkan mimbar dan mengambil
koper besar dengan roda yang menahan beban koper. lelaki berkumis itu
beranjak masuk ke pesawat yang telah ia booking. dengan serempak para
pegawai berjalan seperti robot menuju truk gandengan. lelaki berkumis
melambaikan tangan dari jendela pesawat sambil tersenyum ke arah para
pegawai, penghuni gubuk, kepada lelaki buncit, dan termasuk kepadaku
yang masih tetap duduk di pangkuan kursi rotan para pegawai
masing-masing mengambil sekotak kardus dan pergi meninggalkan tempat
itu.
Lelaki buncit itu kembali menghidupkan mesin truk dan di jalankan
nya, semakin jauh dan menghilanh di telan jarak. di sana hanya terlihat
para penghuni gubuk yang masih menjerit-jerit.
Aku beranjak dari tempat dudukku dengan hati bertanya-tanya “ada apa
dengan negeri ini?” meninggalkan para panghuni gubuk dan kembali
melewati sumur, jeligen bercorong, dan bak marmer juga kakek yang
membuang sandal sebelah kirinya dan pohon beringin yang tadi pagi aku
hinggapi. aku kembali di waktu senja hari.
Cerpen Karangan: Casper
Facebook: Hilman Muhamad Fahlevi
maaf saya penulis amatir, ampuni dosa saya bila karya saya semrawut.
^_^
******
~* CINTA SEPOTONG DONAT *~
Tring… tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mas, mau pesan
apa?” sapa seorang perempuan muda pelayan toko donat yang sore itu
sedang bertugas. Pelanggan yang disapanya adalah seorang lelaki yang
masih lengkap dengan seragam kantornya yang berwarna abu-abu muda dan
celana panjang hitam. Di bahunya 0tersampir tas ransel hitam dan tangan
kirinya menenteng jas berwarna senada.
“Minta triple cocholate-nya satu ya mbak. Dimakan disini.
Minumnya orange juice aja,” pinta lelaki itu. Perempuan pelayan toko
pun mengambilkan pesanan lelaki itu dan meletakkannya didalam nampan.
Setelah semua pesanannya lengkap, lelaki itu pun membawa nampannya ke
sebuah meja yang terletak di sisi jendela. Sebenarnya meja itu sedikit
panas, karena cahaya matahari sore menyinari langsung sisi tersebut.
Tapi dalam ruangan ber-AC ini, rasa panas itu menjadi hangat, sehingga
lelaki itu pun memilih untuk duduk disana.
Tring…. Tring….
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak,
mau pesan apa?’ kembali perempuan pelayan toko itu menyapa pelanggan
yang datang. Kali ini, seorang gadis dengan baju batik warna hijau muda
dan celana panjang hitam, serta tas ransel abu-abu yang dibawa di
pundaknya.
“Mm… saya mau pesan donat Peanut, mbak. Masih ada nggak mbak,
ya?” tanya gadis itu ragu ketika dilihatnya rak donat isinya tinggal
sedikit dan ia tak menemukan donat yang dimintanya disana.
“Maaf mbak, jenis donat yang mbak minta sudah habis. Mungkin yang
lain saja mbak?” tawar perempuan pelayan toko itu. Meskipun gadis tadi
tampak kecewa, akhirnya ia memesan satu buah donat jenis yang lain
beserta ice chocolate. Ia pun membawa nampan berisi pesanannya ke salah
satu meja yang masih kosong.
Meskipun meja itu agak panas, tapi menjadi
hangat karena ruangan ini ber-AC.
Saat gadis itu duduk, lelaki tadi memandanginya. Mereka duduk
berhadapan meskipun berpisah meja. Saat gadis itu menyadari
kehadirannya, ia sempat melemparkan sedikit senyum yang dibalas dengan
senyum seadanya oleh lelaki itu. Ia pun melanjutkan memakan donatnya
sendiri yang tinggal sepertiga lagi. Lima menit kemudian, donat di
piringnya habis dan ia pun menyelesaikannya dengan menghabiskan pula
orang juice-nya. Ia pun berdiri dan menyandang kembali tas ransel serta
jas-nya. Seraya melangkah ke pintu keluar, ia menoleh lagi pada gadis
itu lalu tersenyum kecil yang dibalas oleh gadis itu.
Tring… tring…
***
Tring… tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak,
mau pesan apa?” tanya pelayan toko donat, seorang pria berwajah
oriental. Pelanggan yang disapanya yaitu seorang gadis berkemeja ungu
muda dan rok hitam selutut, masih lengkap dengan tas ranselnya.
“Saya mau pesan donat Peanut, mas. Masih ada nggak mas?” tanya gadis itu sambil celingukan melihat ke rak donat.
“Maaf mbak, kalau jenis donat yang itu memang paling cepat
habisnya, apalagi kalau sudah sore begini, mbak. Mungkin donat yang lain
saja mbak?” tawar pria penjaga toko donat itu. Dengan ragu akhirnya
gadis itu menunjuk salah satu jenis donat yang masih tersedia di rak. Ia
pun membawa nampan berisi pesanannya ke meja yang masih kosong.
Dipandanginya sejenak donat yang ada dihadapannya, lalu dengan enggan ia
memotong donat itu dan menyuapkannya sendiri. Sementara itu,
pandangannya menerawang ke lalu lintas jalan raya yang ada diseberang
toko ini.
Tring…tring…
“Selamat sore, selamat datang di Dunkin Donat. Silahkan mas, mau
pesan apa?” tanya pria pelayan toko donat pada seorang lelaki yang baru
saja memasuki toko donat itu. Raut lelah jelas tampak di wajah lelaki
itu, dan ia sempat menghembuskan nafas keras-keras sebelum menyebutkan
pesanannya.
“Saya mau beli donat-nya setengah lusin, mas. Tolong pilihkan
semuanya yang serba cokelat, tapi dikasih satu-satu saja ya setiap
jenisnya,” pesan lelaki itu. Pria oriental pelayan toko pun mengikuti
permintaannya. Sambil menunggu pesanannya lengkap, lelaki itu
mengedarkan pandangannya ke dalam toko. Ketika dilihatnya sesosok gadis
yang duduk di meja di dekat jendela, ia tak mungkin salah kalau gadis
itu adalah gadis yang sama dengan yang kemarin duduk berseberangan
dengannya di toko ini juga. Tapi yang membuatnya heran, ia melihat gadis
itu hanya memain-mainkan garpu dan pisau yang digunakan untuk memotong
donat tanpa sedikitpun menyentuh donat yang ada dipiringnya. Ia tahu
jenis donat itu, double cocholate. Tapi kenapa tak dimakan olehnya? Tak
lama gadis itu pun meraih ranselnya dan melangkah keluar tanpa menyadari
bahawa ia sedang diperhatikan. Saat gadis itu telah menghilang dibalik
pintu, lelaki tadi berjalan mendekati mejanya. Benar tebakan lelaki itu,
donatnya hanya dipotong sedikit dan sisanya tak dimakan. Hanya air
minum saja yang habis.
“Maaf, mas. Saya mau tanya. Gadis yang tadi duduk di meja itu,
dia pesan donat apa ya mas?” tanya lelaki itu pada pria oriental pelayan
toko.
“Ooh… dia tadinya mau pesan donat Peanut, tapi sudah habis mas.
Jadinya dia pesan donat double chocolate,” jelas pria pelayan toko itu.
“Donat Peanut? Masih sama dengan pesanannya waktu itu…,” gumam
lelaki itu dalam hati. Setelah pesanannya selesai diambil, ia pun
membayarnya dan bergegas keluar dari toko itu.
***
“Makasih ya donatnya, sob!” seru Marcel sambil menggigit dalam
potongan besar donat triple chocolate. Yuda, salah satu penghuni
kontrakan K15 komplek Taman Lestari, yang mentraktir donat, membalasnya
dengan senyuman. Setelah meletakkan tasnya dikamar, ia mengganti pakaian
kerjanya dengan celana pendek dan kaus cokelat tanpa lengan.
“Besok giliranku deh traktir burger…,” usul Jimmy yang langsung
diiyakan oleh Marcel. Sebagai satu-satunya penghuni di rumah itu yang
berbadan besar, ia tak pernah menolak segala jenis makanan yang
diberikan padanya, apalagi kalau gratis.
Yuda mengambil air dingin di dalam kulkas lalu menuangkannya
kedalam gelasnya sendiri. Pikirannya masih melayang kepada gadis tadi.
Kenapa hanya donat kacang yang dicarinya? Kenapa dia sebegitu tidak
senangnya dengan jenis donat lain? Kalau memang dia tak ingin makan
donat yang lain, bisa saja dia tidak memesannya kalau ternyata hanya
dimakannya sedikit. Sebagai orang yang paling anti melihat makanan
terbuang, ia sangat tidak setuju dengan ulah gadis tadi yang tidak
menghabiskan donatnya. Terlebih lagi, donat termasuk salah satu makanan
kesukaannya.
“Kok diam, Yud? Nggak mau makan donatnya?” tanya Marcel yang baru
saja menelan donat jatahnya yang terakhir. Yuda tersentak kaget, lalu
mengambil satu donat double chocolate didalam kotak. Ia sempat
memperhatikan donat itu, lalu pikirannya kembali pada gadis tadi. Ini
adalah jenis donat yang tadi dipesan oleh gadis itu dan tidak
dimakannya. Apa yang salah dengan donat ini, gumamnya dalam hati.
“Kalau donatnya ngak mau dimakan, sini biar aku yang makan!” ujar
Marcel sambil pura-pura hendak merebut donat di tangan Yuda. Buru-buru
lelaki itu menghindarkan donatnya dari jangkauan Marcel, dan langsung
menggigitnya hingga mulutnya penuh terisi. Jimmy yang melihat aksi
perebutan donat itu hanya bisa tertawa. Donat jatahnya masih sisa
setengah, tapi ia sudah keburu kenyang karena sebelum pulang tadi ia
sempat singgah di kedai siomay bandung disamping kantornya. Akhirnya ia
pun memberikan donat itu pada Marcel yang langsung disambut pria tambun
itu dengan suka cita.
“Besok Minggu kan? Kalian mau kemana?” tanya Jimmy sambil meneguk air dingin dari gelasnya.
“Mancing yuk! Minggu kemarin kan kita tak jadi pergi,” usul
Marcel kemudian. Yuda masih belum menyahut ajakan kedua temannya, karena
tiba-tiba saja ia telah punya rencana sendiri untuk besok.
“Aku nggak ikutan deh ya. Lagi mau nyelesaikan proposal untuk
ajuan kegiatan kantor bulan ini. Sorry…,” sesal Yuda sambil menatap
kedua temannya. Marcel mendelik sedikit, sedangkan Jimmy hanya
mengangkat bahu.
“Eh, tapi nggak usah aja deh. Dirumah sajalah kita. Besok pagi
kita jogging, terus siangnya kita sewa DVD, nonton dirumah. Bagaimana
menurutmu, Jim?” tanya Marcel meminta persetujuan. Jimmy tampak
menerawang sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju. Wajah Marcel pun
sumringah, dan ia kembali bersemangat mendiskusikan daftar film yang
akan mereka sewa besok. Yuda tersenyum kecil menanggapi obrolan mereka
tanpa minat, karena ia sudah merancang apa yang akan dilakukannya besok.
***
“Sudahlah, Qanita… Setiap hari kamu selalu pergi kesana. Kalau
memang nggak ada, berarti memang nggak ada lagi donat jenis itu jam
segitu. Ngotot banget sih?” gerutu Alya ketika dilihatnya Qanita,
adiknya, sedang bersiap-siap untuk pergi. Qanita yang sudah terbiasa
dengan omelan kakaknya itu hanya tersenyum kecil, lalu sambil menenteng
tas kecilnya ia melewati kakaknya dan menyalaminya sebentar.
“Aku hanya mau makan donat itu sebanyak-banyaknya sebelum aku
kehabisan waktu, kak,” ujarnya pelan. Tubuh Alya membatu, lidahnya kelu
hingga ia hanya bisa menyahut ketika adiknya mengucapkan salam.
Dipandanginya tubuh adiknya yang menjauh seiring dengan sepeda motor
yang dikendarai. Perlahan kesedihan itu kembali menyeruak, meskipun
selama ini ia selalu berusaha untuk menekannya agar ia lupa bahwa telah
ada kenyataan pahit yang menantinya sebentar lagi.
Tring… tring…
“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mas,
mau pesan apa?” tanya seorang pria berlogat jawa kental yang jadi
pelayan toko siang itu.
Tring… tring…
“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak,
mau pesan apa?” tanya seorang perempuan hitam manis pelayan toko donat
siang itu.
“Mbak, saya mau pesan donat Peanut. Masih ada nggak mbak?” tanya
Qanita sambil mengamati rak donat. Seketika wajahnya cerah melihat donat
kacang yang selama ini dicarinya masih ada.
“Ada mbak, mau pesan berapa?” tanya perempuan pelayan toko itu.
