----- :: AL BALKHI DAN SI BURUNG PINCANG ::-----

Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang
yang terkenal dengan kesalehannya, orang itu bernama Al-Balkhi. Ia
mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal
sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishaq.
Pada suatu hari, Al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang.
Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya
itu. Namun belum lama Al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia
datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat
dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang dituju sangat jauh
tempatnya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di Masjid langsung
bertanya kepada Al-Balkhi, sahabatnya. "Wahai Al-Balkhi sahabatku,
mengapa engkau pulang begitu cepat ?"
"Dalam perjalanan", jawab Al-Balkhi, "Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan".
"Keanehan apa yang kamu maksud ?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak",
jawab Al-Balkhi menceritakan, "Aku memperhatikan seekor burung yang
pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana
burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh
dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak
bisa".
"Tidak lama kemudian", lanjut Al-Balkhi, "Ada seekor
burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa
makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik
burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia
berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".
"Lantas
apa hubungannya dengan kepulanganmu ?" tanya Ibrahim bin Adham yang
belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
"Maka aku pun berkesimpulan", jawab Al-Balkhi seraya bergumam, "Bahwa
Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung
yang pincang, buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah
Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak
bekerja. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga".
Mendengar penuturan sahabatnya itu,
Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau
memiliki pemikiran serendah itu ? Mengapa engkau rela mensejajarkan
derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu ? Mengapa kamu
mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan
orang lain ? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku
burung yang satunya lagi ? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja,
apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada
tangan di bawah ?"
Al-Balkhi pun langsung menyadari
kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil
pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung
bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "Wahai
Abu Ishaq, ternyata engkaulah guru kami yang baik".
Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.
Refleksi Hikmah :
Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan
dari Miqdam bin Ma'dikarib -radhiyallahu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah
-shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda, yang artinya: "Tidak
ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain
dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah
Daud -'alaihis salam- makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR.
Bukhari).
*****___ :: AKHIRNYA DIA MATI SEPERTI KELEDAI :: ___

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, Fakultas Pertanian di
Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan banyak dieksposs oleh berbagai
media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu Fakultas di
negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang Mahasiswa sembari memegang
jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika
memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari
sekarang !."
Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan
oleh mayoritas Mahasiswa dan Dosen di kampus tersebut. Menit demi
menitpun berjalan dengan cepat, hingga tibalah menit keenampuluh alias
satu jam dari ucapan sang Mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada
gejala apa-apa dari ucapannya, sang Mahasiswa ini berkacak pinggang,
penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada
rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah
ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya ?."
Para Mahasiswapun
pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan
syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya
karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka
yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si
Mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan,
berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly
yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar
tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak
mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. Dia masuk
rumah dan rupanya Sang Ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya
sedangkan Sang Ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan.
Karenanya, Sang Anak ini bergegas sebentar ke 'Wastafel' di dapur. Dia
berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya
dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba saja
dia terjatuh tanpa sebab dan tersungkur begitu saja, lalu tidak
bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah … dia benar-benar
sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter
diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke
telinganya !!.
Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai !."
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air
masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.
(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H seperti yang
dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah
azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)
*****
___ :: MALU DILIHAT ANJING :: _____

Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin 'Ali berangkat ke
kebun yang dijaga oleh seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja
datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya.
Ketika tiba di kebun itu, Husain melihat budaknya sedang duduk - duduk
beristirahat di bawah sebatang pohon sambil makan roti. Di samping itu,
la juga melihat seekor anjing sedang duduk di hadapan Shafi sedang
menikmati makanannya juga. Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi
dua. Yang separuh dimakan sendiri sedang separuhnya diberikan kepada
anjing.
Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing -
masing, Shafi berdo'a sambil mengangkat kedua tangannya, ”Alhamdulillahi
Rabbil ‘aalamiin. Ya Allah, berikanlah maaf dan ampunan-Mu kepadaku dan
kepada tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana
Engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat dan belas
kasih-Mu ya Rabbal 'alamin.
Husain menyaksikan semua itu.
Mendengar kata - kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat
menahan dirinya. la memanggil budaknya “Ya Shafi...” Shafi kaget
mendengar panggilan tuannya.
Sambil meloncat dengan gugup ia
menjawab, ”Aduh tuanku ! Maafkan aku. Sungguh, aku benar - benar tidak
melihatmu”. Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan
tuannya.
Tetapi sambil mendekati Shafi, Husain berkata,
”Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf kepadamu. Sebab
aku memasuki kebunmu tanpa izin lebih dahulu".
“Kenapa tuan mengatakan hal demikian,” kata Shofi dengan rikuh.
“Sudahlah jangan kita persoalkan lagi masalah ini. Hanya aku ingin tahu
mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu ?” tanya al
Husain penuh penasaran.
Dengan malu, Shafi menjawab “Maklumlah
tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku
hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan dan dia turut menjaga
kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan
ini. Karena itu, menurut pendapatku, rezeki dari tuan, sudah selayaknya
kubagi juga dengan anjing ini”.
Mendengar penjelasan Shafi,
Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak
ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan suara parau, Husain berkata,
”Wahai Shafi, saat ini juga engkau telah aku bebaskan dari perbudakan.
Terimalah dua ribu dinar ini sebagai pemberian dariku dengan penuh
keikhlasan".
Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua
ribu dinar tersebut. la seolah tak percaya dengan apa yang telah
terjadi. Namun Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil
menyerahkan uang tersebut.
*****
___:: ANJING YANG PINTAR ::___

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat
terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir
anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi.
Maka, ia menghampiri anjing
itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil
catatan itu dan membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki
domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."
Si penjual daging
melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar
disana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan
kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut
anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan.
Kebetulan pada waktu itu adalah waktu tutup untuk tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat
penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat
dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan
kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna
hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual
daging terus mengikutinya.
Anjing tersebut kemudian sampai di perhentian bus, dan mulai melihat "papan informasi jam perjalanan".
Si penjual daging terkagum - kagum melihatnya. Si anjing melihat "papan
informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yang
disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat
nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Bus lain
datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing
menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut
adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan
kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.
Bus
berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing melihat
pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia
berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian
ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil diikuti si penjual daging.
Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil
dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga. Kemudian, ia
mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan
kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tersebut. Tidak ada jawaban
dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati
tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri
jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur,
melompat balik dan menunggu di pintu.
Si penjual daging melihat
seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing
tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.
Si
penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut, "Apa yang kau
lakukan .. ??!! Anjing ini adalah anjing yang jenius. Ia dapat masuk
televisi untuk kejeniusannya."
Pria itu menjawab, "Apa kau
bilang !! Kau katakan anjing ini pintar ... ??? Dalam satu minggu ini,,
sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya. Dan kau bilang,
anjing ini anjing yang pintar ??"
Refleksi Hikmah :
Cerita ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang yang tidak
pernah puas dengan apa yang telah mereka dapat. Seringkali kita tidak
menghargai bawahan kita yang telah bekerja dengan setia selama bertahun -
tahun. Seringkali kita juga tidak menghargai atasan kita yang dipakai
Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita selalu menonjolkan kesalahan
dan kelemahan tanpa melihat kelebihan dan jasa orang lain.
*****
..:: KEBUN KEBUN ANGGUR YANG MUSNAH ::..

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang lelaki yang memiliki dua kebun yang
luas dan lapang. Kebun – kebun itu ditanaminya dengan pohon anggur.
Diantara kedua kebun ini terdapat sebuah ladang yang juga cukup luas.
Ladang ini seolah – olah menjadi pemisah bagi kedua kebun anggur
tersebut. Oleh pemiliknya, disekeliling kedua kebun anggur ini lantas
ditanaminya dengan pohon – pohon kurma pilihan sebagai pagar.
Kebun – kebun dan ladang ini segera saja tumbuh lebat dan menghasilkan
banyak buah – buahan. Buah – buahan yang dihasilkan adalah buah – buah
yang segar, besar dan seperti tidak pernah ada habisnya.
Melihat itu semua, menjadi senanglah hati Lelaki sang Pemilik Kebun.
Apalagi diantara kedua kebun ini juga mengalir pula sebuah sungai kecil
yang jernih airnya. Gemercik air sungai yang mengalir itu terdengar
merdu dan menyenangkan. Sungguh, kebun dan ladang lelaki ini benar –
benar indah dan membanggakan hati pemiliknya.
Karena
melimpahnya hasil kebun – kebun dan ladangnya, Lelaki ini segera menjadi
orang kaya raya yang disegani. Pengikutnya pun banyak. Mereka semua
adalah orang yang terkagum – kagum pada kekayaan sang Lelaki tersebut.
Sementara itu sang pemilik dua kebun juga memiliki seorang kawan yang
saleh dan taat kepada Allah. Kawannya ini juga memiliki kebun anggur.
Kebun itu diolah dan dipeliharanya dengan baik dan sungguh – sungguh.
Hanya sayangnya, hasil kebun sang kawan tidaklah sebanyak dan sebagus
hasil kebun milik lelaki pertama.
Kadangkala dalam satu dua kesempatan, mereka bertemu dan bercengkrama. Biasanya, lelaki pertama akan menyombongkan kekayaannya.
"Ah, masih sedikit saja hasil kebunmu kawan ? Kasihan sekali. Kau lihat
? Hartaku jauh lebih banyak dari hartamu dan pengikutku juga banyak."
Kata sang Lelaki Pemilik dua Kebun.
Kawannya tidak begitu
memperdulikan omongan itu, karena ia merasa telah mengolah kebunnya
dengan sebaik – baiknya. Kalau hasilnya tidak sebaik dan sebanyak hasil
kebun temannya itu, ia yakin bahwa itu adalah ketetapan Allah yang sudah
diperuntukkan baginya.
Kesombongan lelaki ini rupanya semakin
menjadi – jadi. Sehingga dia menjadi orang yang kufur atas nikmat Allah.
Pada suatu hari, lelaki ini memasuki kebunnya dengan congkak lalu ia
berkata, "Ah, kebunku yang indah. Aku dapat merasakan bahwa kebun ini
tidak akan binasa untuk selama – lamanya. Bahkan hari kiamat pun kuyakin
tak akan tiba." Lalu diteruskannya perkataannya yang penuh ketakaburan
itu.
"Melihat kekayaan dan kedudukanku di tengah masyarakat,
aku yakin seandainya ada kebangkitan dan kehidupan kembali, dan aku
dikembalikan kepada Tuhanku, maka tentu aku akan berada disisiNya dengan
kemuliaan dan keutamaan. Di sana Tuhanku akan memberi ganjaran yang
lebih baik pula dari kebun ini. Karena Tuhanku telah memuliakanku dengan
kebun ini, tentulah Tuhanku akan memberi kemuliaan pula kelak." Pikir
Lelaki tersebut dengan sombong.
Omongan semacam ini juga
diutarakannya pada kawannya yang mukmin sebagai sebuah ejekan. Dia ingin
menunjukkan bahwa karena bekal kekayaannya jauh lebih banyak, maka ia
lebih mulia dan utama dari si mukmin.
Kawannya yang mukmin tak
sedikit pun terpukau dengan kekayaan temannya. Ia justru memahami
bagaimana temannya ini telah jatuh kedalam perilaku zhalim. Maka
dinasehatinya sang teman.
"Apakah kamu akan kafir pada Tuhan
yang telah menciptakan kamu dari tanah, lalu dari setetes air mani, lalu
dia menjadikan kamu seorang laki – laki yang sempurna ? Adapun aku, aku
percaya bahwa Dialah Allah, Tuhanku. Dan aku tidak mempersekutukan
seorangpun dengan Tuhanku." Kata sang Mukmin. Temannya terdiam sejenak
mendengar ucapan itu. Ketika itu kawannya yang mukmin menambahkan
nasehatnya.
“Dan saat memasuki kebun, mengapa kamu tidak
mengucapkan Masya Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billah
(sesungguhnya semua ini terwujud atas kehendak Allah. Dan tiada kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah)." Lanjut sang Mukmin menasehati
kawannya yang zhalim.
"Hah !" sergah kawannya yang zhalim. "Bagaimanapun aku lebih kaya dan lebih mulia darimu."
Gemas sekali kawan yang mukmin ini mengetahui bahwa temannya tetap
sombong dan kufur nikmat. Maka dilanjutkannya omongannya dengan tegas.
"Kalau kamu menganggap aku lebih sedikit darimu dalam hal memiliki harta
dan keturunan, maka mudah – mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku kebun
yang lebih dari pada kebunmu. Dan mudah-mudahan saja Dia mengirimkan
petir dari langit kepada kebunmu hingga kebunmu menjadi tanah yang
licin, atau airnya surut ke dalam tanah hingga sekali – kali kamu tidak
akan dapat menemukannya lagi". Lalu ditinggalkannya temannya yang
sombong dan zalim itu untuk dapat merenungi ucapannya.
Keesokan
harinya, seperti biasa lelaki zhalim itu mendatangi kebun
kebanggaannya. Sudah tidak diingatnya lagi sindiran tajam kawannya yang
shaleh itu. Tetapi alangkah terkejutnya ia setibanya didepan kebunnya.
"Ha ! Dimana kebunku ? Dimana kebunku yang indah dan subur itu ?"
ratapnya ketika melihat kebun-kebun dan ladangnya telah hancur semua.
Pohon – pohon anggurnya roboh berikut para – para penyangga buahnya.
Pohon – pohon kurmanya tumbang. Bahkan sungai – sungai yang selalu
bergemericik itu lenyap pula ditelan bumi yang terbelah.
Terduduk di pinggir tanahnya yang porak poranda, lelaki zhalim itu
menyadari bahwa seluruh kekayaannya telah musnah binasa. Tanpa terasa,
dibolak – baliknya tangannya sebagai sebuah penyelesalan mengingat
segala biaya yang sudah dikeluarkannya selama ini untuk mengolah dan
memelihara kebun serta ladangnya.
Hatinya kini dipenuhi rasa
sesal. Ia telah kufur nikmat. Dan hanya dalam semalam, ternyata Allah
telah mencabut semua nikmat itu dari hidupnya.
Dengan berurai
air mata lelaki itu pun berkata, "Aduhai, seandainya saja dulu aku tidak
mempersekutukan seorang pun dengan Allah, mungkin nasibku tidak akan
menjadi begini”. Tetapi penyesalan yang datang terlambat tidak ada lagi
gunanya. Kekayaan dan kemuliaan yang disangkanya abadi, telah diambil
oleh pemilik-Nya semula yaitu Allah SWT, maka tinggallah lelaki itu
meratapi nasib buruk yang dipilihnya sendiri.
Dari Surat Al Kahfi : 32-44.
*****
..:: HATI SEORANG AYAH ::..

