~* RENUNGAN ISLAM *~
Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.
Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa.
Nafas kita terus berjalan seiring jalannya Waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian..
Sebenarnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati.
Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umur kita.
Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya,
Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.
Karena itu,
Jika hari berlalu tapi tiada Kebaikan
Dan Kebajikan yang kita lakukan maka akan keringlah batin kita.
Jangan tertipu dengan usia muda,
Karena syarat untuk mati tidaklah harus tua.
Jangan terperdaya dengan badan sehat,
Karena syarat untuk mati tidak pula harus sakit.
Teruslah berbuat baik... berkata baik...!
Kritisi semua yang tidak baik.
Walau tak banyak orang yang mengenalimu, tapi kebaikan dan kebajikan
yang kita lakukanlah yang akan menuntun kita pada kebahagiaan,
Dan akan
dikenang oleh mereka yang kita tinggalkan...
* Setiap Manusia ada Bahagiannya*
*****
~* KADANG KADANG *~
✿◠‿◠♥
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi komen..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam persetujuan..
Tapi..
Biarlah DIAM kita mereka faham artinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..
Karena..
DIAM kita mungkin disalah tafsir
DIAM kita mungkin mengundang syak wasangka
DIAM kita mungkin disilap terjemah..
DIAM kita mungkin tidak membawa apa-apa maksud..
Maka..
Jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
Seharusnya kita DIAM..
Namun seandainya DIAM kita bukanlah sesuatu yang bijak..
Berkatalah sehingga mereka DIAM…
✿◠‿◠♥
******
*RENUNGKAN*
"LIFE MUST GOES ON !!!...
EVEN THOUGH WHATEVER HAPPEN...
WE MUST FACE IT...
DUGAAN ITU DTGNYE DR ALLAH...
SO, ALLAH KNOWS WHAT IS THE BEST FOR US"... ❤
✿ Aku meminta kpd ALLAH setangkai bunga segar, DIA beri kaktus berduri..
Aku minta kupu-kupu, diberiNya ulat berbulu..
Aku sedih & kecewa.. ❤
✿ Namun kemudian, kaktus itu brbunga indah sekali..
Dan ulat itu pun
mnjd kupu-kupu yg sangat cantik..
Itulah jalan ALLAH, indah pd
masaNya!.. ❤
✿ ALLAH tidak memberi apa yang kita harapkn..
Tapi, Dia memberi apa yang
kita perlukn..
Kadang kala kita selalu berasa sedih dan kecewa..
Akan
tetapi, jauh di atas sana,
Dia sedang mengatur yg terbaik dalam
kehidupan kita.. ❤
✿ ~*:: Bercinta Sampai Ke Syurga ::*~ ✿
*****
~* SISA UMUR KITA *~

Tiba-tiba saja terfikir suatu hal, yaitu umur manusia. Saya bertanya
pada diri saya sendiri, bagaimana kalo saya tahu bahwa umur saya hanya
sampai umur 25 tahun, atau 35 tahun, atau 5 hari lagi. saya terpikir
banyak hal yang akan saya lakukan. Saya tertarik untuk berbagi kisah ini
pada saudara2 pembaca blog ini. semoga kita bisa diskusi dan mendapat
banyak manfaat.
jika anda tahu sisa umur anda tinggal 1 tahun, apa saja yang akan anda lakukan untuk mengisi sisa umur itu?
mungkin sebagian akan menjawab:
bersenang-senang
jalan-jalan ke tempat indah yang belum didatangi
makan sepuasnya setiap hari
segera nikah
dll
mungkin sebagian orang yang lain memilih:
memperbanyak ibadah shalat dan dzikir
memperbanyak sedekah
memperbanyak silaturahim
bekerja lebih giat
memberikan hak keluarga dan orang-orang disekitarnya
dll
kenapa dua kelompok kegiatan tersebut begitu berbeda dan seolah bertolak belakang?
Saudaraku, salah satu hikmah besar dirahasiakannya bilangan umur kita
adalah agar kita tidak tahu kapan kita mati. ketika kita tidak tahu
kapan kita akan mati, pada dasarnya kita akan merasa setiap saat bisa
jadi ajal kita, maka kita akan selalu berhati-hati dengan tindakan kita.
Kita tidak akan tahu kapan kita akan mati. apakah saat remaja? ataukah
saat kita sudah tua? dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan mati.
apakah hari ini? atau besok? dan kita tidak tahu bagaimana kita akan
mati. apakah saat tidur? apakah saat berkendaraan? ataukah ketika kita
sedang membaca Al Quran?
Seandainya ALLAH menghendaki semua manusia mengetahui kapan ia mati,
dimana ia mati, dan kapan ia mati, akankah kehidupan dunia ini dihiasi
kebaikan demi kebaikan? saya rasa tidak.
kemungkinan yang bisa kita bayangkan:
sedikit manusia selalu menghiasi umur dengan ibadah
lebih banyak manusia terus menerus berbuat dosa hingga akhir hayatnya
jauh lebih banyak lagi manusia terus berbuat dosa hingga sedikit sisa umurnya ia bertaubat
Saya rasa jenis ketiga akan mendominasi isi dunia. orang-orang seperti
ini selalu berfikir bahwa masih ada waktu untuk bertaubat. Dalam kondisi
seperti ini, bisa jadi dunia ini didominasi kejahatan dan kriminalitas,
maksiat, hedonis, dan sejenisnya.
Maka segala puji bagi ALLAH Yang Maha Sempurna perhitungannya. ALLAH
sangat memahami betapa manusia senantiasa berada antara kecenderungan
yang baik dan yang buruk (QS Asy-Syams: 8), maka ia menyelamatkan
manusia dari fitrahnya tersebut, dengan jalan menjadikan umur sebagai
hal ghaib yang tidak diketahui manusia. untuk apa? agar manusia selalu
berhati-hati dalam hidupnya, dan agar manusia selalu berada dalam
kebaikan.
*****
~* DIALOG WANITA PENGHIBUR
DAN PEMUDA SHALEH *~
Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh:
Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"
Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"
Wanita: "Maksudmu?"
Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"
Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"
Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita
layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak
menyentuh tuan putri".
Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup
tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"
Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan
mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita
tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya
makan atau yang masih belum terbuka"
Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".
Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih
yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam
mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk
kemuliaan wanita juga".
Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomongMas sudah punya pacar belum?"
Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."
Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"
Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"
Wanita: "Ya jelas yang baru lah"
Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang
harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta
keatas"
Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya
pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."
Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan
untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang
saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya
sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin
mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"
Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi
menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes)
"Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku
dengan semua yang sudah aku lakukan?"
Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan
seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun
pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya
lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali.
Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan
mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".
Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya)
"Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya
bisa berubah lebih baik”
Pemuda: “Aamiin”
*****
~* ALLAH MENGHINAKAN SEORANG ALIM MENJADI PENGEMIS,MENGAPA ? *~

Inilah sebuah kisah nyata yang terbilang sangat
dramatis dan menjadi bahan pembelajaran bagi manusia yang berpikir.
Kisah ini diangkat dari buku Qishasasu Muatsirat Lilfatayat karya Ahmad
Salim Badwilan yang telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa,
karena isi-isinya sangat inspiratif.
Ahmad Salim Badwilan
dalam tulisanya tidak pernah menyebut langsung nama dan tempat
orang-orang yang terlibat dalam kisah nyata yang ia angkat dari
pengalaman dan kesaksian yang ia kumpulkan. Hal ini bertujuan demi
menjaga aib atau kerahasiaan orang-orang yang terlibat dalam kisah nyata
yang ia angkat.