“Satu aja, mbak. Minumnya chocolate ice ya mbak,” pesan Qanita bersemangat.
“Donat double chocolate-nya satu mas. Minumnya coffee ice aja,”
pinta Yuda. Sesaat kemudian ia menoleh, dan didapatinya gadis yang
kemarin dilihatnya di toko donat ini juga sedang memandangnya. Gadis itu
tersenyum hangat, dengan wajah yang lebih ceria daripada kemarin.
“Hai,” sapa gadis itu. Yuda membalas tersenyum, lalu membawa
nampan pesanannya ke meja yang sama dengan waktu dia datang kesini
beberapa hari yang lalu. Hanya bedanya, kali ini dia datang di siang
hari, sehingga meja itu tidak panas. Gadis yang tadi menyapanya juga
duduk dimeja yang sama, yaitu di meja yang berseberangan dengan mejanya.
Mereka pun duduk berhadapan seperti waktu itu, lalu masing-masing mulai
sibuk memakan donat pesanannya. Yuda sempat melirik kearah gadis itu.
Tampak gadis itu makan donat dengan bersemangat dan wajah yang ceria,
sangat beda sekali dengan wajah yang dijumpainya beberapa hari yang
lalu. Dalam waktu 10 menit, donat dipiringnya sudah habis, dan gadis itu
pun bangun dari duduknya.
“Yuk,” pamit gadis itu seraya melemparkan senyuman. Ia pun
melangkah keluar. Sementara itu, Yuda memperhatikan piring bekas makan
gadis itu yang kini telah kosong. Sepertinya ia sangat menyukai donat
itu, gumam hati Yuda.
“Mas, saya bisa pesan sesuatu nggak?” kata Yuda pada pria berlogat jawa pelayan toko itu.
“Iya, mas. Ada apa ya mas?” tanya pria pelayan toko itu heran.
“Kalau gadis yang tadi datang lagi besok atau hari-hari
berikutnya, tolong sisakan satu donat peanut seperti pesanan gadis itu
ya mas. Dia biasanya datang sore, makanya suka kehabisan donat peanut.
Sisakan saja satu ya mas, kalau dia datang, langsung saja dikasih donat
itu. Bisa kan mas?” pinta Yuda. Pria pelayan toko itu akhirnya
mengangguk setuju meskipun masih bingung juga dengan pesan Yuda.
“Memangnya mbak yang tadi itu saudaranya mas ya?” tanya pria
pelayan toko itu penasaran. Yuda tertawa kecil sambil membenarkan letak
jaket dibadannya.
“Bukan, dia teman saya,” kata Yuda singkat, lalu meninggalkan toko itu.
***
“Tinggal dua minggu lagi, Nita,” ujar Om Baskoro, adik ibunya
sekaligus dokter yang merawatnya selama lima bulan ini. Nita tersenyum
lalu menyentuh tangan pamannya dengan lembut.
“Aku nggak apa-apa, om. Aku juga sudah siap,” ujar Qanita pelan
seraya tersenyum. Om Baskoro mengamati wajah anak tunggal kakaknya itu,
dan seperti sebuah siluet bayangan masa kecil ketika Qanita baru lahir
di suatu musim dingin di negeri Sakura saat itu, lalu ketika gadis itu
melalui masa anak-anak, remaja hingga ia mencapai usianya yang sekarang
nyaris membuat lelaki itu menangis. Tapi dia tak akan menangis didepan
anak ini, karena sejak Qanita divonis penyakit mematikan ini pun sama
sekali ia tak pernah melihat Qanita meneteskan air mata. Anak ini memang
tegar seperti ayahnya, yang memang telah meninggal oleh penyakit yang
sama dengan Qanita.
“Om mau makan donat?” ajak Qanita kemudian. Tanpa berpikir
panjang lagi, Om Baskoro mengiyakan ajakan keponakannya itu. Qanita
menggelayutkan tangannya di lengan lelaki itu dan mereka berjalan
beriringan keluar ruangan.
Tring… tring…
“Selamat siang, selamat datang di Dunkin Donuts. Silahkan mbak,
mau pesan apa?” tanya perempuan pelayan toko donat siang itu. Tapi
sedetik kemudian ia langsung meralat kata-katanya, “Mbak pasti mau pesan
donat kacang ‘kan? Kebetulan masih ada mbak!” seru pelayan toko itu dan
cepat-cepat mengambilkan donat kacang yang disimpannya di rak bertutup
paling bawah. Qanita sempat heran ketika mendapati donat kesukaannya
masih ada pada jam ini.
“Makasih ya mbak. Om mau pesan apa?” tanya Qanita pada Om
Baskoro. Lelaki itu pun memilih sebuah donat almond. Untuk minum, mereka
sama-sama memesan cappucino.
“Qanita suka makan disini?” tanya Om Baskoro sambil mengunyah
donat-nya sendiri. Qanita mengangguk sambil menyendok serpihan kacang
yang bertaburan di piringnya.
“Iya om, suka banget. Dan aku suka sama donat peanut ini. Tapi
karena aku suka datang sore, jadi biasanya keburu kehabisan. Makanya aku
kaget aja begitu si mbak tadi bilang kalau donat ini masih ada. Mm… apa
dia sampai hapal ya karena aku sering banget pesan donat ini? Hehehe…,”
tawa Qanita kemudian. Om Baskoro tersenyum mendengar penuturan
keponakannya itu. Ia pun tampak sangat menikmati donat yang dipesannya.
“Papa dulu pernah bilang, makan donat ini seperti satu dari
sekian banyak kisah hidup kita. Kalau donat ini manis, jadi donat itu
seperti kisah hidup kita yang menyenangkan. Kalau menurutku, donat
kacang ini punya arti tersendiri. Kacang yang ditaburin diatasnya ini
adalah kita, manusia. Kita hidup menyebar dimana aja, diseluruh dunia.
Hidup dengan kisah yang berbeda-beda. Impian paling sederhana yang kita
punya adalah hidup senang dan bahagia dari awal sampai akhir, makanya
kita memilih untuk hidup diatas cokelat ini, karena dengan makan cokelat
sedikit aja kita bisa merasa senang dan mood kita yang awalnya jelek
jadi bagus lagi. Sebegitu sederhananya keinginan kita, sama dengan
sederhananya tepung yang dipakai untuk adonan donat ini. So, it’s very
complete, like a package with full of happines. Dan…,” ucap Qanita
tertahan.
Ia tampak merenung sejenak sambil memandangi donat miliknya
yang tinggal setengah. Om Baskoro menatap dengan pandangan menyelidik.
Ada perasaan tak enak menggelayut tiba-tiba dihatinya.
“Dan, kalau dengan makan donat peanut ini aku bisa merasa bahagia
sampai akhir hidupku, aku hanya ingin makan donat peanut ini sebanyak
mungkin tanpa merasa sedih,” lanjut Qanita kemudian. Lalu ia tersenyum
sambil menatap Om Baskoro, sementara lelaki itu hanya bisa terdiam. Ia
tahu, Qanita sedang berjuang pula menahan rasa sakitnya, mencoba untuk
merelakan semua yang ia punya untuk ditinggalkannya lebih awal dari
waktu yang dikiranya masih panjang. Memang kita tak bisa memilih kapan
waktunya untuk kita akan pergi, tapi kita hanya bisa berharap ketika
kita pergi tak akan ada lagi beban yang tak kita lepaskan disini.
***
Tring… tring…
“Selamat siang, Mas Yuda,” sapa pria berwajah oriental pelayan
toko donat sore itu. Hampir semua pelayan toko donat telah mengenalnya
karena kini ia termasuk pelanggan tetap di toko itu.
“Hai, Pram. Panas banget cuaca diluar. Pas masuk kesini jadinya
adem, bikin betah,” canda Yuda yang disambut Pram, pria pelayan toko itu
dengan tawa kecil.
“Mau makan donat mas? Oya, tapi ada titipan untuk mas. Baru aja
tadi pagi diantar kesini. Dan… dia minta dikasih donat ini untuk mas,”
kata Pram sambil menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna kuning dan
sebuah donat kacang. Mendadak perasaan Yuda menjadi kacau. Dengan ragu
diambilnya amplop itu, lalu dibaliknya. Sebuah nama “Qanita” tertulis di
amplop itu.
“Namanya Qanita, mas. Gadis yang suka pesan donat peanut itu,”
kata Pram kemudian. Yuda melirihkan kata terima kasih, lalu duduk di
meja yang selalu ditempatinya setiap kali datang kesana. Dipandanginya
amplop kuning ditangannya, antara ragu dengan tidak akhirnya ia
memutuskan untuk membacanya.
Untukmu…
Terima kasih sudah menyediakan donat kacang ini setiap hari. Inginnya
setiap hari aku mencicipi nikmatnya, tapi maaf… Kali ini kembali
kutitipkan donat kacang ini padamu. Karena aku tak lagi bisa merasanya.
Jika aku selalu merasa bahagia setiap memakan donat kacang ini, maka
kini kebahagiaan itu kuberikan padamu. Anggaplah sebagai ucapan terima
kasih yang tak akan pernah kusampaikan dalam nyata. Sampai bertemu di
dunia lain, dan aku masih berharap di dunia itu nanti,
kita bisa makan donat peanut ini berdua.
Thankyou
^_^
Yuda tersenyum membaca isi surat itu. Meskipun ia tak akan pernah
menemui gadis itu lagi, tapi dengan mengetahui bahwa gadis itu bahagia
dengan donat kacang yang selalu tersedia di toko ini setiap hari, ia pun
yakin kalau gadis itu akan terus bahagia hingga ia telah tinggal di
dunia lain.
Masih banyak cara untuk menemukan kebahagiaan di dunia ini.
Bahkan hanya dengan hal-hal kecil dan sederhana saja kita bersyukur
karena bisa merasakan bahagia itu. Yang perlu kita lakukan hanyalah
membuka mata dan hati kita untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya,
karena itu akan berdampak positif dan memberikan kebahagiaan yang
berkelanjutan untuk semua orang di bumi ini.
*******
~* KISAH LUKISAN DI DINDING *~
Pagi yang cerah, matahari berseri-seri menyongsong
orang-orang yang bersiap menyibukan diri. Entah sejak kapan manusia
terbiasa bekerja saat matahari bersinar dan beristirahat saat matahari
tenggelam. Adakah awal mula yang menyebabkan semua kebiasaan-kebiasaan
manusia. Apakah sejak manusia pertama lahir di bumi ini sudah secara
alami memulai kebiasaan-kebiasaanya. Ataukah manusia pertama-tama dahulu
melakukan uji coba atau penelitian sebelum mereka memutuskan
kebiasaankebiasaannya.
Setelah tiga hari berturut-turut hujan mengguyur sejak pagi dan
sepanjang hari diselimuti mendung, hari ini cerah benar. Seorang anak
kelas tiga membolak-balik buku rapornya. Dari sampul rapor yang berwarna
biru, tertulis nama: Priyatmoko, Nomor Induk Siswa: 157, Sekolah Dasar
Negeri Sonosewu 1, dan diatasnya tertera tulisan: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Ranting Dinas Kotamadya . Ia lalu membalik sampul dan
langsung terpampang lengkap biodata dan foto pemilik rapor itu. Langsung
saja ia membalik kehalaman empat, halaman rapor yang kedua dan ketiga
ia lewati.
Halaman empat itu ia amat-amati dengan seksama dari baris pertama
sampai terakhir. Baris pertama Pendidikan Moral Pancasila bernilai enam,
baris kedua Pendidikan Agama juga bernilai enam, dan seterusnya adalah
angka merah menyala. Ia seperti tak mau terima dengan nilai di rapornya.
Ia tampak kesal melihat tulisan paling bawah di atas tanda tangan
Kepala Sekolah dan Wali Kelas yang menyatakan bahwa si pemilik rapor itu
harus tinggal kelas.
Sungguh suatu kesedihan yang mendalam bagi Priyatmoko harus tinggal
kelas dan harus mengulang semua pelajaran kelas tiga selama satu tahun.
Ia berpikir kenapa tidak Ibu wali kelas itu mengatrol nilainya sehingga
ia dapat naik kelas. Memang aneh bagi Priyatmoko yang dahulu sebelum
pindah sekolah ia selalu mendapatkan tiga besar.
Pernah rangking dua di kelas satu dan rangking tiga di kelas dua. Dan
sekarang ia harus tinggal kelas bersama dua murid lain yang memang
belum lancar berhitung. Tetapi Priyatmoko ahli mencongak, dan nilai tes
hasil belajar catur wulan ketiga tidak kurang dari delapan untuk
matematika. Mengapa ia tak naik kelas, Priyatmoko anak desa yang baru
pindah ke kota itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Penyesalan yang sangat oleh Priyatmoko dirasakan juga oleh kedua
orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah berbicara dengan Priyatmoko dan
memaklumi bahwa dia tidak naik kelas.