Suatu
ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada Ayahnya, ketika
tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai
berkerut - merut dengan badannya yang terbungkuk - bungkuk, disertai suara batuk - batuknya.
Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya "Ayah, mengapa wajah Ayah kian
berkerut - merut ? dan kenapa badan Ayah kian hari kian bungkuk ?"
Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab "Sebab aku adalah seorang laki - laki"
Mendengar jawaban ayahnya, anak perempuan itu bergumam "Aku tidak mengerti."
Jawaban Ayahnya tersebut membuatnya tercenung dan membuat ia makin
penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak
perempuannya itu, terus menepuk - nepuk bahunya, kemudian Ayahnya
mengatakan "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki."
Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak perempuan itu tambah
kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak itu menghampiri
Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya"Ibu, mengapa wajah Ayah jadi
berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya
Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"
Ibunya menjawab "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar
bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu
jawaban sang Ibu.
Anak perempuan itupun kemudian tumbuh
menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya
yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi
terbungkuk-bungkuk ?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu
bermimpi. Di dalam mimpi itu, seolah-olah dia mendengar suara yang
sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan
jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa
kepenasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku
membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari
bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap
ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."
"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya."
"Ku-berikan kemauan
padanya, agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari
tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak
terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."
"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya
pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat
panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah
kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan
tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat,
adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan
hasil dari jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan
serta keuletan, yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan
membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap
perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."
"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi
mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun
juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai
hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan
rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan
perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang
menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling
mengasihi sesama saudara."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan
kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap
anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali
ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."
"Ku-berikan
kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan
menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap
Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan
bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun
seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan
saling melengkapi serta saling menyayangi."
"Ku-berikan kerutan
diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha
sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya
bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar
dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab
terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat
tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi
kelangsungan hidup keluarganya."
"Ku-berikan kepada Laki-laki
tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga,
agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah
kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya
tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdo'a
hingga menjelang subuh. Setelah itu dia menghampiri bilik Ayahnya yang
sedang berdo'a, ketika Ayahnya berdiri, anak perempuan itu merengkuh dan
mencium telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu,
Ayah."
(Dikutip dari tulisan H. Muh. Nur Abdurrahman - Harian Fajar Makassar)
*****
..::: PENGGEMBALA YANG AGUNG :::...

Seperti biasa, hari itu Muhammad kecil berangkat menggembalakan kambing
ke lembah yang ditumbuhi rerumputan, bersama teman – teman sebayanya.
Muhammad datang ke tempat itu untuk menggembalakan ternak saudaranya. Tak jarang mereka harus tinggal berhari-hari di dusun terpencil yang jauh dari Makkah.
Muhammad duduk di atas sebuah batu. Sepasang matanya yang tenang, penuh
keikhlasan menatap tajam alam sekitarnya. Angin pegunungan yang bertiup
menyegarkan badan. Matahari yang terbit di timur dan tenggelam di
barat. Bulan dan bintang yang bermunculan pada malam hari. Semua
teratur, berjalan sebagaimana mestinya. Jika tidak, pasti dunia ini akan
binasa.
Pemandangan alam sangat menggoda hati Muhammad untuk
terus merenungkan Sang Pencipta yang Maha Kuasa, sebaik-baik Pengatur
alam beserta isinya. Muhammad duduk bertafakur, tenggelam dalam alam
renungan.
Lalu, diperhatikannya kambing – kambing gembalaan
yang memakan rumput. Khawatir ada yang berpencar terlalu jauh. Sebab,
disekitar tempat itu masih ada serigala dan binatang – binatang buas
yang mengincar hewan ternak.
“Hus ! Hus ! Jangan terlalu jauh dari indukmu. Nanti ada serigala !” serunya.
Ia sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Sesekali kambingnya
mengembik. Lalu, kembali makan dengan tenang. Ketika melihat anak
kambing yang bermain terlalu jauh, ia menggiringnya agar berkumpul
kembali dengan kambing-kambing lainnya.
Dengan cermat, Muhammad
memeriksa keadaan kalau - kalau ada serigala yang mengincar kambingya.
Jika memang ketahuan ada serigala, ia akan segera mengusirnya jauh-jauh.
Begitulah, Nabi Muhammad yang pada masa kecilnya bekerja menjadi penggembala kambing keluarganya.
Kambing gembalaannya berkembang biak dengan cepat. Walaupun keturunan
bangsawan Quraisy dan sanak saudaranya banyak yang kaya raya, tetapi
Nabi Muhammad tidak mau menggantungkan hidupnya kepada mereka. Sesudah
Nabi Muhammad yatim piatu, Abu Thalib, pamannya yang hidup kekurangan,
mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Ketika Muhammad berusia
dua belas tahun, ia mulai berdagang bersama Abu Thalib ke tanah Syam.
Akan tetapi, gagal. Sebelum mereka sampai di Syam, seorang Pendeta
bernama Buhaira memperingatkan bahwa jiwa Muhammad dalam bahaya. Abu
Thalib pun segera membawa Muhammad pulang ke Makkah. Mereka hanya
berdagang sekadarnya. Keselamatan Muhammad jauh lebih penting.
Sesudah itu, Abu Thalib mengajak Muhammad berdagang di pasar-pasar dekat
kota Makkah saja. Dalam berdagang, Muhammad selalu melayani pembeli
dengan ramah, tutur kata yang lemah lembut dan jujur. Ia pandai
menawarkan barang dagangannya sehingga dagangannya cepat habis terjual.
Seperti juga menggembala kambing, usaha dagang Muhammad berhasil baik.
Sedikit demi sedikit barang dagangannya bertambah dan memperoleh untung
yang besar. kini Muhammad di kenal sebagai pedagang yang berhasil di
kota Makkah. Tetapi, ia tetap selalu bersyukur kepada Allah. Beliau
tetap giat bekerja, gemar bersedekah dan menolong orang-orang yang
membutuhkan bantuan.
Walau telah menjadi Nabi dan mempunyai
kedudukan yang tinggi, beliau tetap melakukan sendiri pekerjaan
hariannya. Nabi selalu menambal sendiri bajunya yang robek, atau
menjahit terompahnya yang putus talinya.
Nabi Muhammad membawa
sendiri barang yang dibelinya di pasar. Abu Hurairah yang saat itu
menemaninya, menawarkan diri untuk membawakan belanjaan itu, tapi Nabi
melarangnya.
“Yang memiliki barang itulah yang lebih pantas
membawa barangnya. Sebab, Allah menyukai orang yang tidak menggantungkan
hidupnya kepada orang lain,” kata Nabi.
Bahkan, dalam suatu
perjalanan bersama sahabatnya, mereka beristirahat sebentar untuk
memasak makanan. Nabi Muhammad ikut mencari dan memanggul kayu bakar
untuk memasak.
“Ya Rasulullah, biarlah kami yang mencari dan
mengangkut kayu. Anda silahkan beristirahat sambil menunggu hidangan,”
kata salah seorang Sahabat.
“Aku pun harus ikut mencari kayu
bakar,” kata Nabi seraya tersenyum. Beliau tidak ingin berpangku tangan,
sementara yang lain sibuk bekerja.
Dalam peperangan pun,
Rasulullah sebagai Panglima perang tidak hanya memerintah di tempat
duduknya. Beliau ikut bertempur ke tengah medan pertempuran bersama
sahabat – sahabatnya.
Salah satu peperangan yang hebat di zaman
Rasulullah ialah Perang Khandak atau Perang Parit. Kaum Muslimin
bekerja keras siang – malam untuk menggali parit raksasa. Nabi Muhammad
pun ikut menggali dan masuk ke lubang parit. Bahkan, beliau
menghancurkan batu-batu, menyekop, dan memikul tanah di bahunya.
Sewaktu menggali parit, para Sahabat kewalahan dengan adanya batu yang
sangat keras. Batu itu sukar dipecahkan oleh linggis maupun besi. Mereka
melaporkannya pada Rasulullah.
“Ada batu yang keras sekali.
Rasanya kami tak sanggup memecahkannya. Bagaimana Ya Rasul ?” tanya
Sahabat. Lalu, Nabi turun kedalam parit. Seketika itu, dengan besi di
tangannya, batu-batu itu dipecahkan. Saking kerasnya pukulan, bongkahan
batu itu sampai menyemburkan api saat besi ditimpakan diatasnya.
Sungguh, pekerjaan yang amat berat dan menguras tenaga. Namun,
peperangan tidak pernah terjadi. Musuh tidak jadi menyerang. Allah yang
Maha Kuasa mengusir mereka dengan kekuatan alam. Udara dingin dan badai
gurun yang menakutkan, membuat musuh tak berdaya dan menyerah kalah.
Sejak kecil sampai akhir hayatnya, Nabi Muhammad tak pernah merepotkan
orang lain. Malahan, beliau selalu memberi bantuan apa saja kepada
orang-orang yang membutuhkannya. Betapa mulia akhlak Rasulullah, dan
sepantasnyalah bagi kita seorang Muslim untuk mencontohnya.
( FOTO SEKEDAR ILUSTRASI )
*****
....:: KHALIFAH,SI PEMERAH SUSU ::....