Tersebutlah, seorang wanita asal Timur Tengah yang tidak hanya solehah
namun juga terkenal akan kesabaran dan ketabahan atas segala ujian yang
menimpa dirinya selama 15 tahun.
Saat itu, wanita solehah baru saja melangsungkan acara pernikahannya
dengan seorang lelaki shaleh yang tidak pernah dia sentuh dan lihat
sebelumnya. Mereka berjodoh pun tidak melalui proses pacaran,
sebagaimana umum dilakukan wanita dan pria jaman sekarang. Wanita ini
begitu paham akan dosa-dosa bila bersentuhan dengan lelaki yang bukan
muhrimnya. Ia sangat menjaga martabatnya dan selalu menutup aurat karena
semata kepada Allah.
Ketika tiba malam pertama dan keduanya sudah berkumpul disebuah ruang
dapur untuk jamuan makam malam (sebelum melangkah ke tahap 'khusus dalam
kamar'), mereka pun bermesra terlebih dahulu di meja makan sambil
menyantap hidangan pembuka.
Ada kemesraan dan kehangatan yang terpancar dari pasangan yang sedang
menikmati masa-masa indah sebagai pengantin baru. Mereka saling
bercengkrama, tersipu malu dan saling melempar pujian.
Namun tiba-tiba, disaat mereka sedang melayari kemesraan, dari luar
mendengar suara ketukan pintu tanda bahwa ada seseorang yang mungkin
hendak bertamu. Dengan gusarnya si suami wanita solehah itu bangun
dengan menggebrak kakinya ke lantai dan dengan amarah dia berkata,
“Siapa tamu yang sangat mengganggu ini?”
Istrinya juga terkejut dan berlari menuju pintu lalu bertanya sambil melongo, “Siapa?”.
Orang dari balik pintu lalu menjawab, “Saya..saya seorang pengemis mau minta sedikit makanan, saya sangat lapar”.
Buru-buru sang istri menyampaikan kabar itu kepada suaminya yang sedang dongkol, “dia pengemis, mau minta sedikit makanan”.
Amarah si suami semakin memuncak, “hanya gara-gara pengemis ini
kemesraan kita jadi terganggu, padahal kita sedang menikmati malam
pertama?”.
Si suami yang sedang dirasuki amarah ini langsung menghampiri si
pengemis dan tanpa pikir panjang menghajar si pengemis dengan brutal.
Ada suara mengaduh dan rintihan menyayat yang keluar dari mulut si
pengemis yang sedang kelaparan tersebut.
Sambil menahan sakit, lapar yang melilit perutnya dan luka sekujur
tubuh, si pengemis lalu terseok-seok pergi dengan hati yang luka.
tanpa merasa bersalah, si suami dari istri yang solehah itu kembali lagi
menemui istrinya didalam kamar pengantin, tapi masih dengan emosi yang
merasuki dirinya. Dia menganggap kedatangan si pengemis telah merusak
suasana romantisme yang sedang dia nikmati dengan istrinya di malam
pertama yang sakral.
Namun entah mengapa, tidak ada angin dan hujan, tidak ada penyebab
apa-apa, tiba-tiba suami ini menggelepar didalam kamar seperti kerasukan
(teumamong). Dia memegang kepalanya dan sekujur badannya seakan
terhimpit dengan sangat keras yang membuat dia meraung-raung menahan
sakit. Dia berlarian kesana kemari sambil menjerit-jerit kesakitan, dia
meraung-raung dan membuat istrinya panik luar biasa.
Entah mengapa, setelah kerasukan itu, si suaminya pergi tak jelas
rimbanya dan meninggalkan istrinya seorang diri dirumah tanpa dikunjungi
lagi selama belasan tahun. Suaminya telah meninggalkan istrinya itu
tanpa alasan yang jelas. Namun wanita solehah ini melalui semua prahara
yang menimpa dirinya dengan kesabaran tinggi dan menyerahkan semua
msalah itu kepada Allah SWT.
Tak terasa 15 tahun sudah berlalu peristiwa kerasukan yang menimpa
suaminya itu dan selama itu pula dia menghabiskan hari-harinya seorang
diri dirumah. Wanita ini betul-betul menjaga marwahnya.
Tiba-tiba seorang pria alim datang meminangnya dan dia menerima pinangan tersebut lalu melangsungkan pernikahan.
Pada malam pertama, suami istri tersebut berkumpul didepan hidangan
pembuka yang telah disajikan, persis seperti yang pernah dia lakukan
dengan suaminya yang pertama yang telah meninggalkan dirinya dalam waktu
yang cukup lama, sehingga hilang hak-haknya sebagai istri.
Saat mereka mendengar suara ketukan dari pintu depan, sang suami berkata pada istrinya, “Pergilah bukakan pintunya”.
Si istri menuju pintu dan bertanya, “Siapa?”.
“pengemis, mau minta sesuap nasi”, kata tamu tersebut dari luar.
Si istri buru-buru menemui suaminya, “seorang pengemis, dia meminta sesuap nasi untuk makan”.
“Panggil dia kemari dan siapkan seluruh makanan ini diruang tamu lalu persilahkan dia makan sampai kenyang”. perintah suaminya.
Istrinya dengan cekatan langsung bergegas menyiapkan hidangan, lalu
membukakan pintu lalu mempersilahkan si pengemis untuk makan.
Tapi tiba-tiba si istri itu menemui suaminya sambil menangis tersedu.
“Ada apa, mengapa menangis? Apa yang terjadi? Apakah pengemis itu menghinamu?” tanya suaminya keheranan
Dengan linangan air mata, istrinya menjawab dengan menahan sesak didada, “Tidak”.
“Dia mengganggumu?”, tanya suaminya lagi.
“Tidak”.
“Dia menyakitimu?”, tanya suami sekali lagi.
lalu istrinya masih menjawab, “Tidak”.
“Lalu mengapa engkau menangis wahai istriku?”,
Dengan menahan rasa sesak didada, akhirnya istrinya menjawab dengan
terbata-bata, “pengemis yang duduk diruang tamu dan menyantap hidangan
adalah mantan suamiku lima belas tahun yang lalu. Pada malam penganti
itu, ada pengemis datang dan suamiku memukulinya dengan kasar. Setelah
itu dia kesurupan dan menjerit-jerit lalu menemuiku dengan tangan
didadanya yang sakit. Aku mengira dia diganggu jin atau kesurupan. lalu
dia lari meninggalkan rumah tanpa ada kabar sampai malam ini, ternyata
dia sekarang menjadi pengemis.”
Tiba-tiba suaminya ikut menangis.
Istrinya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Taukah kamu siapa pengemis yang dipukul oleh mantan suamimu itu?”
“Siapa dia?”, tanya sang istri.
“Sesungguhnya...pengemis itu adalah aku sendiri”, suaminya menjelaskan dengan uraian air mata.
Suasana berubah menjadi haru-biru. Keduanya tidak menyangka mengalami
kisah yang begitu dramatis. Suami pertamanya mendapat akhir yang begitu
tragis.
Sesungguhnya Allah sangat murka kepada orang yang tega berbuat kejam
terhadap hambanya yang sedang mengalami penderitaan. Allah telah
membalas suami pertama dari istri solehah itu dengan kehinaan, dan
memuliakan pengemis yang dizalimi itu menjadi suami dari istri yang
solehah dan tawadhu.