Mungkin karena kau murid baru Nak, kata ibunya membujuk. Tetapi aku
tidak bodoh Bu, kalau Dwi dan Lusi itu kan memang sudah tradisi mereka
tinggal kelas, jawab Priyatmoko.
Sudahlah Bu, saya mau kembali ke desa saja di sana aku banyak sahabat sedang disini semuanya beda.
Untuk apa kau kembali disana, kau hanya akan memberati kehidupan
Kakekmu, sedang kau mencari rumput untuk kambing saja tidak becus.
Terserah Bu, pokoknya besok aku mau ke gunung untuk liburan. Aku
sudah menabung dapat enamratus rupiah, cukup untuk ongkos pulang pergi.
Pagi-pagi benar Priyatmoko sudah pergi ke jalan raya untuk menumpang
bus yang pertama jurusan ke Gunung. Biasanya bus itu datang dua jam
sekali, tetapi kalau pagi hanya berselang satu jam saja antara bus satu
dengan yang dibelakangnya karena banyak penumpang yang mau pergi ke
pasar untuk menjual hasil bumi. Tak lama bus yang di nanti Priyatmoko
datang, lalu ia memilih kursi paling depan di dekat sopir. Kursi dekat
sopir bagi anak-anak adalah tempat yang paling istimewa, karena bebas
memandang kedepan dan bisa mencermati gerak-gerik sopir dalam
menggendalikan bis.
Sebenarnya bukan hanya soal itu saja kenapa kursi depan menjadi
favorit anak-anak, biasanya anak-anak desa sangat bangga dan kagum pada
orang yang betprofesi sebagai sopir, dan sopir dari desa jarang-jarang
ada yang mau kursi terdepan diduduki anakanak.
Entah kenapa, si sopir tidak suka anak-anak ,namun ketika bus dalam
keadaan kosong begini sopir tidak mampu menolak anak-anak yang ingin
duduk di depan. Tetapi ketika di tengah perjalanan mulai banyak
penumpang, anak-anak pasti di usir oleh kondektur untuk pindah ke kursi
belakang. Dan benar, Priyatmoko harus merelakan kursi depanya untuk
diganti oleh seorang perempuan setengah baya yang habis bepergian
menghadiri hajatan. Anak kecil memang tak penting duduk di kursi depan,
ia tak mungkin diajak ngobrol-ngobrol oleh Pak Sopir. Biasanya yang
diobrolkan adalah sekitar kehidupan Pak Sopir dan saudara-saudaranya.
Seperti, bahwa ia baru saja menyelenggarakan hajat merenovasi rumah,
anaknya diterima pendidikan jadi polisi walau untuk itu ia harus menjual
dua ternak sapinya dan menguras tabungannya. Dan secara alamiah yang
diajak bicara oleh Pak Sopir menanggapi dan membubungkan apa yang
dibicarakan olehnya. Karena bis yang di kendarai adalah jenis minibus
satu pintu maka tak heran nanti seluruh penumpang dewasa khususnya kaum
perempuan akan menyaut ikut bicara. Kalau sudah seperti itu kedengaranya
seperti gamelan yang kebanyakan gong. Tak ada yang coba membedakan diri
menyela isi pembicaraan oleh kaum sesama itu. Tetapi ketika ada seorang
yang kebetulan menumpang adalah seorang yang punya jabatan di suatu
instasi, pasti pembicaraan akan tertuju pada seseorang itu dan pak sopir
tidak dapat lebih membangga-banggakan dirinya.
Pemandangan di kanan-kiri sepanjang perjalanan dirasakan Priyatmoko
tidak banyak berubah. Pohon-pohon tinggi, rumah kayu dan sawah yang
membentang luas.
Bus berjalan dalam kecepatan sedang sehingga untuk mencapi terminal
pemberhentian terakhir diibutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Sampai di
terminal terakhir Priyatmoko dan penumpang lain turun dan berbasa basi
mengucapkan terimakasih kepada Pak Sopir.
Meskipun sebutanya terminal, tempat itu sangat sepi. Hanya ada satu
warung yang menjajakan makanan dan minuman serta bensin dan solar.
Orang-orang juga tak banyak dan dapat dihitung dengan jari, diantaranya
adalah tukang ojek.
Priyatmoko harus berjalan kurang lebih tiga kiometer untuk mencapai
rumah kakeknya tinggal. Melewati bukit dan menyeberangi dua sungai kecil
yang tak berjembatan. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah kakeknya
dahulu sebelum menengok rumah dimana ia sekeluarga dulu tinggal.
Matahari sudah hampir terik ketika Priyatmoko menempuh perjalanan kaki.
Ia memilih jalan yang teduh dari matahari, di bawah pohon-pohon jati
besar mengkuti jalan-jalan setapak. Sesekali berpapasan dengan orang
yang habis mengambil rumput di ladang, ada juga anak-anak desa yang
berangkat menggembalakan kambing ternaknya.
Sampai di rumah kakeknya, Priyatmoko langsung menuju kebun belakang
karena rumah dalam keadaan kosong. Di kebun itu tampak pohon lombok yang
tumbuh subur, kemudian di petak lain di tanam kacang tanah. Sepertinya
kakeknya memang berada di sekitar kebun karena ada peralatan tani yang
tergeletak di pinggir kebun di bawah pohon jambu air.
Priyatmoko
memanggil-manggil kakeknya, namun tidak ada jawaban. Ia lalu berkeliling
mengitari kebun yang lummayan luas itu. Pohon jeruk yang dulu ditanam
kakekknya ternyata buahnya lebat sekali namun masih terlalu muda untuk
dipanen. Ada sekiranya lima puluh batang jeruk yang ditanam. Di ujung
kebun itu terdapat sebuah bangunan kandang kambing dan kandang ayam.
Kakek Priyatmoko tergolong petani yang rajin, bayangkan saja di tanah
yang kering dan jenisnya tidak terlalu subur itu dapat ditanami pohon
buah dan sayur dan dapat tumbuh subur. Itu karena kegigihan kakek
Priyatmoko, sedang tanah-tanah di sekitar kebun kakeknya tak diurus dan
dibiarkan begitu saja. Adapun tanaman yang ditanam hanya pohon jati yang
sebenarnya kurang mendukung bagi pertanian.
Dari kejauhan terlihat kakek Priyatmoko memikul dua buah gembor
dengan bantuan pikulan yang terbuat dari bambu. Priyatmoko menyongsong
kedatangan kakeknya yang habis mengambil air di sungai untuk menyirami
tanaman yang ada di kebun. Sungai tempat mengambil air itu jaraknya
antara tigaratus duaratus meter dari kebun.
Siram Kek, kata Priyatmoko mengejutkan langkah kakeknya.
Iya Le, Kapan kamu datang, sama Emakmu tidak, kakeknya bertanya balik
sambil meletakan dua gembor air di antara tanama lombok. Ia lalu duduk
di bawah teduh pohon jambu air dan mengajak priyatmoko juga duduk.
Diambilnya plastik tempat tembaku di kantong celana hendak melinting
tembakau. Ia mengambil satu kertas sigaret lalu di ambil juga
suwir-suwir tembakau untuk diletakan diatasnya. Priyatmoko memperhatikan
pekerjaan kakeknya melinting temkaku itu sembari bercerita tentang
kehidupanya di kota, bahhwa ia di sogok ibunya akan dibelikan sepeda
jika betah tinggal disana..
Priyatmoko juga bercerita bahwa ia tak naik kelas, tetapi kakeknya
tidak komentar soal dia naik kelas atau tidak. Mungkin itu tidak
penting, bagi dia yang buta huruf yang terpenting adalah kemauan
berusaha dan belajar dalam arti sesungguhnya. Petani sepertinya telah
merasa cukup berhasil mampu menaklukan kegersangan tanah-tanah liat
pegunungan kapur ini. Berbagai macam tanaman mampu tumbuh subur
ditangannya, walau hasil akhir tak seimbang dengan tenaga yang
dikeluarkan untuk memelihara tanaman itu. Kadang hasil jualnya tidak
bagus karena petani tak bisa menentukan hasil jual, hanya para tengkulak
dari kota yang berhak menafsir hasil panen.
Habis berbincang sebentar Priyatmoko pamit pada kakeknya untuk
menengok rumah tempat ia tinggal dulu yang jaraknya sekitar dua
kilometer dari tempat itu. Ia berpesan pada kakeknya bahwa mau menginap
di tempat Ageng, cucu lain anak dari anak pertamanya kakek. Bergegas
langkah kaki Priyatmoko berharap dapat segera sampai rumah itu. Rindu
benar rupanya ia pada suasana rumah itu, pada sahabat-sahabatnya dan
pada Ageng yang usianya hampir sepantar dengannya. Sampai sekarang ia
tak juga paham kenapa ia harus pindah dari kampung desa itu.
Rumah itu tak berpenghuni lagi, pintu dan jendela sudah terlihat
rusak. Baru enam bulan tak ditinggali kerusakan disana sini telah
terjadi. Priyatmoko merasa asing melihat rumahnya sendiri. Ia lalu masuk
rumah itu, genteng atap yang bocor menyebabkan kelapukan pada uuk-usuk
rumah. Yang tinggal di dalam rumah itu hanya sebuah meja kayu besar yang
terbuat dari kayu nangka. Priyatmoko ingat bahwa ia suka memelihara
kepompong di dalam laci meja itu sampai menjadi kupu-kupu yang cantik.
Ia lalu memeriksa laci meja itu barangkali masih ada sesuatu yang
tertinggal. Tetapi tiada yang dapat ditemukan di laci itu kecuali
butiran-butiran debu yang menebal. Di dinding kamarnya masih terpampang
sebuah gambar yang ia buat sewaktu kelas dua, gambar itu melukiskan
keadaan rumah kecil yang dikelilingi kebun jagung dan seorang petani.
Gambar itu dulu ia buat bersama ibunya dan diberi nilai delapan oleh
guru sekolahnya. Lalu ibunya memberi pigura yang terbuat dari bambu yang
di pakukan dan kemudian di pasang di dinding anyaman bambu itu. Gamang
hati anak kecil itu, ia merasa dunianya terampas. Ia tak suka tinggal di
kota sana, karena ia tidak terbiasa hidup ala kota. Mengapakah harus
pindah ke kota, sedang disini semuanya ada. Petualangan-petualangan
alam yang sering dilakukan oleh Priyatmoko dan teman-temannya disini
hanya tinggal kenangan pahit.
Benarkah keluargaku terusir dari tanah kelahiran Ibuku sendiri,
Priyatmoko bertanya dalam hati. Apakah orang dewasa tak mampu berpikir
bahwa sungguh sakit perasaan anak kecil jika terampas ruang hidupnya.
Dan benarkah keributan yang dulu samar di dengar Priyatmoko dari teman
sepermainannya adalah biang kepindahan keluarganya. Keributan yang
disebabkan anak ayamnya yang bertengkar dengan anak ayam milik Ageng
sehingga Ibu kamijo mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu Priyatmoko
menangis. Sungguh keterlaluan jika alasan keributan yang menjadi
pengusiiran itu adalah pertengaran anak ayam. Apakah bukan karena tanah
waris milik kakek itu yang terlalu dini direbut sebelum hari pembagian
waris. Dan mengapa harus tunduk pada durhaka seorang anak menantu kakek
yang mau menguasai segala-galanya. Toh segala-galanya itu hanya tanah
tandus yang tidak berbuah jika tidak dikerjai.
Priyatmoko menangis tanpa sauara, hanya air matanya sederas rasa
sakit yang ditimbulkan oleh keadaan yang demikian. Ia lalu berlari
meninggalkan rumah itu, ia berlari sekencang-kencangnya. Tidak ada
seorangpun mengetahui kehadiran dan kepergiannya di rumah itu. Ia tak
pernah kembali ke tempat itu untuk selama-lamanya.
*******
Tak terasa, usia pernikahan aku dan Mas Epik sudah memasuki
tahun ke empat. Yang awalnya cuman berdua, kini keluarga kecil kami
telah dilengkapi dua buah hati, Sazia dan Fauzan.
Semenjak tahun ke dua pernikahan kami, aku selalu punya keinginan
untuk segera memiliki rumah sendiri. Kalau uang dipakai buat nyewa rumah
terus tiap tahunnya, kan sayang. Maka sejak saat itu, aku bertekad
untuk berhemat agar bisa nabung, mengumpulkan uang buat beli rumah.
“Bu, aku mau beli mainan-mainan kaya punya Raihana Bu!!” Rengek Sazia, anak pertamaku yangg baru menginjak usia tiga tahun.
“Sazia, Ibu nggak punya uang Nak.” Jawabku sambil menatap matanya lekat.
“Yaah, Ibu. Selalu, kaya gitu. Gak punya uang mulu. Bocen!”
Tapi alhamdulillah, Sazia belum pernah ngadat kalau ingin dibelikan sesuatu. Mungkin karena sudah biasa dapat penolakan.