Abu Bakar r.a setiap hari berkeliling di perkampungan Madinah. Ia
terbiasa berkunjung ke rumah – rumah Janda tua dan rumah anak – anak
yatim piatu.
“Assalamu’alaikum...,” salamnya di depan pintu rumah seorang Janda tua.
“Wa’alaikummussalam... !” jawab Janda tua. Dibukanya pintu, lalu wajah perempuan tua itu menjadi berseri – seri.
“Oh, Abu Bakar rupanya,” sambutnya gembira.
“Nek, apa mau kuperahkan susu kambingnya ?” tanya Abu Bakar.
“Tidak usah, Tuan...” dengan malu-malu, perempuan tua itu mencoba
menolak. Tapi, Abu Bakar mengetahui kalau kedatangannya memang sangat
membantu pekerjaan perempuan tua itu.
“Mari Nek, aku bantu memerahkan susunya,” kata Abu Bakar tersenyum.
Abu Bakar pun memerahkan susu kambing sampai semua wadah terpenuhi.
Sedangkan perempuan tua itu memandangi Abu Bakar dengan rasa kagum. Abu
Bakar sering datang ke rumahnya untuk membantu memerah susu tanpa
mengharap balasan. Kalau saja Abu Bakar tidak datang membantu, pasti ia
kesusahan.
“Nek, semua wadah sudah terisi...,” kata Abu Bakar setelah menyelesaikan wadah terakhirnya.
“Terima kasih banyak Tuan, atas bantuannya hari ini,” ucap perempuan tua itu.
“Baiklah nek, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.
“Wa’alaikummussalam,” jawab Perempuan Tua itu lagi.
Abu Bakar meninggalkan perempuan tua itu dengan hati gembira. Kemudian, ia singgah di rumah seorang anak yatim.
“Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar. Seorang anak perempuan berlari kecil membukakan pintu.
“Wa’alaikummussalam,” jawabnya. Bukan main senangnya anak itu ketika melihat Abu Bakar datang.
“Tuan datang ! Mari, silakan masuk,” sambutnya penuh hormat.
“Nak, apa ibumu ada di rumah ?” tanya Abu Bakar. Anak itu menggeleng pelan, “Ibu sedang mencari kayu bakar,” kata anak itu.
“Mari, kumasakkan sesuatu untukmu,” sahut Abu Bakar.
Abu Bakar memasak gandum untuk makanan anak yatim itu. Sungguh gembira
anak perempuan itu menunggu makanan yang dimasak Abu Bakar. Tidak lama
kemudian, makanan itu pun matang. Abu Bakar menyuguhkannya pada anak
yatim itu.
“Sekarang, makanlah Nak. Bila ibumu datang, ia tidak
perlu memasak lagi,” kata Abu Bakar. Anak itu pun makan dengan
lahapnya. Abu Bakar memandangnya sambil tersenyum.
“Baiklah,
aku permisi. Insya Allah, besok aku datang lagi memasak gandum untukmu,”
kata Abu Bakar seraya mengusap kepala anak yatim itu dengan lembut.
“Terima kasih, Tuan,” ucapnya.
“Berhati-hatilah Nak,, Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.
“Wa’alaikummussalam,” jawab anak itu.
Abu Bakar berjalan menuju rumah-rumah lainnya untuk membantu memerah
susu atau memasakkan gandum sampai sore hari. Abu Bakar suka sekali
dengan pekerjaannya itu. Setiap hari dilakukannya terus menerus.
Begitulah Abu Bakar...walaupun ia seorang saudagar yang kaya raya,
orang-orang sangat segan dan menghormatinya. Harta kekayaannya banyak
sekali yang dipakai untuk perjuangan Agama Islam. Ia juga suka membeli
budak-budak yang disiksa karena ketahuan memeluk Islam. Kemudian
dimerdekakannya.
Ketika ia terpilih menjadi Khalifah, pekerjaan
itu pun masih dilakukannya. Karena kesibukannya banyak menyita waktu,
Abu Bakar tidak bisa lagi mengunjungi rumah-rumah Janda tua dan anak
yatim.
Suatu siang, seorang gadis kecil membawa wadah di
tangannya. Ia akan memerah susu kambing. “Diamlah, aku mau memerah
susu,” katanya ketika kambingnya tidak mau diam. Tangannya yang mungil
tidak cukup kuat menjinakkan kambing itu.
“Aduh..., kenapa tidak menurut ?” sahut anak yatim itu. Kambingnya malah menghentak-hentakkan kakinya.
“Bu, kemana ya, orang itu ?” tanyanya.
“Orang yang mana ?” ibunya balik bertanya.
“Orang yang suka membantu memerah susu tidak datang lagi, ya ?” sahut anak itu.
“Sudahlah nak, kau harus terbiasa mengerjakannya sendiri,” kata ibunya.
Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum,” terucap salam dari luar.
“Wa’alaikum salam” jawab anak itu.
“Oh ! Tuan datang lagi !” serunya ketika melihat laki-laki yang suka
membantunya memerah susu sedang berdiri di depan pintu. Abu Bakar
tersenyum. Betapa gembira anak itu, Si Pemerah susu datang lagi. Sudah
berapa hari ia tidak datang kerumahnya.
“Nak, mari kuperahkan susu kambingmu,” kata Abu Bakar seperti biasanya. Anak itu bergegas memanggil ibunya.
“Bu ! Si Pemerah Susu itu datang lagi !” serunya girang. “Ia mau membantu kita,” katanya lagi.
Mendengar suara anaknya, ibu itu segera keluar menemui Abu Bakar. “Ya
Allah ! Anakku, kau tidak patut berkata seperti itu padanya. Tahukah
kamu siapa tamu ini ?” kata ibunya terperanjat.
“Dia Si Pemerah Susu yang suka membantu kita,” jawab anak itu polos.
“Tidak, anakku... Beliau adalah orang yang mulia. Beliaulah Khalifah
Abu Bakar,” kata ibunya. “Ya Amirul mukminin, maafkanlah anakku, ia
tidak tahu siapa Tuan,” dengan wajah pucat ibunya mohon maaf. Gadis
cilik itu tampak ketakutan sekali.
“Tidak apa-apa. Biarkan saja...,” kata Abu Bakar sambil tersenyum.
“Mari kuperahkan,” kata Abu Bakar lagi.
Khalifah Abu Bakar lalu memerahkan susu kambing di rumah anak yatim
itu. Kemudian datang ke rumah – rumah lainnya untuk memasakkan gandum.
( FOTO SEKEDAR ILUSTRASI )
*****
...:: SEORANG GADIS YANG JUJUR ::...

Khalifah ‘Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian.
Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat.
Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah ‘Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah ‘Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa
yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik, Khalifah ‘Umar
mengintipnya. Tampaklah seorang Ibu dan Anak Perempuannya yang sedang
sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya bisa mendapat beberapa
kaleng susu hari ini,” kata Anak Perempuan itu. “Mungkin karena musim
kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.” Lanjut Anak Perempuan
tersebut.
“Benar Anakku,” kata Ibunya.
“Tapi jika
padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan
gemuk. Kita bisa memerah susu yang sangat banyak,” harap Anaknya.
“Hmmm....., sejak Ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun.
Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita
akan kelaparan,” kata Ibunya.
Anak Perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik Ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air, supaya penghasilan kita cepat bertambah banyak.”
Anak Perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah Ibunya yang keriput.
Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat
berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera
menolak keinginan Ibunya.
“Tidak, Bu !” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua Penjual Susu mencampur susu dengan air.”
Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat
curang kepada Pembeli.
“Ah ! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu ?
Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak
melakukan sesuatu,” gerutu Ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada Pembeli ?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air ! Tengah
malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah ‘Umar pun tidak akan
tahu perbuatan kita,” kata Ibunya tetap memaksa.
“Ayolah Nak, mumpung sedang tengah malam. Tak ada yang melihat kita !”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita
mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti
mengetahui segala perbuatan kita, serapi apa pun kita
menyembunyikannya,” tegas Anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.
Sungguh kecewa hatinya mendengar Anaknya tak mau menuruti suruhannya.
Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran Anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi.
Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap
saat,” kata Anak itu.
Tanpa berkata apa-apa, Ibunya pergi ke kamar. Sedangkan Anak Perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah ‘Umar tersenyum kagum akan kejujuran Anak Perempuan itu.
“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah !” gumam Khalifah ‘Umar.
Khalifah ‘Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat
pulang ke rumahnya.
Keesokan paginya, Khalifah ‘Umar memanggil putranya, ‘Ashim bin ‘Umar. Di ceritakannya tentang Gadis jujur Penjual Susu itu.
“Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah ‘Umar.
“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai Gadis jujur seperti dia.
Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
‘Ashim bin ‘Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian ‘Ashim melamar Gadis itu. Betapa terkejut Ibu
dan Anak Perempuan itu dengan kedatangan Putra Khalifah. Mereka
mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan,
Saya dan Anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu.
Tuan jangan tangkap kami....,” sahut Ibu tua ketakutan.
Putra Khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting Anak Gadisnya.
“Bagaimana mungkin ? Tuan adalah seorang Putra Khalifah , tidak
selayaknya menikahi Gadis miskin seperti Anakku ?” tanya Ibu tua itu
dengan perasaan ragu.
“Khalifah adalah orang yang tidak
membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajat
seseorang disisi Allah,” kata ‘Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Dan Aku melihat Anakmu adalah seorang Gadis yang sangat jujur,” kata Khalifah ‘Umar.
Anak gadis itu saling berpandangan dengan Ibunya. Bagaimana Khalifah
tahu ? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...,” jelas Khalifah ‘Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah ‘Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Sesudah ‘Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat
bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang.
Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai Anak dan Cucu yang kelak akan
menjadi orang besar dan memimpin Bangsa Arab.
*****
...:: HAKIM SYURAIH YANG ADIL ::...

Setiap pagi, Syuraih bin Al Harits Al Kindi berangkat ke tempat
kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan kearifan
pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang
teguh. Ia adalah seorang Hakim yang disukai dan disegani masyarakat.
Syuraih terbiasa menghakimi kalangan Kaum Muslimin maupun orang-orang
bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara Pejabat
atau Rakyat Kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia
bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang
adil dan bijaksana.
Hari itu Syuraih kedatangan Amirul
Mukminin, Umar bin Khaththab. Rupanya, Khalifah ‘Umar sedang mendapat
masalah dengan seorang Pedagang Desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk
mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya.
Dengan wajah yang tenang dan berwibawa, Syuraih memimpin sidang pengadilan.
“Silakan Tuan Pedagang, apa yang mau Anda sampaikan ?” tanya Syuraih.
“Pak Hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu Amirul Mukminin membeli
seekor kuda dari saya,” kata Pedagang. “Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin
mengembalikannya lagi dan meminta ganti,” lanjutnya.
Syuraih lalu berpaling pada Khalifah ‘Umar. “Dan sekarang giliran Anda, ya Amirul Mukminin,” kata Syuraih.
“Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan
berpenyakit sehingga larinya tidak kencang,” kata ‘Umar bin Khattab.
“Bagaimana Tuan ?” tanya Syuraih lagi.
“Saya tidak akan menerimanya lagi, karena saya sudah menjual kuda itu
dalam keadaan sehat dan tidak cacat,” sahut Pedagang Kuda itu. Syuraih
mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu,
Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khattab.
“Apakah ketika Amirul Mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat ?” tanya Syuraih seraya menatap Umar.
“Ya benar !” jawab ‘Umar jujur.
Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu. “Nah, kalau
begitu, peliharalah apa yang Anda beli. Atau bila ingin
mengembalikannya, kembalikanlah seperti ketika Anda menerimanya,” tukas
Syuraih dengan mantap.
Hati Amirul Mukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu.
“Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih ?” tanya ‘Umar setengah memprotes
keputusan itu. Syuraih menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa
diganggu gugat.
Khalifah ‘Umar merenung beberapa saat. Benar
sekali apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan
yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, ‘Umar dapat
menerimanya. Jangan mentang – mentang ia pejabat, lalu harus selalu
dimenangkan perkaranya. Sementara nasib Rakyat Kecil tidak diperhatikan.
Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh
Syuraih. Pengadilannya adalah tempat mendapatkan tempat yang
seadil-adilnya. Hingga pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib, Syuraih tetap
memangku jabatan Hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakat kota
Khuffah.
Suatu hari, Khalifah ‘Ali mendatangi Hakim Syuraih untuk mengajukan perkara dengan seorang Yahudi.
“Ada masalah apa, ya Amirul Mukminin?” tanya Syuraih.
“Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal,
aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapapun,” sahut
Khalifah ‘Ali.
“Bagaimana pendapatmu, wahai Tuan Yahudi ?” tanya Syuraih pada lelaki itu.
“Bukan ! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku.” Bantah
orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat
orang itu. Kemudian menoleh pada Khalifah ‘Ali.
“Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu ?” tanyanya lagi pada ‘Ali.
“Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang
seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan
kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin aku menjualnya di
pasar ?” jawab ‘Ali kemudian.
“Aku tidak meragukan apa yang
Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk
dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu,” kata Syuraih.
“Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi,” kata ‘Ali. Khalifah ‘Ali
begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat
berharga dan tinggi nilainya bagi Khalifah. Ia sangat berharap baju
perangnya bisa dimilikinya kembali.
“Pembantuku, Qanbar, akan
kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al Hasan, anakku,” sahut Khalifah ‘Ali
bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran
ucapannya.
“Ya, Amirul Mukminin ! Tidaklah sah kesaksian
seorang anak terhadap ayahnya,” kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang
sudah ditetapkan Allah.
“Subhanallah ! Kesaksian Al Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima,” ucap ‘Ali mengeluh sedih.
“Betul ! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya,”
tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah.
Walaupun itu menyangkut Khalifah besar, seorang ayah dari pemuda
penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah.
Khalifah ‘Ali
menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia
merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali.
“Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu,” kata
‘Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya ! Jauh di
lubuk hati, Khalifah ‘Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak
dengan benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak
terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah.
“Ya Amirul Mukminin !” Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah ‘Ali.
“Memang betul ! Baju perang ini milikmu ! Hari ini, aku melihat seorang
Hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku.
Sungguh ! Aku lihat Islam melakukan kebenaran ! Saat ini juga aku akan
menjadi penganut Islam.......,” kata orang itu.
“Pak Hakim yang
mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang Amirul Mukminin
sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin !” sahut orang Yahudi itu
mengakui yang sebenarnya.
Mendengar perkataan orang itu, khalifah ‘Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia.
“Karena kau sudah masuk Islam, maka kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini,“ sahut Khalifah ‘Ali dengan tulus.
Sungguh mengagumkan keputusan yang diberikan Hakim Syuraih !. Dan
sangat berbeda dengan apa – apa yang terjadi dengan Para Hakim masa
kini. Mereka sangat mudah sekali untuk disuap. Karena memang mereka
menjadi Hakim, hanya untuk mencari dan memperbanyak uang saja, bukan
untuk menegakkan perkara dengan adil dan benar.
Karena prinsip mereka,
‘Siapa yang bisa membayar lebih tinngi, maka dialah yang menang’.
*****
....:: BENING HATI SANG NABI ::....