Ambillah sari dari kisah menyentuh ini agar menjadikan kita sebagai
sosok yang dermawan.hati nurani untuk saling membantu meringankan
penderitaan kaum fakir miskin, anak yatim piatu.
Mereka hanya butuh kasih sayang, perhatian dari kita. Kehadiran mereka,
adalah ujian bagi kita, sejauh mana mata hati dan jiwa kemanusiaan kita
memperlakukan mereka. Semoga Allah senantiasa menjaga iman Islam kita
hingga selamat dari sejak didunia hingga akhirat dan berkumpul ditempat
yang dirahmati Allah, bersama dengan orang-orang yang pernah kita bantu
dengan ikhlas.
*****
~* KISAH PEREMPUAN MISKIN DAN SAPINYA *~

Kisah nyata ini terjadi di salah sebuah daerah di Yaman.Kisah penderitaan dan
kepahitan yang dilalui oleh penduduk Gaza tersebar ke seantero dunia. Semua orang marah,
benci, dendam dan sedih. Dimana korban kebanyakan adalah anak-anak kecil tak berdosa
yang menjadi korban muntahan peluru sehingga darah membasah bumi tanpa henti.
Tragedi dahsyat ini juga sampai juga ke telinga seorang perempuan tua yang hidup
miskin di salah sebuah kampung di Yaman. Sama seperti orang lain, dia juga turut sedih dan
pilu sehingga berurai air mata. Lantas suatu hari, dia berusaha sekuat upaya untuk mencoba
membantu sekadar semampunya. Kebetulan , ‘harta’ yang dia punya adalah seekor sapi tua,
terlalu uzur, kurus dan sudah tidak bermaya.
Dengan semangat tinggi dan perasaan simpati amat sangat, dia berniat
menyedekahkan Sapinya itu kepada penduduk Gaza lalu berjalan kaki dari rumah pergi ke
salah sebuah masjid di Yaman sambil memegang sapi tunggal kesayangannya itu.
Kebetulan hari itu Jumaat dan para jemaah sudah mengerumuni pekarangan masjid
untuk melaksanakan ibadat tersebut.
Ketika itu, betapa ramai yang melihat dan memperhatikan perempuan tua nan miskin
dengan sapinya yang berada di sisi luar masjid. Ada yang mengangguk, ada yang
menggeleng kepala. Tak terkecuali ada juga yang tersenyum sinis, tertawa, mengejek melihat
perempuan miskin yang setia berdiri di sisi sapinya.
Masa berlalu, jemaah masjid walaupun khusyuk mendengar khutbah imam namun
sesekali memperhatikan dua mahkhluk tuhan itu. Perempuan dan sapi itu masih di situ yang
tanpa rasa malu atau segan diraut wajahnya.
Setelah imam turun dari mimbar, solat Jumaat kemudian dilakukan, biar dibakar terik
mentari dan peluh menitis dan memercik di muka, perempuan dan sapi tua itu masih saja di
situ.
Segera setelah jemaah selesai solat dan berdoa, tiba-tiba perempuan itu dengan
tergesa-gesa menarik sapi itu membawanya ke depan pintu masjid sambil menanti dengan
penuh sabar tanpa mempedulikan jemaah yang keluar. Ramai juga orang yang tidak beranjak
dan perasaan ingin tahu, apa yang bakal dilakukan oleh perempuan tua itu.
Tatkala imam masjid keluar, perempuan tua itu bingkas berkata :”Wahai imam, aku
telah mendengar kisah sedih penduduk di Gaza. Aku seorang yang miskin tetapi aku
bersimpati dan ingin membantu. Sudilah kau terima satu-satunya sapi yang ku punyai untuk
dibawa ke Gaza, untuk di berikan kepada penduduk di sana.”
Gaduh seketika orang yang berada di masjid itu. Imam kaget dengan permintaan
perempuan itu namun keberatan untuk menerima. Ya, bagaimana membawa sapi tua itu ke
Gaza? Kemudian para jemaah mulai bercakap-cakap. Ada yang mengatakan tindakan itu
tidak munasabah apalagi sapi itu sudah tua dan tiada harga.
23
“Tolonglah.. bawalah sapi ini ke Gaza. Inilah saja yang aku punya. Aku ingin benar
membantu mereka,” ulang perempuan yang tidak dikenali itu. Imam tadi masih
keberatan.Masing-masing jemaah berkata-kata dan berbisik antara satu sama lain. Semua
pandangan tertumpu kepada perempuan dan sapi tuanya itu.
Mata perempuan tua yang miskin itu sudah mulai berkaca dan berair namun tetap
tidak beranjak dan terus merenung ke arah imam tersebut. Sunyi seketika suasana.
Tiba-tiba muncul seorang jemaah lalu bersuara mencetuskan idea: ”Tak mengapalah,
biar aku beli sapi perempuan ini dengan harga 10,000 riyal dan bawa uang itu kemudian
sedekahkanlah kepada penduduk di Gaza.
Imam kemudian nampak setuju. Perempuan miskin tua itu kemudian menyeka air
matanya yang sudah tumpah. Dia membisu namun sepertinya setuju dengan pendapat jemaah
itu.
Tiba-tiba bangkit pula seorang anak muda, memberi pandangan yang jauh lebih hebat
lagi: ”Bagaimana kalau kita rama-ramai membuat tawaran tertinggi sambil bersedekah untuk
membeli sapi ini dan duit nya nanti diserahkan ke Gaza?”
Perempuan itu terkejut, termasuk imam itu juga. Rupa-rupanya cetusan anak muda ini
diterima semua orang. Kemudian dalam beberapa menit para jemaah berebut-rebut
menyedekahkan uang mereka untuk dikumpulkan dengan cara lelang tertinggi.
Ada yang mulai menawar dari 10,000 ke 30,000 riyal dan berlanjutan untuk seketika.
Suasana pekarangan masjid di Yaman itu menjadi riuh selama proses lelang sapi tersebut.
Akhirnya sapi tua, kurus dan tidak bermaya milik perempuan tua miskin itu dibeli
dengan harga 500,000 riyal, setelah itu uang diserahkan kepada imam masjid, semua sepakat
membuat keputusan itu, kemudian salah seorang jemaah berbicara kepada perempuan tua itu.
“Kami telah melelang sapi kamu dan telah mengumpulkan uang sejumlah 500,000
riyal untuk membeli sapi itu.
“Akan tetapi kami telah sepakat, uang yang terkumpul tadi diserahkan kepada imam
untuk disampaikan kepada penduduk Gaza dan sapi itu kami hadiahkan kembali kepada
kamu,” katanya sambil memperhatikan perempuan tua nan miskin itu yang kembali
meneteskan air mata…gembira.
Tanpa diduga, Allah mentakdirkan segalanya, niat perempuan miskin itu untuk
membantu meringankan beban penderitaan penduduk Palestina akhirnya tercapai dan
dipermudahkan sehingga terkumpul uang yang banyak tanpa kehilangan “harta” satu-satunya
yang ada . Subhanallah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yg bersedekah (walau) sebesar kurma dari usaha yg baik, dan Allah
tidak menerima kecuali yg baik, dan Sungguh Allah swt menerimanya dg sambutan
hangat, lalu melipat gandakannya untuk orang itu seperti kalian mengasuh bayi yg
disusuinya, hingga sebesar gunung”
(Shahih Bukhari)
*****
~* SEPASANG MATA UNTUK SAHABATKU *~

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
“Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas
tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang
ditoreh diatas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang dan suatu
saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa”
“Key…sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu
sore. “Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tahu aku gak
bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.
Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan
keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani
bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak
membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat
warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam
kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan
keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia
menyerah.
Duduk di bangku kelas XII di sebuah sekolah Luar Biasa di kotanya,
Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya
termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3
tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama
Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka.
Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia
berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis.
“Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya,
biar semua orang tahu bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan.
“Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay,
pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini tidak sempurna,
seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku
bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya
dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat,
pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik
kamu,” timpal Nayra akhirnya. Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi
halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana
pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya,
karena sekolah mereka berdua kan berbeda. Sedang asik-asiknya dua
sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh, “aduuh,
kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya. “Oh, tidak aku tidak apa-apa
Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum. “Minum obat
ya Nay, aku tidak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar
begitu khawatir. “aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar
Nayra sambil berpamitan pulang.
Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di
setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya, “Ya
Allah, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi
malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra. Di
vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama
lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan
segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan
terwujud.
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya
masuk lalu duduk disampingnya. “Gimana rasanya sayang? Masih tidak
enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya.
“tidak usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”,
jawab Nayra dengan sopan. “ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya,
istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata
wayangnya. “Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar.
Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia
berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.
Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami
sepulangnya dari kantor, “Ma, Nayra kemana?? Kok papa tidak melihatnya
dari tadi?” tanya sang suami. “Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan
mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita. “Sakit apa sebenarnya anak kita
ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang
dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada
khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. “entahlah pa, mama juga
bingung” ujar istrinya lagi.
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan
segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada
mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua
Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan
oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat
pucat, sinar matanya terlihat begitu redup. “Pak Artawan, bisa kita
bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga
merupakan dokter pribadi keluarga Artawan. “Baiklah dok, “ sambut pa
Artawan.
Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka
akhirnya mulai bicara, “Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya
sudah tahu penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi
karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak
dan ibu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,”
ujar dokter Gunawan lirih.
Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung
pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya, “Apa??
Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan. “sudah parah
pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti
mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita
penyakit itu. “udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan
diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita
berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur
pak Artawan. “mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.
Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air
matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya,
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih. “tidak apa-apa
sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya. “Maafkan
Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti
ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan
terbata-bata.
Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya,
tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter
Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya
dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih. “Bagaimana
anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan
berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris, “Nayra tidak
mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit
menoleh ke arah mereka. “Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke
saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.
Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
“Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra
mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea
mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum
Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama
tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra
yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat
buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama.
Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug..muacch”
- Nayra Amrita -
Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran
kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua
Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi
permintaan terakhir sang anak.
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk
seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung, “kemana
si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia tidak main ke sini, apa dia
baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.
“Tidak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.
Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi. “Jangan Key, kita
harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah
sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,”
dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan. “Yang bener, Ma? Key
sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah
Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang,
Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam
sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya
untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.
Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan
dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di
matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada
di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar, “Ma, Pa,
Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa
melihat” “belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu
Rasti saat berujar.
Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat
warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama
semakin jelas, “Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali
suara Keynaya.
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa
ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra, “Kata mama
Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin
ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,” “Iya, nak, mama
sama papa temenin kamu ya!!”
Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang
membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet- macet ria di jalanan
untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh
keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah. Setelah
di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya
menanyakan keberadaan sahabat karibnya, “mana Nayranya tante?? Kok tidak
kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya…Nayra..Nayra” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.
Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu
dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan
Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk
surat di tangan, “ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata
kepada Keynaya.
Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.
Dear Keynaya ..
“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini??
Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau
membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini,
tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan
tertawa, maafkan aku ya Key.
Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang
penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu
gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak
akan lama lagi.
Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang
aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku,
kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key,
ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia,
sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku
berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.
Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima
kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai
ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…
Dariku yang selalu menyayangimu ..
- Nayra Amrita -
Air mata mengalir deras di pipi Keynaya, “ini tidak mungkin” katanya
lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya,
sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar
foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum
manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya
meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.
Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha
mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan
yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya
juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin
terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat
karibnya
“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011
Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan,
semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya,
“kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan
aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah
memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih
karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima
kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap
Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.
Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya, “Bangun Key, sudah,
ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di
pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu
cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu
Rasti. “iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji tidak
akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.
*****
~* PENGORBANAN SEORANG SUAMI *~

Selasa malam (1 Februari 2005), Setelah hujan lebat
mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat
dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja
penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah
Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya
kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas
kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat
jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.
Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya
mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.
Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya
ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2
tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus
memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat
anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan
berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri
dan anak saya?”
Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ”
Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi
masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera
membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.
Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya.
Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar
kedinginan dan giginya bergemeletuk.
“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang
tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya.
an Alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang
jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut.
“Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.
Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi
lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau
menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah,
tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya
tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak
pulang bekerja ? dia balas bertanya.
“Ya” jawab saya singkat.
“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak
menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan
pertanyaannya.
“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena
terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa
depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap
semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban
saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau
saya salah omong.
Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan?
Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil
mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.
Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2
lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium
tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil
saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau
jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar
kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan
sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga
ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini
berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya?
tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka
saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak
berkata sepatahpun.
Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu
tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung
sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya
pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone
tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu
tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya
berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah
membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin
sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu
lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan
meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan
motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya
jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu
tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.
Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya
benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat
kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.
Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara
benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan
jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika
sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri
saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone
saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar
kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha
menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone
dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya
kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan suara tinggi, saya
katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya.
Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya
berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya.
“Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana
mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa
lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.
Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal
ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang
jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat
mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena
kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya
berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang
kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju
kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi
malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan
sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati
karena telah menipu saya.
Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti
kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke
office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab
dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi
malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan
dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy
yang bagus.
“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan?
tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya
menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy
tersebut hanya menggelengkan kepala..
Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali.
Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya
terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh
melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang
tertulis ;
” Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya
kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan.
Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya
bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang
ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah
saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya
semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di depok,
tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya
saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat
bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan
adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari
suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk
anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak
mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh
ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya
tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.
Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada
dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua
uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga
tersebut.
*****
~* KISAH KOIN PENYOK *~

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan
rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup
lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara
para tetangganya sibuk me
menuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan
cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering
marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang
layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak
yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni
mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller
itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa
koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu
senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia
lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas,
dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan
beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak
punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu
seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada
waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar
kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu
meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih
lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya.
Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa
lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang
sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat
lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita
terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak
ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki
itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak
pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia
terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan
belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya
berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh
perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang
telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak
membawa apa-apa.
*****
~* JILBAB SAYA LEBIH BERHARGA DARI UANG YANG ANDA TAWARKAN *~

Orang bilang, selalu ada godaan besar saat kita berpegang teguh pada
sebuah keputusan. Bagaimana seseorang menanggapi godaan itu, apakah akan
tetap kuat pada pendirian atau goyah, tergantung masing-masing orang.