“Sayang, baju kerjaku sepertinya sudah pada belel deh. Kadang aku
jadi gak pede makenya. Kira-kira ada anggaran gak buat bisa beli baju
kerja baru?” Tak butuh waktu lama, aku langsung menggeleng.
“Sabar, Mas. Pake aja dulu yang itu. Selagi belum sobek. Mas pede aja.
Siapa sih orang yang terlalu peduli dengan penampilan orang lain?
Lagian, Mas kan ganteng. Jadi walau pake baju jelek juga tetep masih
keliatan ganteng kok.” Hiburku.
“Bu, makannya tempe lagi, tahu lagi, tempe, tahu. Iiih, aku bocen Bu.
Aku pengen sama daging ayam!” Ucap Sazia suatu makan siang.
“Hus! Kak Sazia nggak boleh gitu. Harus mensyukuri apa yang ada. Tempe
tahu itu makanan bergizi tinggi. Biar Kak Sazia bisa jadi anak yang
pinter.”
Aku memang berupaya semaksimal mungkin untuk bisa berhemat. Ini semua
demi impianku bisa beli rumah. Ya! Uang bulanan yang dikasih suamiku
selalu aku sisihkan sebagian besarnya untuk tabungan.
“Bu, minta sedekahnya Bu!” Ah, pengemis! Baru keluar dari mini
market, membeli kebutuhan bulanan. Aku kurang suka pengemis, apalagi
kalau melihat kondisi fisik pengemis itu yang secara fisik sehat. Aku
tak menggubris pengemis itu.
Terkadang, ada juga sanak famili yang meminta bantuan. Ada yang buat
berobat istrinya, ada yang buat biaya pendidikan anaknya, dan
sebagainya. Sudah bisa dipastikan, aku selalu menolak memberikan bantuan
pada mereka. Bukan aku tak ingin, tapi hasrat dan ambisiku ingin
membeli rumah tak terbendung. Bahkan untuk kepentingan diri sendiri
saja, aku tahan. Aku tak pernah lagi membeli semangkuk baso. Aku hanya
mengupayakan agar aku, anak-anak dan suami terpenuhi makan dan menjaga
supaya keluarga kecil kami tetap sehat.
Alhamdulillah, memasuki tahun kelima, jumlah tabunganku udah mencapai
103 juta. Waah, lumayan besar. Sepertinya keinginanku akan segera
tercapai. Dengan uang segitu, cukup untuk membeli rumah yang mungkin
tidak terlalu mewah
.
Pagi yang cerah. Secerah hatiku yang sudah membulatkan tekad untuk
mengambil uang tabunganku di Bank dan segera mewujudkan impianku.
Membeli rumah!!! Rasanya tidak sabar.
“Mas, aku mau nitip anak-anak ya. Aku ada perlu dulu keluar.” Pintaku pada Mas Epik.
“Mau ngapain ya?”
“Ada deh, pokoknya surprise buat Mas.”
Ya! Memang aku tak pernah menceritakan keinginanku untuk membeli
rumah. Aku juga tak menceritakan bahwa aku menghemat selama ini hanya
demi ingin segera mewujudkan impianku ini. Tapi syukurnya suamiku memang
tak pernah mau tahu. Paling ia sempat heran, apa memang kondisi saat
ini sedang begitu sulit, sehingga uang bulanan yang menurutnya bisa
lebih dari cukup kalau hanya untuk memenuhi keinginan anaknya berganti
lauk pauk yang lebih mewah seperti daging? Atau sekedar untuk membeli
baju kerjanya yang memang sudah belel? Namun, aku selalu menjawab,
“Uangnya buat tabungan masa depan, Mas.”
Aku sudah ada di Bank. Kulihat tumpukkan uang yang banyak di depan
mata. Membuat kilauan-kilauan yang mungkin hanya aku sendiri yang dapat
melihatnya.
Sudah kumasukkan semua ke dalam tas. Aku melangkahkan kaki dengan sangat ringan. Tunggu hei rumah! Aku akan segera memilikimu.
Tiba-tiba saja aku merasa dunia ini sangat gelap.
Apa aku buta? Ah,
tidak, kesadaranku mulai melemah.
Aku sepertinya tidur. Tidak! Lebih
tepatnya pingsan!
Kenapa aku bisa pingsan? Apa aku belum makan tadi
pagi?
Sudah! Kenapa?
Ketika terbangun, aku mendapati diriku di sebuah lorong kamar mandi
umum.
Ah tidak! Apa yang terjadi?
Sontak aku langsung melihat isi tasku.
Dan benar dugaanku. Semua uang yang telah lelah aku kumpulkan kini
telah lenyap dengan begitu mudah.
Aku benar-benar rapuh. Hatiku
terkoyak. Asaku seakan terlebur bersamaan dengan telah meleburnya uang
itu. Siapa ya Allah? Siapa yang tega mengambil apa yang telah menjadi
milikku? Uang itu, adalah harta yang selama ini sulit bagiku untuk
mengumpulkannya. Tapi dia, telah tega mengambilnya, tanpa perasaan!!!
Ah, aku benar-benar berada dalam ujung penyesalan.
Apa ini ya Allah? Apakah ini ujian bagiku? Atau teguran!
Rasanya malas sekali pulang ke rumah dengan hati yang begitu
terkoyak. Ingin rasanya menjerit.
Meluapkan segala emosi dalam diri ini.
Kulangkahkan kaki dengan sangat berat.
Ya! Berat sekali.
Ketika sampai di rumah, aku langsung menghampiri suamiku. Dia terlihat keheranan.
“Kenapa, Sayang? Mana nih surprisenya?” Aku tersenyum, getir.
“Maafin aku, Mas. Maafin aku!!” Berlinang air mata, karena tak kuasa menahannya.
“Maaf karena mungkin selama ini aku telah dzalim sama Mas, juga sama
anak-anak. Aku terlau egois. Aku Ibu dan juga Istri yang jahat!”
Ya!
Hanya itu yang mampu aku ucapkan.
Suamiku mengernyitkan dahinya. Mungkin
heran dengan sikapku ini.
Aku menyesal selama ini mengorbankan mereka demi keinginanku. Dan
Allah mungkin telah menegurku. Bersamaan dengan lenyapnya uang itu, kini
kutoreh dalam hatiku sebuah janji. Janji bahwa aku akan menjadi manusia
yang dermawan. Tak peduli kalau aku harus menjadi kontraktor seumur
hidup.
Asal keluarga, sanak famili, juga orang-orang di sekitarku
bahagia.
Ternyata bagi Allah, semuanya mudah. Dia telah memberikan aku
surprise, yang menghantarkan aku pada sebuah cahaya. Cahaya kebaikan
yang selama ini tertutupi awan ambisiku yang mambabi buta.
*******
~* PELANGI TERAKHIR *~
Sayup-sayup angin senja mengiringi tarian rumput liar di sela paving
block yang menanti nasibnya di ujung gunting itu. Di ujung barat daun
jendela setengah terbuka dengan tirai putih melambai halus, di dalamnya
lelaki tua di atas kursi roda terbatuk-batuk memanggilku.
“Haikal.. Haikal.. kemari nang!” teriaknya pelan, suaranya berat
sehingga beberapa saat aku tak mendengarnya barangkali juga akibat suara
ribut dari gesekan sapu lidi.
“Haikal..”
PRAANGG
Ku lempar sapuku begitu mendengar suara gaduh seperti sesuatu yang
pecah, saraf-sarafku seakan bekerja lebih cepat menyampaikan kecemasan
yang bergumul di hati naik ke pusat otak.
“Ayah.. ayah kenapa?” aku berlari masuk, kudapati ayah tengah
mengatur napasnya, kuah sup tumpah ke lantai, mangkuknya pecah
berantakan bersama serpihan kaca gelas yang ikut terjun. Kulihat tangan
ayah berdarah, aku mendesah.
“maaf ayah, tadi Haikal ga denger!”
Ku raih peti obat, kubersihkan luka ayah dengan air hangat lalu diberi
anti septic dan dibalut kasa. “baju ayah kotor, ayah mandi pake air
hangat yaa?” tawarku.
“Haikal, apa kau tak kerepotan mengurusi ayah?” tanyanya ragu.
Aku tersenyum “tentu tidak dong yah, bukankah ayah juga merawatku sejak
masih kecil?” kenangku sambil mendorong kursi roda menuju kamarnya,
kamar tidur bernuansa klasik dan natural, dindingnya berlukiskan serat
kayu jati, di sisi ranjang terdapat rak buku dari bambu di dalamnya
berjejer puluhan bahkan mungkin mencapai ratusan buku science, agama,
sosial-budaya hingga sastra membuat aku betah berlama-lama di sana,
ditambah lagi lukisan besar air terjun di kaki gunung yang nampak hidup.
“ayah tunggu sebentar ya, Haikal bereskan dulu pecahan mangkuk, sekalian memanaskan air buat ayah mandi!” pesanku
“nanti kalau bi Tinah mau pulang, suruh berikan saja beling itu ke mang Udin tukang rongsok yang suka lewat itu”
“siap ayah” jawabku.
Aku beranjak keluar kamar, beling yang masih berceceran kukumpulkan dengan sapu dan dimasukan ke dalam kantong plastik.
‘cermin tak pernah berdusta yang indah topeng semata’
Baru saja ku bangkit berdiri, nada dering ponsel mengalihkan perhatian.
“Assalamu’alaikum!” suara di balik telepon
“wa’alaikumsalam, Andy ada apa?”
“besok kamu jadi ikut muhibah, kan?”
“jadi dong ndy, aku pengen banget ini pertama kalinya buat kita, bukan?”
“semangat banget, yaudah siap aja ya, besok kutunggu di tempat biasa, assalamu’alaikum!”
“wa’alaikumsalam”
craash
“ouuw..” jeritku, beling yang tadi kubungkus kembali jatuh melukai punggung kakiku, tidak terlalu parah.
Selesai kumandikan ayah, aku menyuapinya makan. Ayah terkena strooke 5
tahun lalu, mungkin karena kelelahan mengajar, dulu ayah seorang dosen
mikrobiologi di Undip, menjelang UN kelulusan SMA ayah memang bekerja
lebih giat demi melunasi SPP agar aku bisa ikut UN. Entahlah kenapa ayah
mengorbankan kesehatannya demi aku, katanya beliau bangga padaku,
padahal aku merasa belum bisa melakukan sesuatu yang luar biasa buat
ayah, hanya saja aku berusaha mewujudkan mimpi ayah, beliau ingin aku
menjadi dokter.
Aku bersyukur pengorbananku tak sia-sia tentu saja doa ayah turut
berperan, aku diterima di fakultas kedokteran UIN wali songo. Bagiku
ayah adalah super dad, beliaulah yang membesarkanku dengan tangan yang
cekatan menuangkan susu ke dalam botol, karena bunda telah menukar
nyawanya dengan nyawaku saat aku dilahirkan.
“wah, ayah makannya lahap sekali” ujarku bahagia
“bagaimana tidak, ayah bangga melihatmu telah dewasa, kamu itu separuh
nyawa ayah, kalau tak ada kamu ayah tak punya gairah hidup lagi, makanya
ayah ridho tidak pernah menikah lagi sejak kau dilahirkan!” terangnya
“ahh, ayah pasti kesepian, ayah butuh teman bicara, justru Haikal mendukung ayah menikah lagi!”
“ayah sudah tua nang, sebentar lagi juga mati”
“huss, ayah ini bicara apa?!”
“uhuk..uhuk” ayah tersedak barangkali bentakanku tadi mengejutkannya.
Aku turun dari ranjang meraih cawan teh pahit yang mematung di atas meja.
“kakimu kenapa, nang?” tanya ayah terkejut melihat kakiku agak pincang.
“ini tadi kejatuhan beling”
“sudah diobati?” tanya ayah
“sudah, tapi masih pedih?” kataku
“kalau begitu, besok kamu gak boleh ikut muhibah IIMA di Malaysia ya nang, nanti sakitnya semakin parah!” larang ayah.
“hmm, Haikal tidak sakit ayah, cuma luka kecil besok juga sembuh”
bantahku sembari mencium ayah dan berlalu, dari balik pintu ku dengar
ayah mengeluh kecewa.
Surya semakin tenggelam, terbayar sudah kepenatan hari ini setelah
kubasuh tubuhku dengan air hangat, kini saatnya pertempuran otak
dimulai, beberapa mata kuliah membuatku merasa gila, entah karena memang
otakku yang telat atau karena waktuku lebih banyak untuk ayah. Kuraih
notebook dan mulai browsing, innerbody.com tampilan situs anatomi itu
membuat otakku semakin blank, kedokteran memang tak bisa lepas dari
anatomi dan fisiologi. Untunglah pekerjaan rumah sedikit terbantu oleh
bi Tinah yang biasa menolongku, ia akan senang jika pulang diberi
makanan atau sesekali beberapa sukat beras. Simbiosis mutualisme,
begitulah aku menyebutnya.