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW selalu bersifat rendah hati dan pemaaf.
Tiada terhitung banyaknya cacian dan hinaan yang diterima Beliau dari
kaum kafir Quraisy. Namun, Beliau tetap berbuat baik terhadap orang-orang
yang menghinanya itu. Salah seorang yang sangat membenci Nabi Muhammad
SAW adalah seorang Nenek tua Yahudi. Kebetulan jika Nabi ke Masjid
selalu melewati rumah si Nenek. Suatu hari Rasulullah lewat, si Nenek
sedang menyapu rumahnya. Buru-buru si Nenek mengumpulkan sampah dan debu
dari rumahnya. Ketika Rasulullah lewat di depan jendela, maka
dilemparkannyalah sampah dan debu itu. Rasulullah terkejut, namun ia
tidak marah begitu tahu siapa yang melemparnya. Malah Rasulullah
mengangguk sambil tersenyum. “Assalamu’alaikum !” sapa Rasulullah. Nenek
itu malah melotot kepada Rasulullah. “Enyah, kau !” kata si Nenek.
Keesokan harinya, Rasulullah lewat lagi di depan rumah si Nenek. Masya
Allah, ternyata si Nenek sudah bersiap-siap lagi melempar Rasulullah
dengan kotoran. Kali ini dia juga meludahi Rasulullah. Bagaimana sikap
Nabi Muhammad ? Lagi-lagi, Rasulullah hanya tersenyum dan berusaha
membersihkan pakaiannya. Si Nenek menjadi tambah marah karena Rasulullah
SAW tidak terpengaruh.
Begitulah, beberapa hari Rasulullah
lewat di depan rumah si Nenek tersebut. Setiap kali itu pula ia menerima
lemparan sampah dan debu. Rasulullah tetap saja tidak marah. Suatu kali
Rasulullah SAW, lewat lagi di depan rumah sang Nenek. Tapi, kali ini
lain. Si Nenek tidak kelihatan. Padahal, Rasulullah sudah bersiap-siap
menyapanya. “Aneh,” pikir Rasulullah, “Pasti ada sesuatu yang terjadi
pada si Nenek.” Rasulullah lalu mendatangi tetangga si Nenek. “Apakah
engkau tahu apa yang terjadi dengan Nenek di sebelah rumah ini ? Aku
tidak melihatnya hari ini,” tanya Rasulullah.
“Mengapa engkau
begitu peduli pada dia, Wahai Rasulullah ? Bukankah ia selama ini selalu
menghinamu ?” Rasulullah hanya tersenyum mendengar pertanyaan tetangga
si Nenek. Tetangga itu lalu menjelaskan bahwa si Nenek itu tinggal
sebatang kara, dan kini sedang sakit keras.
Maka, bergegaslah
Nabi Muhammad menuju rumah si Nenek yang sedang sakit. Di rumah itu,
Rasulullah membantu memasak makanan, mengambilkan air dari sumur dan
membersihkan debu – debu di rumah. Si Nenek heran melihat ada orang yang
membantunya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Lalu, tahulah ia
siapa sebenarnya yang membantunya. Begitu melihat wajah Rasulullah yang
sangat tulus, Nenek itupun menitikkan air mata. Selama ini tidak ada
yang mau merawatnya. Tapi, justru orang yang selama ini dihinanya,
dengan penuh kasih sayang merawatnya. Sungguh mulia hati orang ini. Si
Nenek lalu meminta maaf kepada Rasulullah.
Begitulah salah satu
kisah tentang kemuliaan dan kebeningan hati Nabi Muhammad SAW. Karena
itu, Para Sahabat dan orang-orang yang pernah mengenal Beliau begitu
menyayangi Beliau. Ketika Beliau wafat, orang segagah ‘Umar bin Khattab
juga menangis tersedu-sedu.
Nah, Para Pembaca yang Budiman, si
Nenek tadi juga akhirnya masuk Islam. Ia kemudian menjadi salah seorang
muslimah yang taat. Banyak orang masuk Islam karena melihat akhlak Nabi
Muhammad SAW, yang sangat luar biasa. Kita bisa meniru apa yang Beliau
lakukan kepada orang lain, termasuk kepada orang yang berbuat buruk
kepada kita sekalipun.
( FOTO SEKEDAR ILUSTRASI )
*****
..:: MURAQABBATULLAH (Merasa diawasi oleh Allah) ::..

Alkisah, tersebutlah seorang guru yang tinggal bersama tiga orang
muridnya. Namun, walaupun ketiga muridnya itu belajar kepadanya, si guru
memberikan perhatian lebih kepada salah seorang
dari tiga muridnya. Perlakuan guru itu, tentu saja menimbulkan
pertanyaan di dalam hati dua orang murid lainnya. Akhirnya, mereka
berdua mendatangi guru mereka dan bertanya, "Wahai Guru, mengapa engkau
memberikan perhatian lebih kepadanya dibandingkan perhatian guru kepada
kami."
Protes dari dua orang muridnya ini ditanggapi oleh si
guru dengan memanggil ketiga muridnya kemudian memberikan seekor burung
dan sebilah pisau kepada ketiganya, lalu berkata, "Wahai murid-muridku,
sembelihlah burung itu dengan sebilah pisau yang telah aku berikan
kepada kalian pada tempat yang sangat tersembunyi sehingga tidak ada
yang melihat perbuatan kalian."
Ketiga murid itu pun berpencar
mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk si guru untuk menyembelih
burung itu. Setelah itu, ketiganya kembali mendatangi si guru untuk
melaporkan tugas yang telah dilaksanakan. Di hadapan si guru, murid
pertama berkata, "Aku telah berhasil melaksanakan perintah dan aku telah
menyembelih burung itu di tengah hutan dan tidak ada yang melihat
perbuatanku." Sambil memperlihatkan burung yang telah disembelihnya.
Lalu murid kedua melaporkan, "Aku juga telah berhasil melaksanakan
tugas dengan menyembelih burung itu di puncak gunung dan tidak ada yang
melihat perbuatanku." Ia pun memperlihatkan burung yang telah
disembelihnya. Tetapi, tidak demikian dengan murid ketiga. Ia belum
menyembelih burung itu.
Di hadapan guru dan kedua temannya, ia
berkata, "Aku tidak bisa melaksanakan perintah guru, sebab di manapun
aku berada, walaupun orang lain tidak melihat perbuatanku, tapi Allah
senantiasa melihatnya." Kemudian si guru pun berkata kepada kedua
muridnya yang melakukan protes tadi, "Sikap itulah yang membuatku lebih
sayang dan lebih memperhatikan dia daripada kalian berdua."
Sikap yang ditunjukkan oleh murid kesayangan si guru seperti pada kisah
di atas disebut dengan muraqabatullah. Berasal dari kata
raaqaba-yuraaqibu yang berarti mengawasi, mengamati, dan mengawal.
Dengan demikian, muraqabatullah berarti sikap seseorang yang selalu
merasa bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dan mengamati setiap tingkah
lakunya, di manapun dan kapanpun.
Muraqabatullah lahir dari
keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang
dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan. Tidak ada perbuatan
manusia sedikit pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman,
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2: 284).
Muraqabatullah
hendaknya menjadi sikap yang tertanam dalam jiwa setiap mukmin. Jika
demikian, maka segala bentuk kejahatan, kemungkaran, dan kebatilan baik
yang bersifat vertikal maupun horizontal tidak akan terjadi lagi.
Muraqabatullah akan membawa setiap perbuatan kita senantiasa
berorientasikan kebajikan.
*****
.:: KETIKA JENDELA HATI MENEMBUS DINDING TEMBOK ::.

Tersebutlah dua orang pria, keduanya menderita sakit keras dan sedang
dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu
penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat
tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari
paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela
satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain tidak bisa
melakukan apa-apa, dia hanya bisa berbaring lurus di atas tempat
tidurnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama
berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan,
keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka
kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat
tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia
menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan
sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria kedua merasa begitu senang dan
bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan
warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela,
tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa
berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu
mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang
dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon
tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit
kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."
Pria pertama itu
menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang
lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan
itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di
rumah sakit itu.
Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya
dirinya bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat
jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski
pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat
melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan
semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya,
dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat
datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata
pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan
tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat
lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini
meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat
jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan
mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia
meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan
perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia
ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa
senangnya ia, ketika ia akhirnya bisa melihat sendiri dan menikmati
semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya
ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya ? Ternyata,
jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG !!
Ia berseru
memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah
wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar
biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa
sesungguhnya pria tadi adalah seorang buta yang bahkan tidak bisa
melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata Perawat itu.
*****
1 TAMPARAN UNTUK 3 PERTANYAAN

Ada seorang Pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah
air. Sesampainya di rumah, ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari
seorang guru agama, Kyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3
pertanyaannya. Akhirnya orang tua Pemuda itupun mencarikan orang yang
dimaksud tersebut, seorang Kyai.
Pemuda : Anda siapa ? dan apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ?
Kyai : Saya Hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.
Pemuda : Anda yakin ? Sedangkan Profesor dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : Saya akan mencoba menjawab pertanyaan sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan :
Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya.
Apakah itu yang dinamakan takdir.
Kalau syaithan diciptakan dari api, kenapa dimasukan ke neraka yang
dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka
memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu ?
Tiba - tiba Kyai tersebut menampar pipi Pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya ?
Kyai : Saya tidak marah ... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh - sungguh tidak mengerti.
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya ?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kyai : Jadi Anda percaya bahwa sakit itu ada ?
Pemuda : Ya !
Kyai : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama ... kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya ?
Pemuda : Tidak.
Kyai : Apakah pernah terfikir oleh Anda akan menerima tamparan dari saya hari ini ?
Pemuda : Tidak.
Kyai : Itulah yang dinamakan dengan takdir.
Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda ?
Pemuda : Kulit.
Kyai : Terbuat dari apa pipi anda ?
Pemuda : Kulit.
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya ?
Pemuda : Sakit.
Kyai : Walaupun syaithan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat
dari api, jika Tuhan menghendaki, maka neraka akan menjadi tempat yang
menyakitkan untuk syaithan. Dan itu adalah jawaban untuk pertanyaan
terakhir.
*****
..:: WANITA YANG SELALU BERBICARA DENGAN AL-QUR'AN ::..