Saya pernah berada dalam situasi itu, mendapat materi melimpah, tetapi
harus melepas kewajiban saya sebagai seorang muslimah.
Saya adalah wanita sederhana, dibesarkan oleh keluarga yang memiliki
pikiran modern. Sejak kecil, saya dibebaskan untuk mengambil keputusan
apapun. Orang tua saya tidak pernah meminta saja harus masuk sekolah
mana, harus masuk jurusan apa, tidak seperti orang tua kebanyakan, yang
sering memaksa anak mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
kata hati. Maka saya tumbuh menjadi gadis mandiri yang ambisius. Menurut
saya, ambisius itu bagus, karena tanpa sikap ambisius, seseorang hanya
akan jadi pemalas yang membebani orang lain.
Sikap itu membuat saya selalu mendapatkan nilai-nilai terbaik di
sekolah. Mendapat beasiswa menjadi hal biasa, karena tanpa mengajukan
beasiswa sekalipun, sekolah selalu mengajukan saya untuk menerima
beasiswa berprestasi. Tentu saja saya bersyukur, karena itu adalah bukti
bahwa saya tidak main-main dengan pendidikan, saya juga bisa
meringankan beban kedua orang tua. Bagi saya, pendidikan adalah jalan
terbaik untuk pegangan masa depan. Setidaknya, kelak saya akan menjadi
ibu, maka pengetahuan adalah salah satu pondasi kuat untuk mendidik
anak-anak, dengan agama sebagai pondasi agama tentunya.
Walaupun ambisius, saya tidak meninggalkan nilai-nilai agama yang sudah
diberikan kedua orang tua saya. Saya tidak pernah dipaksa memakai busana
muslimah atau jilbab. Kesadaran itu datang saat saya duduk di kelas 3
SMA. Ada keyakinan kuat untuk memperbaiki penampilan saya. Maka sejak
saat itu, saya selalu memakai jilbab. Sedikit demi sedikit belajar
memakai jilbab sesuai yang diperintahkan. Bukan hal yang mudah, saat itu
masih sedikit yang memakai jilbab. Kadang saya masih iri dengan
teman-teman saya yang bisa memakai pakaian dengan jenis yang beragam.
Beruntung, saya tetap bertahan dengan keputusan saya.
Tahun berlalu dan saya lulus dari sebuah perguruan tinggi sebagai
Sarjana Akuntansi di tahun 2003. Sama seperti lulusan pada umumnya, saya
mulai melempar surat lamaran kerja di berbagai perusahaan. Dengan nilai
yang memuaskan, bukan hal yang sulit untuk menerima panggilan kerja.
Hingga saya berhasil melewati empat tahapan tes di sebuah bank swasta
yang cukup terkenal. Saat memasuki tahap wawancara, pihak bank tersebut
menawarkan posisi dan jabatan yang jarang didapat oleh fresh graduate
seperti saya. Menurut mereka, saya punya kemampuan analisis yang baik,
sehingga sangat mungkin ditempatkan di posisi yang lebih tinggi
dibanding posisi yang saya lamar.
Saya bahagia, seperti mendapatkan berkah yang besar sekali. Tetapi
kebahagiaan saya hanya sesaat, karena pihak bank meminta saya untuk
mengikuti salah satu syarat yang ada, yaitu memakai seragam untuk
karyawati. Seragam tersebut memakai kemeja, blazer lengan panjang, dan
rok selutut. Rambut harus diperlihatkan dan digulung rapi. Dengan kata
lain, saya harus melepas jilbab dan pakaian muslimah yang melekat di
tubuh saya.
Menanggapi hal itu, saya mencoba melakukan tawaran untuk memakai seragam
rok panjang dan memakai jilbab yang rapi. Tetapi peraturan bank
tersebut tidak bisa dengan mudah diganti begitu saja. Sehingga mereka
kembali menawarkan gaji dan bonus yang sangat besar. Jujur, saya manusia
biasa, jumlah uang yang ditawarkan sangat banyak. Saya bisa
memberangkatkan orang tua ke Tanah Suci, itu adalah salah satu cita-cita
saya. Saya bisa mewujudkan cita-cita itu dalam waktu beberapa bulan
saja.
Hati saya seolah mengalami pertengkaran. Pihak bank bersedia menunggu
jawaban saya selama tiga hari. Selama tiga hari, saya curhat dengan
orang tua terlebih dahulu. Mereka menganggap saya sudah dewasa untuk
mengambil keputusan, sehingga semua diserahkan kembali pada saya. Batin
saya belum tenang, kesempatan tidak datang dua kali. Tetapi apakah saya
harus mengorbankan perintah Allah SWT demi semua materi itu? Setelah
melakukan Salat Istikhaarah, saya mantap untuk menolak tawaran itu. Saya
menolaknya dengan halus, pihak bank juga melepas saya dengan baik.
Tidak apa-apa, mengapa takut kekurangan materi, karena saya yakin, Allah
SWT lebih kaya dibandingkan tawaran yang diberikan. Mengenai impian
untuk kedua orang tua saya, naik haji, pasti ada jalan. Niat baik selalu
mendapat jalan yang baik, saya percaya akan hal itu.
Dua bulan setelah kejadian tersebut, saya diterima bekerja di sebuah
bank pemerintah. Memang, gajinya tidak sebesar tawaran yang lalu, tetapi
hati ini tenang karena saya diizinkan memakai seragam yang sesuai. Jika
percaya akan sebuah keyakinan, maka itulah yang terjadi. Pihak bank
menilai prestasi kerja saya sangat bagus. Bonus mengalir hampir setiap
bulan. Sedikit demi sedikit saya menabung, untuk masa depan saya dan
tabungan haji kedua orang tua.
Alhamdulillah, di tahun 2008, kedua orang tua saya berangkat ke Tanah
Suci. Saya tidak ikut, biarlah kedua orang tua saya berangkat terlebih
dahulu, saya yakin suatu saat kelak akan menyusul ke sana.
Sekarang, kehidupan saya lebih baik. Saya juga sudah menikah di tahun
2009. Bersama suami saya, kami sudah punya tabungan sendiri untuk pergi
ke Tanah Suci, semoga impian kami terkabul beberapa tahun lagi.
Itulah kisah saya yang sempat goncang saat melihat sejumlah materi yang
ditawarkan. Tetapi keyakinan saya memilih untuk tetap di jalan-Nya, dan
saya tidak menyesali keputusan tersebut, tidak sedikitpun.
*****
~* KETIKA NASI TELAH MENJADI BUBUR *~
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar
ungkapan kalimat menyerah seperti,:
"ahh, terlanjur,. nasi udah menjadi
bubur, apa boleh buat"
Dear,sahabat...
Gini lho, Terkadang apa yang kita dapatkan tak sesuai harapan., kalo
memang nasi telah menjadi bubur,.
yaa mau gimana lagi,. syukuri dan
terima dg lapang dada..
Sekarang tinggal pintar-pintarnya kamu agar membuat si bubur bisa lebih-lebih dan lebih enak dari nasi,.
"nggak mungkin bisa mas?!"
Bisalaah! Apasih yang nggak bisa di dunia ini,.
oke, ambil buburnya, beri kerupuk, beri abon, beri suwiran suwiran ayam
dan sedikit sayuran,. tuh kah jadi bubur ayam kan,. uda pasti lebih enak
dari nasi,:|
Begitu juga kehidupan nyata, terima kenyataan sepait apapun, dan kelola
kenyataan yg pait itu menjadi hal yang manis dimasa depan,
...Bukan bahagia yang membuatmu bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat bahagia...