Aku memang kerepotan mengurusi ayah, apalagi setelah mas Ardhi
menikah dan bertugas di BKSDA Jogyakarta pekerjaanku bertambah 2 kali
lipat. Aku merawat ayah tidak setelaten ayah merawatku, 2 tahun lalu di
malam idul fitri ayah kolaps karena kelalaianku, mas Ardhi yang kukabari
memakiku habis-habisan dan tak mengizinkan bertemu ayah selama di rumah
sakit. Aku tak mau kejadian itu terulang kembali, tapi aku sangat ingin
ikut muhibah mahasiswa kedokteran islam itu di Kuala lumpur untuk
pertama kalinya bersama teman-teman seangkatan. Biar kupercayakan ayah
pada perawat yang biasa membantuku.
***
“assalamu’alaikum..” aku mengetuk pintu kamar ayah seba’da sholat
subuh, beberapa kali belum ada jawaban, kubuka pintu sedikit, rupanya
ayah masih khusu dengan do’anya, beberapa kali beliau menyebut namaku.
“ayah..!” panggilku. Ayah menoleh, air mata tergenang di kelopak yang
mulai keriput itu, aku menghampiri.
“Kamu ga usah ikut muhibah itu yaa!” pinta ayah.
“lha kenapa, bukannya seminggu lalu ayah sudah mengizinkan?”
“ayah gak mau jauh darimu, ayah takut saat kita jauh, ayah sudah tak punya waktu lagi!”
“ayah kok bicaranya gitu?” selidikku.
Ayah diam merenung, sorot matanya kosong menerawang jauh entah kemana.
Ayah meletakan kepalaku ke dadanya, persis seperti ketika aku panas
demam tinggi 20an tahun lalu,
titik-titik air asin menyapa wajahku.
“ayah kenapa menangis?” tanyaku.
“Haikal, kau yang membuat ayah masih bertahan hingga sekarang, ayah
takut kau kenapa-kenapa, ayah mohon jangan ikut muhibah itu, satu kali
ini saja, ayah janji setelah ini tak akan melarang kamu lagi”
desaknya.
“tapi, ayah…”
“ayah mohon, sayang”
“ahh, kenapa sih ayah gak ngerti” bentak ku, aku beranjak pergi dan membanting pintu.
“Yaa Allah” lirih ayah
Aku persiapkan perjalananku ke Malaysia, biar untuk satu kali ini
saja aku jadi anak durhaka pikirku, pagi itu aku pergi tanpa pamit.
Garuda sudah take off meninggalkan bandara Ahmad Yani. Aku duduk dekat
jendela, di sampingku Andy sedang asik dengan musik Inteam favoritnya.
Perjalanan terasa lama, aku teringat ayah, sudah makankah? sudah mandi?
siapakah yang sudi membersihkan najis ayah?, pikiranku menerawang jauh,
segumpal penyesalan datang menyiksaku, sementara kampung halamanku
semakin jauh. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melakukan hal bodoh
ini, apa yang harus kukatakan pada ayah saat pulang nanti.
Awan kelabu tipis sedikit meredam mentari yang hampir bertengger di
puncak kepala saat Garuda landing di bandara Sepang, 3 buah bus jemputan
dari KBRI telah menanti, satu persatu kami menaiki bus karena awan
semakin tebal dan air langit mulai berjatuhan. Bus melaju kencang
membelah kabut yang semakin pekat tak terkendali karena aspal yang licin
membawanya pada posisi doyong dan…
SHIIRT… DHUAARR… ALLAHU AKBAR…
Bus terbanting menimbulkan dentuman keras, aku terdorong ke depan,
melayang dan semakin ringan, perlahan semua menghilang yang kuingat
hanya AYAH…
(HSC Medical Center)
“Alladziina idzaaa ashoobat.humm mushiibatun qooluuu innalillahi wainnaa ilaihi rooji’uun”
Sayup-sayup kudengar seseorang membaca al-Qur’an tilawahnya membuat hatiku tenang.
“ayah…ayah…” suaraku seperti tertahan, hawa dingin membuat seluruh
tubuhku terasa kram, di manakah aku, apa aku masih hidup, apakah
rantai-rantai Zabaniyah itu yang membuatku tak mampu bergerak sama
sekali.
“Allah… Allah…” kucoba bersuara tapi lidahku tetap kelu.
“Haikal…” suara lembut menyapaku begitu kutemukan setitik cahaya,
kucari asal suara itu. Seorang lelaki berbaju hitam tersenyum, aku
menajamkan penglihatanku.
“mas Ardhi” sapaku lirih “di mana ayah..?”
“tenang dulu ya, ayah baik-baik saja di rumah, ini masih di Kuala lumpur” bisiknya mengembalikan memoriku.
“hmm, Andy gimana?” tanyaku.
Mas Ardhi tertawa kecil, “Andy tidak ikut bus yang kau tumpangi, bukan.
Malah kemarin dia yang sibuk mengurusimu, mas baru sampai tadi pagi
temenin ayah dulu, tadinya ayah maksa mau ikut kesini”
“sekarang Andy kemana”
“Andy sudah pulang acaranya batal”
“aku juga mau pulang” rengek ku.
Mas Ardhi diam beberapa saat, ia membantuku bangun, merengkuh dan membisikanku sesuatu…
“Yaa Allah…” aku tak bisa membendung air mataku, kecelakaan itu telah
merenggut kaki kiriku, kini hanya tinggal setengah betis, kaki yang
kemarin dicemaskan ayah karena luka kecil itu, aku ingin berteriak
sekuat-kuatnya
“Ayah… maafkan akuu!!!”
“tabahkan hatimu, dik” mas Ardhi ikut menangis dan memperkuat
dekapannya. Aku menangis seperti anak kecil, kecewa… kecewa pada diriku
sendiri yang tak mau mendengar apa kata ayah yang memiliki ketajaman
batin.
Sore itu juga mas Ardhi membawaku pulang meski belum pulih betul,
karena aku yang terus meracau, mas Ardhi tak henti-henti menenangkanku
yang terus memanggil-manggil ayah.
Hari mulai gelap ketika kursi rodaku memasuki beranda rumah, sepi… di mana ayah?
Hanya Andy yang terlihat gelisah menunggu kami.
“mana ayah, mas?” tanyaku
Mas Ardhi bersimpuh di hadapanku.
“Haikal, maaf mas telah bohong, sebenarnya ayah kolaps begitu mendapat
kabar kau kecelakaan, ayah memaksa ikut ke Kuala lumpur, tapi itu tidak
mungkin, karena terus memaksa akhirnya mas kalah, dengan berat hati mas
membawanya, belum sempat sampai di bandara, keadaan ayah semakin
mengkhawatirkan, mas putar balik ke rumah sakit, tapi sayang… adik ku,
Allah lebih berkuasa”
“ayah gimana sekarang, mas?” desak ku
“ayah tidak akan merasakan sakit lagi”
“maksudnya.. Ayah?” batinku tersentak tak percaya, mas Ardhi tertunduk dengan mata sembap.
“ayah sudah tidak ada” katanya lirih.
….”innalillahi wainnailaihi roji’uun”….
Aku tak percaya atas semua yang terjadi, aku menangis sejadi-jadinya,
kalau saja aku mampu memenjarakan egoku mungkin semua ini tak kan
terjadi, aku gagal memberikan pelangi untuk ayah, karena egoku pula
muhibah berakhir musibah, musibah yang bertubi-tubi.
Aku memutar kursi rodaku, membelah pagi yang masih mengembun,
meninggalkan gundukan tanah basah itu. Batinku tak henti-hentinya
menjerit
“Ayah… ku mohon maafkan akuu”
*******
~* JALAN HIDUPKU *~
Ku pandangi langit sore ini. Terasa kelam dan redup, meski
sebenarnya hari ini cerah. Namun hati yang risau ini membuatku merasa
kelam. Aku duduk di depan rumah yang hanya berdinding kardus-kardus
bekas. “Sampai kapan aku terus begini? Huft… Aku ingin sekolah,” ucapku
dalam hati sambil melamun. “Dion, kamu nggak ngaji, Nak?” Tanya Ibu yang
keluar dari pintu rumah. “Nggak, Bu. Dion lagi malas,” jawabku singkat.
Ibu menyandingku duduk di atas kursi panjang. Dan memberiku nasehat,
agar aku tetap semangat dalam segala hal. “Lho, nggak boleh gitu donk.
Memangnya kamu tidak ingin jadi orang sukses? Kamu ingin jadi dokter,
kan? Ayo donk semangat, Dion nggak boleh malas ngaji yach. Siapa tahu
kamu bisa jadi penerusnya Ustadz Falah (guru ngajiku),” tutur Ibu sambil
mengelus rambutku. “Bagaimana Dion bisa jadi dokter kalau Dion nggak
sekolah? Dion ingin sekolah, Bu…” jawabku cetus. Ibu hanya diam dan
menundukkan kepala. Mukanya terlihat gelisah dan sedih. “Sabar ya, Nak.
Bapak dan Ibu akan berusaha mencari uang untuk biaya sekolah kamu.
Yach?” ucap Ibu sembari memelukku. Aku bersyukur mempunyai orang tua
yang sangat menyayangiku. Akhirnya aku mau berangkat ngaji. Karena tak
perlu mengeluarkan biaya, dengan semangat aku melangkah menuju masjid di
dekat kampungku. Aku termotivasi oleh nasehat-nasehat Ibu tadi. Aku
harus bisa bahagiakan Bapak Ibuku.
Di rumah…
Ketika Bapakku baru pulang kerja memunguti sampah, Ibu sudah menunggu di
teras. Dia menjelaskan bahwa aku benar-benar ingin sekolah seperti
teman-temanku. Bapak dan Ibu begitu resah memikirkan bagaimana
mendapatkan uang untuk menyekolahkan aku. Sepulang mengaji, aku bantu
Bapak merapikan dan memilah sampah dan barang bekas yang baru ia punguti
di perumahan-perumahan kotaku. Tiba-tiba Bapak menyodorkan beberapa
buku bekas yang dia ambil dari sampah-sampah untukku. “Dion, ini buat
kamu. Kebetulan tadi ada ibu-ibu membuangnya, untuk sementara kamu
belajar ini dulu ya, Nak,” ucap Bapak. Aku terdiam sejenak melihat
buku-buku itu, lalu ku ambil dan ku buka lembar demi lembar. Betapa
malangnya nasib buku itu, padahal masih memiliki banyak manfaat meski
sudah jelek dan kusut.
Selesai membantu Bapak, ku rapikan, ku tata dan ku pelajari buku-buku
yang ku dapat dari Bapak tadi. Alhamdulillah aku bisa memahaminya,
meski tak banyak dan meski buku itu untuk pendidikan SMP, padahal umurku
baru 10 tahun. Melihatku sedang belajar, Ibu duduk menyandingku sembari
bertanya, “Belajar apa Dion?” “Ini, Bu. Tadi Bapak menemukan buku-buku
bekas di sampah. Trus, dikasih ke Dion. Lumayanlah buat belajar,”
jawabku penuh semangat. Tanpa sepengetahuanku, air mata Ibu menetes
karena melihatku belajar. Mungkin Ibu merasa prihatin atas nasibku yang
tak kunjung sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Mmmm… Bu, kok para ahli bisa tahu ya organ-organ dan jaringan tubuh
manusia. Apa mereka membunuh manusia dulu lalu dibelah?” tanyaku tentang
isi buku yang sedang ku pelajari. Ibu mengusap air matanya, lalu
menjawab “Ibu juga tidak tahu, Nak. Dulu Ibu mu ini hanya lulusan SD.
Yang jelas mereka pasti mempunyai alat-alat canggih. Tidak mungkin
membunuh manusia. ”Banyak yang belum aku pahami tentang isi buku itu,
salah satunya tentang Ilmu Alam. Tapi aku juga tak tahu, kepada siapa
aku bertanya tentang isi buku ini?
Bapak dan Ibuku hanyalah lulusan SD,
karena dulunya mereka juga terhambat ekonomi.
Keesokan harinya, aku sengaja bangun pagi-pagi sekali, sholat
tahajjud, bantu-bantu Ibu, dan mandi. Lalu aku segera bersiap untuk
berangkat ke salah satu sekolah besar di kotaku dan mengikuti pelajaran,
meskipun secara diam-diam. “Mau ke mana, Dion?” Tanya Ibu yang sedang
memasak nasi. “Ke sekolah, Bu. Dion ingin melihat suasana sekolah di SMP
1 Budi Utomo,” jawabku sambil merapikan rambut di depan cermin. “Tapi
kamu kan belum sarapan. Sarapan dulu ya?” “Nggak usah, Bu. Aku minum air
putih saja,” ucapku sembari mengambil segelas air putih di atas meja.