Berkata Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al Haram, lalu berziarah ke
makam Rasulullah SAW. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba
saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dIbuat dari bulu. Ia adalah
seorang Ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan
salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Al Mubarak, Wanita Tua itu
selau menjawab dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur'an. Walaupun
jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak
terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh."
Wanita Tua : "Salaamun qoulammin robbirrohiim." (QS. Yaasin : 58) ("Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang")
Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini ?"
Wanita Tua : "Wa man yudhlilillahu falaa haadiyalahu." (QS : Al-A'raf :
186) ("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia sedang tersesat.
Abdullah : "Kemana anda hendak pergi ?"
Wanita Tua : "Subhaanalladzia asraa bi'abdihia lailan minal Masjidil
haraami ilal Masjidil aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang
telah menjalankan hamba Nya di waktu malam dari Masjid Al Haram ke
Masjid Al Aqsa")
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke Masjid Al Aqsa.
Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini ?"
Wanita Tua : "Tsalaatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")
Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan ?"
Wanita Tua : "Huwa yuth'imunii wa yasqiin" (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah Pemberi aku makan dan minum")
Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu ?"
Wanita Tua : "Faillam tajiduu maa-an fatayammamuu sha'iidan thoyyiban"
(QS. Al-Maidah : 6) ("Bila tidak ada air, maka bertayamumlah dengan
tanah yang bersih")
Abdullah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya ?"
Wanita Tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil" (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")
Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa ?"
Wanita Tua : "Waman tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim."
(QS. Al-Baqarah : 158) ("Dan barangsiapa dengan kerelaan hati
mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui")
Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika safar ?"
Wanita Tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS.
Al-Baqarah : 184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu
mengetahui")
Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya ?"
Wanita Tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiIbun 'atiid."
(QS. Qaf : 18) ("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada
Raqib 'Atid"
Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang mAnakah, hingga bersikap seperti itu ?"
Wanita Tua : "Walaa taqfu maa laisa bihia 'ilmun. Inna sam'a wal
bashooro wal fuaada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas'uula." (QS. Al-Isra' :
36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena
pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")
Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."
Wanita Tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum."
(QS.Yusuf : 92) ("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah
telah mengampuni kamu")
Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu
untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda
akan menjumpai kafilah yang di depan."
Wanita Tua : "Wa maa
taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang siapa
mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya"). Lalu Wanita Tua ini
berpaling dari untaku, sambil berkata :"Qul lil mu'miniina yaghdudhna
min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang
mukminin tundukkan pandangan mereka")
Maka saya pun memejamkan
pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi
tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi
baginya. Wanita itu berucap : "Wa maa 'ashoobakum min mushibatin fa
bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa
kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")
Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."
Wanita Tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami
telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman") Selesai mengikat unta itu
sayapun mempersilahkan Wanita Tua itu naik.
Abdullah : "Silahkan naik sekarang."
Wanita Tua : "Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa
lahuu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolIbuun." (QS. Az-Zukhruf :
13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami
sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada
Tuhan kami")
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang.
Wanita itu berkata : "Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS.
Lukman : 19) ("SederhAnakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu") Lalu
jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,
Wanita Tua itu berucap : "Faqraa-uu maa tayassara minal qur'aan" (QS.
Al- Muzammil : 20) ("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")
Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."
Wanita Tua : "Wa maa yadzdzakkaru illaa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh :
269) ("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya : "Apakah anda mempunyai suami ?"
Wanita Tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS.
Al-Maidah : 101) ("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan
menyusahkanmu")
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"
Wanita Tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS.
Al-Kahfi : 46) ("Adapun harta dan Anak-Anak adalah perhiasan hidup di
dunia")
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai Anak.
Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini ?"
Wanita Tua : "Wa 'alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl :
16) ("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan
ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama Wanita Tua ini
saya menuju perkemahan.
Abdullah : "Adakah orang yang anda kenal atau keluarga dalam kemah ini ?"
Wanita Tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi")
"Wakallamahu muusaa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ("Dan Allah berkata-kata kepada Musa")
"Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka
keluarlah Anak-Anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan
ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga Anak ini datang dan
duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.
Wanita Tua :
"Fab'atsuu ahadakum bi warikikum hadzihii ilal madiinati falyandzur
ayyuhaa azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi :
19) ("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa
uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa
makanan itu untukmu")
Maka salah seorang dari tiga Anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu
Perempuan tua itu berkata : "Kuluu wasyrobuu hanii'an bimaa aslaftum
fil ayyaamil khooliyah" (QS. Al-Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu
dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang
telah lalu")
Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini.
Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah
Perempuan ini sebenarnya."
Ketiga Anak muda ini secara serempak berkata : "Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun
Beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, karena khawatir salah berbicara."
Maha Suci Zat Yang Maha Kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakiNya.
Akhirnya saya pun berucap : "Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul
fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ("Karunia Allah yang diberikan
kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang
besar")
[Diambil dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168]
*****
..:: 7 KEAJAIBAN DUNIA ::..

Sekelompok Pelajar kelas geografi belajar mengenai "Tujuh Keajaiban Dunia".
Pada akhir pelajaran, Pelajar tersebut di minta untuk membuat daftar
apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini.
Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi :
1. Piramida Besar di Mesir
2. Taj Mahal
3. Grand Canyon
4. Panama Canal
5. Empire State Building
6. St. Peter's Basilica
7. Tembok China
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, Sang Guru memperhatikan seorang
Pelajar, seorang Gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas
kerjanya. Jadi, Sang Guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai
kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya."
Sang Guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, "Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah :
1. Bisa bersyukur
2. Bisa merasakan
3. Bisa tertawa
4. Bisa mendengar
Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan...
5. Bisa berbagi
6. Bisa mencintai
7. Dan bisa dicintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika ....
---------- *** ----------
Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan
menyebutnya "keajaiban" sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan
lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai "biasa".
Semoga kita
hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul - betul ajaib dalam
kehidupan kita. bersyukurlah untuk apa yang telah kita dapatkan sampai
saat ini, .. karna itu sesungguhnya semua merupakan suatu "keajaiban".
***** ...:: RASULULLAH DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA :: ...

Di salah satu sudut pasar Madinah Al-Munawwarah ada seorang Pengemis
Yahudi buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia
selalu berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.
Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan
tampa berkata sepatah katapun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang
dibawanya kepada Pengemis itu. Walaupun Pengemis itu selalu berpesan
agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW
melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan
Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada Pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a
berkunjung ke rumah Anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada Anaknya,
“Wahai Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan ?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah, engkau adalah
seorang Ahli Sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum pernah
ayah kerjakan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu ?” tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang Pengemis Yahudi buta yang berada di
sana” kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi
ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada Pengemis itu.
Abu Bakar r.a mendatangi Pengemis itu dan memberikan makanan itu
kepadanya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si Pengemis marah
sambil berteriak, “Siapa kamu !!”.
Abu Bakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa”.
“Bukan ! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si Pengemis
buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang
dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu
selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut
dengan mulutnya setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri”,
Pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak
dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada Pengemis
itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah
salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah SAW". Setelah Pengemis itu mendengar cerita
Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian
?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah
memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap
pagi, ia begitu mulia…". Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya
bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.
( FOTO SEKEDAR ILUSTRASI )
*****
........ :: ABU HANIFAH YANG TA'AT :: .........

Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. ‘Ulama
Ahli Hukum Islam itu pun di penjara. Sang Penguasa rupanya marah besar
hingga menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya.
Dalam penjara,
‘Ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah
sedih sekali. Yang membuatnya sedih sebenarnya bukan karena siksaan yang
diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan Ibunya. Beliau sedih
kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada Ibunya.
Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama Ibunya kembali.
“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada ?” tanya Abu Hanifah.
“Alhamdulillah......Ibu baik-baik saja,” jawab Ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.
Abu Hanifah kembali menekuni ilmu Agama Islam. Banyak orang yang
belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi Ibu Abu Hanifah ia tetap hanya
seorang Anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukanlah seorang ‘Ulama
besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak
pernah membantahnya.
Suatu hari, Ibunya bertanya tentang wajib
dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Tetapi, Ibunya
tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.
“Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap Ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al Qas,” katanya lagi.
Zar’ah Al Qas adalah seorang ‘Ulama yang pernah belajar ilmu Hukum Islam kepada Abu Hanifah.
“Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,” pinta Ibunya.
Mendengar ucapan Ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar Ibunya ke rumah Zar’ah Al Qas.
“Saudaraku Zar’ah Al Qas, Ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya
shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al Qas.
Zar’ah Al Qas terheran-heran, kenapa Ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh
datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu ? Bukankah Abu Hanifah
sendiri seorang ‘Ulama ? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan
mudah.
“Tuan, Anda kan seorang ‘Ulama besar ? kenapa Anda harus datang kepadaku ?” tanya Zar’ah Al Qas.
“Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah.
Zar’ah tersenyum, ”Baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al Qas akhirnya.
“Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.
Lalu Zar’ah Al Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan
apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas
lega.
“Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata Ibu Abu
Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al Qas itu hasil
ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.
Dua hari kemudian, Ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis
‘Umar bin Zar. Lagi – lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat,
Abu Hanifah mengikuti perintah Ibunya. Padahal, ia sendiri dapat
menjawab pertanyaan Ibunya dengan mudah.
‘Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan Ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.
“Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya ?” kata ‘Umar bin Zar.
Abu Hanifah tetap meminta fatwa ‘Umar bin Zar sesuai permintaan Ibunya.
“Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu
Hanifah.
‘Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada Ibunya.
“Baiklah, kalau begitu apa jawaban anda atas pertanyaan Ibu Anda ?”
Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan. “Sekarang,
sampaikanlah jawaban itu pada Ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa
anda,” ucap ‘Umar bin Zar sambil tersenyum.
Abu Hanifah pulang
membawa fatwa ‘Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya
mempercayai apa yang diucapkan ‘Umar bin Zar.
Hal seperti itu
terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi
majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu
menaati perintah Ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari
Abu Hanifah meskipun Beliau seorang ‘Ulama yang sangat pintar.
*****
...:: PESAN SEBUAH TULANG ::...

Sudah berhari-hari orang Yahudi itu berjalan menuju Madinah. Ia ingin
menemui Khalifah Umar bin Khattab, Amirul Mukminin. Ia banyak mendengar
kabar bahwa bahwa Amirul Mukminin seorang yang terkenal
bersungguh-sungguh menegakkan keadilan. Jauh-jauh ia datang dari Mesir
dengan sebuah harapan, Khalifah mau memperhatikan nasibnya yang
tertindas.
Baru ketika matahari condong ke barat, ia tiba di
Madinah. Walaupun badannya terasa letih, namun air mukanya tampak
berseri. Ia gembira telah sampai di negeri Amirul Mukminin yang aman.
Dengan tergopoh-gopoh, orang Yahudi itu memasuki halaman rumah Umar bin
Khattab, lalu meminta izin pada prajurit yang sedang berjaga.
“Jangan-jangan,
Khalifah tidak mau menerimaku” katanya dipenuhi rasa cemas. Ia menunggu
di luar pintu. Prajurit masuk menemui Khalifah Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, ada orang Yahudi ingin menghadap Tuan” sahut Prajurit.
“Bawalah ke hadapanku” perintah Khalifah.
Orang
Yahudi pun masuk disertai pengawal. Ada ketenangan di hati orang Yahudi
ketika melihat Khalifah yang begitu lembut dan perhatian. Bertambah
terperanjat orang Yahudi itu, ternyata Amirul Mukminin menjamunya dengan
aneka makanan dan minuman.
“Saat ini kau adalah tamuku, silahkan
nikmati jamuannya” sambut Khalifah. 'Rupanya benar apa yang kudengar
tentang Khalifah', kata orang Yahudi dalam hati.
Setelah dijamu
layaknya tamu dari jauh, Khalifah meminta kepada orang Yahudi untuk
menyampaikan maksud kedatangannya. “Ya Amirul Mukminin, saya ini orang
miskin” kata orang Yahudi memulai pembicaraan. Amirul Mukminin
mendengarkannya dengan penuh perhatian. “Di Mesir, kami punya sebidang
tanah” lanjut orang Yahudi.
“Ya, lalu, ada apa ?” tanya Amirul Mukminin.
“Tanah
itu satu-satunya milik saya yang sudah lama saya tinggali bersama anak
dan istri saya. Tapi Gubernur mau membangun Masjid yang besar di daerah
itu. Gubernur akan menggusur tanah dan rumah saya itu” tutur orang
Yahudi sedih, matanya berkaca-kaca. “Kami yang sudah miskin ini mau
pindah kemana ? Jika semua milik kami digusur oleh Gubernur ? Tolonglah
saya yang lemah ini, saya minta keadilan dari Tuan” Orang Yahudi memohon
dengan memelas.
“Oh, begitu ya ? Tanah dan rumahmu mau digusur oleh Gubernurku ?” kata Amirul Mukminin mengangguk-angguk.
Khalifah Umar tampak merenung. Ia sedang berpikir keras memecahkan masalah yang dihadapi orang Yahudi itu.
“Kau tidak bermaksud menjual rumah dan tanahmu, hai Yahudi ?” tanya Khalifah.
“Tidak !” orang Yahudi tersebut menggelengkan kepalanya.
“Sebab cuma itulah harta kami. Saya tidak rela melepasnya kepada siapapun” Orang Yahudi tetap pada pendiriannya.
“Baiklah,
aku akan membantumu” kata Amirul Mukminin. Hati orang Yahudi itu merasa
lega karena Amirul Mukminin mau membantu kesusahannya.
“Hai Yahudi” kata Khalifah kemudian. “Tolong ambilkan tulang di bak sampah itu !” perintahnya.
“Maaf,
Tuan menyuruh saya mengambil tulang itu ?” tanya orang Yahudi ragu. Ia
tidak mengerti untuk apa tulang yang sudah dibuang harus diambil lagi.
Namun, ia menuruti juga perintah Khalifah.
“Ini tulangnya Tuan“ orang Yahudi menyerahkan tulang unta tersebut kepada Khalifah.
Lalu, Khalifah Umar membuat garis lurus dan gambar pedang pada tulang itu.
“Serahkan tulang ini pada Gubernur Mesir !” kata Amirul Mukminin lagi.
Orang Yahudi menatap tulang yang ada. Garis lurus dan gambar pedangnya itu. Ia merasa tidak puas.
Kedatangannya
menghadap Khalifah untuk mendapat keadilan, tetapi Khalifah hanya
memberinya tulang untuk diserahkan kepada Gubernur.
“Ya Amirul
Mukminin, jauh-jauh saya datang minta tuan membereskan masalah saya,
tapi tuan malah memberi tulang ini kepada Gubernur ?” sahut orang
yahudi.
“Serahkan saja tulang itu !” jawab Khalifah pendek. Orang
yahudi tidak membantah lagi. Iapun bertolak ke mesir dengan dipenuhi
beribu pertanyaan dikepalanya.
“Aneh, Khalifah Umar menyuruhku untuk memberikan tulang ini pada Gubernur ?” gumamnya sepanjang perjalanan ke negerinya.
Setibanya
di mesir, orang yahudi bergegas menuju kediaman Gubernur. “Wahai Tuan
Gubernur, saya orang yahudi yang tanahnya akan kau gusur itu“ kata orang
Yahudi tersebut.
“Oh kau rupanya, ada apa lagi ?” kata sang Gubernur.
“Saya baru saja menghadap Amirul Mukminin” kata orang yahudi.
“Lantas ada apa ?”
“Saya disuruh memberikan tulang ini” orang Yahudi itupun segera menyerahkan tulang unta ke tangan Gubernur.
Diperiksanya
tulang itu baik-baik. Wajah Gubernur berubah pucat. Tubuhnya gemetar.
Keringat dingin mengucur di dahinya ketika melihat gambar pada tulang
itu. Sebuah garis lurus dan gambar pedang yang dibuat Khalifah Umar
sudah membuat hati Gubernur ketakutan bukan main.
“Hai pengawal !” tiba-tiba ia berteriak keras.
“Serahkan
tanah orang yahudi ini sekarang juga ! Batalkan rencana menggusur rumah
dan tanahnya ! Kita cari tempat lain untuk membangun masjid” kata
Gubernur.
Orang Yahudi itupun menjadi heran dibuatnya. Ia sungguh
tidak mengerti dengan perubahan keputusan Gubernur yang akan
mengembalikan tanah miliknya. Hanya dengan melihat tulang yang bergambar
pedang dan garis lurus dari Khalifah tadi, Gubernur tampak sangat
ketakutan.
“Hai Yahudi ! Sekarang juga kukembalikan tanah dan
semua milikmu. Tinggallah engkau dan keluargamu disana sesuka hati”
sahut Gubernur terbata-bata.
Pesan dalam tulang itu dirasakan
Gubernur seakan-akan Khalifah Umar berada dihadapannya dengan wajah yang
amat marah. Ya ! Gubernur merasa seolah-olah dicambuk dan ditebas
lehernya oleh Amirul Mukminin.
“Tuan Gubernur ada apa sebenarnya ?
Apa yang terjadi ? Kenapa tuan tampak ketakutan melihat tulang yang ada
garis lurus dan gambar pedang itu ? Padahal Amirul Mukminin tidak
mengatakan apa-apa ?” tanya orang Yahudi masih tak mengerti.
“Hai
Yahudi, Tahukah engkau ? Sesungguhnya Amirul Mukminin sudah memberi
peringatan keras padaku lewat tulang ini” kata Gubernur.
Orang
Yahudi tersebut bertambah heran saja. "Sesungguhnya tulang ini membawa
sebuah pesan peringatan. Garis lurus, artinya Khalifah Umar memintaku
agar aku sungguh-sungguh menegakkan keadilan terhadap siapapun. Dan
gambar Pedang, artinya kalau aku tidak berlaku adil, maka Khalifah akan
bertindak. Aku harus menjadi penguasa yang adil sebelum aku yang menjadi
tulang belulang” jawab Gubernur menceritakan isi pesan yang terkandung
dalam tulang unta itu.
Kini orang Yahudi pun mengerti semuanya.
Betapa ia sangat kagum kepada Amirul Mukminin yang sungguh-sungguh
memperhatikan nasib orang tertindas seperti dirinya meskipun ia bukan
dari kaum muslimin.
“Tuan Gubernur, saya sangat kagum pada Amirul
Mukminin dan keadilan yang diberikan Pemerintah Islam. Karenanya, saya
ingin menjadi orang Muslim. Saat ini saya rela melepaskan tanah itu
karena Allah semata”
Tanpa ragu sedikitpun orang Yahudi itu langsung bersyahadat dan merelakan tanahnya untuk didirikan di atasnya sebuah masjid.
*****
.....:: SUSU YANG TELAH TUMPAH ::.....