*****
~* APEL DAN KEBAHAGIAAN *~

Dikisahkan dalam sejarah Islam, seorang pemuda alim bernama Abu Shalih.
Ia adalah turunan ke-12 dari Rasulullah saw., dari garis Sayyidina Hasan
as-Sibthi ra. Ia berasal dari desa Jilan, Iran.
Suatu siang, saat Abu Shalih tengah berdzikir dipinggir sungai, dilihatnya kumpulan buah apel yang hanyut terbawa aliran sungai.
Segera ia mengambilnya sebuah dan memakannya. Namun tiba-tiba, ia berhenti mengunyah. Ia merasa bersalah.
”Aku telah mencuri. Buah ini pasti ada yang memiliki. Aku harus menemui
dan meminta maaf pada pemilik pohon apel yang buahnya telah kumakan
tanpa seijinnya”, katanya dalam hati.
Abu Shalih lalu berjalan menyusuri sungai, hingga menemukan pohon apel
tersebut. Segera ia menemui pemilik pohon apel itu, untuk meminta maaf.
Pemilik pohon apel itu bernama Syekh Abdullah, beliau adalah keturunan
Sayyidina Husain ra. Beliau adalah seorang waliyullah yang sangat
disegani pada masa itu.
Saat Abu Shalih menyampaikan permintaan maaf, Syekh Abdullah merasa senang dan takjub akan kebersihan hati pemuda Jilan ini.
Beliau lalu bermaksud ingin mengangkat Abu Shalih sebagai santrinya. Namun tidak secara transparan maksud itu disampaikannya.
”Baiklah, karena kau telah mencuri buah apel ku, maka kau harus bekerja di ladang ku selama 12 tahun”, kata Syekh Abdullah.
Tanpa banyak bertanya, Abu Shalih langsung menyanggupinya. Ia lalu bekerja sekaligus belajar agama kepada beliau.
Setelah tunai 12 tahun Abu Shalih membayar kesalahannya, ia lalu menemui
gurunya Syekh Abdullah untuk menanyakan apakah permintaan maafnya sudah
dapat diterima.
Bukan pernyataan bahwa maafnya telah diterima, Syekh Abdullah justru memberinya sebuah tugas baru.
”Aku akan menerima permintaan maafmu, bila kau bersedia ku nikahkan
dengan putri ku, seorang wanita yang lumpuh, buta, tuli dan bisu”, kata
Syekh Abdullah.
Seperti biasa Abu Shalih tidak banyak bertanya. Ia langsung menerima
amanah tersebut, dengan harapan semoga permintaan maafnya diterima
gurunya.
Tiga hari kemudian, dilangsungkanlah akad nikah dan walimatul 'urs (syukuran) antara Abu Shalih dengan wanita pilihan gurunya.
Malam hari, ketika hendak memasuki kamar pengantin, Abu Shalih terdiam sejenak.
”Ya Allah, aku pasrahkan hidup dan mati ku hanya pada Mu”, doanya didalam hati.
Dengan perlahan diketuknya pintu kamar pengantin tersebut, lalu ia membukanya dan masuk sambil mengucapkan salam.
Sang pengantin wanita menjawab salamnya. Abu Shalih terkejut bukan main,
seorang wanita berparas cantik, datang menghampiri dengan senyum
menghiasi wajahnya. Sembari meminta maaf, ia lalu keluar kamar. Merasa
telah salah masuk kamar, ia kemudian mencari istrinya dikamar yang lain.
Namun tidak juga ditemuinya.
Akhirnya Abu Shalih mendatangi Syekh Abdullah, untuk menanyakan dimanakah istrinya berada.
”Abi, bolehkah ku bertanya, dimanakah istriku berada?”, tanya Abu Shalih dengan ta’zim.
”Ya dikamar pengantin kalianlah”, jawab Syekh Abdullah sembari tersenyum.
”Tetapi wanita yang ku temui dikamar itu, tidak seperti yang dikatakan
Abi. Ia tidak bisu dan tuli, ia menjawab salam ku. Ia juga tidak buta,
justru matanya cantik sekali. Dan ia pun tidak lumpuh, ia malah
menghampiri ku, saat ku memasuki kamar”, jelas Abu Shalih masih dengan
wajah kebingungan.
Melihat kebingungan Abu Shalih, Syekh Abdullah malah tertawa terbahak-bahak. Usai tertawa beliau baru berkata,
“Wahai Abu Shalih, memang itulah putriku, Ummu Khair Fathimah. Ku
katakan dia lumpuh karena dia tidak pernah menjejakan kakinya ke tempat
maksiat. Buta karena dia tidak pernah melihat hal yang haram. Tuli
karena dia tidak pernah mendengar hal yang khurafat (jelek). Dan bisu
karena dia tidak pernah bertutur yang mubadzir (sia-sia)”.
Mengertilah Abu Shalih, bahwa amanah menikahi putri gurunya, adalah
ungkapan kasih sayang dan rasa bangga Syekh Abdullah padanya.
Karena kesabaran dan kemuhasabahannya kepada guru dan amanahnya, Allah memberikan kepada Abu Shalih, amanah yang penuh anugrah.
Dari pernikahan ini, Abu Shalih dan Ummu Khair Fathimah, di anugrahi
seorang putra bernama Abdul Qadir. Kelak setelah dewasa, putranya ini
masyur sebagai seorang Wali Quthub, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Sedangkan Abu Shalih sendiri dikenal dengan nama Syekh Abu Shalih Musa Jankai Dausat al-Jailani (berasal dari Jilan).
”Sementara beberapa orang berusaha menjaga amanah,
ada segelintir mereka justru bermain-main dengan amanah.
”Sementara beberapa orang merasa anugrah adalah amanah,
ada segelintir mereka justru menganggap amanah adalah anugrah.”
- Syekh Abu Shalih Musa Jankai Dausat al-Jailani –
*****
~* SELAMAT JALAN,SANG JUARA *~

Wajah tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata
cekung, dulu jenaka yang menyimpan banya keceriaan dan keoptimistisan,
kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang
ingin diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam
tangannya.
"Ada apa, Han..?"
Suara tilawah Al Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Hani.
"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan suara parau.
Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap
malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau
mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur
waktu untuk Hani sampai beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak,
kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang
diungkapkannya.
"Asy..ha..du alla..."
Tiba-tiba aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama,
ia seperti mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa,
dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang
yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian.
Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu.
Kulakukan ini karena pesan terakhir Hani, jika "saatnya" tiba ia tidak
mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash,
begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum
genap satu tahun usianya, kepadaku.
"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Hani."
Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia
tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak
menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya.
Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.
"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.
Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata,
"Mudah-mudahan anak bapak diberi kemudahan oleh Allah.."
Perlahan-lahan, Aria membantu Hani membacakan syahadah di telinga Hani.
Kemudian mulut Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya
tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya
yang terpejam.
"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur karena
terhalang airmata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas
nyawa.
Nafas Hani satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama
membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya nafas Hani pun terhenti...
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."
*****
Hanifah, adikku, Hani begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun
dariku. Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta
rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah
terka. Mereka mengira Hani, cowok, jika melihatnya sepintas dari
belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku
mengajak Hani hadir ke Baksos Mesjid kampus.
Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku,
"Wah kemajuan nih, Adelina...Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."
Mendengar itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Hani.
"Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi.
Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis yang tak kalah galak dari kakaknya.
Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan mengira dia akan
memakai jilbab. Hani menikah di usia muda, bahkan mempunyai anak.
Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena
pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara
sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami
saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di
Bandung, aku dan Hani menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang
selalu mengantar kami kemana-mana. Hani memaksaku, agar tak ikut-ikutan
pilih universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.
Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama
ketika aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar
tugas arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan
kebiasaan merokonya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa
majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami,
adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Quran bersama di rumah.
Alhamdulillah, pada saat itu aku berhasil masuk FE UI, sehingga tak
perlu meninggalkan rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi
juga mungkin imbas yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam.
Aku mulai mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan,
Alhamdulillah, aku menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti
di kampus.
Namun yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani
tetap saja tomboy, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun
demikian, Hani adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy
dan sikapnya yang manja di rumah Hani adalah juara kelas di sekolahnya,
dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang
lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi
sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.
Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat
rangking ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang
ini juga sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangkit dari
keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan
lagu we are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan dia
bisa ceria lagi keesokan harinya.
Hingga pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan
dan ketomboyannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut.
Dan itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di
kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Hani masih tetap
dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam
kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas
untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak
dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah
laki-laki.
Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.
"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani
"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang SMP juga pakai jilbab.". Terangku
"Oooo.."Hani membundarkan mulutnya.
Baksos belum mulai ketika aku dan Hani tiba di depan mesjid kampus.
Karena masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu
mangkal di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok
Siyem seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.
"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.
Ijah, bocah kecil kelas dua SMP itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari
kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.
"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti
meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak
biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.
"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, pasti Allah
akan memberikan lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap
ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah
pemberianku setahun lalu.
Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang
terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat,
tak seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem
meninggal dunia..
Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani
segera memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta.
Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu
siapa yang sangka Hani menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang
senang basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya.
Dulu dia memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak
dihapalnya. Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Hani melepas semua
poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu.
Walau aku tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala
hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan
penuh semangat menantang dan keoptimisan.
Dan perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering
membuat aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Hani 4
tahun lalu...Papa marah, Mama kesal, karena Hani dianggap mendahului aku
dan Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...!
Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela
didahului, akhirnya Hani melangsungkan pernikahannya.
Hani, kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika
Allah menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun.
Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa
sakit-sakit tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa.
Kesedihan kami yang luar biasa, karena mengetahui Hani tak akan lama
bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada
penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.
Sehingga akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara
jujur penyakit Hani. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Hani
ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira
yang timingnya buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah
harus menyambut kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan
anak adalah hal yang tak mungkin bagi Hani, karena akan memperlemah
kondisi Hani. Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Hani. Bahkan
ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar
akan mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan
melahirkan.
"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan
nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu
Hani dengan doa, agar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan
jika harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..?
Tapi Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."
Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan
Hani memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak
kehamilan Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama
memakai jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin
dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku
pun menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani
selalu berkata, ingin melihatku
menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.
Dan Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Hani dapat melahirkan
Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani
menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu
dibuat cemas akan keselamatan Hani sendiri.
Ya, dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap
dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita
penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,
"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu
yang jelas untuk Hani beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."
Ah, Hani sayang....
**************
Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi
oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat isyarat lambaian
tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria
mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya.
"Insya Allah Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal
kepada Allah dengan penyakitnya."Hiburnya. Aku mengangguk.
Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.
"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun,
Mbak... Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat
nasehat dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh
sampai dia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani
menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.
"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak...?" Hani
tersenyum.
"Mas Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..?
Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal
yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu,
"Mbak..., aku ingin Umar mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga.
Perhatian seperti Mas Ardi, tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik
dan jenaka seperti ibunya..."
"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli...
"Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya.."tawanya jenaka.
Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak
pernah menampakkan keputus asaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah
memberikannya penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan
bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah
itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi
meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.
Selamat jalan the champion...
*****
~* KETIKA KECERDIKAN DIANGGAP KEBODOHAN *~

Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur
yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang
anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.
Tukang cukur berkata, "Itu Bejo, dia anak paling bodoh di dunia"
"Apa iya?" jawab pengusaha
Lalu tukang cukur memanggil si Bejo, ia lalu merogoh kantongnya dan
mengeluarkan lembaran uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu menyuruh Bejo
memilih, "Bejo, kamu boleh pilih & ambil salah satu uang ini,
terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!"
Bejo melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp. 1000 dan Rp.
500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp. 500.
Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang
pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu
memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa
kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang
logam yang nilainya paling kecil."
Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan
pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang
dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya, "Bejo, tadi
saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp. 1000 dan
Rp. 500, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp. 500, kenapa tak
ambil yang Rp. 1000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.
500?"
Bejo pun berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp. 500 setiap hari,
karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang
seribu. Kalau saya ambil yang Rp. 1000, berarti permainannya akan
selesai..."
PESAN MORAL:
Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga
mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang
hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak
menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain.
*****
~* DO'A TERAKHIR SEORANG PREMAN *~

Di sebuah kota besar yang padat penduduk, hiduplah seorang preman yang
sudah berkali-kali melakukan perbuatan jahat dan keji. Loreng, begitu
orang mengenalinya. Konon pria ini sudah sering keluar masuk penjara.
Tubuhnya dempal dan berkulit hitam. Rambut keriting, agak gondrong
dengan beberapa bekas luka mengerikan ada di wajah dan lengannya.
Ia sering memalak orang-orang yang dianggapnya lemah. Sehari ia bisa
dapat Rp 200 ribu dan bila ia sedang merampok namun tak terciduk polisi,
Loreng bisa memegang hingga dua juta di saku rompi kulitnya yang bau
rokok. Ia akan tertawa girang setengah serak dengan komplotannya. Namun
bila ia terciduk oleh polisi, maka ia harus bertahan di dalam penjara.
Syukur bila ia disegani oleh penghuni selnya, namun bila ia menemukan
lawan lebih kuat, kadang Loreng bisa babak belur di sana. Baru sebulan
lalu Loreng bebas dari penjara, setelah untuk keenam kalinya ia masuk
dalam bui.
Meski begitu, Loreng tidak kapok. Rokok masih menjadi kembang gulanya,
bir masih menjadi air putihnya. Hidupnya masih bergantung pada jati
dirinya sebagai preman. Kadang ia ingin insyaf dan menjadi tukang ojek
atau buruh. Namun keinginan itu jatuh bangun hingga jatuh dan belum
pernah bangun lagi. Dunia hitam masih begitu menggoda baginya.
Sebenarnya, Loreng punya anak dan istri. Namun ia tak ingin pulang
kepada mereka karena pernah menelantarkannya sejak 15 tahun lalu saat
anak mereka masih balita. Ia masih mencintai mabuk-mabukan dan judi, ia
yakin tak akan mungkin diterima di rumahnya kembali. Kini Loreng
bermukim di belakang pasar tradisional, dekat wilayah agak kumuh.
Rumahnya hanya berupa susunan triplek dan kardus, lembab dan kotor. Tapi
cukup untuknya sekedar tidur bila tidak sedang beraksi.