Ku cium tangan Ibuku. Dengan semangat aku berangkat menuju SMP 1 Budi
Utomo yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. “Assalamu’alaikum…”
teriakku keluar dari pintu rumah. “Wa’alaikumsalam… Hati-hati ya, Nak.”
jawab Ibu khawatir, sambil terus melihatku berjalan semakin jauh dari
rumah. Aku berjalan menelusuri rel kereta api dan pasar-pasar yang sudah
ramai sejak tadi. Fajar pagi yang mulai muncul di ufuk timur dan lalu
lalang kota metropolitan mengiringi langkahku berjalan, semangatku
semakin berkobar ketika aku melihat beberapa pelajar berangkat sekolah
dengan seragam rapi, dan mengenakan tas. Semakin dekat langkahku dengan
SMP yang kutuju, langkahku mulai ragu. Aku lihat para siswa berseragam
rapi dan mengumbarkan senyum cerah di pagi ini. Keceriaan mereka tak
seperti aku, yang hanya menghabiskan waktu untuk memunguti sampah.
Awalnya aku ingin pulang lagi, tapi nasehat dan motivasi Ibu selalu
terngiang di pikiranku. Akhirnya aku beranikan diri, aku mantapkan
langkahku menuju belakang sekolah secara diam-diam.
Ketika bel masuk kelas, jam pelajaran dimulai. Aku perhatikan dari
jendela luar sudut kelas, guru sedang mengajar muridnya. Seolah aku juga
muridnya, aku pahami betul penjelasan dari guru itu. Dan aku catat di
buku tulis bekas pemberian Bapakku.
Hal itu aku lakukan rutin sampai beberapa Minggu, bangun pagi dan
semangat menuju sekolah itu. Serasa aku sudah bersekolah seperti
teman-teman lain. Tapi suatu hari, seorang tukang kebun di sekolah itu
memergokiku, dia mengira aku pencuri. Padahal aku hanya ingin belajar.
Akhirnya aku diseret ke ruang keamanan. Seorang satpam bermuka seram dan
bertubuh besar memakiku habis-habisan. Bahkan dia sempat memukulkan
tongkatnya ke kedua tanganku. Aku hanya bisa diam dan menangis, lalu aku
diusir dari sekolah itu. Satpam itu mendorongku keluar pintu gerbang
sekolah. Aku pulang dengan langkah lunglai, tubuhku begitu lemas, aku
seperti sampah kaleng yang ditendang jauh-jauh. Ya Allah… kenapa mereka
tak mengerti bahwa anak seperti aku sangat ingin sekolah.
Sejak kejadian itu, aku sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di
sekolah itu lagi. Rasa kesal, marah dan kecewaku pada tukang kebun dan
satpam itu masih terpendam di dalam hati. Aku sangat kecewa karena aku
difitnah. Namun tekadku untuk bersekolah dan mencari ilmu tak akan
pernah pudar. Aku ingin mewujudkan cita-citaku menjadi dokter. Semakin
hari ambisiku semakin besar. Aku selalu berdo’a kepada Allah agar
cita-citaku bisa tercapai, dan aku bisa membahagiakan Bapak Ibuku.
“Bapak, kok nggak ada buku yang dibuang lagi ya?” tanyaku ketika
membantu Bapak memunguti sampah-sampah di perumahan. “Yahh.. semoga saja
ada. Biar kamu bisa belajar,” jawab Bapak sambil mengais-ngais sampah.
Aku sangat berharap bisa menemukan buku-buku bekas lagi. Entah angin apa
yang membawaku ke jalan buruk. Ketika perjalanan pulang melewati pasar
besar di kotaku, aku lihat sebuah dompet mewah terjatuh dari saku
seorang mahasiswi. Tanpa berpikir panjang, langsung saja ku ambil dompet
itu tanpa ada yang tahu. Lalu, ku masukkan ke saku celanaku. Seolah tak
ada apa-apa, aku ikuti lagi langkah Bapak pulang. Sesampainya di rumah,
hidangan nasi dan tempe sudah disiapkan Ibu di atas meja.
“Dion, makan dulu ya? Trus sholat dan ngaji,” tutur Ibu setelah ku
letakkan barang-barang bekas hasil pungutanku dengan Bapak. “Iya, Bu,”
jawabku sembari berjalan mengambil piring.
Selesai makan dan mandi, aku berangkat ke masjid untuk mengaji,
sekalian aku sholat ashar di sana. Sebelum berangkat ku buka sejenak
dompet yang ku dapat dari pasar tadi. Aku terkejut, dua belas lembar
uang 100 ribuan dan beberapa lembar 50 ribuan memenuhi dompet warna
klasik yang terlihat mewah itu. Juga beberapa lembar foto pemilik dompet
itu, beserta KTPnya yang bertuliskan nama “Alya Nur Alita”. “Wah… uang
sebanyak ini bisa buat biaya sekolahku donk,” ucapku dalam hati yang
riang ini. Pikiranku tertuju pada khayalan ketika aku sudah berseragam
rapi dan berkumpul bersama teman-teman untuk belajar. Ah.. aku ngaji
dulu, tak lama lagi aku akan masuk sekolah. Khayalanku menghilang. Ku
tutup kembali dompet itu dan ku selipkan di bawah bantal, lalu aku
berangkat ngaji. Selang beberapa menit setelah aku pergi, Ibu sengaja
merapikan kamarku dan menemukan dompet itu di bawah bantal.
“Astaghfirullahal’adzim… dari mana Dion mendapatkan barang ini?” Ibuku
terkejut dan langsung memanggil Bapak. “Mas Aryo…!!” teriaknya Mendengar
teriakan itu, Bapak bergegas menuju sumber suara. “Ada apa, Bu?”
“Lihatlah Mas…” jawab Ibu sambil menunjukkan isi dompet itu. “Hah??!!
Milik siapa ini, Bu?” Bapak pun terkejut. “Aku juga tidak tahu. Aku
menemukannya di bawah bantal Dion, Pak.” Ibu dan Bapak semakin khawatir.
Dan mereka mengira bahwa aku mencuri dompet itu dari seseorang. Mereka
menunggu kedatanganku di dalam rumah. Selang setengah jam.
“Assalamu’alaikum…” Aku masuk rumah dan mencium tangan Bapak dan Ibu.
“Wa’alaikumsalam..” jawab Bapak Ibu serempak.
“Dion, duduk sini dulu, Nak,” tutur Ibu lembut. Aku merasa ada yang
aneh. Tak biasanya Bapak dan Ibu terlihat serius seperti ini. Suasana
pun hening sejenak. Hatiku bertanya-tanya, “Ada apa ini?” “Dion, dari
mana kamu dapatkan dompet ini?” Tanya Ibu memulai pembicaraan sambil
menunjukkan dompet mewah itu. Aku hanya diam menundukkan kepala.
Jantungku berdetak kencang. “Dari mana, Dion? Jawab..!!!” bentak Bapak
sambil menatapku tajam. Jantungku seperti tersambar petir, Bapakku tak
pernah semarah itu padaku. “Jawab jujur, Nak. Dari mana dompet ini?”
lanjut Ibu dengan suara lembut. Ibuku memang sangat sabar dalam
menghadapi anaknya yang bandel ini. “A… aku.. aku nemu..” jawabku gugup.
Keringatku mulai mengucur di leher. “Jangan bohong kamu!! Kamu…”
kemarahan Bapak semakin memuncak, hampir saja tangannya diayunkan ke
mukaku. Untungnya Ibu berusaha menahannya. “Mas… Jangan!! Dia anak kita
satu-satunya,” gertak Ibu sambil menahan tangan Bapak. “Dion, kamu
jangan bohong. Jawab yang jujur, Nak. Insya Allah jika kamu jujur, Bapak
tidak akan memarahi kamu lagi,” lanjutnya. Air mataku mulai menetes,
dan semakin mengalir. “Aku ingin sekolah… Aku ingin sekolah seperti
teman-teman yang lain…” ucapku sambil menangis terisak-isak. “Lalu dari
mana kamu dapat dompet dengan uang sebanyak ini, Dion…” sahut Ibu.
Sedangkan Bapak masih berusaha menahan amarahnya.
“Tadi waktu lewat pasar, dompet itu jatuh dari saku orang. Trus Dion
ambil. Dion pikir uangnya bisa untuk bantu Bapak Ibu menyekolahkan
Dion,” jawabku sambil terus menangis.
“Ya… Allah… Bukan begitu caranya, Dion… Itu haram! Kenapa tidak kamu
kembalikan pada pemiliknya?” kata Bapak yang amarahnya mulai mereda. Aku
hanya terdiam menunduk, menyesali perbuatanku. “Dion… Bapak dan Ibu
akan berusaha keras mancari uang untuk biaya sekolah kamu. Tapi bukan
dengan cara yang haram. Kita juga harus sabar dengan cobaan ini. Bapak
janji akan menyekolahkan kamu, Nak,” lanjutnya. Ibu juga mengangguk atas
perkataan Bapak. Ku coba mengangkat kepalaku dan menatap Bapak Ibu.
Meski air mata ini terus mengalir. “Maafkan Dion, Bapak, Ibu…” “Jangan
diulangi lagi ya, Nak,” tutur Ibu sembari memelukku, Bapak pun juga ikut
memelukku. Air mataku semakin mengalir deras, betapa bodohnya aku
melakukan hal yang sangat dilaknat Allah. Dan betapa bahagianya aku
masih mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku. “Ya sudah. Besok
Bapak bantu kamu mencari pemilik dompet ini, ya…” kata Bapak. Aku
mengangguk.
Esok harinya di pagi hari, aku dan Bapak kembali menekuni pekerjaan
yang dilakukan Bapak sejak aku lahir. Memunguti dan mengais-ngais sampah
di pasar, sambil mencari pemilik dompet yang bernama Alya Nur Alita
itu. Ku telusuri setiap sudut pasar sambil ku amati foto KTP yang ada di
dompet itu. Setelah kira-kira 2 jam aku mengitari pasar, akhirnya ku
temukan pemilik dompet mewah itu. “Maaf, Kak. Apa ini dompet Kakak?”
tanyaku menghentikan langkahnya. “Oh iya, Dek. Alhamdulillah… Dari mana
kamu menemukannya?” tanya perempuan berjilbab itu. “Maaf, Kak. Kemarin
waktu terjatuh dari saku Kakak, langsung aku ambil. Tapi demi Allah, aku
sama sekali tidak mengambil uangnya sepeserpun.” Dia membalasnya dengan
senyum lebar, seolah melihat kelucuan pada diriku.
“Iya… Kakak percaya kok sama kamu. Mmmm… nama kamu siapa?” tanyanya
sambil mengelus rambutku. “Dion,” jawabku singkat. Dia pun juga
memperkenalkan dirinya padaku. Panggilannya adalah Kak Alya. Aku
terlibat perbincangan dengan anak orang berduit itu, dan kita semakin
mengenal dekat meskipun baru pertama kali bertemu. Tak lama
berbincang-bincang, Bapak datang menghampiriku. Kami pun saling mengenal
hingga terlihat akrab. Bahkan Kak Alya tahu apa yang ada dalam
pikiranku. Aku sangat ingin bersekolah. Pantas saja, karena kak Alya
kuliah di jurusan Psikologi. Suatu hari kak Alya berkunjung ke rumahku
yang kecil, kumuh, dan sangat tidak nyaman. Baru kali ini aku temui
seorang yang cantik dan baik hati. Aku, Bapak, Ibu dan kak Alya
berbincang-bincang dan saling bertukar pengalaman. Ketika Ibu
menceritakan kehidupan keluarganya yang selalu miskin, air mata kak Alya
mulai mengalir di pipinya, dia terharu. Begitu juga Bapak dan Ibu.
Sedangkan aku, lebih tak kuasa menahan tangis.
Aku lari keluar rumah, ku kerahkan seluruh tenagaku untuk berlari
sekencang-kencangnya. Entah bisikan apa yang membuatku berhenti tepat di
tengah rel kereta api. Pikiranku serasa kacau. Aku ingin mengakhiri
semua beban dan penderitaan ini. Aku tak mau membebani Bapak Ibu lagi.
Aku berdiri memejamkana mata, dan berharap kereta akan datang menindas
tubuhku yang tak berguna ini. Bapak, Ibu dan kak Alya berusaha
mengejarku dan mencegahku. Kak Alya pun langsung menarikku keluar dari
rel dan memelukku erat sambil menangis. “Kamu kenapa Dion?” tanya kak
Alya. “Dion.. Kamu kenapa, Nak? Jawab!” sambung Bapak. Aku terdiam
sejenak. “Aku tak mau membebani Bapak dan Ibu terus. Selama ini Dion
hanya menyusahkan Bapak Ibu. Dion tidak bias sekolah. Dion tidak bisa
bahagiakan Bapak Ibu. Biarkan Dion pergi… Dion tidak berguna…!!”
teriakku kencang. Suara kereta melaju kencang mengiringi teriakanku.
Angin berhembus mengikuti arah kereta melaju dan menghempas rerumputan
di sekitar rel.