Seperti pagi biasanya, Gadis pemerah susu itu berangkat ke pasar untuk
menjual susu hasil perahan sapinya itu. Dia membawa beberapa botol
berisi susu yang akan ia jual sesampainya di pasar nanti. Di tengah
perjalanan, ia berangan - angan tentang apa yang akan ia perbuat dengan
uang hasil jualan susunya itu.
"Dengan uang itu, aku akan membeli
seratus ekor anak ayam yang akan aku pelihara di halaman belakang
rumahku. Aku akan memelihara mereka sampai mereka besar, dan setelah itu
aku akan menjualnya dengan harga yang mahal" gumamnya.
Sambil
terus berjalan, ia melanjutkan angan - angannya itu, "Kemudian aku akan
membeli 2 ekor anak kambing, dan akan ku gembalakan di padang rumput di
balik bukit itu. Dan ketika mereka besar, aku bisa mengambil susunya
untuk aku jual kembali, dan setelah itu aku akan menjualnya dengan harga
yang lebih mahal lagi. Nah, setelah itu, aku akan mendapatkan uang
banyak dan akan ku belikan sapi. Sehingga aku bisa menjual susu lebih
banyak lagi dan tentunya aku akan mendapatkan uang yang lebih banyak
pula...!!" gumamnya dalam hati.
Ia amat kegirangan dengan angan -
angannya itu. Ia melompat - lompat sembari membayangkan betapa banyak
uang yang akan didapatkan nantinya. Karena seking gembiranya, ia lupa
bahwa ia tengah melewati sebuah jembatan, dan jembatan itu masih licin
karena hujan tadi malam. Ia pun terpeleset jatuh. Semua tempat susunya
itu tumpah ke sungai. Melihat itu, ia terduduk sembari menangis, karena
semua angan - angannya seakan ikut hanyut terbawa aliran sungai.
*****
.....:: 50 TAHUN PERNIKAHAN ::.....
Alkisah, pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun
pernikahan sepasang Kakek-Nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga
besar Kakek dan Nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.
Pasangan Kakek-Nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar
oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut.
Singkat kata, mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup
lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah
dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan
tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.
Di sela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang
merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat
masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang
sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut.
Sang Kakek pun, pertama kali melayani sang Nenek dengan mengambil kepala
ikan dan memberikannya kepada sang Nenek, kemudian mengambil sisa ikan
tersebut untuknya sendiri.
Sang Nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan
heran. Akhirnya sang Nenek berkata kepada sang Kakek, "Suamiku, kita
telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau
memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan
menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu
walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku
menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu.
Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk
dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan
yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya
dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin
membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat
aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarang pun, setelah kita
berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku
sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal
ini."
Sang Kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan
Sang Nenek. Akhirnya, sang Kakek pun menjawab, "Istriku, ketika engkau
memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun
bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik
untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang
sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini
untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu.
Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan
kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging
ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf,
istriku."
Mendengar hal tersebut, sang Nenek pun menangis.
Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh
sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.
Refleksi Hikmah :
Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu
hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang
berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti
masalah pada cerita di atas.
Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut,
melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita
masing-masing.
*****
.....:: BERAT SEGELAS AIR ::.....

Saat Stephen R. Covey mengajar tentang Manajemen Stress, dia bertanya kepada para peserta kuliah,
"Menurut Anda, kira-kira berapa berat segelas air ini ?"
Jawaban para peserta sangat beragam, mulai dari 200 gram sampai 500 gram.
"Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah berat absolutnya. Tetapi berapa lama Anda memegangnya" ungkap Covey.
"Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya
memegangnya selama satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya" lanjutnya.
"Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka
bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban terus menerus,
lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu terasa
meningkat beratnya" ungkap Covey.
"Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut. Istirahat
sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita,
agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum
pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari, tinggalkan beban pekerjaan
Anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok" lanjutnya.
"Apapun beban yang ada di pundak Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak.
Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi. Hidup ini sangat
singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan
terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat
dirasakan jauh di dalam hati kita" kata Covey.
*****
.....:: SATU GEREJA MASUK ISLAM OLEH SEORANG PEMUDA ::.....
Sebuah kisah nyata yang terjadi di negeri Paman Sam. Patut kita ambil
hikmahnya. Silahkan menyimak kisahnya. Semoga Allah mengijinkan kita
menjadi Pemuda seperti yang terdapat dalam kisah ini, Amiiin…..
Ada seorang Pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di
Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah
untuk mendalami Agama Islam dan mempelajarinya. Selain belajar, ia juga
merupakan seorang Juru Dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia pernah
berkenalan dengan seseorang yang beragama Nasrani. Hubungan mereka
sangat akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah untuk
masuk Islam.
Pada suatu hari, mereka berdua berjalan - jalan di sebuah perkampungan
yang ada di Amerika. Dan kebetulan pada saat itu, mereka melintas di
dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya yang
Nasrani itu meminta agar ia juga turut masuk ke dalam gereja tersebut.
Semula ia sangat keberatan, namun karena temannya terus mendesak dan
memintanya agar ikut memasuki gereja tersebut, akhirnya Pemuda Muslim
itupun memenuhi permintaan temannya tersebut dan ikut masuk ke dalam
gereja.
Pemuda tersebut duduk di salah satu bangku dengan hening. Sebagaimana
kebiasaan mereka ketika Pendeta memasuki gereja adalah mereka serentak
berdiri untuk memberikan hormat dan kemudian kembali duduk. Di saat itu
si Pendeta agak terbelalak dan terkejut ketika melihat kepada para
hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia
keluar dari sini.”
Pemuda Arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut
mengucapkan perkataan itu sekali lagi, “Di tengah kita ada seorang
muslim. Aku harap ia keluar dari sini.”
Begitu seterusnya sampai berkali – kali, namun Pemuda tersebut tetap
diam dan tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya Pendeta itu
berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin
keselamatannya.”
Setelah sang Pendeta berbicara seperti itu, barulah Pemuda tersebut
bangkit dari duduknya dan beranjak keluar. Di ambang pintu, Pemuda
Muslim tersebut berbalik dan bertanya kepada sang Pendeta, “Bagaimana
anda mengetahui bahwa saya adalah seorang muslim ?”
“Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Jawab sang Pendeta.
Kemudian sang Pemuda itupun berbalik menuju pintu keluar dan berjalan
dengan tenang. Namun sang Pendeta melihat kesempatan itu. Ia ingin
memanfaatkan keberadaan Pemuda Muslim di gerejanya ini untuk mengokohkan
markasnya tersebut, yaitu dengan mengajaknya berdebat dan memojokkannya
dengan beberapa pertanyaan yang menjebak.
Pemuda Muslim itupun terdiam dan berpikir sejenak sambil menimbang -
nimbang tantangan yang diajukan oleh sang Pendeta. Setelah menimbang –
nimbang, akhirnya ia pun menerima tantangan debat tersebut.
“Aku akan mengajukan kepada Anda 22 pertanyaan dan Anda harus
menjawabnya dengan tepat.” kata sang Pendeta mendengar kesanggupan
Pemuda tersebut.
“Silahkan !” jawab sang Pemuda sambil tersenyum.
Sang pendeta pun mulai bertanya, “Sebutkan ….
- Satu yang tiada duanya,.
- Dua yang tiada tiganya,.
- Tiga yang tiada empatnya,.
- Empat yang tiada limanya,.
- Lima yang tiada enamnya,.
- Enam yang tiada tujuhnya,.
- Tujuh yang tiada delapannya,.
- Delapan yang tiada sembilannya,.
- Sembilan yang tiada sepuluhnya,.
- Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,.
- Sebelas yang tiada dua belasnya,.
- Dua belas yang tiada tiga belasnya,.
- Tiga belas yang tiada empat belasnya,.
- Sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh !
- Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya ?
- Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga ?
- Sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya ?
- Sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu !
- Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api ?
- Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu ?
- Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar !
- Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting,
setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di
bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari ?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Pemuda Muslim itu tersenyum dengan
senyuman yang mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca
basmalah ia menjawab, “
- Satu yang tiada duanya adalah Allah SWT.
- Dua yang tiada tiganya adalah malam dan
siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai
dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’ : 12).
- Tiga yang tiada empatnya adalah
kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir merusak kapal yang
ditumpanginya, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali
dinding yang hampir roboh.
- Empat yang tiada limanya adalah Kitab – Kitab yang diturunkan oleh Allah SWT, yaitu Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.
- Lima yang tiada enamnya adalah shalat lima waktu.
- Enam yang tiada tujuhnya adalah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
- Tujuh yang tiada delapannya adalah
langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan
tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan
Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk : 3).
- Delapan yang tiada sembilannya ialah
Malaikat pemikul ‘Arsy Ar Rahman. Allah SWT berfirman, “Dan
malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu
delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”
(Al-Haqqah : 17).
- Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah
mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang
bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.
- Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh
ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan
maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am : 160).
- Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf.
- Dua belas yang tiada tiga belasnya
ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, “Dan
(ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,
‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah dari padanya dua
belas mata air.” (Al-Baqarah : 60).
- Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
- Adapun sesuatu yang bernafas namun
tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT berfirman, “Dan waktu
subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir : 18).
- Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus.
- Mereka yang berdusta namun masuk ke
dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf, yakni ketika mereka berkata
kepada ayahnya, ”Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba
dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan
serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,
”Tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku
akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Yusuf, Juz 13)
- Sesuatu yang diciptakan Allah namun
tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya
sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
- Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
- Makhluk yang diciptakan dari api adalah
Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara
dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah
dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’ : 69).
- Makhluk yang terbuat dari batu adalah
unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah
Abrahah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashhabul Kahfi (penghuni
gua).
- Sesuatu yang diciptakan oleh Allah dan
dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah
SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf :
28).
- Adapun pohon yang memiliki 12 ranting
dan setiap ranting mempunyai 30 daun, kemudian setiap daun mempunyai 5
buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya :
Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya
adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di
siang hari.
Mendengar jawaban sang Pemuda tersebut, Pendeta dan para hadirin merasa
takjub. Kemudian Pemuda tersebut meminta pamit dan beranjak hendak
pergi. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ia mengurungkan niatnya
dan membalikkan badan menatap sang Pendeta.
“Bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu ?” tanya sang Pemuda Muslim.
“Silahkan,” jawab sang Pendeta menyetujui.
Sang Pemuda diam sejenak, kemudian berkata, “Apakah kunci Surga itu ?”
Mendengar pertanyaan itu, lidah sang Pendeta menjadi kelu, hatinya
diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha
menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang
hadir di gereja itu terus bersorak-sorak mendesaknya agar ia menjawab
pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.
“Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepada Pemuda tersebut dan
semuanya ia jawab dengan tepat. Sementara ia hanya memberimu satu
pertanyaan, namun anda tidak mampu menjawabnya ??“ teriak salah seorang
hadirin.
Pendeta tersebut berkata, “Sungguh, aku mengetahui dengan baik jawaban
dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian akan marah jika aku
menjawabnya.“
“Kami menjamin keselamatan anda.” jawab mereka serentak.
Sang Pendeta mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya kembali sambil
berkata, “Jawabannya ialah : Asyhadu an laailaahaillallaah, wa asyhadu
anna Muhammadar Rasulullah.”
Mendengar jawaban itu keluar dari mulut sang Pendeta, akhirnya para
hadirin yang sedang hadir di gereja tersebut mengucapkan syahadat secara
serentak dan akhirnya pun mereka masuk Agama Islam. Allahu Akbar !!
Sungguh Allah telah menganugerahkan hidayah, kebaikan dan menunjuki
mereka kepada Islam melalui tangan seorang Pemuda Muslim yang bertakwa.
Subhanallah…!!
Tentu saja,, semua hal yang terjadi di atas adalah dengan ilmu. Bukan hanya sebuah karangan saja.
Sekarang pertanyaannya adalah, Kapankah peran kita akan dimulai..???
*****
.....:: SEMUANYA GRATIS SEPANJANG MASA ::.....
Suatu sore, seorang anak menghampiri
Ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya.
Setelah sang Ibu mengeringkan tangannya dengan celemek, ia pun membaca
tulisan itu dan inilah isinya :
- Untuk memotong rumput : Rp. 5.000
- Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini : Rp. 5.000
- Untuk pergi ke toko disuruh Ibu : Rp. 3.000
- Untuk menjaga adik waktu Ibu belanja : Rp. 5.000
- Untuk membuang sampah : Rp. 1.000
- Untuk nilai yang bagus : Rp. 3.000
- Untuk membersihkan dan menyapu halaman : Rp. 3.000
Jadi hutang Ibu adalah :
Rp. 25.000
Sang Ibu memandangai anaknya dengan penuh sayang. Berbagai kenangan
terlintas dalam benak sang Ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan
kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan :
- Untuk sembilan bulan Ibu mengandung kamu : Gratis
- Untuk semua malam Ibu menemani kamu : Gratis
- Untuk semua mainan, makanan dan baju : Gratis
- Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendo'akan kamu : Gratis
- Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu : Gratis
- Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah : Gratis
Anakku.. dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, akan kau dapatkan bahwa harga cinta Ibu adalah
GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis Ibunya, sang Anak pun berlinang air mata
dan menatap wajah Ibunya, dan berkata, "Bu, aku sayang sekali sama Ibu"
Ia kemudian mendekap Ibunya. Sang Ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya, "Ibupun sayang kamu nak" kata sang Ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf huruf besar sambil diperhatikan sang Ibu "
LUNAS"
_______*****_______
Sahabat, seberapapun jasa yang telah kita berikan kepada Ibu,
seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada Ibu, atau
seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk Ibu, tidak
akan dapat mengganti kasih sayang seorang Ibu. Kasih Ibu sepanjang masa.
Dapatkah kita menukar kasih sayang Ibu itu dengan materi ? menukar
dengan bilangan angka ? atau menukar dengan rangkaian terima kasih ?
Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatku, berbuat
baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan do'akanlah
beliau,...
*****
.....:: LEMPARAN BATU KEHIDUPAN ::.....
Tersebutlah seorang Pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil
mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang Pengusaha, sedang
menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh,
dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan
penuh rasa bangga dan prestise.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil
melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu
diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah
mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak
melintas sebelumnya.
"Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan
yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil
itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
"Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya
mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang
tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan
oleh orang lain, begitu pikir sang Pengusaha dalam hati. Amarahnya
memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak
yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak
itu pada sebuah mobil yang diparkir.
"Apa yang telah kau lakukan ? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku !
Lihat goresan itu !", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
"Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di
bengkel untuk memperbaikinya." Ujarnya lagi dengan kesal dan geram,
tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf,
"Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu
lagi harus melakukan apa." Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya
bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada
seorang pun yang mau berhenti...."
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari
kursi rodanya. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak
seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan
sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.
Dipandanginya Pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai
tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda ?
Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."
Tak mampu berkata-kata lagi, Pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai
sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang
sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu
menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya
si cacat itu menuju kursi rodanya.
Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di
lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan
mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga
Allah akan membalas perbuatan Bapak."
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan Pengusaha yang menatap
kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang
mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, Pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar
miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh
lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di
lewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman
tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus
goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap
mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap
nyata terlihat :
"Janganlah melaju terlalu cepat dalam hidupmu, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."
--oo0oo--
Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar,
dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan
melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu
hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada waktu buat kita untuk
menyelaraskannya untuk melihat sekitar ?
Allah, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.
Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan
menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan
bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada
banyak hal yang melintas.
Teman, kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan
kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat
kita, agar kita tersadar dan berhenti sejenak ?
*****
.....:: PETANI YANG JALAN KAKI VS PETANI YANG NAIK SEPEDA MOTOR ::.....