Loreng kini tak sekuat dahulu. Karena rokok dan bir sudah mulai
membuatnya rapuh. Tidur di tempat yang lembab, dingin dan sering
berpolusi membuatnya sering batuk parah. Tak ada yang merawatnya, makan
pun mulai tak teratur. Karena tubuhnya mulai ringkih ia mulai gentar
untuk terlalu sering melakukan pemalakan di terminal maupun pinggiran
jalan.
Suatu ketika saat bangun tidur, entah mengapa ia begitu rindu dengan
istri dan anaknya. Dengan tubuh yang agak demam dan sedikit uang sisa
kemenangannya berjudi, hari ini ia hendak melihat tempat tinggalnya. Ia
naik bus menuju ke kota di mana ia pernah tinggal dan merajut mimpi
bersama istrinya. Sepanjang jalan, ia mengenang masa-masa indah
berpacaran bersama istrinya. Hingga mereka menikah dan akhirnya PHK
membuat Loreng putus asa dan menjadi seperti ini.
Saat tiba di depan gang tempat ia tinggal, ia merasa tempat ini tak
berubah. Ia mencium aroma batu arang sisa orang berjualan sate dari
warung sate di samping gang. Disambut ayam-ayam peliharaan pensiunan TNI
yang sekarang pun masih duduk di depan rumahnya. Ia berjalan dan
mencium harumnya aroma tradisional kampung halaman. Satu belokan lagi
dan ia akan melihat rumahnya di ujung jalan.
Namun langkahnya terhenti sejenak. Ia melihat ada sebuah mobil mewah di
depan rumah yang ia kenali sebagai rumahnya. Apakah rumahnya sudah
ditempati orang lain? Loreng mendekati rumah tersebut perlahan-lahan dan
mengintip dari balik semak dan pohon. Mobil mewah itu kini tepat di
depannya dan ia melihat sepasang anak muda sedang bercengkrama dengan
bahagia di depan serambi rumahnya.
Tak lama muncullah wajah yang ia kenali sebagai istrinya, namun alangkah
kagetnya ia karena wanita itu menggandeng pria lain. Loreng mendengar
mereka bercengkrama, ia kemudian menyadari bahwa pria itu adalah suami
istrinya kini. Lalu kedua anak muda itu sepertinya adalah putra Loreng
dan pacarnya. Tanpa sadar Loreng kadang ikut tersenyum melihat senyum
mereka, namun kemudian ia sadar bahwa meski hanya beberapa meter, Loreng
dan keluarganya sudah terpisah sekian jauh.. sekian lama.
Loreng tertunduk. Tentu saja sang istri sudah memilih pria lain untuk
membahagiakannya. Dan sepertinya mereka sudah hidup lebih terjamin dan
sejahtera, dengan uang yang lebih halal, bukan dengan uang hasil judi.
Sambil sedikit terbatuk-batuk, Loreng membalikkan langkahnya. Tak ada
yang tahu ia pernah kembali lagi ke rumah itu, namun pergi lagi dengan
langkah gontai.
Matahari makin menyengat, ternyata sudah adzan Dzuhur. Loreng terlalu
lelah untuk langsung kembali ke rumah kardusnya yang kotor. Ia pun
memutuskan istirahat di masjid dekat gang rumahnya. Entah mengapa, ia
pun rindu dengan rumah Allah ini. Dulu Loreng dan istrinya juga menikah
di masjid ini, dengan berbagai mimpi dan senyum bahagia. Namun kini ia
kembali, sebagai orang yang kotor dan bermandikan dosa.
Preman kuat yang tak lagi punya tempat pulang ketika ia menua dan
sakit-sakitan itu tiba-tiba menitikkan air mata. Sambil terbatuk-batuk
yang semakin parah, ia menuju tempat wudhu. Seorang bapak menghampirinya
dengan sedikit cemas, "Sakit, Pak? Rumahnya di mana?
Loreng hanya menggeleng dan mengambil wudhu. Ia ingin ikut sholat
berjamaah bersama orang-orang. Ia mengambil shof terdepan dan mengikuti
sholat dengan khusyu'. Sepanjang sholat ia menitikkan air mata dan
sesekali batuk. Ia menyesali kehidupannya kini yang sendiri dan hampa,
menyesali perbuatannya pada istri dan anaknya, serta menyesali hidupnya
yang tanpa makna.
Dalam untaian doa dia memohon ampun kepada Tuhan.
"Ya Allah, aku telah menghabiskan hidupku dengan berbuat jahat pada
orang lain. Aku telah menelantarkan anak dan istriku. Perbuatanku tak
dapat dimaafkan. Namun Engkau adalah Allah Yang Maha Mengampuni. Mohon
ampuni dosaku dan lindungilah selalu keluargaku. Jangan biarkan anakku
putus asa dalam kehidupannya dan menjadi sepertiku.Jadikanlah dia anak
yang soleh dan menjaga ibu, istri dan anaknya. Mohon ampun, Ya Allah.
Aaamiiin... Aaamiiin... Ya Robbal Alamin.."
Begitulah Loreng mengucap doa kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua
tangan. Selama beberapa detik ia batuk sekali dan mengerang dengan
sedikit keras. Kemudian tubuhnya tersungkur di atas tempatnya berdoa.
Beberapa orang yang masih berada di masjid terkejut dan akhirnya
menghampiri pria tersebut.
Itulah doa terakhir Loreng sang preman kota besar. Di saat terakhirnya
ia hanya ingin memohon ampun dan perlindungan untuk anak dan istrinya,
karena ia tak pernah melakukannya selama ini. Loreng dikabarkan
meninggal dengan senyuman sebelum ia masuk ke liang lahat.
*****
~* ANALOGI UANG *~
Hai....semua...
Perkenalkan..Namaku adalah UANG !!
Orang barat menyebutku MONEY....
Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah,
Namun aku mampu merombak tatanan dunia.
Aku juga "BISA" merubah 'Perilaku bahkan sifat Manusia'
Karena manusia mengidolakan aku.
Banyak orang berubah kepribadiannya, mengkhianati teman,
Menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya,
Demi aku..!!!
Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh dan bejat,
Tapi manusia memakai aku
menjadi patokan derajat,
Menentukan kaya miskin,
Terhormat atau
terhina.
Aku bukan iblis,
Tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.
Aku juga bukan orang ketiga,
Tapi banyak suami istri pisah gara2 aku.
Anak dan orang tua berselisih gara2 aku.
Sangat jelas juga aku bukan Tuhan,
Tapi manusia menyembah aku seperti Tuhan.
Bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati aku dari pada Tuhan.
Padahal Tuhan sudah pesan jangan jadi hamba uang..
Seharusnya aku melayani manusia,
Tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku !???
Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun,
Tapi banyak orang rela mati demi aku.
Perlu aku ingatkan...
Aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda,
Tapi tidak mampu memperpanjang hidup anda.
Kalau suatu hari anda di panggil Tuhan,
Aku tdk akan bisa menemani anda,
Apalagi menjadi penebus dosa2 anda,
Anda harus menghadapi sendiri dengan
sang Pencipta
Lalu menerima penghakimanNYA. ...
Saat itu, Tuhan pasti akan hitung2an dengan anda,
APAKAH SELAMA HIDUP ANDA,
MENGGUNAKAN aku dengan baik,
Atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN???
Ini informasi terakhirku :
AKU TIDAK ADA DI SURGA !!!
Jadi jangan cari aku disana ya...
*****