“Tidak Dion!! Kamu sangat berguna buat Bapak dan Ibu. Kamu anak kami
satu-satunya…” sahut Ibu yang menangis terisak-isak. Ibu sangat
menyayangiku, dan beliau sangat takut kehilangan aku. “Sadar Dion! Masa
depan kamu masih panjang. Kakak yakin, kamu pasti akan jadi orang yang
bisa membahagiakan Ibu Bapak. Yach…” ucap kak Alya sembari memegang
kedua bahuku.
Semuanya terdiam, hanya isak tangis yang terdengar. Kak Alya merasa
trenyuh, dia berusaha berpikir dan mencari jalan keluar untuk bisa
meringankan beban keluargaku. Akhirnya dia mengajakku kembali ke rumah,
Bapak dan Ibu mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah, kak Alya
memutuskan untuk merawatku di rumahnya yang sungguh bagaikan istana.
Sedangkan Bapak dan Ibu membantu pekerjaan rumah. Ibu membantu kak Alya
dan keluarganya untuk merawat rumah serta memasak, dan Bapak membantu
tukang kebun untuk selalu merawat tanaman yang mengelilingi rumah
keluarga kak Alya. Tak ku sangka, keluarga kak Alya begitu baik. Mereka
mau menyekolahkan aku dan memperlakukan Bapak Ibuku seperti keluarga
sendiri.
Sepuluh tahun kemudian, akhirnya aku lulus kuliah. Bapak, Ibu dan
keluarga kak Alya sangat senang mengunjungiku waktu wisuda di kampus
tempatku kuliah. Sungguh, Allah Maha Adil. Tak ku sangka, aku juga
mendapat penghargaan sebagai wisudawan termuda dan berprestasi. “Terima
kasih, kak. Dion sangat berhutang budi pada kakak dan keluarga. Terima
kasih..” ucapku ketika kupeluk kak Alya. “Iya Dion. Kakak dan keluarga
sangat senang Dion jadi orang sukses. Semoga Allah selalu melindungi
kita semua ya..” jawab kak Alya dengan senyum lebar. Kini, aku menjadi
seorang dokter spesialis bedah di rumah sakit daerahku. Aku sangat
bersyukur, Allah mendengarkan do’aku, cita-citaku sejak kecil yang ku
anggap hanya mimpi yang tak pernah menjadi nyata, akhirnya menjadi
kenyataan. Dan aku bisa membahagiakan Bapak Ibuku. Terima kasih ya
Allah… terima kasih kak Alya, aku sangat merasa berhutang budi pada
kakak dan keluarga kakak.
Tapi, belum genap satu bulan aku menjalani profesiku, musibah telah
menimpa kak Alya. Dia dan suaminya mengalami kecelakaan maut. Mobilnya
jatuh ke jurang ketika perjalanan berlibur. Aku pun berusaha membantu
menyembuhkan luka mereka yang parah. Namun Allah berkehendak lain, nyawa
kak Alya dan suaminya tak bisa di tolong lagi. Ya Allah… hati ini
sangat terpukul, kenapa begitu cepat kebahagiaan ini untuk kak Alya,
belum sempat aku membalas kebaikannya, tapi dia sudah pergi ke dunia
lain, selamanya. Tapi aku selalu berharap, kebaikan yang selama ini dia
berikan pada keluargaku, akan dibalas oleh Allah. Sekali lagi, terima
kasih kak Alya, kebaikanmu akan selalu melekat di hatiku. Dan maafkan
kesalahanku, Bapak dan Ibu selama ini.
~ The End ~
Cerpen Karangan: Nur Isna Aulya
Facebook: Nur Isna Aulya
Aku seorang mahasiswi di sebuah universitas negeri di Malang. Keinginan
terbesarku adalah menjadi penulis profesional dan mempunyai kegigihan
tinggi untuk selalu menulis. Tapi hobiku untuk menulis sempat tersendat
bahkan vakum karena tugas-tugas kuliah yang selalu membuatku tak sempat
menulis banyak, bahkan mungkin tak ada inspirasi. Motivasi dan inspirasi
dari teman2 cerpenmu.com selalu aku harapkan. Syukron ^^
~
* TAK SELAMANYA MENDUNG ITU KELABU *~
Entah kenapa, hari ini kursor komputer ku me ‘open new tab’ picture
seorang teman di homepage facebook. picture itu adalah capture gambar
teman saya. isinya adalah wall selamat ulang tahun dari temannya yang
sudah almarhumah. karena penasaran, aku search nama alm. tersebut.
*niat. dan aku lihat lah previous postingannya. sampai nyaris 1 tahun
yang lalu. *semakin niat.
Intinya, dia meninggal karena kecelakaan. kepergiannya yang mendadak
membuat shock orang orang di sekelilingnya. ada beberapa wall dari (yang
sepertinya) pacarnya. mengharukan sekali. ucapan ulang tahun 2011
dimana dia sudah bersamaNya. ucapan bela sungkawa saat saat dia sudah
menghadapNya. bahkan status status alm. masih saya baca. Tiba tiba saya
teringat kakak kelas saya, Alm. Laila yang meninggal mendadak karena
penyakitnya. tiba tiba keingetan penulis favorit saya, Mba Nurul F Huda,
meninggal karena penyakitnya. Membuat saya berfikir bahwa, Umur memang
hanya Allah yang tahu. seandainya kita semua tahu, apapun yang ada di
dunia ini hanya titipan. dan kepadaNya lah kita kembali. Setiap
pertemuan berujung perpisahan. ada yang lahir ke bumi ada yang
meninggalkan bumi. sesungguhnya semuanya selalu berpasangan.
Besok, salah satu rekan kerja saya akan mengakhiri kerjanya d kantor
ini. secara pribadi, saya mengenalnya dekat. pribadinya unik. dan jarang
sekali saya temukan dalam sejarah pertemanan saya. Dia pernah bersama
saya liburan bareng ke Dufan. dia selalu ada untuk membantu saya dalam
hal kerjaan. dia selalu menawarkan bantuan ketika saya merasa lagi
ripuh.
Beberapa hari terakhir, dia bersama saya lemburan sampai jam 3 pagi
untuk membantu merapihkan laporan saya yang akan dicetak pagi harinya.
bagi saya, dia sangaaat baik :) Yang jelas, aku pasti kehilangan. kita
masuk bareng bareng dan ternyata, dia merdeka duluan :D seharusnya aku
senang karena keputusan dia sekarang ini setidaknya membuat dia bahagia.
Selamat menempuh di dunia baru dengan pilihanmu ya teteh. bahagia dunia
akhirat. see you at finish line! :*
*******
~* KATA MAAF TERAKHIR *~
Berkali-kali kusakiti hatinya, hingga air matanya mengering tak mampu
menitikkan bulirnya lagi. Sejak usiaku belia hingga kini umurku 28
tahun, aku masih saja merepotkannya dengan pekerjaanku yang tak berguna.
Banyak orang begitu mencemooh dan menyorotiku seperti kotoran, tetapi
tidak dengannya. Banyak orang terlalu mengucilkan kehidupanku hingga tak
ada ruang lagi untuk mencari alasan memohon bantuan mereka, namun tidak
dengannya. Malam demi malam ia habiskan untuk mencurahkan kalimat
indahnya, memohon dengan tulus dan penuh yakin bahwa suatu hari aku
pasti berubah. Meski aku tak tahu betul seberapa besar luka dan
pengorbanannya, ketika aku kembali lagi pada dosa, ia datang bak
malaikat yang memberiku jalan pulang, ke pelukan hangat seorang ibu.
Ibuku berusia 53 tahun, seorang penjahit yang hanya memiliki sebuah
mesin jahit tua di rumah kecil kami. Jari-jarinya yang mulai keriput,
masih saja dengan sabar menggeluti benang demi benang, membuatkan
pesanan baju banyak orang. Beberapa kali tangannya tertusuk jarum, tetap
saja ibuku meneruskan pekerjaannya, dengan kaca mata silinder seharga
dua puluh lima ribu yang dibelinya di pasar. Tiap kali aku menyuruhnya
ke dokter mata, ibu hanya tersenyum dan meminta mengantarkannya ke
pasar. Sampai di sana, ibu pun mencoba beberapa kaca mata sampai
akhirnya ia menemukan kaca mata yang cukup membuat pandangannya lebih
jelas.
Ibuku seorang diri, sudah 10 tahun ayahku meninggal dunia dan tak
menikah lagi. Hanya tinggal denganku, berdua. Pekerjaannya sebagai
penjahit sudah ia lakukan sejak 30 tahun silam, sebelum menikah dengan
ayahku, di Ponorogo. Selepas pindah ke Malang, ibu pun melanjutkan
profesinya itu. Ia berjuang sendiri, memenuhi semua kebutuhan keluarga
sederhana kami. Masih kuingat wajah ibu yang begitu bersemangat
mendorongku untuk sekolah ke Universitas meski aku tak begitu
menginginkannya. Kata ibu, “Pendidikan itu penting, Nak. Sekolah saja
yang benar, masalah uang, ibu bisa usahakan”, tangannya memegang
pundakku yang jauh lebih kekar dibandingkan badan ibu yang kurus. Ibu
tak peduli denganku yang begitu pemalas, baginya laki-laki harus punya
pendidikan tinggi.
Apa yang ibu lontarkan lewat doanya belum seiring dengan
perjalananku. Tahun-tahun pertama kutinggalkan ibu ke Surabaya bertekad
memenuhi harapannya untuk kuliah di salah satu universitas negeri di
sana. Namun, kebiasaan burukku tak kunjung berhenti hingga lembar demi
lembar uang yang ibu kirimkan lebih banyak kuhabiskan ke tempat tak
berguna, diskotik, penuh kesombongan kuteguk minuman keras yang dijual
mahal di sana. Bila uangku habis, sambil mendesak kuminta ibu untuk
mengirimiku uang lagi. Tetapi itulah ibu, entah darimana ia peroleh
uang, seketika itu ibu akan memberiku uangnya lagi. Namun kebiasaanku
ini tak berlangsung lama. Aku tak lagi berpesta dengan minuman. Seorang
temanku divonis umurnya tak lama lagi karena setiap hari ia meneguk
minuman keras. Tak ingin berujung sepertinya, kupaksakan untuk berhenti.
Lantas bukan berarti aku bertaubat, tetap saja aku mengalihkan
kebiasaan burukku pada kebiasaan buruk yang lain. Aku mulai menekuni
profesi baru, Ah, profesiku sebagai penjudi. Bukannya malah berpikir
serius untuk kuliah, aku yang dengan santai hanya masuk dan mengabsen
muka pada dosen, tak lagi serius mendengarkan penjelasan-penjelasannya
yang seolah hanya lewat di telingaku. Selalu saja mengantuk, dan tak
jarang ku tertidur. Kuhabiskan malam di beberapa tempat bersama
teman-teman baruku, tentu saja pada profesi yang sama. Benar kata orang,
judi tak hanya menghabiskan uang sakuku, namun hartaku yang lain.
Kesenanganku pada judi membuatku tak segan menjual barang-barang di
kamar kosku. Ujung-ujungnya aku pun beralasan untuk membayar ini dan itu
pada ibu, alasan KKN, alasan ikut Semester Pendek, bahkan alasan untuk
penelitian pun kukatakan pula pada ibu.
Masih ku ingat sorot bahagianya saat kuberi tahu bahwa kuliahku akan
segera berakhir. Sudah 6 tahun ibu memberiku segalanya selama kuliah, ia
ingin aku lulus dan wisuda. Ucapnya, ibu akan menggunakan pakaian
bagus, Nak untuk hadir di wisudamu nanti. Aku hanya tersenyum pada ibu,
menciumi tangannya setiap kali hendak pamit ke Surabaya. Ibu pun kembali
berkaca-kaca, karena dalam waktu yang lama ia akan menghabiskan
hari-harinya sendiri lagi. Di tahun terakhir sisa semesterku, ibu
semakin rajin bertanya kapan dan kapan aku diwisuda. Tentu saja aku tak
tega mengatakan yang sebenarnya bahwa kuliahku masih berantakan. Aku tak
lagi punya cukup waktu untuk menyelesaikannya, jelas sekali keputusan
untukku, drop out. Di masa-masa itu aku tak berani pulang ke rumah.
Hidupku pun menumpang tidur di kos teman karena uang yang diberikan ibu
tak kubayarkan untuk sewa kos.
Kubohongi ibu terus menerus. Kata maaf pun seolah tak lagi berguna
bila kukatakan hari ini. Ya, ibuku sudah tiada. Dua tahun yang lalu
seorang kerabat menelepon dan menyuruhku pulang sebab ibu sudah
meninggal. Keadaannya sehat-sehat saja kala itu. Ibu pergi tanpa ada
keluhan sakit apapun. 1 jam sebelum kepergiannya, ibu sempat mengobrol
denganku di telepon, memberiku sebaris pesan agar aku baik-baik saja dan
segera menyelesaikan kuliahku. Mungkin ibu lupa, saat itu, sudah tahun
ke delapan. Bukan lagi tahun dimana aku pantas memberinya harapan
kosong. Namun, demi menenangkannya, hanya ku jawab iya dan iya. Tak tahu
bahwa itu adalah pembicaraan terakhir kami, sontak aku sangat terpukul,
satu-satunya orang yang begitu menyayangiku tanpa akhir, tengah
terbaring di rumah kami.