Saat itu, Ada seorang Petani dengan Istrinya yang sedang bergandengan
tangan menyusuri pinggir jalan sepulang dari sawah sambil diguyur oleh
air hujan.
Tiba - tiba, lewatlah sebuah motor di depan mereka. Berkatalah Sang
Petani itu kepada Istrinya, "Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami-istri
yang sedang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka
bisa cepat sampai di rumah, tidak seperti nasib kita yang harus lelah
berjalan untuk sampai ke rumah.”
Sementara itu, si Pengendara sepeda motor dengan Istrinya yang sedang
berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick-up
lewat di depan mereka.
Pengendara motor itu bergumam pada Istrinya, ”Lihatlah Bu, betapa
bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan
seperti kita.”
Namun, di dalam sebuah mobil pick-up yang dikendarai oleh sepasang
suami-istri tersebut, telah terjadi perbincangan, saat sebuah mobil
sedan Mercy berpapasan dan lewat di hadapan mereka,
”Lihatlah Bu, betapa
bahagianya orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pastinya nyaman
untuk dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok terus.”

Akan tetapi, Pengendara mobil Mercy itu seorang pria yang kaya raya,
Dan
ketika dia melajukan mobilnya dengan kencang, dia melihat sepasang
suami-istri yang sedang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran
air hujan, saat itu juga Pria kaya itu menggerutu dalam hatinya, ”Betapa
bahagianya sepasang suami-istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan
bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.
Sementara saya dan Istri saya, tidak pernah punya waktu untuk berduaan
karena kesibukan kami masing-masing.”
Refleksi Hikmah :
”Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki, jika kau hanya melihat
kebahagiaan milik orang lain dan selalu membandingkan hidupmu dengan
hidup orang lain.”
So, tetaplah bersyukur atas apa yang kamu miliki dalam hidupmu sekarang,
supaya kau tahu di mana letak bulu ketiak (kebahagiaan) mu itu berada.
Kebahagiaan itu selalu bersama kita dimanapun kita berada, hanya sayang kita sering tak menyadarinya...
*****
.....:: TUKANG KAYU YANG BIJAKSANA ::.....

Alkisah ada dua orang Kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah
karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini
adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya.
Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling
meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha
perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu
kini retak.
Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi
perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk
caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak
bertegur-sapa.
Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang Kakak. Di
depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu.
"Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan, barangkali Tuan
berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan," kata pria
itu dengan ramah.
"Oh ya, saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian
di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia
adalah Adikku," jawab sang Kakak.
"Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan
airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang
memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk
mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal," keluh sang Kakak.
"Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10
meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya,
aku ingin melupakannya," lanjutnya dengan tegas.
Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan
saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang."
Kemudian sang Kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.
Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang
hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.
Di sore hari, ketika sang Kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru
saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat
hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu
sebagaimana yang dimintanya.
Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan
ladang pertaniannya dengan ladang pertanian Adiknya. Jembatan itu begitu
indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.
Dari seberang sana, terlihat sang Adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal
sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku," kata sang Adik
pada Kakaknya.
Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling
berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi
perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
"Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang Kakak.
"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini, kata tukang kayu, tapi
masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan," jawab si Tukang
Kayu.
Alkisah ada dua orang Kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah
karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini
adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya.
Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling
meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha
perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu
kini retak.
Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi
perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk
caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak
bertegur-sapa.
Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang Kakak. Di
depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu.
"Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan, barangkali Tuan
berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan," kata pria
itu dengan ramah.
"Oh ya, saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian
di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia
adalah Adikku," jawab sang Kakak.
"Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan
airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang
memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk
mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal," keluh sang Kakak.
"Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10
meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya,
aku ingin melupakannya," lanjutnya dengan tegas.
Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan
saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang."
Kemudian sang Kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.
Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang
hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.
Di sore hari, ketika sang Kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru
saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat
hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu
sebagaimana yang dimintanya.
Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan
ladang pertaniannya dengan ladang pertanian Adiknya. Jembatan itu begitu
indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.
Dari seberang sana, terlihat sang Adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal
sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku," kata sang Adik
pada Kakaknya.
Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling
berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi
perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
"Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang Kakak.
"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini, kata tukang kayu, tapi
masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan," jawab si Tukang
Kayu.
*****
SANG PAWANG DAN SEEKOR NAGA
Alkisah, ada seorang pawang ular ternama pergi ke daerah pegunungan
untuk menangkap ular dengan keahliannya. Saat itu, salju turun dengan
sangat deras. Pawang itu pun mencari ke setiap sudut gunung untuk
menemukan ular yang besar. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menemukan
bangkai ular naga yang amat sangat besar.
Pawang itu senang sekali dan ia ingin menyombongkan tangkapannya
dihadapan seluruh penduduk kota. Ia membungkus naga itu dan membawanya
ke Baghdad untuk dipertontonkan. Turunlah ia dari gunung dengan menyeret
ular sebesar pilar istana. Ia sampai di kota dan segera menceritakan
kehebatannya kepada setiap orang yang ia temui. Ia katakan bahwa ia
telah bergumul dan berkelahi habis-habisan sampai ular itu mati di
tangannya.
Masalahnya, ternyata ular naga itu tidak benar-benar mati. Ia hanya
teridur karena kedinginan akibat salju yang sangat tebal. Si pawang tak
mengetahui hal ini. Ia malah mengadakan pertunjukan untuk umum di tepian
sungai Tigris.
Berduyun-duyun orang datang dari seluruh penjuru kota untuk melihat
pemandangan luar biasa; seekor ular naga dari gunung yang mati di tangan
seorang pawang ular. Semua orang mempercayai cerita pawang ular itu dan
mereka tak sabar ingin melihat binatang yang langka ini. Semakin banyak
pengunjung, semakin besar pula pemasukan yang didapat sang pawang. Oleh
karena itu, pawang itu menunggu lebih banyak lagi orang yang datang
sebelum ia membuka bungkusan ular naga. Dalam waktu singkat, tempat itu
sesak dipenuhi para pengunjung.
Sang pawang lalu mengeluarkan ular besar itu dari kain wol yang
membalutnya selama perjalanan dari gunung. Meskipun ular itu diikat kuat
dengan tambang, sinar mentari Irak yang terik telah menerpa bungkusan
ular itu selama beberapa jam, dan kehangatan itu mengalirkan kembali
darah di tubuh ular. Perlahan-lahan, sang naga terbangun dari tidurnya
yang panjang. Begitu ular itu bangun, ia segera meronta dari ikatan
tambang yang melilitnya.
Para penonton menjerit ketakutan. Mereka berhamburan lari ke berbagai
arah dengan paniknya. Kini, naga itu telah lepas dari ikatan dan ia
mengaum keras seperti seekor macan. Banyak orang terbunuh dan terluka
karena peristiwa ini. Si pawang ular berdiri terpaku ketakutan. Ia
menjerit-jerit, "Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan ? Apa yang telah
aku bawa dari gunung ?" Ular naga lalu melahap sang pawang dalam sekali
telan. Dengan cepat ia menyedot darahnya dan meremukkan tulang-tulangnya
seperti ranting-ranting kering.
Refleksi Hikmah :
Ular naga adalah perlambang nafsu lahiriah. Bagaimana matinya ular itu ?
Nafsu hanya dapat beku dengan penderitaan dan kekurangan. Berilah nafsu
itu kekuatan dan hangatnya sinar mentari, maka ia akan terbangun.
Biarkan ia beku dalam salju dan ia takkan pernah bergerak. Namun bila
kau melepaskannya dari ikatan, ia akan melahapmu bulat-bulat. Ia akan
meronta liar dan menelan semua hal yang ia temui. Kecuali kau sekuat
Musa dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah selalu ular nagamu dalam
lilitan keimanan.
*****
.....:: JENDELA KERETA API ::.....

Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu cukup dewasa, sekitar berusia 24 tahun.
Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu
berkata pada Ayahnya, "Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian"
Sepasang anak muda duduk berdekatan. Keduanya melihat pemuda 24 tahun
tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran seusianya, kelakuan
pemuda itu tampak begitu kekanak kanakan.
Namun seolah tidak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan
antusiasnya, "Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikuti kita"
Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang Ayah
dari pemuda itu, "Kenapa Anda tidak membawa putra Anda itu ke seorang
dokter yang bagus ?"
Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata, "Sudah saya bawa, dan
sebenarnya kami ini baru saja pulang dari rumah sakit. Anak saya ini
sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru saja mendapatkan
penglihatannya hari ini"
Kedua pasangan muda itu pun terdiam, ketika mendengar jawaban sang Ayah.
Dalam hati kecil mereka, mereka bersyukur atas penglihatan yang telah
diberikan kepada mereka selama ini. Dan mendo'akan kepada pemuda itu,
mudah-mudahan ia selalu bergembira.
----------********----------
Sahabat, setiap manusia di dunia ini memiliki ceritanya masing-masing.
Jangan langsung kita men-judge seseorang sebelum kita mengenalnya dengan
benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita.
Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan
nabimu, dan itulah cara yang baik untuk menjalani kehidupan... :)
*****
.....:: SEBUAH PELAJARAN DARI SEEKOR KELEDAI ::.....

Suatu hari, keledai tua milik seorang petani terjatuh ke dalam sumur.
Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam, sementara si Petani
terus memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia pun
memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu ditimbun
(ditutup) karena berbahaya, jadi tidak berguna lagi untuk menolong si
keledai. Maka akhirnya ia pun mengajak para tetangganya untuk datang
membantu. Mereka membawa sekop, dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada
mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia
menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si
keledai menjadi diam…
Setelah beberapa sekop tanah lagi
dituangkan ke dalam sumur, si Petani melihat ke dalam sumur dan
tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya
ditimpa oleh berpuluh-puluh sekop tanah dan kotoran, si keledai
melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang- guncang kan badannya
agar tanah yang menimpa punggung nya turun ke bawah, lalu ia menaiki
tanah itu.
Sementara para tetangga si Petani terus menuangkan
tanah kotor ke atas punggung hewan tersebut, si keledai terus juga
mengguncang kan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang
yang berada di tempat tersebut terpesona ketika si keledai meloncati
tepi sumur dan melarikan diri !
Teman, seperti cerita keledai di
atas, kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita.
Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dan sebagainya)
adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita
(pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan
menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap
masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita
dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, dan tentu
saja jangan pantang menyerah !
Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :
Bebaskan diri kita dari segala kebencian.
Bebaskan pikiran kita dari segala kecemasan.
Hiduplah sederhana.
Memberilah lebih banyak.
Berharaplah lebih sedikit.
Tersenyumlah.
^_^
*****
.....:: KISAH SEEKOR BURUNG PIPIT ::.....

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang
konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin
sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.
Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena
tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di
sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa
apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.
Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau
yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar
menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu
berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat
diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki
si Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi,
dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.Seketika itu si Burung
tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira
lagi bahwa mati tak bisa bernapas.Namun perlahan lahan, dia merasakan
kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh
hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali
langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras
sepuas-puasnyanya.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri
sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan
kemudian menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa
salju yang masih menempel pada bulu si burung.
Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia
mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. Namun apa yang
terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si
Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Anak
Kucing.
Refleksi Hikmah :
- Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok dan baik buat kita.
- Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
- Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang
bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula
sebaliknya.
- Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
- Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.
*****
.....:: IBU BUTA YANG MEMALUKAN AKU ::...

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang
menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan,
kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena
kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang
harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang Ibu yang BUTA ! Matanya
tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.
Aku sangat
menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat
dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang
punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa.
Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang
punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya
mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang Ibu bekerja membuat
makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada
suatu saat Ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena
sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah.
Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang
kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah
kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah.
Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah Ibuku yang mempunyai mata
satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu
memanggilku.
“Mau ngapain Ibu ke sini ? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku !”
Bentakan dariku membuat diri Ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah
memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena
kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu.
Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan, “Hai, itu Ibumu ya ???
Ibumu matanya satu ya ?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat
pertanyaan seperti itu.
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di
sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar
dan kukejar agar aku bisa
Segera meninggalkan rumah kumuhku dan
terutama meninggalkan Ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil
mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi
tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk
diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu menghalangi
kemajuanku.
Di Sekolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler
karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku
menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.
Singkat
cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku
sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun
dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku
untuk putraku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan
membina rumah tangga dengan harmonis dan sama sekali aku tak pernah
memikirkan nasib Ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak
mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.
Tapi
pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku
sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita
tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah
Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia
memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.
Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan, “Hey, pergilah kau pengemis. Kau membuat anakku takut !”
Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “Maaf, saya salah alamat”
Tanpa merasa besalah, aku pun masuk ke dalam rumah.
Beberapa
bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah
SMA-ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku
bahwa aku akan dinas ke luar negeri.
Singkat cerita, tibalah aku
di kota kelahiranku. Tak lama, hanya ingin menghadiri pesta reuni dan
sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat
seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.
Selesai
Reuni entah mengapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke
Singapura. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat
rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada
perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik
melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa
mengetuk pintu terlebih dahulu. Kulihat rumah ini begitu berantakan. Aku
tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia kemana,
tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.
Bergegas aku
keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku, “Akhirnya kau
datang juga, Ibumu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”
“OH…”
Hanya
perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa
sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar Ibuku telah meninggal.
“Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”
Setelah menyerahkan surat itu, ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.
Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku
yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali
waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.
Sejujurnya
Ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya
bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang Ibu punya. Ibu
tak pernah lupa untuk mendo'akan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan
melihat dunia yang luas ini.
Asal
kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk
melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu
malu.
Mataku
yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayahmu
mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata
kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan
tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.
Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.
Saat
aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang
terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut
sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercinta
Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku,
Aku terdiam ! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan
Ibuku, tetapi diriku sendiri…
_____ ***_____
Sejelek-jeleknya Ibumu, wahai manusia. Dialah orang yang paling
berjasa yang pernah engkau kenal. Betapa ia telah bersabar untuk
memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Jangan pernah malu
mempunyai mempunyai seorang Ibu. Walaupun ia merupakan seorang yang
cacat sekalipun. Berterima kasihlah kepadanya. Bersyukurlah kepada Allah
yang telah memberikan seorang Ibu yang berkorban banyak kepada anaknya.
Pernahkah
Anda memeluk dan mencium pipi dan dahinya..??? Demi Allah, lakukanlah
hal tersebut. Walaupun engkau melakukannya sebanyak sekali seumur hidup.
Dan katakan kepadanya, "Wahai Ibu, Aku mencintaimu..."
*Wahai
Ibu,, aku mencintaimu.. aku menyayangimu.. tapi betapa bodohnya aku ,,
tak tahu harus berbuat apa untuk menyatakannya hal itu padamu....
:'( :'( :'(
*****
.....:: SIAPA YANG PALING JELEK ::.....

Ada suatu kisah seorang santri yang menuntut ilmu pada seorang Kyai.
Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir.
Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut, "Hai Fulan, kau telah menempuh
semua tahapan belajar dan hanya tinggal satu ujian, kalau kamu bisa
menjawab berarti kamu lulus" kata Kyai.
"Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?"
"Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari" jawab Kyai.
Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyainya tersebut.
Hari pertama sang santri bertemu dengan si Polan, pemabuk berat yang
dapat dikatakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam
hati, "Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah
puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus".
Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya, "Belum tentu, sekarang
Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Allah SWT memberi
Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah. Dan aku sekarang baik
banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Su'ul Khotimah,
bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya".
Hari kedua, santri berjalan-jalan keluar rumah dan bertemu dengan seekor
anjing yang menjijikkan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dan
sebagainya. Santri bergumam, "Ketemu sekarang yang lebih jelek dari aku.
Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi" Santri gembira
karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya.
Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati,
habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya
oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yang sangat
berat. Kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka. Aku tidak lebih
baik dari anjing itu".
Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Apakah engkau sudah mendapatkan jawabannya muridku ?".
"Sudah guru", santri menjawab. "Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru".
Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus".
***
Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih
baik dari orang lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita
tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian, maka kita
akan belajar berprasangka baik kepada orang lain yang sama-sama ciptaan
Allah SWT
*****
.....:: ANAK KECIL DALAM KERETA ::.....

Sering kali kita masalah hanya dari kacamata pribadi. Ada sebuah kisah,,
Suatu hari ada seorang Bapak Tua bersama dengan 4 orang anaknya yang
masih kecil-kecil. Mereka naik kereta ekonomi dari Jatinegara menuju
Semarang. Di dalam kereta, anak-anak itu sangat ribut sehingga banyak
mengganggu penumpang yang lain. Berlarian kesana kemari, teriak-teriak
tawa mewarnai keceriaan mereka. Penumpang yang lain banyak yang merasa
terganggu dengan tawa anak-anak kecil itu. Dan Sang Bapak Tua itupun,
sepertinya tidak mau tahu dengan anggapan dan pandangan para penumpang
yang merasa terganggu oleh anak-anak kecilnya.
Seorang Ibu memberanikan diri untuk menegur Bapak Tua itu agar mau
mendiamkan anak-anak kecil itu, "Pak, maaf Pak. Apakah anak itu
anak-anak Bapak ?"
Tanpa menjawab, Bapak Tua itu pelan-pelan mengangkat kepala dan melihat
ke arah Ibu yang menegurnya, "Ada apa Bu ?" tanya Bapak Tua.
"Itu Pak, Anak Bapak. Mereka berisik dan mengganggu penumpang yang lain,
tolong disuruh diam Pak. Sebagai orang tua, harusnya Bapak bisa menjaga
anak-anaknya dong. Kami merasa terganggu" jawab Ibu tersebut.
"Ooo, maaf bu saya tidak bisa" jawab Bapak Tua.
"Kenapa tidak bisa ? Kan itu anak Bapak" sahut sang Ibu.
"Saya tidak tega" jawab Bapak Tua itu lagi.
"Kenapa tidak tega ?"
"Tiga hari yang lalu, mereka baru saja kehilangan kedua orang tuanya
akibat kecelakaan pesawat. Sejak kecelakaan itu, mereka tidak pernah
berhenti menangis. Dan baru kali ini, saya melihat mereka bisa tertawa
dengan bahagianya. Saya tidak tega memberhentikan tawa mereka. Jika Ibu
tega, saya mempersilahkan Ibu untuk memberhentikan tawa mereka agar
mereka tidak mengganggu para penumpang yang lain" jawab Bapak Tua itu
mengakhiri percakapan.
Sang Ibu kemudian kembali ke tempat duduknya, dan tidak bisa berkata
apa-apa lagi sambil meneteskan air matanya. Kini, marahnya telah berubah
menjadi sayang. Bencinya beberapa waktu lalu berubah menjadi simpati.
Ia sangat senang melihat anak yatim-piatu tersebut bisa tertawa lepas.
Refleksi Hikmah :
Yakinlah ! pada saat kita mau membuka mata hati dan pendengaran, pastilah hidup ini akan lebih mudah untuk dipahami.
Kebencian jadi Kasih sayang.
Dendam jadi Persahabatan.
Tidak ada yang salah dalam kehidupan ini. Yang salah adalah pada saat
kita tidak berusaha mau mengerti tentang kehidupan.
Sungguh ! Allah
menginginkan bagimu bahagia kehidupan di dunia dan di akhirat.
Karena
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
***
Sekian dahulu secuil kisah ISLAMI dari saya,sahabat.
Semoga bermanfaat.
^_^