Dua tahun ini, aku tinggali rumahku seorang diri. Bekerja berbekal
ijasah SMA sebagai marketing di perusahaan swasta. Kupandangi foto ibu
setiap pagi, sebelum ku berangkat kerja. Memohon maaf padanya
berkali-kali dalam hati. Ibu pasti tahu, meski semasa hidupnya aku tak
pernah menceritakan kesalahan dan kebiasaan burukku padanya. Sesekali
aku merasa tak kuat lagi hidup tanpanya, menangis semalaman sambil
membaca surat demi surat yang ku tuliskan untuk ibu, yang tak tahu harus
kukirimkan pada siapa. Di samping pusaranya, kusematkan surat-suratku,
dan menggantinya dengan surat baru ketika ku kunjungi makamnya lagi. Ibu
memang tak bisa membacanya, namun aku berharap Tuhan menyampaikan
penyesalanku yang begitu dalam pada ibu. Hidupku begitu berbeda
tanpanya, Rabb. Bila saja ada kesempatan terakhir untuk melihatnya, kan
ku sampaikan kata maaf pada ibu dan mengakui semua kebohonganku.
Bila sisa hidupku ini adalah anugerah waktu yang diberikan Tuhan, ku
gunakan sepenuhnya beribadah, mendoakan ibu yang begitu damai tersenyum
di mimpiku, terutama saat hatiku merasa kalut. Ku tekuni pekerjaanku
yang sederhana, mensyukuri apa adanya hidupku. Seperti kata ibu.
“Maafkan aku, Bu”
Aku hanya mampu mendoakan, mengiringi kehidupanmu di sana dengan
doaku. Berharap Tuhan menganggapku sebagai anak sholeh yang doanya
diijabah. Hingga ibu tak lagi dikenal sebagai bunda yang salah
membesarkanku. Semoga ibu pun berbahagia dengan jiwaku yang insaf dan
tak lagi mengulang kesalahan. Masih ada waktu, bila ibu menginginkanku
menjadi sarjana, saat ini tengah kujalani dari awal, menapaki pekerjaan
dan pendidikanku bersama-sama.
Untukmu, Ibu.
*******
~* MALAIKAT PUN MENANGIS,AYAH *~
Sang fajar mulai bangun dari peraduannya, kicauan burung pun mulai
terdengar saling bersahutan. Para ayam jantan sudah mulai bertengger dan
berkokok dengan suara nyaring mereka untuk menandakan bahwa hari baru
telah tiba. Perlahan para petani sudah mulai turun ke sawah mereka, dan
beberapa pedagang sudah bersiap dengan dagangan mereka yang akan mereka
bawa ke pasar. Tak mereka rasakan dinginnya bayu pagi yang semakin
menusuk tulang rusuk mereka, yang sebenarnya usia mereka sudah terbilang
cukup senja untuk bekerja. Tapi mereka tak merasakan itu semua karena
mereka hanya berharap hari ini mereka bisa makan meski hanya dengan
sesuap nasi saja.
Hanya bermodal sepeda tua seorang lelaki paruh baya mencari rizki di
pasar yang biasa ia datangi. Dengan kayuhan sepeda yang perlahan lelaki
itu menekuni pekerjaannya yang ia anggap sudah menjadi kewajibannya.
Selama pekerjaan itu halal, ia akan terus menjalaninya hanya untuk
anaknya yang berusia 5 tahun.
Dia adalah pak Rahmat, ia adalah seorang lelaki tua yang hidup di
sebuah gubuk tua, bersama anak satu-satunya, Nesya. Semenjak kepergian
istrinya setelah kelahiran Nesya, pak Rahmat hidup hanya dengan Nesya.
Bagi pak Rahmat, Nesya adalah malaikat kecil yang akan menjadi obat
jerih payahnya di masa senja pak Rahmat kelak. Dengan penuh rasa ikhlas
pak Rahmat jalani puluhan meter jalan berbatu yang terjal, bermandikan
keringat di bawah terik matahari, berbasah kuyup saat hujan mulai turun.
Namun, semua itu tak pernah memutuskan semangat pak Rahmat untuk Nesya,
malaikat kecilnya. Walau tak sebanding dengan jerih payahnya, apapun
dan bagaimanapun hasil yang pak Rahmat dapat selalu ia syukuri. Pak
Rahmat percaya, kelak Tuhan akan memberikan kebahagiaan lewat putrinya.
Hari sudah semakin siang, pak Rahmat terus mengayuh sepeda tuanya
menuju pasar yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Nesya yang baru
berusia dini itu masih terlihat terlelap di mimpinya, bahkan ia tak
mengerti apa yang sebenarnya setiap pagi ayahnya kerjakan. Hanya
beberapa kalimat yang biasa pak Rahmat bisikkan di telinga putrinya
sebelum pergi “kau adalah semangat hidup ayah, Nesya.” Meski Nesya masih
berusia 5 tahun namun ia selalu menangkap dengan teliti setiap ucapan
yang ayahnya bisikkan. Nesya juga selalu mengukirkan sebuah senyuman
manis di bibir mungilnya setelah pak Rahmat berbisik seperti itu.
Mungkin jika Nesya sudah lebih mengerti ia pasti akan menjawab
“Aku juga
akan berjuang kelak untuk ayah.”
Hari ini pak Rahmat hanya menjual beberapa sayuran dari kebunnya yang
tak begitu luas di samping rumahnya. Dengan keringat yang sudah mulai
bercucuran di dahi pak Rahmat ia terus bersemangat menjual
sayuran-sayuran itu. Namun, mungkin hari ini belum rejeki pak Rahmat. Ia
hanya mendapat seperempat hasil dari yang sudah ia perkirakan
sebelumnya. Dengan lapang dada beliau mencoba menerimanya dan membawa
pulang kembali sayuran yang tak terjual. Dengan tenaga yang masih
tersimpan, pak Rahmat mengayuh kembali sepedanya kemudian beranjak
pulang. Dalam perjalanan ia terbayang wajah Nesya yang selalu
menghilangkan rasa lelahnya saat semangatnya sedikit memudar.
Dengan kayuhan yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya ahirnya
sepeda itu telah mengantarkan pak Rahmat kembali di rumahnya. Ia melihat
Nesya sudah duduk di teras rumah seraya memegang sebuah sendok dan
piring kecil, yang bertanda ia sudah lapar. Pak Rahmat yang mengetahui
putrinya sudah menunggu kedatangan beliau, langsung menuruni sepedanya
dan berjalan menuju arah tempat anaknya berdiri. Dikecupnya kening
Nesya, dan dengan penuh kasih sayang beliau menggendong Nesya dan
berjalan menuju dapur dan segera mengambilkan makanan untuk Nesya.
Dengan penuh kesabaran pak Rahmat meyuapi Nesya yang hanya tersenyum
saat setiap nasi masuk ke dalam mulut mungilnya. Pak Rahmat yang merasa
terhibur dengan sikap Nesya hanya membalas senyum yan Nesya berikan.
Namun, dibalik tatapan polos Nesya, sebenarnya Nesya berkata “Ayah pasti
lelah ya? Ayah, terus berjuang ya? Nesya akan jadi penyemangat untuk
ayah.” Dan sesekali terdengar suara tawa dari Nesya, dan suara tawa itu
yang membuat pak Rahmat merasa sangat sayang kepada putrinya itu.
Apalagi saat Nesya terkadang memanggil pak Rahmat “ A…a… ayaah…”, meski
kata-kata Nesya belum sempurna tapi pak Rahmat merasa bahagia saat Nesya
memanggilnya ‘Ayah’.
Setelah selesai menyuapi Nesya, pak Rahmat pun segera mengambir air
untuk memandikan Nesya. Dan satu hal lagi, Nesya sangat menyukai
saat-saat mandi, karena ia bisa bermain air bersama ayahnya sampai
terkadang Nesya merasa dingin dan sedikit menggigil. Dengan beberapa
canda, pak Rahmat membawa Nesya menuju kamar mandi dan mulai memandikan
Nesya. Dengan kesabaran pak Rahmat memandikan Nesya dan dengan sabar
pula ia mengusap beberapa air yang membasahi wajahnya karena tingkah
Nesya. Dalam hati Nesya berkata lagi “Ayah, Nesya ingin ayah memberikan
canda tawa untuk Nesya sampai nanti Nesya bisa membuat ayah bangga pada
Nesya.”
Seusai memandikan Nesya, pak Rahmat pun segera bersiap pergi ke
ladang untuk mengolah apa yang bisa ia manfaatkan. Seperti biasa, Nesya
selalu ikut, dan pak Rahmat menggendongnya di belakang punggung. Meski
bermandikan keringat karena cuaca yang sangat terik, pak Rahmat terus
mencangkuli ladangnya yang sedikit mengering karena hujan yang tak
kunjung datanng. Nesya hanya terdiam saat melihat ayahnya bermandikan
keringat di bawah teriknya matahari. Andai Nesya sudah tumbuh menjadi
gadis yang dewasa ia pasti akan membantu ayahnya, dan mungkin ia tak
akan membiarkan ayahnya terus bekerja di hari yang semakin panas itu.
Sesekali pak Rahmat menoleh ke arah Nesya dan Nesya akan tersenyum
seraya berucap dalam hati “Semangat ayah, aku di sampingmu.” Dan tatapan
lembut Nesya seakan menjadi isyrat tersendiri yang akan memacu semangat
pak Rahmat.
Tak terasa hari sudah bergulir menjadi senja, dan pak Rahmat
memutuskan untuk segera beranjak kembali ke rumahnya. Nesya yang mungkin
juga merasa lelah karena setengah hari menemani ayahnya, ahirnya
tertidur saat pak Rahmat mulai menggendongnya dan berjalan pulang.
Senja akhirnya telah berganti pekatnya malam. Di temani sebuah cahaya
lampu, pak Rahmat dan Nesya menikmati beberapa suara hewan malam yang
seaakan seperti sebuah orkestra musik di malam yang sunyi ini. Nesya
sudah berada di dalam kamar mungilnya di dekat ruang tamu, sedangkan pak
Rahmat sendiri masih duduk di bangku dekat jendela ruang tengah. Itu
adalah kebiasaan pak Rahmat saat ia merasa sepi. Diambilnya sebuah album
photo, dan mulai ia buka lembar demi lembar yang sudah mulai terlihat
usang karena termakan usia. Terlihat beberapa foto pak Rahmat bersama
istrinya saat kandungan istrinya berusia 7 bulan. Dimana saat itu pak
Rahmat masih menjalani hari-hari bahagianya bersama sang istri.
Tak
terasa perlahan airmata pak Rahmat menetes karena ia ingat kenangan
bersama istrinya yang kini sudah berbeda tempat dengannya. Dalam hati,
pak Rahmat berjanji akan membesarkan Nesya sekuat tenaganya karena ia
ingin Nesya menjadi pelita saat usia senja mendatangi pak Rahmat.
Dipeluknya dengan erat album foto yang sudah usang itu, dipandangnya
langit malam yang penuh bintang, dan berharap esok lebih baik dari hari
ini.
Perlahan mata pak Rahmat mulai terpejam dan ia pun mulai terlelap
dalam mimpinya. Sedangkan di sisi lain, Nesya terbangun dan melihat
ayahnya tertidur tanpa selimut yang menutupi tubuhnya di malam yang
dingin ini. Nesya pun beranjak turun dari tempat tidurnya dan kemudian
membawa selimut dengan langkah perlahan. Nesya pun meletakkan selimut di
kaki dan tangan pak Rahmat. Karena tak bisa meraih wajah ayahnya, Nesya
hanya mencium tangan kanan pak Rahmat seraya berdoa dalam hatinya
“Ayah, mimpi manis ya? Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk semua
usaha ayah. Nesya tau, malaikat pun ikut menangis jika ayah menangis.
Berjuanglah ayah. Nesya berjanji, Nesya akan menjadi pelita di masa tua
ayah kelak. Nesya sayang ayah. Selamat malam ayah, mimpi indah.”
Akhirnya, Nesya kembali ke tempat tidurnya dan mulai kembali terlelap
tidur. Sedangkan ayahnya mulai tersenyum karena mimpi manis yang putri
kecilnya bisikkan. Dan ahirnya mereka pun larut dalam mimpi indah mereka
masing-masing, dan menunggu hari esok yang akan lebih bersinar dari
hari ini.
*******
Sekian dahulu kumpulan beberapa cerpen dari saya.
Mohon maaf,belum semuanya saya beri foto,
Dikarenakan kondisi bodi yang belum fit.
Semoga Bermanfaat.
^_^